Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Model Transportasi Multimoda Distribusi Garam: Studi Kasus Pulau Madura Nur, Hasan Iqbal; Achmadi, Tri; Fahmi, Ali
Jurnal Aplikasi Pelayaran dan Kepelabuhanan Vol 8, No 1 (2017): September
Publisher : Program Diploma Pelayaran Universitas Hang Tuah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.806 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor garam, meskipun sebagian besar wilayahnya merupakan lautan. Pola distribusi garam saat ini perlu ditinjau ulang, karena pada kenyataannya produksi dari petani garam cukup melimpah tetapi belum dapat terserap sepenuhnya oleh perusahaan produsen pengolahan garam. Selain itu terjadi disparitas harga garam yang cukup tinggi antara daerah produsen dan daerah konsumen. Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan analisis pada dua kondisi yaitu dari hulu sampai hilir. Dimana wilayah hulu adalah dari daerah produsen garam di Madura, yakni dari Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, danSumenep ke Pabrik Pengolahan Garam (PPG). Sedangkan wilayah hilir adalah dari Pabrik Pengolahan Garam (PPG) kewilayah konsumen yang berasa di Jakarta dan Denpasar. Dengan menggunakan pola distribusi dan angkutan garam terpilih, didapatkan penurunan biaya pengiriman per tahun untuk masing–masing PPG apabila dibandingkan kondisi saat ini. Dari PPG Gresik penurunan biaya sebesar 26,57% atau sebesar 7,9 Milyar setiap tahun, dari PPG Surabaya penurunan sebesar 24,33% atau sebesar 7,8 Milyar per tahun dan dari PPG Sidoarjo penurunan sebesar 17,20% atau sebesar 10,2 Milyar per tahun. Dengan demikian harga garam di Jakarta dapat turun sebesar 12% dan di Denpasar dapat turun sebesar 8%.
Model Analisis Kapasitas Pasar Pelayaran Petikemas: Studi Kasus Rute Surabaya - Sampit Kumalasari, Silvia Dewi; Achmadi, Tri
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.984 KB) | DOI: 10.29122/jurnalwave.v11i2.2714

Abstract

Pelayaran petikemas rute Surabaya ? Sampit  terjadi oversupply sejak tahun 2011 hingga saat ini, yakni selisih antara demand dan jumlah supply yang melayani rute tersebut mencapai hampir dua kali lipat, menyebabkan kapasitas kapal kosong mencapai 44% per tahun. Hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah demand yang drastis, sehingga perusahaan pelayaran yang beroperasi pada rute tersebut dapat mengalami kerugian operasional. Berdasarkan kondisi tersebut, sehingga perlu dilakukan analisis kapasitas pasar pelayaran petikemas, agar tidak terjadinya oversupply pada rute Surabaya ? Sampit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode optimasi untuk mendapatkan kapasitas pasar yang sesuai untuk rute Surabaya ? Sampit. Hasil yang didapatkan untuk kapasitas pasar yang ideal yakni disesuaikan dengan jumlah demand agar tidak terjadi oversupply, sehingga pada tahun 2017 ? 2021 dibutuhkan 1 ? 2 armada kapal dengan ukuran 300 - 385 Teus, dan required freight rate sebesar Rp  5.103.273 ? Rp  5.797.403 per Teus, dengan jumlah 1 ? 2 perusahaan pelayaran yang disesuaikan dengan jumlah kapal. Kondisi pasar yang menguntungkan perusahaan pelayaran pada rute Surabaya ? Sampit adalah kondisi pasar konsentrasi tinggi dengan indeks konsentrasi pasar 0,50 ? 1 yang dikuasai oleh 1 atau 2 perusahaan pelayaran. Pada kasus rute Surabaya ? Sampit ini dapat dibuktikan bahwa tidak selalu kondisi pasar yang kompetitif adalah kondisi pasar yang ideal yang dapat memberikan perusahaan pelayaran keuntungan.
MODEL ANALISIS KAPASITAS PASAR PELAYARAN PETIKEMAS: STUDI KASUS RUTE SURABAYA - SAMPIT Kumalasari, Silvia Dewi; Achmadi, Tri
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.984 KB) | DOI: 10.29122/jurnalwave.v11i2.2714

Abstract

Pelayaran petikemas rute Surabaya ? Sampit  terjadi oversupply sejak tahun 2011 hingga saat ini, yakni selisih antara demand dan jumlah supply yang melayani rute tersebut mencapai hampir dua kali lipat, menyebabkan kapasitas kapal kosong mencapai 44% per tahun. Hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah demand yang drastis, sehingga perusahaan pelayaran yang beroperasi pada rute tersebut dapat mengalami kerugian operasional. Berdasarkan kondisi tersebut, sehingga perlu dilakukan analisis kapasitas pasar pelayaran petikemas, agar tidak terjadinya oversupply pada rute Surabaya ? Sampit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode optimasi untuk mendapatkan kapasitas pasar yang sesuai untuk rute Surabaya ? Sampit. Hasil yang didapatkan untuk kapasitas pasar yang ideal yakni disesuaikan dengan jumlah demand agar tidak terjadi oversupply, sehingga pada tahun 2017 ? 2021 dibutuhkan 1 ? 2 armada kapal dengan ukuran 300 - 385 Teus, dan required freight rate sebesar Rp  5.103.273 ? Rp  5.797.403 per Teus, dengan jumlah 1 ? 2 perusahaan pelayaran yang disesuaikan dengan jumlah kapal. Kondisi pasar yang menguntungkan perusahaan pelayaran pada rute Surabaya ? Sampit adalah kondisi pasar konsentrasi tinggi dengan indeks konsentrasi pasar 0,50 ? 1 yang dikuasai oleh 1 atau 2 perusahaan pelayaran. Pada kasus rute Surabaya ? Sampit ini dapat dibuktikan bahwa tidak selalu kondisi pasar yang kompetitif adalah kondisi pasar yang ideal yang dapat memberikan perusahaan pelayaran keuntungan.
Modelling Ports Investment and Island Economic Growth Tukan, Marcus; Achmadi, Tri; Wijaya, Sjarief; Ciptomulyono, Udisubakti
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 23, No 3 (2012)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20882033.v23i3.6

Abstract

The port is a gateway region's economy. Investment performance is important that an effective and efficient port to ensure smooth supply chain needs of the region and promote economic growth. This study aims to model the port investment relationship with economic growth. Quantitative analysis and econometric modeling is used in statistical testing, studies typically classified in two areas, namely: the north and south islands of Maluku. The northern and southern regions and the increase in the loading dock term investment to drive economic growth, but the number of visits relation ship with economic growth negative influence.
Analisis dan Model Standard Angkutan Laut: Studi Kasus Muatan Petikemas Achmadi, Tri; Abdan Hanif, Mohammad; Sina Khaqiqi, Alwi
Rekayasa Vol 14, No 1: April 2021
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/rekayasa.v14i1.10044

Abstract

The increase in container rates, which tends to be unstable, has an impact on the price of cargo per unit to increase. The uncertainty of the amount of cargo carried makes the tariffs imposed also unstable. The purpose of this research is to make a standard model of the cost of each unit and the size of the capacity of container transport services based on changes in cargo and distance of shipping routes. In addition, it analyzes the relationship between load factor and frequency on the gross income of a shipping company. The optimization method is used to get the size and cost per unit under certain conditions. The results of the analysis explain that the current tariff is not yet optimal, proven by the current cost equation y=2E+06x(-0,342) (R2= 0,238). Then to create a standard model of transportation, the equation for the cost line per container ship freight unit y=1E+09x(-0,759) (R2= 0,8634) while SPCB y=6E+07x(-0,59) (R2 = 0,8234). This study also produces an equation model for the size of the container ship transport capacity y=3E-05x+57,662 (R2=0,943) while SPCB y=2E-05x+94,446  (R2=0,997). The conclusion is using a sensitivity analysis of the carrying capacity with the current condition of ship operation patterns for the minimum load factor for the Surabaya-Ambon route 76% and Surabaya-Serui 48%. For a 100% load factor condition, it can reduce the cost per unit for the Surabaya-Ambon route by 50% and for the Surabaya-Serui route by 63%.
Model Pengembangan Wilayah Untuk Pembangunan Pelabuhan: Studi Kasus Pantai Selatan Jawa Timur Wahyu Putra Gantara; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.897 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.376

Abstract

Pelabuhan merupakan pintu gerbang dalam terjadinya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat tercipta apabila didukung oleh beberapa faktor yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia masing – masing daerah. Sumber daya alam dapat berupa sektor poyensial suatu daerah yang dapat  dikembangkan sehingga dapat di ekspor ke luar daerah. Untuk mencari sektor yang potensial di tiap daerah Jawa Timur Selatan, maka digunakanlah beberapa metode analisis diantaranya yaitu Location Quotient dan Shift Share. Metode Shift Share memiliki tiga komponen yaitu Differential Shift, Proportional Shift dan Regional Share. Dari hasil perhitungan analisis yaitu LQ dan Shift Share, maka dapat dilihat bahwa Sektor Pertanian, Pertambangan, Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dan sektor Jasa merupakan sektor potensial. Biaya transportasi distribusi muatan ekspor dari Pelabuhan Tanjung Wangi ke Benoa yang paling minimum adalah Rp 16.350.021 dengan DWT 1050 ton dan biaya angkut per ton sebesar Rp 15.571. Dengan BOR pelabuhan sebesar 85.57%, maka panjang dermaga yang dibutuhkan sebesar 573 meter.
Analisis Penanganan Limbah Minyak Di Kawasan Pelabuhan: Tinjauan Dari Segi Transportasi Laut Evan Eryanto; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.138 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.378

Abstract

Dalam IMO (International Maritime Organization) yang dimandatkan dalam konvensi MARPOL 73/78, bahwa setiap pelabuhan harus memiliki fasilitas penanganan limbah (Port Reception Facilities) di setiap pelabuhan dengan tujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat buangan limbah dari kapal. Sedangkan Indonesia yang telah meratifikasi peraturan MARPOL 73/78 Annex I, tidak sepenuhnya mematuhi peraturan tersebut yaitu membangun fasilitas penanganan limbah. Ketiadaan fasilitas limbah di pelabuhan tersebut dikarenakan tidak ada dukungan secara finansial dari pengelolah pelabuhan. Dalam penelitian ini diberikan solusi penanganan limbah, khususnya limbah minyak dengan konsep transportasi laut. Penanganan tersebut dengan mengangkut limbah minyakmenggunakan kapal pengangkut limbah yaitu tongkang minyak propulsi mandiri (Self Propelled Oil Barge). Dan membangun tangki penampungan di setiap pelabuhan yang akan dilayani, serta membangun fasillitas penanganan limbah di pelabuhan utama/pelabuhan penumpukan akhir limbah minyak. Perencanaan rute operasi kapal menggunakan konsep Travellling Salesman Problem(TSP). Setelah itu, proses optimasi perencanaan tongkang minyak propulsi mandiri ini bertujuan untuk mengetahui ukuran utama tongkang, kecepatan tongkang, dan kecepatan bongkar muat yang optimum (unit biaya terkecil). Dalam proses optimasi dilakukan secara berulang –ulang dengan mengubah collecting time (lama waktu penumpukan) limbah minyak. Sehingga didapatkan collecting time yang memilki unit biaya terkecil.
Pengembangan Indikator Logistik untuk Wilayah Kepulauan Agsari Aulia Pamudji; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.035 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.379

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan pulau-pulau besar dan beberapa gugusan pulau kecil yang menuntut adanya sistem logistik yang efisien dan efektif. Publikasi World Bank tentang Indeks Kinerja Logistik tahun 2010 (Logistik Performance Index) menempatkan Indonesia dengan kinerja logistik yang kurang bagus, yaitu pada urutan 75 dari 155 negara. LPI kurang mencerminkan kondisi Indonesia yang berupa kepulauan, sehingga perlu dibuat suatu kajian ulang mengenai penyusunan indeks logistik yang sesuai dengan karakteristik Indonesia. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui indikator yang mencerminkan kondisi kepulauan di Indonesia dan untuk mengetahui cara menyusun indeks logistik. Jumlah indikator yang ditentukan adalah lima indikator kinerja logistik. Pembuatan indikator memperhatikan beberapa faktor, yaitu Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bounded, dan Continuously Improve. Wilayah yang dijadikan sampel dalam Tugas Akhir ini adalah Surabaya, Jakarta, Makassar, Kepulauan Nusa Tenggara Timur, dan Kepulauan Maluku. Penyusunan indeks dilakukan dengan membuat model matematika dan pembobotan indikator dilakukan dengan Analytic Hierarchy Process. Model matematika tersebut berisi kerangka penyusunan indeks. Data yang diperlukan untuk Tugas Akhir ini adalah data operasional kapal, pelabuhan, tarif, data survei kuesioner dan wawancara. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk menguji tingkat kevalidan dan reliabilitas data yang digunakan sebagai input dari perhitungan. Data tersebut kemudian diujikan dalam model matematis sehingga menghasilkan indeks dari masing-masing kepulauan, yaitu Kepulauan Maluku =2.85, Kepulauan Nusa Tenggara Timur =2.78, dan Makassar = 2.95.
Penentuan Pola dan Pusat Distribusi Bahan Pokok Untuk Wilayah Berbasis Kepulauan Tiara Figur Alfenza; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.058 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.380

Abstract

Wilayah kepulauan Indonesia yang tersebar hingga ujung perbatasan negeri menyebabkan terjadinya kesenjangan perekonomian, khususnya untuk ketersediaan bahan pokok. Harga bahan pokok yang dijual di wilayah kepulauan terluar Indonesia jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga jual di Pulau Jawa. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi tersebut adalah dengan merencanakan pusat distribusi dan pola jaringan transportasi laut yang sesuai dengan karakteristik kepulauan. Penentuan pusat distribusi menggunakan metode gravitasi dan didapat Pulau Ulu dan Pulau Sangihe sebagai  hub port. Penentuan rute optimum menggunakan teori Travelling Salesman Problem. Teori jaringan yang direncanakan adalah multiport calling dan hub and spoke network. Dalam satu tahun kapal untuk konsep multiport calling dapat beroperasi 52 kali dan untuk konsep hub and spoke network dapat beroperasi 53 kali. Selisih unit biaya kedua pola tersebut adalah sebesar 2%.
Analisis Hubungan Kluster Industri dengan Penentuan Lokasi Pelabuhan: Studi Kasus Pantai Utara Pulau Jawa Maulana Prasetya Simbolon; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.929 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.385

Abstract

Proses distribusi barang merupakan suatu rangkaian proses yang terkait dalam upaya penguasaan areal pasar terluas melalui maksimisasi penjualan dan minimisasi biaya produksi (transportasi). Sebagian contoh nyata di beberapa wilayah, proses distribusi barang tidak didasarkan pada aspek minimisasi biaya transportasi/trucking (teori lokasi tradisional) dimana pengiriman barang tidak melalui pelabuhan muat yang dekat dengan lokasi industri. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan hubungan antara industri dengan penentuan lokasi pelabuhan serta faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah metode komparasi hasil perhitungan model deterministik (Linear Programming dan Gravitasi dengan Pembatas Tunggal) dengan data yang ada, serta analisis korelasi (model uji kebebasan dan Crammer’s-Coefficient of Association) dalam mengukur keeratan hubungan faktor-faktor yang berpengaruh dalam penentuan lokasi pelabuhan. Hasil perhitungan menunjukkan adanya hubungan/ korespondensi antara lokasi pelabuhan dengan lokasi industri dimana lokasi kluster industri terlebih dahulu ada dan diikuti lokasi pelabuhan. Faktor utama yang berpengaruh dalam penentuan lokasi pelabuhan adalah jumlah kunjungan kapal. Prosentase hasil komparasi (selisih hasil perhitungan model gravitasi dengan data yang ada) untuk variabel jumlah kunjungan kapal (2,2%); daya tampung gudang/CY (2,3%); biaya transportasi/trucking (12,7%). Nilai koefisien korelasi variabel jumlah kunjungan kapal = 0,866 (keeratan hubungan: kuat/tinggi), daya tampung gudang/CY = 0,878 (kuat/tinggi), biaya transportasi (inland) = 0,699 (sedang/cukup). Persebaran muatan (ekspor) dari: Jawa Timur ke pelabuhan Tanjung Perak (97%), Tanjung Emas (1%), Tanjung Priok (2%); Jawa Tengah & D.I.Yogyakarta ke pelabuhan Tanjung Emas (72%), Tanjung Perak (15%), Tanjung Priok (13%); Jawa Barat ke pelabuhan Tanjung Priok (97,2%), Tanjung Emas (1,5%), Tanjung Perak (1,3%); DKI Jakarta & Banten ke pelabuhan Tanjung Priok (99,96%), Tanjung Emas (0,02%), Tanjung Perak (0,02%).