Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

MEMBACA TREN EDUKASI AL-QUR’AN PADA MASYARAKAT MILLENIALS (STUDI ANALISIS PADA PLATFORM “SYARIHUB.ID) Muhafizah el-Feyza; Ani Nafisah; M. Riyan Hidayat; Erik Pebrikarlepi; Muhamad Nuryadi
TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2023): TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIQI Al-Qur'an Al-Ittifaqiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/taujih.v5i1.332

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tren edukasi Al-Qur'an yang diterima oleh masyarakat milenial melalui platform "Syarihub.id". Dalam era digital yang semakin berkembang, platform-platform online telah menjadi sarana penting dalam menyediakan akses mudah dan luas terhadap sumber-sumber pengetahuan dan informasi. Salah satu platform yang popular di kalangan masyarakat milenial adalah "Syarihub.id", yang menyajikan beragam konten edukasi Al-Qur'an. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah analisis konten, yang melibatkan pengumpulan dan analisis data terkait tren edukasi Al-Qur'an yang disajikan di "Syarihub.id". Data yang dikumpulkan mencakup artikel, video, dan diskusi yang terkait dengan topik pendidikan dan pemahaman Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa tips dan metode belajar Al-Qur’an yang ditawarkan kepada masyarakat milenial di platform "Syarihub.id". Beberapa tren tersebut meliputi pemahaman bacaan tajwid dalam Al-Qur'an, aplikasi praktis ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, serta pendekatan kreatif dalam mengedukasi masyarakat digital. Konten yang disajikan dengan gaya yang menarik, menggunakan teknik audiovisual yang inovatif, dan interaktif cenderung mendapat perhatian lebih dari masyarakat milenial.
Epistemological Construction of Tafsir At-Tafsir Al-Madrasi by H. Oemar Bakry Hidayat, M. Riyan
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i3.17820

Abstract

AbstractThe Book of At-Tafsir Al-Madrasi by H. Oemar Bakry is a pedagogical book of interpretation at a leading Islamic boarding school, Pondok Modern Darussalam Gontor (and its branches). This book was taught at the very beginning of the founding of the Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah Gontor, Ponorogo. With the experience of KH. Imam Zarkasyi (one of Gontor's Trimurti caregivers) during his stay in Padang Thawalib during the colonial era, then sent him to meet H. Oemar Bakry to make them both Sahib al-Hamim (best friends). His closeness as a friend then had implications for the birth of At-Tafsir Al-Madrasi which was taught for years in the Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Furthermore, this research is a qualitative type using library research and studies (formal objects) which are used as the epistemological analysis of Abdul Mustaqim's interpretation. The results of this study indicate that the source of the book At-Tafsir Al-Madrasi is dominated by the Tafsir Al-Manar by Abduh and Rasyid Ridho which is considered the driving force for the modernization of the Islamic world. While the method used is ijmali with the al-Adab al-Ijtima'i pattern on the one hand and the other hand the At-Tarbawi pattern. Finally, the validity of H. Oemar Bakri's interpretation can be seen based on coherence theory and pragmatic theory.Keywords : At-Tafsir Al-Madrasi, epistemology of interpretation, H. Oemar Bakry. AbstractKitab At-Tafsir Al-Madrasi karya H. Oemar Bakry merupakan kitab pedagogis tafsir di pesantren terkemuka yakni Pondok Modern Darussalam Gontor (beserta cabangnya). Kitab ini diajarkan persis awal berdirinya Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah Gontor, Ponorogo. Dengan bermodalkan pengalamannya KH. Imam Zarkasyi (salah satu trimurti pengasuh Gontor) selama mengenyam di Padang Thawalib pada era penjajahan, kemudian menghantarkannya bertemu dengan H. Oemar Bakry hingga menjadikan keduanya sebagai Shahib al-Hamim (sahabat karib). Keakrabannya sebagai sahabat kemudian berimplikasi pada lahirnya At-Tafsir Al-Madrasi yang diajarkan secara bertahun-tahun di lingkungan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG). Selanjutnya, Penelitian ini adalah berjenis kualitatif dengan menggunakan sumber kepustakaan (library research) dan kajian (objek formal) yang dijadikan kacamata analisis epistemologi tafsir Abdul Mustaqim. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kitab At-Tafsir Al-Madrasi sumbernya didominasi oleh Tafsir Al-Manar karya Abduh dan Rasyid Ridho yang dianggap sebagai penggerak modernisasi dunia Islam. Sedangkan metode yang digunakan adalah ijmali dengan corak al-Adab al-Ijtima’i di satu sisi, di sisi lainnya bercorak At-Tarbawi. Terakhir, validitas penafsiran H. Oemar Bakri dapat dilihat berdasarkan teori koherensi dan teori pragmatis.Kata Kunci : At-Tafsir Al-Madrasi, epistemologi tafsir, H. Oemar Bakry.
KHUSYŪ‘ DALAM AL-QUR’AN (STUDI ANALISIS TAFSIR AL JĀMI‘ LI AHKĀM AL-QUR’AN) Fatimah, Salma Ultum; Hidayat, M. Riyan
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 1 No 2 (2021): Basha'ir | Vol.1 No. 2 (Desember 2021)
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.961 KB) | DOI: 10.47498/bashair.v1i2.657

Abstract

This research focuses on the concept of khusyu' contained in Tafsir Al Jāmi' Li Ahkām Al-Qur'an written by Imam Al-Qurtubi in depth and comprehensively. The method used is descriptive analytical. This research is based on a literature review using various books in the library and digitally that can be accessed easily. The results of this study indicate that khusyu' interpreted by Al-Qurtubi can be implemented into various activities such as Gaining peace of mind, Strengthening soul and mentality, Always remembering the hereafter, Avoiding a hard heart, Gaining an attitude of Tawadhu' to God as well as to others, Gaining Attitude Tawadhu 'to Allah as well as to others, and Leads to luck and success in life.
Epistemology of Nusantara Exegesis in the 17th Century: A Study of Tarjumān al-Mustafīd by Abdurrauf al-Singkili Lail, Moh. Jamalul; Hidayat, M. Riyan; Wijaya, Roma
QOF Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Keiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/qof.v8i2.2491

Abstract

The position of Tarjumān al-Mustafīd by Abdurrauf al-Singkili as a precedent for interpretive literature in Indonesia has ontological problems. Accusations circulated that Tarjumān al-Mustafīd was just a translated copy of al-Baiḍāwi's commentary on Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta'wīl. In comparison, other groups consider it a translation of Tafsīr Jalālayn. These two claims seem to cast doubt on Tarjumān Al-Mustafīd as an authentic interpretation work. Every work of interpretation always involves the subjectivity of the interpreter. Through an analysis of the epistemology of interpretation, this research reveals the genealogy, method, and validity of al-Singkili's interpretation in Tarjumān al-Mustafīd. The findings of this research highlight three essential aspects: First, Tarjumān al-Mustafīd is not merely the result of translation (vernacularization) of one particular interpretation as has been alleged so far. Several other tafsir, such as Tafsīr Jalālayn and Tafsīr al-Khāzin, also influenced the presentation pattern of Tarjumān al-Mustafīd. Second, al-Singkili's interpretive method is similar to al-Baiḍāwi but not wholly the same. Al-Singkili also adopted the pattern of writing the Indonesian turath books, which use keywords such as fāidah, tanbīh, the word mufasir, and others. Third, Tarjumān al-Mustafīd qualifies as a valid or authentic interpretation of consistency and correspondence. This research offers a novel contribution by positioning Tarjumān al-Mustafīd as a unique synthesis of classical Islamic exegesis and the scholarly tradition of the Nusantara, demonstrating its originality as an interpretive work that bridges global Islamic scholarship with localized epistemological frameworks.
MAKANAN SEHAT DAN HALAL DALAM AL-QUR’AN (Studi Analisis dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur T.M Hasbi Ash-Shiddieqy) M. Riyan Hidayat dan Aty Munsihah
Al-Dhikra Vol. 3 No. 2 (2021): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan pemikiran Teuku M. Hasbi Ash-Shiddieqy ketika menafsirkan atau meinterpretasikan ayat yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Tulisan ini menggunakan metode deskripsi-analisis fokusnya lebih pada kitab tafsirnya yang diberi judul Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan secara detail yang berhubungan dengan suatu masalah yang mampu menghasilkan suatu hasil pemikiran yang mendalam. Penulis menganalisis nya dengan pendekatan ulum Al-Qur’an dan pandangan dari Teuku M. Hasbi Ash-Shiddieqy melalui ayat-ayat yang mengkaji tentang makanan. Artikel ini juga mendukung temuan Usman dan Suhardi yang menggambarkan eksistensi makanan halal dan t}ayyib dengan sudut pandang ekonomi dan kesehatan, sehinggga didapatlah bahwa makanan yang t}ayyib dan halal adalah makananan yang dilihat dari segi zat ataupun proses mendapatkannya. Selanjutnya dalam artikel ini ditemukan pola makanan sehat dan halal ala Hasbi Ash-Shiddieqy. Menurutnya, hal itu sangat penting sebab makanan yang dikonsumsi manusia tidak hanya sekedar berfungsi untuk menahan rasa lapar dan dahaga semata, namun juga berimplikassi pada kesehatan lahir batinnya.
EKOTEOLOGI AL-QUR'AN: ANALISIS HERMENEUTIKA GADAMER TERHADAP KONSEP KHALIFAH DAN STEWARDSHIP Khozinul Alim; M. Riyan Hidayat
CONTEMPLATE: Jurnal Ilmiah Studi Keislaman Vol 5 No 02 (2024): Desember 2024
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Al-Qur'an Al-Ittifaqiah Indralaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/contemplate.v5i02.1029

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep ekoteologi dalam Al-Qur’an melalui pendekatan hermeneutika Hans-Georg Gadamer, dengan fokus pada ayat-ayat yang menggambarkan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep khalifah dan stewardship (pengelolaan amanah) dapat memberikan landasan teologis dan etis dalam menghadapi krisis ekologi global. Ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah: 30 dan QS. Al-An’am: 165 dianalisis untuk memahami tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dalam konteks modern. Melalui pendekatan hermeneutika Gadamer, artikel ini menggabungkan horizon teks Al-Qur'an dengan tantangan ekologi kontemporer, sehingga menghasilkan pemahaman yang relevan dan aplikatif. Studi ini menunjukkan bahwa khalifah bukan hanya sekadar status, tetapi amanah moral untuk menjaga keseimbangan ekologis sebagai bagian dari kehendak ilahi. Selain itu, konsep stewardship menawarkan paradigma keberlanjutan yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan ekologi. Dengan menekankan dialog antara tradisi Islam dan isu-isu modern, artikel ini berkontribusi pada pengembangan ekoteologi sebagai pendekatan holistik untuk menyikapi kerusakan lingkungan.
Virtual Da'wah Authority in Tafsir Rahmat H. Oemar Bakry: An Analysis of Intertextuality from Julia Kristeva Hidayat, M. Riyan; Wijaya, Roma; el-Feyza, Muhafizah; HS, Muh. Alwi; Akmaluddin, Muhammad; Nazarmanto, Nazarmanto
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23022

Abstract

Religious activities in Indonesia suffered such massive turmoil that social media was used as a container. Then, the devotion performed by one individual is an obligation for Indonesian Muslims and the world. The spread of religious content in the virtual world seemed to upset Muslim viewers about the authenticity and validity of the source of the content distributed by an account on social media of various platforms. However, through the Book of Mercy, the author sees that there is an offer of innovation about the virtual authority of prophecy so as not to cause a faulty expansion of science. What's more, the diverse understanding of content creators has the potential to complain to the sheep and spread propaganda to the general public. Through a library-based study using the intertextuality glasses that were designed by Julia Kristeva, the message and substance of H. Oemar Bakry's offer to look at the problem will be depicted. Thus, this paper aims to respond to the new offer by creating an agency under the government's auspices of virtual authority. The aim is to counteract the provocative, tendentious, biased, subjective, and evocative messages that float in the virtual universe. Starting from this research, it will be illustrated that this study has produced a new finding that H. Oemar Bakry offers the meaning of forming a strong, honest, and orderly group of preachers. The function of the jury is to be a source of reference for the treasures of Indonesian Islamic sciences.Abstrak: Kegiatan dakwah di Indonesia mengalami gejolak yang begitu besar, dimana sosial media digunakan sebagai wadahnya. Kemudian, dakwah yang dilakukan dari satu individu merupakan kewajiban muslim Indonesia dan dunia. Penyebaran konten dakwah dalam dunia virtual seakan meresahkan para viewers muslim tentang keaslian dan keotentikan sumber konten yang disebarkan oleh sebuah akun di media sosial dari berbagai flatform.  Namun, melalui Tafsir Rahmat penulis melihat bahwa ada tawaran kebaharuan tentang otoritas dakwah virtual agar tidak terjadinya ekspansi ilmu yang cacat. Terlebih lagi, pemahaman yang beragam dari para content creator berpotensi mengadu domba dan menyebarkan propaganda di khalayak luas. Melalui kajian yang berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan kacamata intertekstualitas yang dipelopori oleh Julia Kristeva akan tergambar pesan dan substansi tawaran H. Oemar Bakry dalam melihat problematika tersebut. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan merespon tawaran baru dengan membuat sebuah lembaga di bawah nauangan pemerintah tentang otoritas dakwah virtual. Tujuannya untuk menanggulangi pesan-pesan dakwah yang sifatnya provokatif, tendensius, bias, memihak, subjektif, evokatif yang berseliweran di jagad maya. Hasil dari penelitian ini akan tergambar bahwa kajian ini telah menghasilkan temuan baru bahwa H. Oemar Bakry menawarkan makna akan dibentuk kelompok juru dakwah yang kuat, jujur, dan teratur. Fungsi dari juru dakwah yakni menjadi sumber referensi khazanah keilmuan Islam Indonesia.
Repeated Interpretation: a Comparative study of Tafsir Al-Misbah and Kajian Tafsir Al-Misbah on Metro TV MZ, Ahmad Murtaza; Hidayat, M. Riyan; Muhammad Alwi HS; Idris Ahmad Rifai
DINIKA : Academic Journal of Islamic Studies Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/dinika.v7i1.5093

Abstract

Throughout history, the activity of interpreting the Qur’an can be carried out either orally or through writing alone or alltogether, resulting a what so called a repeated interpretation. This article seeks to shed a light on the last mentioned type of commentary that belongs to M. Quraish Shihab, a leading mufassir whose Tafsir Al-Misbah was a reiterpreted on his oral interpretation in the program “Kajian Tafsir Al-Mishbah” on Metro TV. As samples, his commentary on QS. Al-Qalam: 1-7 is chosen. Using a critical content and comparative analysis, this study concluded that the transformation of Shihab’s commentary from written to oral form did happen through several innovations and adjustments, in terms of content and display. Thus, Shihab’s role as a skillfull preacher is still obvious in his writings although the addressed audience then becomes vague. Several factors determine the occurrence of innovation and adjustment of M. Quraish Shihab’s interpretation, namely the role of Quraish Shihab in his written interpretation as originally an exegete turned into a preacher in his oral interpretation. In addition, the context of Tafsir Al-Misbah which is intended for the wider community is different from his oral interpretation with thepresence of audiences in a more specific background.
Acculturation of Arabic Language on Hijrah Muslim Communication Oriented The Articulation of Islamic Identity Syarifah Rahmi; Julhadi; M. Riyan Hidayat; Ahmad Hariyadi; Ahmad Helwani Syafi’i
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Linguistik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jr.9.1.2023.1-8

Abstract

Arabic is the basic foundation in Islam both scientifically and in practice. The reason is, the Qur'an and al-Hadith use Arabic as the medium of delivery. Recently, there has been an expansion of the function of the Arabic language which is brought into the realm of daily communication in order to articulate Islamic identity and mostly occurs in the Muslim community of hijra. This research is a qualitative descriptive study. The implementation procedure is to observe the reality of the arabization of the communication of the hijrah Muslim community and its relationship to the articulation of Islamic identity. The method used in analyzing the data is Miles and Huberman's interactive model, namely; data reduction, data presentation, drawing conclusions. While the method used in testing the validity of the data is the method of triangulation and triangulation of sources, peer discussions and member check. The results of this study are: 1) Arabicization of the communication of the hijrah Muslim community is a process of assimilation of Arabic in culture and is used as a symbol in identity politics in a global society. 2) The Arabization of this communication does not touch fundamental aspects of Islam at all, but is only a model of communication.
Transmisi Keilmuan dan Jaringan Ulama Tafsir Al-Qur’an Sumatera Selatan Abad 18-20 H Reli Sulyani; Muhajirin; Nyimas Umi Kalsum; M. Riyan Hidayat
Contemporary Quran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/cq.v5i2.7602

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi tafsir Al-Qur’an di Sumatera Selatan dengan fokus pada pola transmisi keilmuan, manuskrip lokal, dan genealogi intelektual ulama tafsir dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola transmisi keilmuan tafsir dari ulama Timur Tengah ke ulama lokal Sumatera Selatan, bagaimana manuskrip tafsir lokal mencerminkan tradisi penafsiran yang adaptif terhadap konteks sosial-budaya, serta peran genealogi intelektual ulama dalam membentuk jaringan transmisi keilmuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif historis-hermeneutik, memadukan analisis filologi dan studi jaringan intelektual. Data diperoleh dari manuskrip tafsir lokal, termasuk karya Masagus Muzammil, Ahmad al-Habsyi, dan KH. Fahrurrozi Seribandung, serta dokumen sejarah terkait ulama dan Kesultanan Palembang. Analisis menelusuri pola penyebaran tafsir, struktur jaringan guru-murid, serta karakteristik tekstual dan fisik manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi keilmuan berlangsung melalui jaringan guru-murid yang terstruktur antara ulama lokal dan ulama dari Aceh, Hadramaut, dan Haramain. Manuskrip lokal menggunakan bahasa Melayu Palembang dan aksara Jawi, menunjukkan adaptasi terhadap konteks lokal, sedangkan karya KH. Fahrurrozi mempertahankan bahasa Arab untuk menjaga otoritas klasik. Genealogi intelektual ulama membentuk jaringan luas yang memungkinkan pengetahuan tafsir ditransmisikan lintas generasi dan menjaga kontinuitas tradisi keilmuan, bahkan tanpa selalu menghasilkan karya tulis baru. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tafsir Sumatera Selatan menampilkan perpaduan antara konservasi otoritas klasik dan adaptasi lokal, sekaligus memperlihatkan kapasitas ulama dalam membangun jaringan epistemik yang kokoh dan berkelanjutan.