Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERGESERAN BAHASA MUNA PADA MASYARAKAT MUNA DI KELURAHAN ALOLAMA KOTA KENDARI Djabir, Muhammad; Suyuti, Nasruddin; bahtiar, Bahtiar; la aso, La Aso
Jurnal Penelitian Budaya Vol 8, No 2 (2023):
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpeb.v8i2.46217

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan factor-faktor yang mempengaruhi pergeseran bahasa Muna pada masyarakat Muna di Kelurahan Alolama Kota Kendari.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Dalam mengumpulkan data ada tiga teknik yang digunakan, yaitu (1) Pengamatan (observation), (2) Wawancara (interview), dan (3) dokumentasi (documentation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor-Faktor yang menjadi penyebab terjadinya Pergeseran bahasa Muna dalam lingkup masyarakat suku Muna di Kelurahan Alolama, Kecamatan Mandonga, Kota kendari, yaitu a). Faktor tranmigrasi atau perpindahan penduduk. Transmigrasi atau perpindahan penduduk merupakan salah satu faktor pendorong terjadinya pergeseran bahasa pada suatu masyarakat., b). Faktor Ekonomi. Faktor ekonomi adalah salah satu juga yang menjadi faktor penyebab yang paling banyak dalam bergesernya bahasa c). Faktor Sekolah dan Pendidikan. Faktor sekolah atau pendidikan yang dimaksid di sini adalah guru-guru bahkan siswa yang menjadi alasan beralihnya bahasa ibu ke bahasa indonesia, dan d). Faktor Sosial. Faktor social di mana masyarakat sudah menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari sehingga mengakibatkan Bahasa Muna kian tersisihkan. Kata kunci : pergeseran,bahasa, Masyarakat Muna.
Berbagi Pengalaman Bersama Masyarakat Buton pada Pesta Adat Tahunan di Desa Kondowa Dongkala Kec. Pasarwajo Kab. Buton Laxmi Laxmi; Nasruddin Suyuti; Ashmarita Ashmarita; Raemon Raemon; Hidayah Rahman
Jurnal Kabar Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2023): November : JURNAL KABAR MASYARAKAT
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jkb.v1i4.1055

Abstract

The implementation of a traditional party once a year makes the people of Kondowa Dongkala Village very attentive and collaborate in preparing everything related to the village party, where in the annual party there are things called pikolambu and kabaria. The implementation of this annual traditional party has the meaning of expressing gratitude for the blessings, gifts and long life given to the people of Kondowa Dongkala village, which means giving thanks to Allah SWT because one year the people of Kondowa Dongkala always stand together, sit together for the good fortune the bring. God has given it to the people of Kondowa Dongkala Village.
KELOR (BHANGGAI) PADA ORANG MUNA DI DESA MASALILI KECAMATAN KONTUNAGA KABUBUPATEN MUNA Nur Haliza; Nasruddin Suyuti
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan alasan orang Muna di Desa Masalili tidak mengembangkan kelor sebagai ketahanan ekonomi keluarga dan untuk mengetahui upaya pemerintah setempat dalam mengembangkan tanaman kelor sebagai ketahanan ekonomi keluarga. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember-Februari 2020. Penelitian ini menggunakan teori Ekonomi Subtantif dari Scott Cook, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penelitian lapangan dengan dua metode yakni pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indeepth interview). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan metode penelitian etnografi.Hasi penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat Desa Masalili belum mengetahui manfaat dan nilai ekonomis dari tanaman kelor dan juga mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai pengrajin tenun, sementara Pemerintah Desa Masalili Kecamatan Kontunaga masih berupa perencanaan untuk mengembangkan dan membudidayakan tanaman kelor agar menjadi sumber pendapatan ekonomi masyarakt. Penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Masalili perlu dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mengembangkan tanaman kelor sebagai ketahanan ekonomi keluarga.
DINAMIKA MATA PENCAHARIAAN SUKU BAJO DI DESA JAWI-JAWI KECAMATAN BUNGKU SELATAN KABUPATEN MOROWALI Gandi, Intan Nurma; Suyuti, Nasruddin
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1100

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan dinamika mata pencaharian Suku Bajo di Desa Jawi-Jawi Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali dan untuk mengetahui alasan terjadinya dinamika mata pencaharian Suku Bajo di Desa Jawi-Jawi Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Teori yang digunakan adalah teori Strategi Adaptasi dari John W. Bennet.Dan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data melalui pengamatan (observasi) dan wawanvara (interview) sehingga data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dinamika mata pencaharian yang terjadi pada masyarakat Suku Bajo di Desa Jawi-Jawi disebabkan oleh faktor kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat, peralatan tangkap yang kurang memadai, sumber daya laut semakin berkurang, dan faktor alam. Dari beberapa faktor tersebut membuat masyarakat Suku Bajo di Desa Jawi-Jawi melakukan beberapa pekerjaan lain dengan alasan akan menggunakan waktu kosong saat tidak melakukan pekerjaan menjadi nelayan ketika terjadi cuaca yang kurang baik, tetapi tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan. Dari pekerjaan sebelumnya sebagai nelayan terbentuk beberapa jenis pekerjaan, anatara lain yaitu, budidaya rumput laut, petani, pertukangan, pedagang.
Pola Jaringan Distribusi Ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan (Ppi) Sodohoa Kota Kendari Ningsih, Nur Fitria Ningsih; Suyuti, Nasruddin; Aris, La Ode
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 8 No 2 (2024): Volume 8, Nomor 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/w2tbbz61

Abstract

This research aims to find out and describe the fish distribution network at the Sodohoa Fish Landing Base (PPI) Kendari City as well as knowing and describing the transportation process for distributing fishermen's catches outside the city. The theory used in this research is Zanden Ruddy Agusyanto's theory of Social Networks (1990). Meanwhile, the research method used is an ethnographic method which is carried out by observation and interviews interviews with the aim that the data obtained can be studied in a qualitative descriptive manner. Based on the results of this study, PPI Sodohoa has 5 (five) distribution network strating from, namely involving fishermen, pappalele/bosses, collecting traders, retailers/traveling traders, wholesale traders (fish sellers in various fish markets in Kendari city) , and final consumers (housewives). Among the various forms of distribution, the increasing number of parties involved in the distribution process will certainly increase the price depending on the first hand to the end consumer. The process of transporting fish to distribute fishermen's catches at the Sodohoa Fish Landing Base (PPI) Kendari City, namely the fishermen's catch is handed over to the papalele/boss then sorted based on the type of fish, size of fish and level of freshness of the fish, then put into baskets, after which it is sold to traders fish on PPI. The production of the catch landed at PPI Sodoha, Kendari City, is entirely fish that is still fresh and of good quality. Furthermore, the process of transporting fish out of town is carried out by inter-city traders using cars or trucks and crossing using ferries which will be sent to Makassar and West Sulawesi.
Petani Kelapa : Studi Antropologi Tentang Pengelolaan Kelapa di Desa Laeya Kecamatan Wakorumba Utara Kabupaten Buton Utara Tantri, Kaliana; Zainal, Zainal; Suyuti, Nasruddin
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/1zh3sn37

Abstract

This research is entitled “Coconut Farmers: An Antropological Study  of Coconut Management in Laeya Village, North Buton. Wakorumba District, North Buton. The aim of this research is to find out how coconuts are managed in Laeya Village and what the coconut buying and selling system is in Laeya Village. This research uses Carol Steack’s theory regarding social organizations. The data collection techniques in this research were abservation and in-depth interviews. Furthermore, the data obtained was analyzed using a qualitative descriptive method. The result of this research showed that several coconut farmers in Laeya Villagege processed their own coconut farmers in Laeya Village processed their own coconuts into copra and the remaining shell will be processed into charcoal buyers. Apart from that, there are also some coconut farmers who do not process their coconuts unless they choose to sell the fruit to coconut buyers themselves in Laeya Village who implement the system. The sale and purchase of coconuts is carried out by several female farmers and also male farmers. Coconut farmers in Laeya Village first take a deposit to meet their family’s needs and the give their coconuts at harvest time to the buyer they owe money to. Those who process their coconuts into copra will sell to copra buyers and then farmers who sell the fruit will sell the coconut fruit to buyers who want to make copra.
PERSEPSI PENONTON TERHADAP COSPLAYER PADA EVENT COSPLAY DI KOTA KENDARI Amalia, Rizky Nur; Suyuti, Nasruddin; Jalil, Abdul
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.4315

Abstract

Abstrak: Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya populer Jepang seperti anime, manga, dan cosplay dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas penggemar di Kota Kendari yang aktif menggelar event cosplay sejak 2012. Cosplay menjadi media ekspresi diri, kreativitas, dan identitas sosial, namun memunculkan beragam persepsi di masyarakat, dari yang menganggapnya seni hingga yang melihatnya aneh. Setelah pandemi, aktivitas cosplay kembali marak dan menarik perhatian publik. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persepsi penonton terhadap cosplayer serta faktor yang memengaruhinya, mengingat hal ini dapat memengaruhi penerimaan subkultur tersebut di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi penonton terhadap cosplayer pada event cosplay di Kota Kendari serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari anggota komunitas cosplay, penonton, dan panitia event. Data dianalisis dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead (1934) melalui tahap kategorisasi fenomena, pelabelan kategori, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat dari yang awalnya menganggap cosplay aneh menjadi lebih positif seiring meningkatnya intensitas event cosplay dan interaksi langsung antara cosplayer dan penonton. Kini cosplay dipandang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seni, kreativitas, dan ekspresi identitas yang diterima dalam masyarakat Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa cosplay di Kota Kendari kini semakin diterima sebagai bagian dari seni, kreativitas, dan ekspresi identitas, seiring meningkatnya pemahaman dan interaksi masyarakat dengan para cosplayer. Oleh karena itu, disarankan agar event cosplay terus difasilitasi dan melibatkan berbagai elemen masyarakat guna memperkuat penerimaan sosial, sekaligus mengedukasi publik tentang nilai positif di balik budaya populer ini. Kata kunci: cosplay, persepsi penonton, budaya popular, anime, manga Abstract: In the era of globalization and technological advancement, Japanese popular culture such as anime, manga, and cosplay has quickly spread to various countries, including Indonesia. This has sparked the growth of a fan community in Kendari City, which has been actively holding cosplay events since 2012. Cosplay has become a medium for self-expression, creativity, and social identity, but it has also given rise to various perceptions in society, from those who consider it art to those who see it as strange. Following the pandemic, cosplay activities have resurfaced and gained public attention. Therefore, it is important to examine audience perceptions of cosplayers and the factors influencing them, as this can impact the acceptance of this subculture in society. This study aims to identify and describe audience perceptions of cosplayers at cosplay events in Kendari City, as well as the factors influencing these perceptions. This study employs a qualitative ethnographic method using participatory observation and in-depth interviews with eight informants consisting of cosplay community members, spectators, and event organizers. Data were analyzed using George Herbert Mead's (1934) Symbolic Interactionism theory through the stages of phenomenon categorization, category labeling, and conclusion drawing. The results of the study indicate a shift in public perception from initially viewing cosplay as strange to a more positive outlook as the intensity of cosplay events increases and direct interaction between cosplayers and spectators grows. Today, cosplay is not only seen as entertainment but also as art, creativity, and a form of identity expression accepted within the community of Kendari City. Based on this, it can be concluded that cosplay in Kendari City is increasingly accepted as part of art, creativity, and identity expression, alongside growing public understanding and interaction with cosplayers. Therefore, it is recommended that cosplay events continue to be facilitated and involve various community elements to strengthen social acceptance while educating the public about the positive values behind this popular culture. Keywords: cosplay, audience perception, popular culture, anime, manga