Moa, Antonius
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

KEMARTIRAN:JALAN MENUJU PERSATUAN DENGAN YESUS KRISTUS: Menurut Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma Situmorang, Sihol; Moa, Antonius; Eko, Silvanus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2992

Abstract

Pada zaman Santo Ignatius, Uskup Antiokia, Gereja sungguh berjuang untuk membela dan mempertahankan imannya. Umat Kristiani dipaksa untuk menyangkal imannya dan dihadapkan ke pengadilan. Sebagian besar dari mereka tetap mengakui imannya kendati harus menanggung kemartiran, antara lain Ignatius. Ia memandang kemartiran sebagai bukti persembahan diri kepada Allah dengan menjadikan dirinya sebagai gandum yang digiling menjadi roti murni. Bagi Ignatius, kemartiran adalah bentuk pemuridan total dan jalan mencapai kesempurnaan mengikuti jejak Kristus. Penghayatannya akan kemartiran terkait erat dengan pemahamannya perihal Ekaristi yang menghantar umat pada persatuan dengan Allah dalam Kristus.
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA Moa, Antonius; Ara, Alfonsus; Firmanto, FX. Hendri
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2999

Abstract

Ruang sakral Gua Maria merupakan bentukan dari manusia religius. Ruang sakral Gua Maria terbentuk tidak terlepas dari kisah historis keberadaan masyarakat Katolik yang menginginkan tempat peziarahan bagi Bunda Maria yang menghadirkan Yang Kudus. Kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria didukung oleh pengalaman para pengelola Gua Maria dan kesaksian mukjizat dari para peziarah. Peristiwa yang meneguhkan kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria ialah adanya berbagai kisah kesembuhan melalui air sendang. Air yang mempunyai daya penyembuhan diyakini menjadi tanda kehadiran Yang Kudus. Berbagai kisah pun bermunculan sehubungan dengan pengalaman akan Yang Kudus. Kisah-kisah itu sangat berperan dalam pembentukan ruang sakral bagi Yang Kudus. Karena itu, Gua Maria telah mengalami proses panjang untuk tetap menjadi ruang sakral bagi Yang Kudus. Hal penting yang membentuk ruang sakral pada Gua Maria adalah adanya ritual religius, baik positif maupun negatif. Ritual religius menjadi salah satu upaya sakralisasi ruang Gua Maria untuk menghindari terjadinya profanisasi. Selain itu, sikap para peziarah juga sangat menentukan terbentuknya ruang sakral bagi Yang Kudus pada Gua Maria.
BAPTIS MENURUT MATIUS 3:13-17 DALAM DIALOG DENGAN RITUS MARTUTUAEK Marmidi, Fransiskus Xaverius; Moa, Antonius; Sinaga, Febri Novel
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.3000

Abstract

Baptis merupakan salah satu upacara khusus untuk menerima dan memasukkan orang luar ke dalam suatu komunitas atau kelompok tertentu sebagai anggota penuh dengan segala kewajiban dan haknya. Upacara ini disebut dengan “inisiasi”. Kata “inisiasi” berasal dari bahasa Latin inire atau initiare, yang berarti: memasuki, masuk atau bergabung ke dalam suatu kelompok; atau juga menerima seseorang ke dalam suatu kelompok. Martutuaek yang merupakan suatu ritus baptis dalam Masyarakat Batak Toba memiliki kemiripan dengan baptisan Yesus menurut Mat 3:13-17. Budaya dapat membuka jalan untuk mempertajam Kitab Suci secara kontekstual, dan Kitab Suci memberi penerangan dan penggenapan bagi budaya itu. Ritus martutuaek dapat dilihat dalam terang baptisan Yesus menurut Mat 3:13-17. Teks Kitab Suci yang diimani sebagai wahyu Allah diletakkan pada posisi yang lebih tinggi dari martutuaek.
MISI GEREJA DI TENGAH KEBERAGAMAN AGAMA ASIA: Uraian Teologis dari Pemikiran Aloysius Pieris Koro, Dominggus; Marmidi, F.X.; Moa, Antonius
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3418

Abstract

Gereja diutus melanjutkan karya penyelamatan Kristus kepada segala bangsa, termasuk Asia. Dia Asia, Gereja termasuk kelompok minoritas. Misi Gereja yang relevan dengan konteks Asia menuntut Gereja harus berdialog. Karena manurut Aloysius Pieris agama-agama Asia memiliki inti soteorologis tersendiri. Pieris memandang perlu Gereja lokal Asia bersikap rendah hati. Gereja harus mengakomodasikan diri dalam religiositas non-Kritiani dan berpartisipasi dalam spiritualitas non-Kristiani. Evangelisasi yang integral harus diperjuangkan oleh Gereja, sehingga mamon sebagai musuh bersama dapat dilenyapkan.
HAKIKAT PERKAWINAN KRISTIANI SEBAGAI PERSEKUTUAN PRIBADI-PRIBADI DI HADAPAN TANTANGAN PROGRAM BAYI TABUNG: Suatu Uraian Teologis Moral Moa, Antonius; Aldi, Bernardus; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4476

Abstract

Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut melahirkan berbagai macam teknologi yang sangat maju, salah satunya di antaranya yaitu teknologi reproduksi berbantu, secara khusus teknologi bayi tabung (IVF: In Vitro Fertilization). Bayi tabung merupakan produk bioteknologi modern yang dapat membantu manusia untuk mengatasi persoalan sistem reproduksi manusia. Oleh karena itu, bayi tabung menjadi sebuah program yang sangat menjanjikan saat ini. Namun demikian, bayi tabung bukanlah sebuah program yang tanpa persoalan. Jika ditelaah secara lebih mendalam, maka program bayi tabung akan bersentuhan dengan hal yang sangat mendasar, yaitu harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur. Sebagai pribadi, manusia bukanlah objek tertentu. Manusia adalah pribadi yang benilai sejak saat pembuahan atau pertemuan antara sel sperma dan sel ovum. Manusia sebagai pribadi dilahirkan dari generasi ke generasi lewat persekutuan pribadi-pribadi dalam ikatan perkawinan. Oleh karena ini, program bayi tabung juga bersentuhan dengan hakikat perkawinan yang merupakan persekutuan mesra, hidup dan cinta pribadi-pribadi. Dalam konteks ini, dari perspektif ajaran iman Katolik, program bayi tabung merupakan pelanggaran hakikat perkawinan kristiani. Teknologi bayi tabung memang dapat mengatasi persoalan reproduksi, tetapi pada saat yang sama program bayi tabung justeru menjadi program yang menghancurkan harkat dan martabat pribadi manusia yang sangat luhur dan menghancurkan persekutuan pribadi-pribadi dalam perkawinan
BERSAMA BERTRANSFORMASI MENJADI MANUSIA MENURUT GAMBAR ALLAH Nadeak , Largus; Tinambunan, Laurentius; Moa, Antonius
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia yang dicipta bereksistensi menurut gambar Allah mengandung potensi ciptaan (awal) dan juga mengaktualisasi proses pembetukan baru (transformasi) sepanjang sejarah kemanusiaan. Sejak awal, rencana Allah yaitu kebahagiaan bersama sesama manusia, bersama ciptaan lain, dan bersama Allah tergganggu oleh tindakan berdosa manusia, karena manusia mencedarai kebersamaan dengan mengalienasi sesama manusia, mengeksploitasi ciptaan lain, dan menjauh dari Pencipta. Bersama bertransformasi menjadi manusia menurut gambar Allah sangat relevan disuarakan agar terjadi reformasi hidup secara kontinu. Kenyataan dan proses transformasi manusia dilukiskan dengan baik dalam kiasan Pokok Anggur yang Benar dalam Yohanes 15: 1-8. Transformasi manusia menjadi diri yang terbaik adalah menjadi ciptaan baru sebagaimana direncanakan Tuhan. Kebaruan manusia akan terealisir kalau manusia berada di dalam Tuhan, dan Tuhan berada dalam manusia. Keberadaan insani yang berisi daya ilahi membangunkan kehendak manusia sehingga manusia tetap terjaga dan siap menghadapi perubahan dan bergerak menuruti perintah Yesus, yakni saling mengasihi satu sama lain. Murid Yesus dibentuk menjadi pakar kebersamaan transformatif di zaman aktual. Zaman sekarang berciri globalisasi, kecerdasan artifisial, dan perubahan disruptif. Dalam hal ini, kecerdasan manusia harus mencerminkan Kecerdasan Allah Pencipta segala sesuatu, dengannya manusia secara bersama bahagia mengalami penyelenggaraan-Nya, dan saat manusia menggunakan kecerdasan tersebut Allah dimuliakan.
KOMUNITAS BASIS GEREJAWI SEBAGAI SALAH SATU WADAH SOSIALISASI SEMANGAT PERSAUDARAAN UNIVERSAL ENSIKLIK FRATELLI TUTTI DI PAROKI MARIA BUNDA PEMBANTU ABADI, BATAM Sitepu, Mitsiebenson; Moa, Antonius; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As small faith-based communities, Basic Ecclesial Communities (BECs) play a strategic role in fostering bonds of solidarity, dialogue, and compassion toward others, transcending ethnic, cultural, and religious boundaries, core principles promoted in Fratelli Tutti. In the context of MBPA Parish, BECs function not only as spaces for communal faith gatherings but also as arenas for faith formation and the cultivation of social awareness. The methodology employed in this study combines both library research and fieldwork. Data were collected through literature review involving books, articles, and journals relevant to the research theme, as well as through field interviews conducted. The data were analyzed by interpreting the interview findings in light of the principles and values of universal fraternity as articulated in Fratelli Tutti. The findings reveal that BECs in MBPA Parish serve as both a means of faith formation and a locus for social praxis. Through regular meetings, social outreach, and engagement with the broader community, BECs reinforce values of solidarity, care for the marginalized, and foster spaces for intergroup dialogue. However, the research also identifies several challenges, both internal and external. Internal challenges include the limited realization of dialogue, openness, and shared responsibility among BEC members in daily life. External challenges manifest in societal stigma and negative perceptions toward Catholics by other groups. The study concludes that BECs, when guided by a vision aligned with the spirit of Fratelli Tutti, have the potential to be effective instruments for the socialization of universal fraternity, embodied in dialogue, openness, and shared responsibility. Continuous and consistent socialization processes may ultimately contribute to social transformation toward a more just, peaceful, and fraternal world.
DIALEKTIKA DOKTRIN DAN HIDUP DALAM TEOLOGI MORAL PERKAWINAN : Sebuah Tinjauan atas Usaha Pembaharuan Teologi Moral Perkawinan Katolik Moa, Antonius
LOGOS Vol 2 No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v2i1.348

Abstract

Renewal was a declaration done by the 2nd Vatican Council. It was manifested variously in all its documents, and in specific way the Council summoned the renewal of the moral theology. It means that the Council also required renewal of moral theology of marriage, which was inclining too strict and rigorious in the past. That inclination marked a contradictory between life and doctrin. In the light of renewal doctrin and life are no more seen contradictories but dialectics.
SEKSUALITAS MANUSIA SEBAGAI REALITAS DAN PANGGILAN KEPADA CINTA KASIH : Refleksi atas Hakekat Seksualitas Manusia Moa, Antonius
LOGOS Vol 3 No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v3i1.390

Abstract

Experience - both in practical and theoretical sphere - teaches and reminds us that sexuality is a reality inseperable from humanity. It is a human reality. Such a conviction rises a consequence of a deeper understanding that the whole being and existence of human being can only be understood, realized and lived within and through the reality of human sexuality itself, namely being male or female. None is neutral. As human being, he or she must be female or male. As such - being female or male - he/she is an image of God who are love. This implies that sexuality as a human reality is a call towards love.
“KELUARGA YANG RAPUH” MENDIDIK MORAL ANAK DI DALAM BUDAYA POSTMODERNISME Moa, Antonius
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.864

Abstract

Nowdays, family as the union of persons are in fragile condition and in crisis. These things are happening as the effect of a strong cultural changing: from modernity to a fragile culture called postmodernity. What to do? How families handle this crisis? As the main actor in the mission and responsibility for children's moral educations, families are facing great challenges. To be able to do this mission and face this problem, families have to renew themselves continuously, find and create a model for their moral education for their children which comes from realities faced in particular time. It means, the families must know their reality because each family has different reality. Another  invitation is to find way to integrate the values from modern and post-modern culture. Whith this solution hopefuly the crisis in the families will be lessen or solve in proper way.Â