Moa, Antonius
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

TUGAS PERUTUSAN KELUARGA KRISTEN DALAM PENDIDIKAN MORAL ANAK : Menurut Amanat Apostolik Familiaris Consortio Moa, Antonius
LOGOS Vol 10 No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i2.877

Abstract

Family is the unity of life founded with love.  As the unity of person, family becomes the heart and the center of love’s actualization and “the prime place for person’s humanization. In this identity, Christian families find its essential, central, and irreplaceable rule in the mission and responsibility to become moral educator for their children. This duty is the result of dynamic and existential improvement from what is essential in the family itself. For this reason, every Christian family findsin itself the irrevocable call which determined the uniqueness of their dignity and responsibility as moral educator for their children. Now, in the reality of modern civilization, this mission becomes more important and urgent because people continually fight and struggle to live the moral values.
BELAS KASIH SEBAGAI FONDASI PASTORAL GEREJA : Suatu Uraian Teologis Moral atas Permenungan Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordiae Vultus Moa, Antonius; Cholma, Thery
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1322

Abstract

Sebagai komunitas umat beriman Kristiani, Gereja pertama-tama mesti meng­artikan belas kasih sebagai panggilan untuk bertindak serta berupaya untuk melakukan setiap pelayanan pastoral. Pelayanan pastoral belas kasih merupakan bagian hakiki dari jati diri serta panggilan Gereja di dunia yang dapat diungkapkan lewat sikap berbela rasa dan memperjuang­kan nilai-nilai keadilan. Dengan senantiasa mengutamakan pelayanan pastoral yang berbelas kasih, Gereja dapat menjadi tanda dan sarana cinta kasih Allah yang berakar pada hakikat dan identitasnya sebagai tubuh Kristus dan umat Allah. Belas kasih itulah yang seharusnya menjiwai segala reksa pastoral Gereja, menjadi fondasi bagi setiap karya pastoral Gereja itu sendiri.
KEJAHATAN DAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH: Suatu Uraian Deskriptif-Kritis atas Pemikiran Leibniz Moa, Antonius; Purba, Imanuel
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1636

Abstract

Kejahatan adalah sebuah pengalaman yang universal, sebab dialami oleh semua manusia. Pengalaman kejahatan telah menantang manusia untuk berpikir dan bertanya: apa arti kejahatan, mengapa terjadi kejahatan, dari mana asalnya? Manusia heran dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Leibniz adalah salah seorang yang tertantang untuk merefleksikan pengalaman kejahatan dan penderitan. Ia akhirnya menyatakan bahwa kejahatan sebagai tiadanya sesuatu, sama seperti sebuah lubang yang merupakan hilangnya sesuatu. Leibniz adalah pencipta kata teodice, “pembenaran Allah” terhadap kejahatan. Ia menerangkan bahwa kebaikan Allah tidak bertentangan adanya kejahatan, dan bahwa kebebasan manusia tidak bertentangan dengan kemahakuasaan Allah. Jika dikatakan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, maka dalam hal ini harus dikatakan bahwa kejahatan tidak bersumber dari Allah karena Allah adalah sumber segala sesuatu yang baik. Oleh karena itu kejahatan tidak dapat menjadi argumen untuk menyangkal Allah, atau juga menjadi landasan untuk tidak mempercayai Allah yang Mahabaik dan Mahakuasa.
POSTMODERNISME : Sebuah Arus di dalam Zaman Kita Moa, Antonius
LOGOS Vol 4 No. 1 (2005) : januari 2005
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v4i1.1829

Abstract

Postmodernism is a popular usage terminology in our life. In fact this term has been used in all aspects of life with different meanings. Sometimes the usage makes the term itself blurred and even contradictory to the term. Though it some time makes us confused, it can not to denied that postmodernism has become a fact in our era. It has become a “trend” among many streams. As a trend, postmodernism has contributed a special characteristic to the generation of our era.
MANUSIA SEBAGAI CO-CREATOR ALLAH: Sebuah Refleksi Etis-Teologis atas Kerja menurut Paham Ensiklik Laborem Exercens Moa, Antonius
LOGOS Vol. 6 No. 2 (2008): Juni 2008
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v6i2.1835

Abstract

Work is a human activity. As an activity, this work is closely related to human being as the worker. For human being, work, as a transitive activity, is not only as an activity to change the nature, to adjust with his need, but to strengthen and to develop human dignity as image of God, as a cocreator with God.
CINTA KASIH SUAMI-ISTRI SEBAGAI FONDASI KEHIDUPAN KELUARGA KRISTIANI: Suatu Uraian Moral Kristiani menurut Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia Moa, Antonius; Hewen, Yordianus Pajo
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2108

Abstract

The development of time which becoming more modern, exposes married couples to various opportunities and challenges to build Christian family life. The development of the modern world which is marked by very rapid progress in the fields of science and technology not only has a very positive impact but also has a very negative impact on the realization of Christian family life. The magnitude of the negative impact that has occurred has resulted in many Christian families, especially Christian husbands and wives, experiencing difficulties in realizing their essence as a communion of love. Responding to situations like this, the Church is required to continuously proclaim and awaken Christian families, especially married couples, about the love of God as the basis, power, direction and goal of Christian family life. Pope Francis through the Apostolic Exhortation Amoris Laetitia invites married couples as main actors in building a Christian family to always cultivate their love as the foundation of Christian family life. Because the strength of the Christian family lies in the ability of married couples to experience and manifest and teach God's love in Christian family life. That means, God's love which is manifested in the love of husband and wife becomes the determining foundation in building the Christian family as a communion of love.
KESADARAN MORAL ORANG MUDA KATOLIK SEBAGAI MASA KINI ALLAH MENURUT PAUS FRANSISKUS DALAM SERUAN APOSTOLIK PASCA SINODE CHRISTUS VIVIT Moa, Antonius; Lahagu, Toni; Antono, Yustinus Slamet; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2550

Abstract

Dewasa ini, manusia berada dalam suatu periode baru dalam perjalanan sejarah hidupnya. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, terutama jaringan telekomunikasi sosial memberi andil yang sangat besar dalam perubahan yang demikian pesat dan bersifat global bagi kehidupan manusia. Kemajuan yang pesat tersebut terjadi ibarat “pedang bermata dua”. Di satu sisi, kemajuan tersebut membawa dampak yang positif, serentak di disisi lain membawa juga dampak negatif. Dampak positif membawa manusia kepada kemajuan-kemajuan yang dicapai melampaui periode sebelumnya. Sebaliknya, dampak negatif membawa manusia ke dalam situasi kehidupan yang dilematis, sehingga mengakibatkan banyak orang “terendam dalam krisis” nilai moral. Orang muda sebagai generasi penerus kehidupan tidak luput dari situasi krisis tersebut. Banyak orang muda ikut terpapar oleh pengaruh tawaran kehidupan yang menggiurkan. Pada kahirnya, mereka jatuh pada kenikmatan-kenikmatan sesaat tanpa makna. Orang muda Katolik sebagai masa depan dan pengemban misi Gereja yang hidup dalam arus perubahan ini juga tidak luput dari situasi kehidupan yang dilematis tersebut. Mereka ikut terendam dalam situasi krisis nilai-nilai moral. Akibatnya, banyak orang muda Katolik tidak mampu berkembang dalam kekudusan dan komitmen panggilan mereka sebagai masa kini Allah. Melihat realitas perubahan terebut, Paus Fransiskus melalui Seruan Apostolik Christus Vivit mengajak orang muda dan semua umat Allah untuk menyadari kebaruan dan kemudaan Kristus. Panggilan orang muda Katolik sebagai masa kini merupakan karunia istimewa Allah untuk mewujudkan kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Masa muda dipenuhi dengan suka cita dan harapan-harapan besar. Pada masa ini orang muda memiliki mimpi yang besar menuju hidup yang lebih baik dan indah. Untuk itu, orang muda Katolik hendaknya memiliki kesadaran dan pemahaman akan situasi serta posisi kemudaanya yang begitu penting bagi Gereja dan kehidupan manusia.
KEMARTIRAN:JALAN MENUJU PERSATUAN DENGAN YESUS KRISTUS: Menurut Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma Situmorang, Sihol; Moa, Antonius; Eko, Silvanus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2992

Abstract

Pada zaman Santo Ignatius, Uskup Antiokia, Gereja sungguh berjuang untuk membela dan mempertahankan imannya. Umat Kristiani dipaksa untuk menyangkal imannya dan dihadapkan ke pengadilan. Sebagian besar dari mereka tetap mengakui imannya kendati harus menanggung kemartiran, antara lain Ignatius. Ia memandang kemartiran sebagai bukti persembahan diri kepada Allah dengan menjadikan dirinya sebagai gandum yang digiling menjadi roti murni. Bagi Ignatius, kemartiran adalah bentuk pemuridan total dan jalan mencapai kesempurnaan mengikuti jejak Kristus. Penghayatannya akan kemartiran terkait erat dengan pemahamannya perihal Ekaristi yang menghantar umat pada persatuan dengan Allah dalam Kristus.
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA Moa, Antonius; Ara, Alfonsus; Firmanto, FX. Hendri
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2999

Abstract

Ruang sakral Gua Maria merupakan bentukan dari manusia religius. Ruang sakral Gua Maria terbentuk tidak terlepas dari kisah historis keberadaan masyarakat Katolik yang menginginkan tempat peziarahan bagi Bunda Maria yang menghadirkan Yang Kudus. Kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria didukung oleh pengalaman para pengelola Gua Maria dan kesaksian mukjizat dari para peziarah. Peristiwa yang meneguhkan kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria ialah adanya berbagai kisah kesembuhan melalui air sendang. Air yang mempunyai daya penyembuhan diyakini menjadi tanda kehadiran Yang Kudus. Berbagai kisah pun bermunculan sehubungan dengan pengalaman akan Yang Kudus. Kisah-kisah itu sangat berperan dalam pembentukan ruang sakral bagi Yang Kudus. Karena itu, Gua Maria telah mengalami proses panjang untuk tetap menjadi ruang sakral bagi Yang Kudus. Hal penting yang membentuk ruang sakral pada Gua Maria adalah adanya ritual religius, baik positif maupun negatif. Ritual religius menjadi salah satu upaya sakralisasi ruang Gua Maria untuk menghindari terjadinya profanisasi. Selain itu, sikap para peziarah juga sangat menentukan terbentuknya ruang sakral bagi Yang Kudus pada Gua Maria.
BAPTIS MENURUT MATIUS 3:13-17 DALAM DIALOG DENGAN RITUS MARTUTUAEK Marmidi, Fransiskus Xaverius; Moa, Antonius; Sinaga, Febri Novel
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.3000

Abstract

Baptis merupakan salah satu upacara khusus untuk menerima dan memasukkan orang luar ke dalam suatu komunitas atau kelompok tertentu sebagai anggota penuh dengan segala kewajiban dan haknya. Upacara ini disebut dengan “inisiasi”. Kata “inisiasi” berasal dari bahasa Latin inire atau initiare, yang berarti: memasuki, masuk atau bergabung ke dalam suatu kelompok; atau juga menerima seseorang ke dalam suatu kelompok. Martutuaek yang merupakan suatu ritus baptis dalam Masyarakat Batak Toba memiliki kemiripan dengan baptisan Yesus menurut Mat 3:13-17. Budaya dapat membuka jalan untuk mempertajam Kitab Suci secara kontekstual, dan Kitab Suci memberi penerangan dan penggenapan bagi budaya itu. Ritus martutuaek dapat dilihat dalam terang baptisan Yesus menurut Mat 3:13-17. Teks Kitab Suci yang diimani sebagai wahyu Allah diletakkan pada posisi yang lebih tinggi dari martutuaek.