Moa, Antonius
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

MISI GEREJA DI TENGAH KEBERAGAMAN AGAMA ASIA: Uraian Teologis dari Pemikiran Aloysius Pieris Koro, Dominggus; Marmidi, F.X.; Moa, Antonius
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3418

Abstract

Gereja diutus melanjutkan karya penyelamatan Kristus kepada segala bangsa, termasuk Asia. Dia Asia, Gereja termasuk kelompok minoritas. Misi Gereja yang relevan dengan konteks Asia menuntut Gereja harus berdialog. Karena manurut Aloysius Pieris agama-agama Asia memiliki inti soteorologis tersendiri. Pieris memandang perlu Gereja lokal Asia bersikap rendah hati. Gereja harus mengakomodasikan diri dalam religiositas non-Kritiani dan berpartisipasi dalam spiritualitas non-Kristiani. Evangelisasi yang integral harus diperjuangkan oleh Gereja, sehingga mamon sebagai musuh bersama dapat dilenyapkan.
HAKIKAT PERKAWINAN KRISTIANI SEBAGAI PERSEKUTUAN PRIBADI-PRIBADI DI HADAPAN TANTANGAN PROGRAM BAYI TABUNG: Suatu Uraian Teologis Moral Moa, Antonius; Aldi, Bernardus; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4476

Abstract

Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut melahirkan berbagai macam teknologi yang sangat maju, salah satunya di antaranya yaitu teknologi reproduksi berbantu, secara khusus teknologi bayi tabung (IVF: In Vitro Fertilization). Bayi tabung merupakan produk bioteknologi modern yang dapat membantu manusia untuk mengatasi persoalan sistem reproduksi manusia. Oleh karena itu, bayi tabung menjadi sebuah program yang sangat menjanjikan saat ini. Namun demikian, bayi tabung bukanlah sebuah program yang tanpa persoalan. Jika ditelaah secara lebih mendalam, maka program bayi tabung akan bersentuhan dengan hal yang sangat mendasar, yaitu harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur. Sebagai pribadi, manusia bukanlah objek tertentu. Manusia adalah pribadi yang benilai sejak saat pembuahan atau pertemuan antara sel sperma dan sel ovum. Manusia sebagai pribadi dilahirkan dari generasi ke generasi lewat persekutuan pribadi-pribadi dalam ikatan perkawinan. Oleh karena ini, program bayi tabung juga bersentuhan dengan hakikat perkawinan yang merupakan persekutuan mesra, hidup dan cinta pribadi-pribadi. Dalam konteks ini, dari perspektif ajaran iman Katolik, program bayi tabung merupakan pelanggaran hakikat perkawinan kristiani. Teknologi bayi tabung memang dapat mengatasi persoalan reproduksi, tetapi pada saat yang sama program bayi tabung justeru menjadi program yang menghancurkan harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur dan menghancurkan persekutuan pribadi-pribadi dalam perkawinan
BERSAMA BERTRANSFORMASI MENJADI MANUSIA MENURUT GAMBAR ALLAH Nadeak , Largus; Tinambunan, Laurentius; Moa, Antonius
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia yang dicipta bereksistensi menurut gambar Allah mengandung potensi ciptaan (awal) dan juga mengaktualisasi proses pembetukan baru (transformasi) sepanjang sejarah kemanusiaan. Sejak awal, rencana Allah yaitu kebahagiaan bersama sesama manusia, bersama ciptaan lain, dan bersama Allah tergganggu oleh tindakan berdosa manusia, karena manusia mencedarai kebersamaan dengan mengalienasi sesama manusia, mengeksploitasi ciptaan lain, dan menjauh dari Pencipta. Bersama bertransformasi menjadi manusia menurut gambar Allah sangat relevan disuarakan agar terjadi reformasi hidup secara kontinu. Kenyataan dan proses transformasi manusia dilukiskan dengan baik dalam kiasan Pokok Anggur yang Benar dalam Yohanes 15: 1-8. Transformasi manusia menjadi diri yang terbaik adalah menjadi ciptaan baru sebagaimana direncanakan Tuhan. Kebaruan manusia akan terealisir kalau manusia berada di dalam Tuhan, dan Tuhan berada dalam manusia. Keberadaan insani yang berisi daya ilahi membangunkan kehendak manusia sehingga manusia tetap terjaga dan siap menghadapi perubahan dan bergerak menuruti perintah Yesus, yakni saling mengasihi satu sama lain. Murid Yesus dibentuk menjadi pakar kebersamaan transformatif di zaman aktual. Zaman sekarang berciri globalisasi, kecerdasan artifisial, dan perubahan disruptif. Dalam hal ini, kecerdasan manusia harus mencerminkan Kecerdasan Allah Pencipta segala sesuatu, dengannya manusia secara bersama bahagia mengalami penyelenggaraan-Nya, dan saat manusia menggunakan kecerdasan tersebut Allah dimuliakan.
KOMUNITAS BASIS GEREJAWI SEBAGAI SALAH SATU WADAH SOSIALISASI SEMANGAT PERSAUDARAAN UNIVERSAL ENSIKLIK FRATELLI TUTTI DI PAROKI MARIA BUNDA PEMBANTU ABADI, BATAM Sitepu, Mitsiebenson; Moa, Antonius; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As small faith-based communities, Basic Ecclesial Communities (BECs) play a strategic role in fostering bonds of solidarity, dialogue, and compassion toward others, transcending ethnic, cultural, and religious boundaries, core principles promoted in Fratelli Tutti. In the context of MBPA Parish, BECs function not only as spaces for communal faith gatherings but also as arenas for faith formation and the cultivation of social awareness. The methodology employed in this study combines both library research and fieldwork. Data were collected through literature review involving books, articles, and journals relevant to the research theme, as well as through field interviews conducted. The data were analyzed by interpreting the interview findings in light of the principles and values of universal fraternity as articulated in Fratelli Tutti. The findings reveal that BECs in MBPA Parish serve as both a means of faith formation and a locus for social praxis. Through regular meetings, social outreach, and engagement with the broader community, BECs reinforce values of solidarity, care for the marginalized, and foster spaces for intergroup dialogue. However, the research also identifies several challenges, both internal and external. Internal challenges include the limited realization of dialogue, openness, and shared responsibility among BEC members in daily life. External challenges manifest in societal stigma and negative perceptions toward Catholics by other groups. The study concludes that BECs, when guided by a vision aligned with the spirit of Fratelli Tutti, have the potential to be effective instruments for the socialization of universal fraternity, embodied in dialogue, openness, and shared responsibility. Continuous and consistent socialization processes may ultimately contribute to social transformation toward a more just, peaceful, and fraternal world.