Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Pengembangan Pendidikan Wilayah Kepulauan Berbasis Transportasi Laut I Wayan Sion; Setijopradjudo Setijopradjudo; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.635 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.386

Abstract

Faktor sosial dan fisik-geografis kepulauan menjadi masalah dalam pemerataan proses pendidikan sehingga penyediaan infrastruktur pendidikan pada pulau menjadi penting. Pendekatan metode pendidikan dan alternatif pengembangan infrastruktur dapat dilakukan dengan memanfaatkan moda transportasi laut, yaitu dengan sekolah terapung dan perahu sekolah. Hasil analisis dengan mengembangkan model skenario operasi ketika kondisi peserta konstan atau meningkat menunjukkan konsep pembangunan sekolah di darat untuk setiap wilayah membutuhkan pembiayaan terkecil yaitu Rp 4.137.190.200 atau 18,04% dengan jam pengajaran 288 jam atau 30,34% dan unit biaya Rp 17.888/pax.jam. Akan tetapi, selama periode operasi lima tahun dengan peserta menurun menunjukkan konsep pengembangan perahu sekolah dengan pembiayaan terkecil yaitu Rp 3.672/pax.jam atau 19,05% dengan jam pengajaran 225 jam atau 23,69%. Faktor jarak antar pulau dan spesifikasi teknis armada sangat berpengaruh terhadap opsi pengembangan yang dipilih. Pada penelitian ini, perahu sekolah dipilih jika jarak kurang dari 10 mile. Sedangkan, konsep sekolah terapung dipilih jika jarak wilayah operasi antara 10-40 mile. Jarak wilayah lebih dari 40 mile diperlukan depot khusus karena ratio waktu operasi lebih kecil dari waktu tempuh. Konsep pembiayaan pendidikan kepulauan yang menggunakan moda laut dapat dilakukan dengan pembagian biaya sesuai anggaran pemerintah. Secara investasi didukung dari pihak pemerintah pusat atau daerah karena anggaran yang besar. Sedangkan untuk biaya operasional bisa dilakukan oleh pemerinah kabupaten/kota karena merupakan pelaksana sekolah.
Analisis Hubungan Pola Migrasi Penduduk dengan Transportasi Laut (Studi Kasus: Jawa – Kalimantan) Rizky Ramadhan Eka Putra; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.26 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2529

Abstract

Transportasi laut yang handal dibutuhkan untuk mengangkut para migran Jawa – Kalimantan karena kondisi geografisnya yang dipisahkan oleh laut. Tetapi pada saat peak time terjadi lonjakan penumpang kapal yang drastis sehingga kapal mengangkut penumpang melebihi kapasitasnya dan melebihi load factor yang diijinkan. Selain itu, terdapat beberapa kapal yang tidak cocok dioperasikan pada rute Jawa – Kalimantan. Tugas Akhir ini menganalisis tentang hubungan pola migrasi penduduk dengan transportasi laut menggunakan metode kuesioner dan analisis regresi logistik biner. Selain itu, di dalam tugas akhir ini juga berisi analisis pangsa pasar perusahaan pelayaran yang melayani rute Jawa – Kalimantan menggunakan Herfindahl-Hirschman Indeks (HHI) dan perencanaan transportasi laut untuk migrasi Jawa – Kalimantan menggunakan vehicle routing problem (VRP). Hasil hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat variabel X dan atribut Y yang mempengaruhi jumlah migrasi melalui transportasi laut. Setiap lokasi penelitian menghasilkan variabel X dan atribut Y yang berbeda-beda. Di dalam analisis pangsa pasar menunjukkan PT. Pelni mempunyai pangsa pasar terbesar dan struktur pasar adalah pasar ekonomi monopoli. Pada perencanaan transportasi laut menghasilkan skenario 3.2 sebagai rute dan penugasan kapal yang optimal untuk melayani migrasi penduduk Jawa – Kalimantan beserta tarif yang akan dibebankan kepada para migran.
Penentuan Pelabuhan Hub untuk Crude Palm Oil (CPO) Ekspor di Indonesia Eko Andi Haranto; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.622 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2532

Abstract

CPO (Crude Palm Oil) merupakan salah satu komoditi ekspor terbesar di Indonesia. Moda angkut darat dan sungai menjadi pilihan untuk didistribusikan menuju calon pelabuhan hub. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan pola operasi armada pengangkut CPO, dan penentuan pelabuhan hub untuk ekspor CPO. Metode Transportasi digunakan untuk memilih pabrik pengolahan CPO sebagai pemasok utama. Dari hasil analisis didapatkan bahwa penggunaan moda darat menggunakan truk lebih optimal dibandingkan menggunakan tongkang hal ini dikarenakan kondisi sungai di Kalimantan Tengah yang dangkal. Dengan menggunakan metode transportasi didapatkan empat lokasi pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Pelabuhan hub yang terpilih berlokasi di Bagendang dan Bumi Harjo. Kedua titik tersebut dipilih karena sudah memiliki tangki timbun dan dermaga untuk ekspor CPO, selain itu pemilihan berdasarkan hasil analisa didapatkan biaya dari Pabrik PT. ATLANTIS ke Pelabuhan Bagendang dengan truk berukuran 10 ton memerlukan biaya sebesar Rp. 333.016,25/TRIP/TRUK. Pabrik PT. ATLANTIS II ke Pelabuhan Bagendang Rp. 237.868,75/TRIP/TRUK. Pabrik PT. TIGER ke Pelabuhan Bumi Harjo Rp. 475.737,50/TRIP/TRUK. PT. TIGER II merupakan pabrik yang dapat melakukan pengiriman langsung menggunakan tongkang berukuran 1800 DWT melewati sungai Barito, dengan biaya Rp.123.007.828,27,- /voyage.
Perencanaan Transportasi Sapi Ternak Dengan Menggunakan Kapal Tradisional Untuk Wilayah Pulau Madura Bayu Moerdianto Wahid; Tri Achmadi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.107 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.4527

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat mengakibatkan kebutuhan akan daging sapi juga semakin meningkat. Sampai saat ini, Indonesia memenuhi kebutuhan dagingnya sebesar 30% dari impor dimana terjadi kenaikan harga karena adanya peningkatan harga bahan bakar dan pakan ternak. Potensi sapi di Madura yang besar menjadikan wilayah ini menjadi salah satu sentra produksi sapi di Indonesia. Saat ini pengiriman sapi dari Madura melalui laut melayani untuk tujuan Kalimantan Selatan (Banjarmasin). Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui potensi supply dan demand sapi di Madura ke Kalimantan serta menganalisa pola pengangkutan sapi ternak untuk mengetahui biaya total transportasi. Dari hasil penelitian diketahui potensi supply sapi pada tahun 2013 di kabupaten Bangkalan saat ini sebesar 10% dari jumlah populasi sapi atau sebesar 22.345 ekor, dan demand sapi di provinsi Kalimantan Selatan sebesar 12,6% dari jumlah populasi sapi atau sebesar 18.769 ekor. Pola pengangkutan sapi ternak menggunakan tiga kapal jenis KLM (Kapal Layar Motor), dengan lama RTD (Round Trip Days) kapal yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan adalah dengan menggunakan KLM Purnama Indah selama 7 hari, KLM Karya Utama dan KLM Karya Utama II selama 14 hari. Skenario ini memberikan keuntungan yang lebih besar terhadap pemilik kapal sebesar Rp.1.449.380.873 tiap tahun atau tiga kali lebih besar dari keuntungan saat ini.
Model Revitalisasi Pasar Tradisional Terapung Untuk Menunjang Logistik Wilayah Pedalaman: Studi Kasus Sungai Barito Chandra Karta Yudha; Tri Achmadi; Siti Dwi Lazuardi
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.985 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29939

Abstract

Banjarmasin merupakan wilayah yang memiliki 103 sungai yang salah satunya digunakan untuk pasar terapung. Tetapi kondisi Pasar Terapung tidak seramai dahulu, seiring dengan berkembangnya zaman keberadaan pasar terapung ini mulai mengalami penurunan, baik dari sisi luas kawasan, jumlah penjual, jumlah transaksi jual beli dan lain-lain. Sementara itu Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, pasal 13 ayat (1), (2) dan (3) yang mengamanatkan bahwa Pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan pembangunan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas pengelolaan pasar rakyat guna peningkatkan daya saing. Tujuan dari penelitian membuat model revitalisasi pasar apung dengan memperbaiki fasilitas kapal dan dermaga. Metode yang digunakan dalam penentuan ukuran utama dan jumlah kapal adalah optimasi. Dan hasil dari penelitian diperoleh revitalisasi kapal menggunakan material kayu ukuran panjang (Lpp) 11,97 m, lebar (B) 3,05 m, tinggi (H) 2,4 dan sarat (T) 1,7 m dengan tarif  Rp. 70.000,-/ton. Sementara itu pengadaan dermaga dengan ukuran panjang 58 m, lebar 10 m dan tinggi 8,8 m membutuhkan investasi sebesar 1,6 miliar rupiah dengan jenis dermaga terbuat dari kubus HDPE. Dengan adanya revitalisasi tersebut mengakibatkan kenaikan biaya angkut kapal sebesar 40% sehingga diperlukan subsidi dari pemerintah untuk menutupi kenaikan biaya tersebut sebesar 20 ribu rupiah/ton.
Analisis Skala Penambangan Mineral dan Pengangkutan: Studi Kasus Angkutan Nikel di Sulawesi Tenggara Karina Novita Sari Setiawan; Tri Achmadi; Siti Dwi Lazuardi
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.143 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.30001

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk bahan tambang, salah satunya yakni nikel. Hasil olahan nikel yaitu feronikel, merupakan bahan baku pembuatan stainless steel, yakni pelapis besi anti karat. Sampai saat ini masih banyak ditemui berbagai permasalahan terkait pengiriman feronikel. Kurangnya perhatian terhadap hubungan antara kapasitas armada kapal dengan jumlah muatan hasil produksi tambang, khususnya feronikel menyebabkan biaya transportasi menjadi acak dan tidak ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan biaya dan keekonomisan antara moda transportasi laut yaitu bulk carrier, general cargo dan self – propeller barge untuk melayani permintaan selama 5 (lima) tahun mendatang. Penggunaan metode optimasi dengan biaya pengiriman optimum sebagai kriteria utama serta pemenuhan permintaan akan memberikan solusi moda transportasi yang sesuai. Berdasarkan hasil optimasi, moda transportasi bulk carrier merupakan moda yang optimum dengan optimum cost untuk pengiriman feronikel dengan unit cost sebesar Rp 524.735,93 per ton, sedangkan jika menggunakan kapal general cargo dan self – propeller barge menghasilkan unit cost sebesar Rp 549.168,18 per ton dan Rp 583.118,20 per ton.
ENVIRONMENTAL QUALITY AND OPTIMAL INVESTMENT IN TOURISM INFRASTRUCTURES: SETTING AN ENVIRONMENTALLY FRIENDLY PORT LOCATION COMBINED TO TOURIST DESTINATIONS USING TSP MODEL Nyoman, R.M. Budiartha; Djauhar Manfaat; Tri Achmadi
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 10 No 2 (2010)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid growth of cruise ships has encouraged the Indonesian government and Bali’s local governments in particular, to compete in developing and upgrading their existing ports. It needs a holistic and integrated transportation system before a decision to locate a port can be made. In order to avoid unconstructive local exploitation to the whole system and given the fact that cruises’ visits are usually only for a short period, requirement for a synergized system is fundamental, in order to measure the whole chain of factors and values involved in the decision making process. Traveling Salesman Problem (TSP) Model implemented in this study is expected to be able integrate tourist destinations and transportation system. Findings derived from this research will be used as guidance in managing many tourist destinations, which include the organization of local traffic and accessibility by introducing alternative routes; managing demands for transportation infrastructures, facilities, and services; reducing traffic congestion; controlling speed limit; mitigating air pollution; and synchronising location of the port and tourist destination. The strategic Environmental Sustainable Transportation is urgently needed to implement in Bali as the major tourist destination in Indonesia in order to minimized CO2 emission
Analisis Perbandingan antar Moda Distribusi Sapi : Studi Kasus Nusa Tenggara Timur - Jakarta Tri Achmadi; Silvia Dewi Kumalasari; Hasan Iqbal Nur; Pratiwi Wuryaningrum
IPTEK Journal of Proceedings Series No 2 (2018): The 2nd Conference on Innovation and Industrial Applications (CINIA 2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2018i1.3352

Abstract

Daging sapi merupakan komoditi utama daging di Indonesia, salah satu daerah dengan konsumsi daging sapi tertinggi yakni DKI Jakarta. Sehingga dibutuhkan pasokan sapi dari Salah satu daerah pemasok sapi terbesar di Indonesia yakni NTT sebagai sentra produksi untuk pemenuhan permintaan daging sapi DKI Jakarta. Namun kondisi pengiriman sapi dari NTT – Jakarta tidak sesuai dengan animal welfare, sehingga dioperasikan kapal ternak KM camara Nusantara 1 dengan kapasitas 500 sapi, dengan rute NTT – Jakarta dengan tujuan untuk menurunkan harga daging sapi di Jakarta. Dalam pengoperasiannya kapal tersebut pada pengiriman kedua dan ketiga kapal tidak bermuatan dikarenakan pemilik sapi lebih memilih menggunakan pengiriman cara lama. Sehingga perlu dilakukan analisis perbandingan distribusi sapi NTT – Jakarta pengiriman cara lama dengan moda kapal ternak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui moda terpilih pengiriman sapi dari NTT – Jakarta berdasarkan 3 aspek yakni unit biaya pengiriman, waktu pengiriman dari peternakan hingga rumah pemotongan hewan, dan, produksi daging sapi. Serta dari moda terpilih tersebut didapatkan pola operasi yang optimum untuk distribusi sapi NTT – Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi dan optimasi dengan memperhatikan variabel-variabel yang berpengaruh. Dari penelitian ini didapatkan hasil perbandingan yang paling menguntungkan untuk distribusi sapi NTT – Jakarta untuk pelabuhan asal Tenau Kupang yakni skenario 1 dengan hasil perbandingan total 9 miliar rupiah dan untuk skenario 2 dengan pelabuhan asal Waingapu, hasil perbandingan total 8,9 miliar rupiah, dengan moda terpilih kapal ternak, pola operasi port to port, rute Waingapu – Jakarta
Model Analisis Kapasitas Pasar Pelayaran Petikemas: Studi Kasus Rute Surabaya - Sampit Silvia Dewi Kumalasari; Tri Achmadi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 11 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jurnalwave.v11i2.2714

Abstract

Pelayaran petikemas rute Surabaya – Sampit  terjadi oversupply sejak tahun 2011 hingga saat ini, yakni selisih antara demand dan jumlah supply yang melayani rute tersebut mencapai hampir dua kali lipat, menyebabkan kapasitas kapal kosong mencapai 44% per tahun. Hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah demand yang drastis, sehingga perusahaan pelayaran yang beroperasi pada rute tersebut dapat mengalami kerugian operasional. Berdasarkan kondisi tersebut, sehingga perlu dilakukan analisis kapasitas pasar pelayaran petikemas, agar tidak terjadinya oversupply pada rute Surabaya – Sampit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode optimasi untuk mendapatkan kapasitas pasar yang sesuai untuk rute Surabaya – Sampit. Hasil yang didapatkan untuk kapasitas pasar yang ideal yakni disesuaikan dengan jumlah demand agar tidak terjadi oversupply, sehingga pada tahun 2017 – 2021 dibutuhkan 1 – 2 armada kapal dengan ukuran 300 - 385 Teus, dan required freight rate sebesar Rp  5.103.273 – Rp  5.797.403 per Teus, dengan jumlah 1 – 2 perusahaan pelayaran yang disesuaikan dengan jumlah kapal. Kondisi pasar yang menguntungkan perusahaan pelayaran pada rute Surabaya – Sampit adalah kondisi pasar konsentrasi tinggi dengan indeks konsentrasi pasar 0,50 – 1 yang dikuasai oleh 1 atau 2 perusahaan pelayaran. Pada kasus rute Surabaya – Sampit ini dapat dibuktikan bahwa tidak selalu kondisi pasar yang kompetitif adalah kondisi pasar yang ideal yang dapat memberikan perusahaan pelayaran keuntungan.
MODEL PERHITUNGAN PENERAPAN KONSESI PELABUHAN DI INDONESIA Tri Achmadi; Alwi Sina Khaqiqi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol. 14 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jurnalwave.v14i2.4600

Abstract

Pelabuhan merupakan salah satu infrastruktur yang dapat mendukung Sistem Logistik Nasional di Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan. Adanya pelabuhan juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia. Salah satu syarat untuk dapat melakukan kegiatan kepelabuhanan dengan melakukan konsesi telah diatur pada UU Pelayaran No. 17 Tahun 2008 Pasal 92. Menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk saat ini kinerja pengelolaan konsesi pelabuhan belum efektif. Selain itu, juga keluar Instruksi Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang hasil pemeriksaan kinerja atas efektivitas pengelolaan konsesi pelabuhan di Terminal Teluk Lamong yang belum melakukan kajian secara mendalam terkait penentuan tarif sebesar 2,5% dan lama waktu konsesi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan model konsesi yang efektif dan saling menguntungkan antara pihak-pihak yang terlibat. Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode BCR (Benefit Cost Rasio) dan analisis sensitivitas. Dari hasil penelitian ini untuk komponen yang paling berpengaruh adalah tarif konsesi dan tarif pelabuhan. Kemudian untuk waktu konsesi dengan nilai BCR > 1 pada tahun ke 27 untuk payback period pada tahun ke 23 dan untuk lama konsesi yaitu 60 tahun dengan tarif konsesi 2,5% dari pendapatan pelabuhan. Kata kunci: Analisis Sensitivitas; Konsesi; Lama Waktu Konsesi; Metode BCR; Tarif Konsesi.