Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analysis of Risk Factors for The Incidence of Low Birth Weight Infants at Delia Langkat General Hospital in 2019 Devi Aprianti; Tri Niswati Utami; Nur Aini
Science Publication: Journal of Public Health and Nutrition Vol. 1 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : PT Yapindo Jaya Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64965/hjmzfc84

Abstract

According to the statistics collected, 157 babies were born with low birth weight (LBW) in 2016. 142 infants were born with LBW in 2017. 134 infants were born with LBW in 2018. The researcher at Delia Langkat General Hospital found that during the previous three years, the monthly prevalence of LBW cases stayed high. Analyzing the risk variables linked to the prevalence of low birth weight at Delia Langkat General Hospital in 2019 is the aim of this study. This study uses a quantitative research design and a retrospective methodology. The Delia Langkat General Hospital served as the study's site. 138 people made up the study population, and 138 respondents were selected from the sample using a total sampling technique. At a 95% confidence level (α = 0.05), the data were examined using univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The findings indicated that a history of preterm birth (p = 0.017 < 0.05) and multiple pregnancies (p = 0.026 < 0.05) were the factors linked to the incidence of LBW at Delia Langkat General Hospital in 2018. Maternal age (p = 0.847 > 0.05), preeclampsia/eclampsia (p = 1.000 > 0.05), birth interval (p = 0.0322 < 0.05), and early rupture of membranes (p = 0.439 > 0.05) were among the variables that were not linked to the risk of LBW. The history of preterm delivery was the most significant factor linked to the incidence of LBW. According to the study's findings, a history of preterm delivery and repeated pregnancies both have an impact on the occurrence of LBW. A history of preterm birth is the most important factor. In order to enhance the delivery of health education on the prevention and risk factors of LBW incidence, it is anticipated that these findings will be able to be used as an assessment reference by healthcare professionals, especially in LBW services. Keywords: Maternal Age, Preeclampsia/Eclampsia, Birth Interval, Multiple Pregnancy, History of Preterm Birth, Premature Rupture of Membranes, Low Birth Weight Incidence
Determinan Pemanfaatan Pos Kesehatan Desa (POSKESDES) Pada Keluarga Di Desa Keude Lueng Putu Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya Nadhya Hidayatul Ulfa; Asriwati Asriwati; Yuniati Yuniati; Indah Anggraini; Tri Niswati Utami
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v3i1.1204

Abstract

Village Health Posts (Poskesdes) are community-based health efforts (UKBM) established in villages in order to bring/provide basic health services for rural communities. Activities carried out include promotive, preventive, and curative activities including monitoring of nutritional status, as well as the health of pregnant women, disease management, preparedness and disaster management. The purpose of the study was to determine the determinants of the use of Village Health Posts (Poskesdes) in families in Keude Lueng Putu Village, Bandar Baru District, Pidie Jaya Regency. The research design used a quantitative method which was carried out by an analytical survey with a Cross Sectional Study approach. The population in this study was the entire community as many as 1,132 housewives. The sample used the purposive sampling technique of 91 housewives. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis. The results showed that there was an influence of knowledge p = 0.027, family support p = 0.004 and distance p = 0.037 variables that did not have a relationship, namely the attitude and support of health workers on the use of Village Health Posts (Poskesdes) in families in Keude Lueng Putu Village, Bandar Baru District. Pidie Jaya Regency. While the most dominant factor is family support p = 0.001, 95% CI = 2.655-39,141 with OR = 10,195. The conclusion of this study is that there is an influence of knowledge, family support and distance while the most dominant factor is family support for the use of Village Health Posts (Poskesdes) in families in Keude Lueng Putu Village, Bandar Baru District, Pidie Jaya Regency. It is recommended to Poskesdes officers to provide information and provide counseling to families in order to increase family knowledge so as to support other family members to take advantage of Poskesdes.
FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERSEPSI REMAJA TERHADAP SEKS PRANIKAH Vacsriani, Mariska; Ismail Efendy; Nur Aini; Asriwati; Tri Niswati Utami; Irma Valentina Manurung
JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Mercusuar
Publisher : Universitas Mercubaktijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36984/maw1y448

Abstract

Seks pranikah pada remaja menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mendesak untuk diteliti karena berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi persepsi remaja terhadap seks pranikah di SMK Kesehatan Imelda Medan. Desain penelitian menggunakan metode Kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII dengan sampel sebanyak 79 orang menggunakan teknik total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistic berganda. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh perhatian keluarga, spiritual dan pergaulan bebas terhadap persepsi seks pranikah pada remaja. Faktor yang paling dominan yaitu pergaulan bebas. Variabel pergaulan bebas memiliki nilai Exp (B) sebesar 152.684, dengan demikian responden yang memiliki pergaulan bebas cenderung memiliki persepsi terhadap seks pranikah sebesar 5.028. Nilai B atau logaritma natural dari 5.028 adalah 152.684. Oleh karena nilai B bernilai positif, dengan demikian variabel pergaulan bebas memiliki pengaruh positif terhadap seks pranikah pada remaja atau jika responden memiliki sikap pergaulan bebas dengan demikian cenderung memiliki persepsi terhadap seks pranikah pada remaja sebesar 152.684 kali. Dibutuhkan peran aktif orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi, pengawasan, dan pembinaan moral sejak dini guna mencegah terjadinya seksual pranikah berisiko di kalangan remaja.
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Metode Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control pada Pekerja di Depo Lokomotif PT. KAI (PERSERO) Divre I Medan Ade Irma Seftyani Lubis; Tri Niswati Utami
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1314

Abstract

Kecelakaan kerja di industri transportasi seperti Depo Lokomotif PT KAI Divre I Medan masih sering terjadi akibat berbagai potensi bahaya. Terjadi peningkatan kecelakaan yang terjadi di Depo Lokomotif PT KAI Divre I Medan, dimana pada tahun 2020 tercatat 12 kasus kecelakaan, kemudian meningkat menjadi 18 kasus di tahun 2021, dan bertambah lagi menjadi 20 kasus pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat potensi bahaya fisik, mekanik, kimia, dan ergonomi, dengan tingkat risiko yang bervariasi, dimana terdapat 6 risiko kategori tinggi (high), 25 kategori sedang (medium), dan 8 kategori rendah (low). Salah satu potensi bahaya dengan kategori risiko tinggi (High) terdapat pada proses pemeriksaan sistem EFI (Electronic Fuel Injection), yakni risiko sengatan listrik akibat tegangan tinggi. Tingkat kemungkinan kejadian (likelihood) berada pada skor 2 (Unlikely), namun tingkat keparahan (severity) dinilai 5 (Catastrophic), sehingga total nilai risiko mencapai skor 10. Risiko ini sangat signifikan karena berpotensi menyebabkan cedera berat hingga kematian apabila pekerja tidak mengikuti prosedur kerja aman dibandingkan dengan risiko tinggi lainnya.
Hubungan Intensitas Pencahayaan Terhadap Kelelahan Mata Pada Pegawai Kantor Di BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Sumatera Bagian Utara Nur Elviyani Sinaga; Tri Niswati Utami
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1358

Abstract

Kelelahan mata merupakan kelelahan pada mata yang dirasakan oleh pekerja kantoran, terutama mereka yang bekerja menggunakan komputer dengan durasi yang lama tanpa beristirahat. Adapun faktor yang mempengaruhi keluhan ini salah satunya adalah intensitas pencahayaan di ruang kerja. Tujuan dalam kajian ini adalah guna mengetahui hubungan intensitas pencahayaan terhadap kelelahan mata pada pegawai kantor di BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode analisis kuantitatif yang melibatkan 35 responden yang bekerja menggunakan komputer. Data dikumpulkan melalui pengukuran kelelahan mata dengan penyebaran kuesioner VFI (Visual Fatigue Index) kelelahan mata dan alat lux meter sebagai pengukuran pencahayaan. Hasil pengukuran intensitas pencahayaan menunjukkan bahwa sebagian besar ruangan kantor memiliki pencahayaan di bawah standar Permenaker No. 5 Tahun 2018, yaitu 300 lux. Tercatat intensitas pencahayaan yang tidak sesuai standar ada paling rendah dari 143 lux sampai 227,6 lux. Sementara itu, hasil pengisian kuesioner menunjukkan bahwa dari 35 responden, yang merasakan keluhan kelelahan mata berjumlah 31 responden dengan persentase 88,6%, dan sebanyak 4 pegawai dengan persentase 11,4% tidak mengalami kelelahan mata. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara intensitas pencahayaan dengan keluhan kelelahan mata dengan P-value 0,029 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa semakin rendah pencahayaan, semakin tinggi tingkat kelelahan mata. . Oleh sebab itu, diperlukan evaluasi dan perbaikan sistem pencahayaan di lingkungan kerja agar tercipta kenyamanan visual dan peningkatan produktivitas kerja pegawai.