Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Ankle-Brachial Index pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Lempake Samarinda Siregar, Wanda Puspita Br.; Danial, Danial; Retnaningrum, Yuliana Rahmah
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 8, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v8i3.21922

Abstract

Penyakit arteri perifer (PAP) dan hipertensi memiliki beberapa kesamaan faktor risiko dan patofisiologi sehingga keduanya dapat terjadi bersamaan. Ankle-brachial index (ABI) dapat digunakan sebagai tes skrining PAP, dimana nilai ABI abnormal (£0,90) mengindikasikan PAP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran ABI pada pasien hipertensi di Puskesmas Lempake Samarinda. Metode: Penelitian cross-sectional ini melibatkan 37 sampel penelitian yang merupakan pasien hipertensi di Puskesmas Lempake Samarinda. Data hipertensi diperoleh dari rekam medis. Data ABI diperoleh dari pengukuran menggunakan sfingmomanometer dan doppler vaskular. Pengelompokan usia dan ABI berdasarkan Pedoman Manajemen PAP Ekstremitas Bawah 2024 oleh ACC/AHA/AACVPR/APMA/ABC/SCAI/SVM/SVN/SVS/SIR/VESS. Hasil: Rerata nilai ABI adalah 1,03 ± SD 0,133. Sebaran kategori ABI yaitu 64,9% normal, 18,9% abnormal, dan 16,2% borderline. ABI abnormal pada laki-laki yaitu 22,2% dan perempuan yaitu 17,85%. ABI abnormal pada usia ³65 tahun yaitu 33,3%, usia 50-64 tahun yaitu 12,5%, dan usia 50 tahun yaitu 11,1%. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan 64,9% ABI normal, 18,9% ABI abnormal, dan 16,2% ABI borderline. Persentase ABI abnormal ditemukan lebih tinggi pada laki-laki. Usia ³65 tahun merupakan kelompok usia dengan ABI abnormal tertinggi.Kata kunci: ankle-brachial index, hipertensi, penyakit arteri perifer
Karakteristik Penderita Diabetes Melitus dengan Tuberkulosis di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Tahun 2022-2023: Characteristics of Diabetes Mellitus Patients with Tuberculosis at Abdoel Wahab Sjahranie Regional General Hospital during 2022-2023 Falah, Irdiansyah Al; Sawitri, Endang; Retnaningrum, Yuliana Rahmah
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 7 No. 5 (2025): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v7i5.2541

Abstract

Individuals with diabetes mellitus have a weakened immune system, making them 2-3 times more vulnerable to tuberculosis than those without the condition. This study is to investigate the characteristics of diabetic mellitus patients with tuberculosis at Abdoel Wahab Sjahranie Regional Public Hospital (RSUD) from 2022 to 2023. This observational study employed a cross-sectional design and examined 67 medical records of individuals diagnosed with both diabetes mellitus and tuberculosis between 2022 and 2023. This research examined 67 medical records of diabetes mellitus patients diagnosed with tuberculosis at Abdoel Wahab Sjahranie Regional Public Hospital (RSUD) throughout the period of 2022-2023. The results show that the age group of patients This study analyzed 67 medical records of diabetes mellitus patients with tuberculosis at Abdoel Wahab Sjahranie Regional Public Hospital (RSUD) in 2022-2023. The findings showed that 12 patients were aged 19-44 years, 38 patients were aged 45-59 years, and 17 patients were aged ?60 years. In terms of gender distribution, 48 patients were male, while 19 patients were female. Based on Body Mass Index (BMI), 4 patients were classified as severely underweight, 17 patients as mildly underweight, 25 patients had a normal BMI, 10 patients were mildly overweight, and 11 patients were severely overweight. Regarding HbA1c levels (glycemic control), 0 patients had good glucose control, while 29 patients had moderate control, and 38 patients had poor glucose control. The most commonly used treatment was combination therapy with RHZE (Rifampin, Isoniazid, Pyrazinamide, and Ethambutol) and insulin, administered to 19 patients. Bacteriological examination results indicated that 55 patients had detected tuberculosis bacteria, while 12 patients had undetected bacteria. In terms of prognosis, 31 patients not survived, while 36 patients survived. The study concludes that most diabetes mellitus patients with tuberculosis at Abdoel Wahab Sjahranie Regional Public Hospital (RSUD) during 2022-2023 were male, aged between 45 and 59 years, exhibiting a normal BMI, poor glycemic control as indicated by HbA1c levels, receiving combination treatment of RHZE with insulin, showing positive bacteriological test results, and having a survival prognosis. Keywords:          Diabetes Mellitus, Tuberculosis, Risk Factors, Management, Prognosis   Abstrak Penderita diabetes melitus memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga berisiko 2-3 kali lebih tinggi untuk terkena tuberkulosis dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita diabetes melitus dengan tuberkulosis di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie tahun 2022-2023. Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional ini menggunakan 67 data rekam medis pasien diabetes melitus dengan tuberkulosis tahun 2022-2023. Hasil penelitian menunjukkan rentang usia 19-44 tahun = 12 penderita, 45-59 tahun = 38 penderita, >60 tahun = 17 penderita. Jenis kelamin laki-laki = 48 penderita dan perempuan = 19 penderita. Indeks massa tubuh kurus tingkat berat = 4 penderita, kurus tingkat ringan = 17 penderita, normal = 25 penderita, gemuk ringan = 10 penderita, dan gemuk berat = 11 penderita; nilai HbA1c didapatkan kontrol glukosa baik = 0 penderita, kontrol glukosa sedang = 29 penderita, kontrol glukosa buruk = 38 penderita; pengobatan yang paling banyak digunakan adalah terapi kombinasi RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol) dengan insulin dengan jumlah 19 penderita, bakteriologis detected = 55 penderita, dan not detected = 12 penderita, prognosis meninggal = 31 penderita, dan hidup = 36 penderita. Disimpulkan bahwa penderita diabetes melitus dengan tuberkulosis di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie tahun 2022-2023 terbanyak adalah laki-laki usia 45 hingga 59 tahun, IMT normal, HbA1c kategori kontrol glukosa buruk, pengobatan kombinasi RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol) dengan insulin, pemeriksaan bakteriologis terdeteksi, dan prognosis hidup. Kata Kunci:         Diabetes Melitus, Tuberkulosis, Faktor Risiko, Tatalaksana, Prognosis
GAMBARAN KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOTEK KECAMATAN PENAJAM KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA Dardi, Muhammad; Zubaidah, Mona; Riastiti, Yudanti; Retnaningrum, Yuliana Rahmah; Silaen, Hoopmen
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v12i2.16133

Abstract

Malaria merupakan penyakit infeksi parasit Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Malaria memberikan morbiditas cukup tinggi dan merupakan penyebab mortalitas ke-3 tertinggi di dunia. Penajam Paser Utara (PPU) menjadi salah satu daerah endemis Malaria, khususnya Puskesmas Sotek dengan 729 kasus pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui gambaran faktor yang berhubungan dengan kejadian Malaria di wilayah kerja Puskesmas Sotek Kecamatan Penajam Kabupaten PPU Tahun 2023. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Sampel sebanyak 84 orang, dengan metode total sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Sebanyak 45 responden dari 84 sampel menderita Malaria. Sebagian besar responden ialah laki-laki (76,2%), berusia dewasa ≥19 tahun (89,3%), berpendidikan rendah (58,3%), memiliki pekerjaan berisiko (57,1%), dan berpengetahuan baik (88,1%). Sebagian responden menggunakan kelambu berinsektisida (51,2%), terdapat 75 (89,3%) responden yang menggunakan obat anti nyamuk, 43 rumah responden tidak menggunakan kawat kasa, responden yang memiliki kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari sebanyak 45 (53,6%), sebanyak 50 (59,5%) responden di sekitar rumahnya terdapat tempat perindukan nyamuk dan terdapat 12 (14,3%) responden yang di sekitar rumahnya terdapat kandang ternak. Kesimpulan penelitian sebagian besar penderita malaria memiliki pekerjaan yang berisiko, responden sudah berpengetahuan baik, masih ada responden tidak menggunakan kelambu berinsektisida dan obat anti nyamuk, banyak responden yang ventilasi rumahnya tidak menggunakan kawat kasa, sebagian besar masyarakat masih beraktivitas di luar rumah pada malam hari, dan banyak masyarakat yang di sekitar rumahnya terdapat tempat perindukan nyamuk, serta hanya beberapa yang di sekitar rumahnya memiliki kandang ternak. Malaria is a Plasmodium parasitic infection transmitted by infected female Anopheles mosquitoes. Malaria causes high morbidity and 3rd highest cause of mortality in the world. Penajam Paser Utara (PPU) is one of the endemic areas for Malaria, especially the Sotek Community Health Center with 729 cases in 2022. This research aims to describe factors related to Malaria’s incidence in the working area of the Sotek Community Health Center, Penajam District, PPU Regency in 2023. Research design This uses a descriptive approach. The sample was 84 people, with a total sampling method. Data was collected by interview using a questionnaire. 45 respondents from 84 samples suffered from Malaria. Most of the respondents were men (76.2%), adults aged ≥19 years (89.3%), low education (58.3%), risky jobs (57.1%), and good knowledge (88, 1%). Some respondents used insecticide-treated mosquito nets (51.2%), 75 respondents used mosquito repellent, 43 respondents' houses did not use wire mesh, 45 respondents had the habit of being outside the house at night, 50 respondents had mosquito breeding areas around their house and 12 respondents had livestock pens. The research conclusion is that most malaria sufferers have risky jobs, respondents have good knowledge, there are still respondents who do not use insecticide-treated mosquito nets and anti-mosquito medication, many respondents do not ventilate their houses using wire mesh, majority of people still do activities outside the house at night, many people have mosquito breeding areas around their houses, only a few people have livestock pens.
Design and Evaluation of an Elective Malaria Surveillance Module for Medical Education in East Kalimantan Anggraini, Fitria Dewi Puspita; Zubaidah, Mona; Rahma, Khairunnida; Toruan, Vera Madonna Lumban; Retnaningrum, Yuliana Rahmah; Siagian, Loly Rotua Dharmanita; Pratiningrum, Moriko
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Malaria remains a significant public health burden in Indonesia, with over 230 million people in transmission risk areas. Strengthening surveillance systems is crucial for elimination, requiring competent health professionals. Objective : This study developed and validated a malaria surveillance elective module for East Kalimantan, Indonesia. Research Methods/ Implementation Methods : This research employed a Research and Development design with a descriptive quantitative approach at the Faculty of Medicine, Mulawarman University, from September 2024 to September 2025. The development process included needs analysis surveys distributed to medical students and lecturers, expert validation of content validity and media quality, and pilot implementation with pre-post knowledge assessments. The sample comprised 113 medical students from the 2024 cohort. Expert validation involved content specialists and media design experts who assessed the module using standardized rubrics. Data were analyzed using descriptive statistics to determine feasibility scores, validity levels, and learning effectiveness Results : Needs analysis revealed high demand for contextualized malaria surveillance materials among students and lecturers. Expert validation yielded content feasibility and linguistic appropriateness scores of 60–80%, categorized as good to very good, while media validation confirmed design quality met educational standards. Pilot implementation with 106 students showed significant knowledge improvement, with scores increasing 46.96% from pretest average of 66 to post-test average of 97. Student attendance reached 84.8%, indicating strong engagement. Conclusion/Lesson Learned : The malaria surveillance module demonstrated strong validity and effectiveness in enhancing medical student competencies. It is contextually appropriate for endemic regions and recommended for integration into medical curricula to strengthen disease surveillance capabilities among future health professionals in Indonesia
Efikasi Zingiber Officinale (Ekstrak Jahe) + Ranitidin Vs Ranitidin + Plasebo Terhadap Simtom Gastrointestinal Pada Dispepsia Fungsional Retnaningrum, Yuliana Rahmah; Ratnasari, Neneng; Bayupurnama, Putut
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8835

Abstract

Ekstrak jahe telah lama digunakan sebagai terapi tradisional dan tercantum dalam monograf WHO untuk mengatasi dispepsia, flatulen, spasme, kolik, diare, muntah, serta keluhan gastrointestinal lainnya. Penelitian in vivo menunjukkan efektivitas jahe mencapai 68–77%. Studi ini bertujuan menilai pengaruh kombinasi ekstrak jahe dan ranitidin dibandingkan ranitidin dengan plasebo pada pasien dispepsia fungsional. Metode yang digunakan adalah quasi experimental dengan 26 subjek penelitian pada periode Desember 2014 hingga Juni 2015. Analisis data meliputi paired t-test, independent t-test, Mann–Whitney, Wilcoxon, serta Pearson’s Chi-Square, dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Setelah dua minggu terapi, kelompok ekstrak jahe + ranitidin menunjukkan penurunan skor GIS sebesar 68%, dari 16 ± 4,48 menjadi 5 ± 3,54 (p < 0,001). Kelompok ranitidin + plasebo mengalami penurunan 28%, dari 14 ± 4,05 menjadi 10 ± 3,59 (p = 0,004). Penggunaan berbagai uji statistik ini memperkuat validitas temuan penelitian dengan memastikan bahwa metode analisis sesuai dengan distribusi dan karakteristik data yang diperoleh. Perbandingan penurunan skor GIS dari baseline hingga minggu kedua menunjukkan hasil signifikan, yaitu 10,85 ± 2,115 pada kelompok perlakuan dibandingkan 4 ± 3,341 pada kelompok kontrol (p = 0,018). Gejala yang berbeda bermakna antara kedua kelompok meliputi mual, kembung, perut penuh, ketidaknyamanan pagi hari, ulu hati tidak nyaman, dan nyeri perut. Penelitian menyimpulkan bahwa penambahan ekstrak jahe memberikan perbaikan gejala gastrointestinal lebih baik dibandingkan ranitidin saja.
Prevalensi Kecacingan Soil Transmitted Helminths (STH) Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Sungai Meriam Kecamatan Anggana Ditinjau Dari Feses, Kuku dan Tanah Retnaningrum, Yuliana Rahmah; Zubaidah, Mona; Madonna, Vera; Asfirizal , Verry
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i1.62657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kecacingan Soil Transmitted Helminths (STH) pada siswa sekolah dasar di Desa Sungai Meriam Kecamatan Anggana melalui pemeriksaan feses, kuku, dan tanah sebagai media potensial penularan. Studi ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi prevalensi, sehingga mampu memberikan gambaran nyata mengenai tingkat infeksi dan risiko penularan di lingkungan sekolah dasar. Sampel penelitian meliputi seluruh siswa kelas I SD serta sampel lingkungan berupa tanah di pekarangan sekolah sebagai area yang sering berinteraksi langsung dengan anak. Pemeriksaan feses dilakukan menggunakan metode Kato, pemeriksaan potongan kuku menggunakan metode sedimentasi, sementara pemeriksaan tanah menggunakan metode Suzuki untuk memastikan tingkat akurasi identifikasi telur cacing. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat kontaminasi STH pada tubuh dan lingkungan anak usia sekolah. Temuan ini menjadi dasar penting bagi upaya pencegahan kecacingan melalui intervensi kesehatan seperti program pengobatan massal, edukasi kesehatan, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), perbaikan higiene personal anak, serta pengendalian sanitasi lingkungan sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam menurunkan angka kejadian infeksi kecacingan pada anak-anak dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setempat secara berkelanjutan.