Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Al-Qalam

PERANAN ULAMA DAN AROISTOKRAT DALAM TRADISI TULIS DAN PRODUKSI TEKS ASSIKALAIBINENG DAN TEKS KHALWATIAH DI SULASEWISI SELATAN muhlis hadrawi
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.024 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i1.302

Abstract

Tulisan ini membincangkan peranan ulama Khalwatiah dalam tulis dan produksi teks Assikalaibineng. Sumber data utama adalah delapan naskah Assikalaibineng yang dikaji menurut pendekatan kodikologis.. Hasil kajian menunjukkan bahwa arketif teks Assikalaibineng termasuk ajaran fiqih dan tasawuf bersumber dari  Syekh Yusuf, yang kemudian dikembangkan oleh muridnya bernama Syekh Rappang. Selaras dengan perjalanan waktu, teks-teks Assikalaibineng kemudian banyak digiatkan penulisannya oleh ulama-ulama khalwatiah dan kalangan aristokrat Bugis. Dari segi sejarahnya, penulisan teks-teks Assikalaibineng berawal abad ke-17, kemudian berlanjut hingga memasuki abad ke-20. Oleh karena bahan naskah yang tidak dapat bertahan lama hingga ratusan tahun, maka arketif Assikalaibineng tidak dapat dijumpai lagi, selain disebabkan pula karena sistem penyalinannya yang bersifat kreatif dimana setiap penyalin melakukan modifikasi teks dari sumber salinannya. Modifikasi yang menambah-nambah teks serta sering menempelkan teks-teks yang lain. Akibatnya, wujud teks Assikalaibineng yang dijumpai hari ini sangat beragam dan tidak adanya kesamaan secara utuh antara teks yang satu dengan teks yang lain. Itulah sebabnya teks-teks Assikalaibineng yang ada sekarang ini tidak dapat pula dipertautkan hubungan kekerabtan dan penyalinannya.
SACRED MYTHS OF THE CEREKANG INDIGENOUS COMMUNITY: LOCAL WISDOM STRATEGIES FOR ENVIRONMENTAL PRESERVATION Hadrawi, Muhlis; Sherira, Sherira; Bachrong, Faizal; Agus, Nuraidar; Yusuf, Yusuf; Syamsuriah, Syamsuriah; binti Daeng Jamal , Daeng Haliza
Al-Qalam Vol. 31 No. 1 (2025): Jurnal Al-Qalam
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v31i1.1635

Abstract

This article examines the sacred myths upheld by the Cerekang Indigenous Community, conceptualized through ideas of "prohibition" and "necessity" regarding actions in specific natural locations. These myths function not only as local normative systems but also as expressions of ecological wisdom that guide the community in protecting the natural environment from damage. The Cerekang community continues to preserve these ancestral beliefs, which are deeply integrated into their cultural identity and daily practices. A descriptive-qualitative method was employed to explore the traditional myths in the Cerekang Customary Area, Malili District, East Luwu Regency. Data were collected through direct observation and interviews with local community members, and then analyzed by drawing connections with literary references, particularly I La Galigo volume 1 (ms NBG 188), featuring Batara Guru as the central figure. Findings reveal that the core of the myth centers on Pengsimaoni Hill, believed to be the site where Batara Guru descended from the upper world (botillangi). This sacred narrative forms the basis for protecting ten natural toponyms within the Cerekang area. These toponyms, each linked to Batara Guru’s journey, shape local norms that define what is allowed and prohibited in daily conduct. The myths serve as moral guidelines, fostering respect for nature and reinforcing social cohesion. By embedding ecological values in cultural narratives, the myths act as a local wisdom system that protects the environment and uphold communal identity. In essence, these sacred myths reflect a deeply rooted environmental ethic that continues to guide the lives of the Cerekang people.