Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perlindungan Hukum Terhadap Investor Aset Digital Kripto Ditinjau dari Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka Lucky Bil Barkah; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.5015

Abstract

Abstract. Legal protection is something that is really needed by every citizen in order to create a sense of security and to prevent criminal acts from occurring.In reality there are criminal acts that harm victims by means of fraud. The problems are formulated as follows (1) How is the implementation of policies on the supervision of the physical market for crypto digital assets in terms of CoFTRA Regulation Number 5 of 2019 concerning Technical Provisions for Organizing the Physical Market for Crypto Assets on Futures Exchanges? (2) What is the legal protection for digital crypto asset investors in terms of CoFTRA Regulation Number 5 of 2019 concerning Technical Provisions for Organizing a Physical Market for Crypto Assets on Futures Exchanges. The method in this study is normative juridical where law is conceptualized as what is written in laws and regulations or law is conceptualized as rules or norms which are benchmarks for human behavior that are considered appropriate. The conclusion that based on the results of the first study shows that CoFTRA issued regulations regarding technical provisions by issuing CoFTRA Regulation Number 5 of 2019 Article 2, Article 5, Article 11, Article 13, Article 16, Article 17, Article 20, Article 21. Both legal protection against crypto digital asset investors regulated in: Law no. 10 of 2011, Minister of Trade Regulation No. 99 of 2018 concerning General Policy for Organizing Crypto Asset Futures Trading, CoFTRA Regulation Number 5 of 2019 concerning Technical Provisions for Organizing Physical Crypto Asset Markets on Futures Exchanges. Abstrak. Perlindungan hukum merupakan hal yang sangat diperlukan oleh setiap warga negara demi menciptakan rasa aman dan dapat mencegah terjadinya tindak kriminal. Akan tetapi, pada kenyataannya terjadi tindak kriminal yang merugikan korban dengan cara penipuan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut (1) Bagaimana implementasi kebijakan terhadap pengawasan pasar fisik aset digital kripto ditinjau dari Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto Di Bursa Berjangka ?. (2) Bagaimana perlindungan hukum terhadap investor aset digital kripto ditinjau dari Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto Di Bursa Berjangka. Metode dalam penelitian ini adalah yuridis normatif di mana hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas. Simpulan bahwa berdasarkan hasil penelitian yang pertama menunjukan bahwa Bappebti mengeluarkan peraturan tentang ketentuan teknis dengan mengeluarkan peraturan Bappebti Nomor 5 tahun 2019 Pasal 2, Pasal 5, Pasal 11, Pasal 13, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 20, Pasal 21. Kedua Perlindungan hukum terhadap investor aset digital kripto yang diatur dalam: UU No. 10 Tahun 2011, Peraturan Mentri Perdagangan No. 99 Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto, Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka.
Pertanggungjawaban Hukum Penyedia Jasa Layanan Elektronik Terhadap Penjualan Buku Bajakan Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Jo. Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 2019 Tentang Penyelenggara Transaksi Melalui Sistem Elektronik Yogi Suprayogi; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.5064

Abstract

Abstract. Books are windows to the world that open scientific insights. Along with the development of the information system era and advances in technology, buying and selling transactions are experiencing rapid progress, ranging from electronic goods, household needs to online book sales which are selling well in electronic trading services. Electronic trading services as organizers of electronic transaction activities have a very important role as a medium for buying and selling transactions in this modern era. Today, more and more results of thought and creative processing are produced by the expertise of creators. In order to produce a work that can be protected by copyright, the creation itself must have its own characteristics. Copyright is the right owned by the creator to exploit in various ways the work he produces. Copyright consists of economic rights and moral rights. Economic rights are rights to obtain economic benefits from creations and related rights products. Intellectual Property is property rights originating from human intellectual abilities which are expressed in the form of creative creations through various fields, such as science, technology, art, literature, design, and so on. KI or Intellectual Property Rights (IPRs) are economic rights granted by law to a creator or inventor for a work based on human intellectual abilities in the fields of science, technology, art and literature consisting of copyrights which include literary works, portraits, cinematography, music and Industrial Property Rights which includes patents, brands and industrial designs Abstrak. Buku merupakan jendela dunia yang membuka wawasan keilmuan. Seiring dengan berkembangnya zaman sistem informasi dan kemajuan teknologi transaksi jual beli mengalami kemajuan pesat mulai dari barang elektronik , kebutuhan rumah tangga sampai dengan penjualan buku online yang laris manis di jasa perdagangan elekronik . Jasa perdagangan elektronik sebagai penyelenggara kegitan transaksi elektronik memilki peran yang sangat penting sebagai media transaksi jual beli di era modern ini. Dewasa ini, semakin banyak hasil olah pikir dan olah cipta yang dihasilkan oleh keahlian pencipta. Untuk menghasilkan karya yang dapat dilindungi hak cipta, ciptaan itu sendiri harus memiliki khas-nya sendiri. Hak cipta adalah hak yang dimiliki pencipta untuk mengeksploitasi dengan berbagai cara karya yang dihasilkannya. Hak Cipta terdiri atas hak ekonomi (economic rights) dan hak moral (moral rights). Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait. Kekayaan Intelektual adalah hak milik yang berasal dari kemampuan intelektual manusia yang diekspresikan dalam bentuk ciptaan hasil kreativitas melalui berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sastra, desain, dan sebagainya. KI atau Intellectual Property Rights (IPRs) merupakan hak ekonomis yang diberikan oleh hukum kepada seorang pencipta atau penemu atas suatu hasil karya dari kemampuan intelektual manusia dibidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan sastra yang terdiri dari Hak Cipta yang meliputi hasil karya kesastraan, potret, sinematografi, musik dan Hak Atas Kekayaan Industri yang meliputi paten, merek, dan desain industri.
Perlindungan Hukum Bagi Pencipta Karya Potret dari Tindakan Tracing Digital Tanpa Izin pada Cover Novel Fiksi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Viony Yulia Putri; Neni Sri Imaniyati; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.5113

Abstract

Abstract. The development of technology and information in the current digitalization era affects the existence of portraits in every life, especially in the business sector because portraits have selling points and portraits are easily accessible via websites or online platforms. The ease of accessing portraits can have a negative impact because they can be misused by irresponsible parties for commercial interests to gain personal gain which will result in losses for the portrait owner. As happened with the use of portraits taken from the Twitter platform without permission and then transformed into illustrations and used as novel covers. Law Number 28 of 2014 concerning Copyright has regulated copyright on portrait works and procedures for using portraits as well as procedures for translating works that are part of copyrighted works which are protected by law so that both the Author or the Copyright Holder and the works created for legal protection. This study uses normative juridical research methods, with research specifications using analytical descriptive, the type of data used is secondary data, data collection techniques use library research techniques, and data analysis techniques use qualitative juridical. Based on the results of this study, it is obtained that there is preventive legal protection that is provided before the occurrence of a violation, namely by registering the creation at the Directorate General of Intellectual Property and submitting a license agreement. Repressive legal protection which is carried out after the violation occurs through a lawsuit to the Commercial Court and the Arbitration Institution and Alternative Dispute Resolution. In addition, legal remedies that can be taken by creators or copyright holders can be in the form of civil legal remedies by filing compensation to the Commercial Court and criminally by filing through litigation or non-litigation. Abstrak. Perkembangan teknologi dan informasi era digitalisasi saat ini mempengaruhi keberadaan potret dalam kehidupan sehari-hari, terutama di sektor bisnis karena potret memiliki nilai jual di dalamnya serta potret mudah diakses melalui situs web atau platform online. Adanya kemudahan mengakses potret dapat menimbulkan dampak negatif karena dapat disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk kepentingan komersial demi meraup keuntungan pribadi yang akan menimbulkan kerugian bagi pemilik karya potret. Seperti yang terjadi pada penggunaan potret tanpa izin yang diambil dari platform twitter kemudian dialihwujudkan menjadi bentuk ilustrasi dan digunakan sebagai cover novel. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta telah mengatur mengenai hak cipta atas karya potret dan prosedur penggunaan potret serta prosedur dalam melakukan pengalihwujudan karya yang merupakan bagian dari karya cipta yang dilindungi oleh undang-undang sehingga baik Pencipta atau Pemegang hak cipta dan karya yang diciptakan mendapatkan perlindungan hukum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian menggunakan deskriptif analitis, jenis data yang digunakan adalah data sekunder, teknik pengambilan data menggunakan teknik studi kepustakaan, dan teknik analisis data mengunakan yuridis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh adanya perlindungan hukum preventif yang diberikan sebelum terjadinya pelanggaran yaitu dengan mendaftarkan hasil ciptaan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan mengajukan perjanjian lisensi serta perlindungan hukum represif yang dilakukan setelah terjadinya pelanggaran melalui gugatan ke Pengadilan Niaga dan Lembaga Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Selain itu, upaya hukum yang dapat ditempuh oleh Pencipta atau Pemegang hak cipta dapat berupa upaya hukum perdata dengan mengajukan ganti rugi ke Pengadilan Niaga dan secara pidana dengan mengajukan pengaduan melalui jalur litigasi maupun non-litigasi.
Pertanggung Jawaban Pelaku Usaha terhadap Insiden pada Penyelenggaraan Pertandingan Sepak Bola yang Menimbulkan Kerugian Bagi Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Muhamad Rafli Tri Putra Pamungkas; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.5396

Abstract

Abstract. Indonesian football is currently no longer just a sport, but also influences other fields such as socio-religious, information technology, entertainment, economics, business, and even politics which also drags the political elites in a country. Football has developed into a sport that is in demand in various circles and has become an entertainment that can be enjoyed by anyone. The development of football in the world cannot be separated from the support of existing clubs, through competitions which are always held every year. Indonesia as one of the developing countries, especially regarding football, tries to continue to try to improve the quality of existing football, the involvement of the government and people who care about the progress of Indonesian football has made football continue to grow to what it is now. The research method used in this study is a normative juridical approach because in this study the authors used a scientific procedure to reveal the truth based on scientific logic from a normative perspective. This research was carried out based on the main legal material by examining theories, concepts, legal principles and laws and regulations related to this research concerning the role of related parties in being accountable for the protection of consumers who suffer losses based on laws and regulations. The results of this study are that the legal responsibility of the organizers as business actors who organize football competitions in the Indonesia Saha League against consumers for incidents that cause harm to consumers occurs as a result of unlawful acts committed by the organizers as business actors, so the consequence is that the organizers must be responsible as stipulated in Article 19 UUPK. Either in the form of material compensation or in accordance with the impact caused by the business actor. Abstrak. Sepak bola Indonesia saat ini bukan lagi hanya sekedar olahraga, akan tetapi juga mempengaruhi bidang-bidang lain seperti sosial keagamaan, teknologi informasi, hiburan, ekonomi, bisnis, dan juga bahkan politik yang juga menyeret para elit politik dalam suatu negara. Sepak bola telah berkembang menjadi olahraga yang diminati di berbagai kalangan serta menjadi sebuah hiburan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Perkembangan sepak bola di dunia tak lepas dari dukungan klub-klub yang ada, melalui kompetisi yang selalu diselenggarakan tiap tahunnya. Indonesia sebagai salah satu negara yang berkembang terutama mengenai sepak bolanya mencoba berusaha terus meningkatkan mutu persepak bolaan yang ada, keterlibatan pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap kemajuan persepak bolaan tanah air menjadikan sepak bola terus berkembang sehingga sekarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pendekatan yuridis normatif karena dalam penelitian ini penulis menggunakan suatu prosedur ilmiah untuk mengungkapkan kebenaran berdasarkan logika keilmuan dari sisi normatif. Penelitian ini dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara meneelah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini mengenai peran pihak terkait dalam mempertanggung jawabankan Perlindungan Konsumen yang mengalami kerugian berdasarkan peraturan perundang-undangan. Hasil dari penelitian ini bahwa Pertanggung jawaban Hukum pihak penyelenggara sebagai Pelaku Usaha yang menyelenggarakan kompetisi pertandingan Sepak Bola di Liga Indonesiasaha terhadap konsumen atas insiden yang menimbulkan kerugian bagi Konsumen terjadi akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan pihak penyelenggara sebagai Pelaku Usaha maka konsekuensinya pihak penyelenggara harus bertanggung jawab sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UUPK. Baik berupa ganti rugi materil maupun sesuai dengan dampak yang ditimbulkan oleh pelaku usaha.
Implementasi Penilaian Persamaan pada Pokoknya atas Penggunaan Nama Merek Terdaftar dari Barang Sejenis Muhammad Reza Subhan; Neni Sri Imaniyati; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.6125

Abstract

Abstract. Intellectual Property (IP) is property rights originating from human intellectual abilities which are expressed in the form of creative creations through various fields, such as science, technology, art, literature, design, and so on. According to WIPO (The World Intellectual Property Organization) in general, Intellectual Property (IP) consists of two branches, namely Copyright and Industrial Property Rights. Researchers used normative juridical methods, namely research conducted only by studying data obtained through library materials and legal secondary data. This research specification is Descriptive-Analytical which is intended to provide an overview as well as an analysis regarding the implementation of provisions in regulations based on applicable legal provisions. Legal Recourse is an effort given by law to a person or legal entity for certain things, namely not in accordance with what he wants, does not fulfill a sense of justice. In Law Number 20 of 2016 Concerning Marks and Geographical Indications there are several stages in resolving disputes, namely civil and criminal. Author's analysis of the POMPOUS and POMPOUS cases777. Where the POMPOUS party can civilly file a lawsuit for trademark infringement to the Commercial Court and carry out alternative dispute resolution or arbitration. Then, criminally, POMPOUS can ask POMPOUS777 to carry out an investigation into his actions, namely examining alleged criminal acts in the field of marks with provisions for criminal sanctions. Abstrak. Kekayaan Intelektual (KI) adalah hak milik yang berasal dari kemampuan intelektual manusia yang diekspresikan dalam bentuk ciptaan hasil kreativitas melalui berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sastra, desain, dan sebagainya. Menurut WIPO (The World Intellectual Property Organization) secara garis besar Kekayaan Intelektual (KI) terdiri atas dua cabang yaitu Hak Cipta dan Hak Atas Kekayaan Industri. Peneliti menggunakan metode yuridis normatif yaitu penelitian yang dilakukan hanya dengan mempelajari data yang diperoleh melalui bahan-bahan kepustakaan dan data sekunder yang bersifat hukum. Spesifikasi Penelitian ini bersifat Deskriptif-Analitis yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran sekaligus analisis mengenai pelaksanaan ketentuan dalam peraturan yang didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku. Upaya Hukum merupakan upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada seseorang atau badan hukum untuk hal tertentu yakni tidak sesuai dengan yang diinginkannya, tidak memenuhi rasa keadilan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ada beberapa tahapan dalam penyelesaian sengketa yakni secara perdata dan secara pidana.1. Analisis Penulis terhadap kasus POMPOUS dan POMPOUS777. Dimana pihak POMPOUS secara perdata bisa melakukan Gugatan atas Pelanggaran Merek Kepada Pengadilan Niaga dan melakukan alternatif Penyelesaian sengketa atau arbitrase. Kemudian Secara Pidana Pihak POMPOUS bisa memohonkan untuk dilakukan penyidikan kepada POMPOUS777 atas Perbuatan yang dilakukannya yakni memeriksa terhadap dugaan tindak pidana di bidang merek dengan ketentuan sanksi pidana.
Pertanggungjawaban Penyedia Jasa Layanan Elektronik Terhadap Pembatalan Pembelian Tiket Online secara Sepihak kepada Konsumen Berdasarkan PP No. 80 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Transaksi Melalui Sistem Elektronik Sarah Judith Putri Santosa; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v3i1.7157

Abstract

Abstract. E-commerce is a form of trade transaction or trading of goods or services using electronic media. Trading through electronic transactions in Indonesia is regulated in Law Number 7 of 2014 concerning Trade, but has not been specifically regulated regarding Trading Through Electronic Systems, which was later ratified by Government Regulation Number 80 of 2019 concerning Trading Through Electronic Systems. Even though there are many laws and regulations that regulate online transaction activities in e-commerce, there are still many Business Actors who carry out online transaction activities without using good faith. So that with this research it is hoped that it can help and find out the accountability and legal remedies for unilateral cancellation by Business Actors in carrying out online transaction activities. This research method uses normative juridical by comparing primary, secondary, and tertiary literature studies. In terms of existing problems, current laws and regulations can be implemented in resolving disputes with consumers. Abstrak. E-commerce merupakan bentuk transaksi perdagangan atau perniagaan barang atau jasa dengan menggunakan media elektronik. Perdagangan melalui transaksi elektronik di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, akan tetapi belum diatur secara khusus mengenai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, yang kemudian disahkan Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Walaupun telah banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan transaksi online di e-commerce akan tetapi masih banyak Pelaku Usaha yang melaksanakan kegiatan transaksi online dengan tidak menggunakan itikad baik. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat membantu dan mengetahui pertanggungjawaban serta upaya hukum dari Pembatalan secara sepihak oleh Pelaku Usaha dalam menjalankan kegiatan transaksi online. Metode penelitian ini menggunakan yuridis normative dengan membandingkan studi kepustakaan primer, sekunder, dan tersier. Dalam permasalahan yang ada peraturan perundang-undangan saat ini sudah dapat di implementasikan dalam menyelesaikan sengketa terhadap Konsumen.
Trademark Registration As A Legal Protection Effort For MSME Products Asep Hakim Zakiran; Mentari Jastisia; Belardo Prasetya Mega Jaya
Syiar Hukum Volume 20, No 2 (2022) : Syiar Hukum : Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/shjih.v20i2.11883

Abstract

MSMEs in Indonesia have enormous potential to support economic growth. It is because the number of MSMEs in Indonesia reaches 99.9% of all businesses operating in Indonesia. However, the high number of MSMEs in Indonesia has not been followed by the level of awareness of MSME actors to register their business brands. The purpose of this study is to determine the legal protection that MSMEs can obtain for their trademark registration. The method used in this research is normative juridical. The results of this study indicate that there are various benefits of registration, both preventive and repressive legal protection.
Pemenuhan Hak Pasien BPJS dalam Mendapatkan Pelayanan Antidiskriminasi Dihubungkan dengan UU Rumah Sakit Althaf Naufal Romero; Sri Ratna Suminar; Asep Hakim Zakiran
Jurnal Riset Ilmu Hukum Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Ilmu Hukum (JRIH)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrih.v3i1.2121

Abstract

Abstract. Health is part of the basic right of every human being and is a basic need of every human being that cannot be reduced under any circumstances. In an effort to obtain the right to health, people will receive a health service. Health services are one of the most needed forms of service by the community. Service is oriented towards fulfilling consumer demands and expectations, so it cannot be separated from quality or quality. Regarding the quality of health services, there are still problems in its implementation. For example, there are cases of discrimination against patients participating in BPJS Kesehatan in hospitals in obtaining health services. This study aims to determine the implementation of the fulfillment of the rights of patients participating in BPJS Kesehatan in obtaining antidiscrimination health services in hospitals and the legal responsibility of hospitals for patients participating in BPJS Kesehatan who get discrimination in health services based on Law Number 44 of 2009 concerning Hospitals. This research uses a normative juridical approach method with analytical descriptive research specifications and uses secondary data types. The data collection technique used is a literature study and uses qualitative analysis methods. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the implementation of fulfilling the rights of patients participating in BPJS Kesehatan in obtaining antidiscrimination health services in hospitals has not been carried out properly. This is because there is still discriminatory treatment for patients participating in BPJS Kesehatan and hospital legal liability for patients participating in BPJS Kesehatan who get discrimination based on Law Number 44 of 2009 concerning Hospitals in the form of administrative sanctions. Regarding the civil liability of hospitals, it will refer to Article 1367 of the Civil Code which is supported by the doctrine of corporate liability. Abstrak. Kesehatan merupakan bagian dari hak dasar setiap manusia dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Sebagai upaya mendapatkan hak kesehatan, masyarakat akan menerima sebuah pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Pelayanan berorientasi pada pemenuhan atas permintaan dan harapan konsumen, sehingga tidak bisa dipisahkan dengan kualitas atau mutu. Berkaitan dengan mutu pelayanan kesehatan, masih terdapat permasalahan dalam penerapannya. Sebagai contoh terdapat kasus diskriminasi terhadap pasien peserta BPJS Kesehatan di rumah sakit dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pemenuhan hak pasien peserta BPJS Kesehatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang antidiskriminasi di rumah sakit dan pertanggungjawaban hukum rumah sakit terhadap pasien peserta BPJS Kesehatan yang mendapatkan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis dan menggunakan jenis data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka dan menggunakan metode analisis kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa implementasi pemenuhan hak pasien peserta BPJS Kesehatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang antidiskriminasi di rumah sakit belum dapat terlaksana dengan baik. Hal tersebut dikarenakan masih adanya perlakuan diskriminasi kepada pasien peserta BPJS Kesehatan dan pertanggungjawaban hukum rumah sakit terhadap pasien peserta BPJS Kesehatan yang mendapatkan diskriminasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit berupa sanksi administratif. Terkait pertanggungjawaban perdata rumah sakit, maka akan merujuk kepada Pasal 1367 KUHPerdata yang didukung dengan doktrin corporate liability.
The SISTEM PRESIDENSIL DAN KEBANGKITAN NEO-OTORITARIANISME: KEGAGALAN REFORMASI KONSTITUSI DI INDONESIA? Dramanda, Wicaksana; Kabir, Syahrul Fauzul; Zakiran, Asep Hakim
Jurnal Konstitusi Vol. 21 No. 3 (2024)
Publisher : Constitutional Court of the Republic of Indonesia, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31078/jk2131

Abstract

Artikel ini mencoba mengidentifikasi bagaimana peran desain sistem pemerintahan memberikan pengaruh terhadap pembusukan demokrasi dan kebangkitan otoritariansme di Indonesia.Terdapat dua identifikasi masalah yang akan coba dijawab, yakni Pertama, apakah desain sistem presidensil di dalam UUD 1945 memiliki pengaruh terhadap kemerosotan demokrasi dan kebangkitan otoritarianisme? Kedua, bagaimana aktor politik memanfaatkan celah di dalam sistem presidensil, untuk melemahkan demokrasi dan membangkitkan otoritarianisme? Artikel ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis, yang memadukan pendekatan doktriner dengan pendekatan empiris. Artikel ini berhasil menyimpulkan bahwa desain sistem presidensil di dalam UUD 1945 pasca perubahan, gagal mencegah otoritarianisme untuk bangkit, akibat lemahnya pembatasan kekuasan presiden di level politik formal yang mengakibatkan pemusatan kekuasaan di tangan presiden. Di level informal, UUD 1945 gagal menghadirkan partai politik sebagai salah satu pranata demokrasi yang demokratis. Artikel ini juga berhasil mengidentifikasi penggunaan instrumen hukum untuk melemahkan demokrasi yang sekaligus memicu kebangkitan otoritarianisme oleh para aktor politik.
Perlindungan Hukum bagi Pencipta dari Film Warkop DKI yang Diparodikan Tanpa Izin dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Farhan Ramadhiansyah; Asep Hakim Zakiran
Bandung Conference Series: Law Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v4i1.9776

Abstract

Abstract In general, copyright is the part of intellectual property that receives the most extensive protection. Based on Law Number 28 of 2014 which regulates that creators have the right to economic rights to their creations. Rapid technological developments in cyberspace have created a special space for creative individuals to produce expressive works, one of which is parody content. The aim of this research is legal protection for creators and copyright holders of parody content in the Warkop DKI case. This paper uses normative legal research methods through a regulatory approach and a case approach. This research concludes that it is divided into two legal protections for copyright violations in the form of parody content in the Warkop DKI case, namely preventive legal protection which aims to prevent violations from occurring so that copyright recording and registration is carried out. Furthermore, repressive legal protection is resolved in the form of legal remedies through litigation and non-litigation. Abstrak Secara umum, hak cipta merupakan bagian dari kekayaan intelektual yang mendapat perlindungan paling luas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 yang mengatur bahwa pencipta berhak atas hak ekonomi ciptaannya. Perkembangan teknologi yang pesat dalam dunia maya telah menciptakan ruang tersendiri bagi individu kreatif untuk menghasilkan karya-karya ekspresif, salah satunya adalah konten parodi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perlindungan hukum terhadap pencipta dan pemegang hak cipta atas konten parodi pada kasus Warkop DKI. Tulisan ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan melalui pendekatan peraturan secara perundang-undangan dan pendekatan kasus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terbagi menjadi dua perlindungan hukum atas pelanggaran hak cipta yang berupa konten parodi pada kasus Warkop DKI, yaitu perlindungan hukum preventif yang bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa sehingga dilakukannya pencatatan dan pendaftaran hak cipta. Selanjutnya, perlindungan hukum represif yang dalam penyelesaiannya berupa upaya hukum penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi dan nonlitigasi