Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

FACE VALIDATION METHOD ALTERNATIVES FOR SHIPHANDLING FUZZY LOGIC DIFFICULTY MODEL Tjahjono, Tri; Benabdelhafid, Abdellatif; Priadi, Antoni Arif
Jurnal Transportasi Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.756 KB)

Abstract

The development of shiphandling difficulty model for ferry is based on the empirical experience through the Master of Ro-Ro ferries. The SHDMF is consisted from two parts which are the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Fuzzy Inference System. Both parts had been validated through internal validation in the form of consistency test for the first part and robustness test for the second part. Further, the external/face validation is required to compare the proposed model with similar model through benchmarking approach. The benchmarking approaches are elaborated for the reliability, validity, possibility, efficiency and effectiveness. Through fuzzy group decision making method, the questionnaire survey is performed to verify the most appropriate approach based on the shiphandling simulator as the most preferred benchmarking tool by experts. Next, the proposed scenario is overviewed and discussed especially related to the advantages and drawbacks of shiphandling simulator. Keywords: shiphandling difficulty, fuzzy group decision making, internal validation Model pengukuran kesulitan pengendalian feri didasarkan pada pengalaman empiris melalui pernyataan nahkoda kapal feri Ro-Ro. SHDMF terdiri atas dua bagian, yaitu Analytic Hierarchy Process dan Fuzzy Inference System. Kedua bagian ini telah divalidasi melalui validasi internal dalam bentuk uji konsistensi untuk bagian pertama dan uji kehandalan untuk bagian kedua. Selanjutnya validasi atau wajah eksternal diperlukan untuk membandingkan model yang diusulkan dengan model yang diperoleh dari benchmarking. Pendekatan benchmarking dijabarkan untuk kehandalan, validitas, kemungkinan, efisiensi, dan efektivitas. Melalui metode fuzzy kelompok pembuatan keputusan, survei kuesioner dilakukan untuk memverifikasi pendekatan yang paling tepat dengan simulator pengendalian kapal sebagai alat yang paling disukai oleh para ahli untuk benchmarking. Selanjutnya skenario yang ditinjau-ulang dan dibahas terutama terkait dengan keuntungan dan kelemahan simulator pengendalian kapal. Kata-kata kunci: kesulitan pengendalian, fuzzy kelompok pembuatan keputusan, validasi internal
FACE VALIDATION METHOD ALTERNATIVES FOR SHIPHANDLING FUZZY LOGIC DIFFICULTY MODEL Tjahjono, Tri; Benabdelhafid, Abdellatif; Priadi, Antoni Arif
Jurnal Transportasi Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.756 KB) | DOI: 10.26593/jt.v14i2.1393.%p

Abstract

The development of shiphandling difficulty model for ferry is based on the empirical experience through the Master of Ro-Ro ferries. The SHDMF is consisted from two parts which are the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Fuzzy Inference System. Both parts had been validated through internal validation in the form of consistency test for the first part and robustness test for the second part. Further, the external/face validation is required to compare the proposed model with similar model through benchmarking approach. The benchmarking approaches are elaborated for the reliability, validity, possibility, efficiency and effectiveness. Through fuzzy group decision making method, the questionnaire survey is performed to verify the most appropriate approach based on the shiphandling simulator as the most preferred benchmarking tool by experts. Next, the proposed scenario is overviewed and discussed especially related to the advantages and drawbacks of shiphandling simulator. Keywords: shiphandling difficulty, fuzzy group decision making, internal validation Model pengukuran kesulitan pengendalian feri didasarkan pada pengalaman empiris melalui pernyataan nahkoda kapal feri Ro-Ro. SHDMF terdiri atas dua bagian, yaitu Analytic Hierarchy Process dan Fuzzy Inference System. Kedua bagian ini telah divalidasi melalui validasi internal dalam bentuk uji konsistensi untuk bagian pertama dan uji kehandalan untuk bagian kedua. Selanjutnya validasi atau wajah eksternal diperlukan untuk membandingkan model yang diusulkan dengan model yang diperoleh dari benchmarking. Pendekatan benchmarking dijabarkan untuk kehandalan, validitas, kemungkinan, efisiensi, dan efektivitas. Melalui metode fuzzy kelompok pembuatan keputusan, survei kuesioner dilakukan untuk memverifikasi pendekatan yang paling tepat dengan simulator pengendalian kapal sebagai alat yang paling disukai oleh para ahli untuk benchmarking. Selanjutnya skenario yang ditinjau-ulang dan dibahas terutama terkait dengan keuntungan dan kelemahan simulator pengendalian kapal. Kata-kata kunci: kesulitan pengendalian, fuzzy kelompok pembuatan keputusan, validasi internal
Analisis Kompetensi Anak Buah Kapal Dalam Penanganan Limbah Sesuai Dengan Implementasi MARPOL 73/78 Priadi, Antoni Arif; Tristanti; Sunaryanto; M. Hasan Habli
Meteor STIP Marunda Vol 10 No 2 (2017): Desember
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STIP Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36101/msm.v10i2.69

Abstract

Penanganan limbah adalah salah satu isu penting dalam keselamatan pelayaran. Sebagai contoh penanganan limbah terkait dengan resiko kecelakaan kapal yang mengakibatkan tumpahan minyak di laut. Kecelakaan kapal tanker, misalnya, sangat beresiko menumpahkan minyak dalam jumlah yang besar yang dapat mencemari lingkungan perairan. Kompetensi pelaut/ ABK sangat dibutuhkan dalam mencegah dan mengendalikan resiko pencemaran limbah baik dalam keadaan normal maupun darurat. Tinjauan utama penelitian ini adalah untuk meneliti sejauhmana pelaut telah memahami, memiliki keterampilan, dan mampu mengimplementasikan regulasi terkait penanganan limbah. Disamping itu, penelitian ini juga menggali faktor-faktor lain dalam sistem penanganan limbah yang berpengaruh pada efektifitas pelaksanaan prosedur dan ketentuan terkait. Dengan demikian bila di kapal dan pelabuhan sebagai lingkungan kerja pelaut ada persoalan, sejauhmana pelaut bersikap dan mengantisipasinya. Sehingga dapat diteliti lebih lanjut, apakah faktor kompetensi menjadi faktor utama dalam penanganan limbah di kapal dan pelabuhan, ataukah faktor lain menyangkut peralatan, manajemen perusahaan, atau prosedur yang ditetapkan dan diimplementasikan otoritas pelabuhan terkait penanganan limbah di kapal.
Kinerja Kompetensi Perwira Permesinan Kapal: Suatu Analisis Kesenjangan Berbasis Kompetensi Priadi, Antoni Arif; Fahcruddin, Imam; Almuzani, Nafi; Gupron, Ahmad Kasan
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 20 No. 2 (2018): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/transla.v20i2.813

Abstract

Indonesia memegang peran penting dalam industri maritim dunia. Salah satunya melalui penyediaan pelaut untuk pangsa pasar nasional maupun internasional. Besarnya jumlah pelaut Indonesia jika tidak diimbangi dengan kualitas atau kompetensinya menyebabkan lemahnya daya serap pelaut Indonesia ke kapal dalam negeri maupun luar negeri. Kompetensi yang dimiliki manusia dapat diketahui oleh orang yang melihat dan menilai aktifitas yang dia lakukan. Dengan membandingkan antara persepsi dan harapan, kita bisa mengetahui apakah ada gap (kesenjangan) dalam mencapai suatu tujuan. Dalam penelitian ini dibahas persepsi dan harapan kompetensi perwira mesin kapal asal Indonesia tahun 2017 menggunakan analisis kesenjangan. Dari hasil penelitian diperoleh tingkat kesesuaian antara persepsi dan harapan kompetensi perwira mesin kapal untuk kompetensi permesinan kapal sebesar 78.92%, kompetensi listrik, elektronika, dan sistem kontrol sebesar 77.69%, kompetensi perawatan dan perbaikan sebesar 77.97%, kompetensi pengendalian operasi kapal dan penanganan personil di kapal sebesar 77.34% serta kompetensi softskill sebesar 80.92%. Kesenjangan yang terjadi antara persepsi dan harapan kompetensi perwira mesin kapal adalah negatif.
DESAIN MODEL INSTRUMEN PENYETARAAN NAKHODA KAPAL UNTUK JABATAN DOSEN MELALUI REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU (RPL) Priadi, Antoni Arif; Cahyadi, Tri; Purba, Damoyanto
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/transla.v21i2.1279

Abstract

Nakhoda kapal dengan kualifikasi Ahli Nautika Tingkat-II (ANT-II)  merupakan  profesional yang memiliki pengetahuan dan pengalaman pada level tertinggi dalam sistem operasi kapal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, menganalisis, dan evaluasi. Berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) membuka peluang bagi para profesional seperti Nakhoda kapal untuk setara dengan jenjang tertentumenggunakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Hal ini memungkinkan sebagai cara pemenuhan dosen pada pendidikan tinggi vokasi dari profesional atau industri. Penelitian deskripsi ini disajikan untuk menganalisis penyetaraan Nakhoda kapal ke dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui studi pustaka dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nakhoda kapal dapat disetarakan dengan jenjang 8 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui desain instrumen penilaian yang disusun berdasarkan aspek kompetensi pengajaran dan kompetensi profesional.
DESAIN MODEL SERTIFIKASI PROFESI TEKNIKA KAPAL UNTUK DOSEN DENGAN REKOGNISI PEMBELAJARAN LAMPAU Sularno, Heri; Priadi, Antoni Arif; Nugroho, Eko
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/transla.v21i1.975

Abstract

Ahli Teknika Kapal merupakan  profesional yang memiliki tingkat pengetahuan dan pengalaman tertinggi dalam operasi permesinan kapal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, analisis, dan evaluasi. Melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) membuka peluang bagi para profesional seperti Ahli Teknika Kapal untuk setara dengan jenjang  kualifikasi dosen tertentu yang sesuai standard KKNI berdasarkan rekognisi pembelajaran lampau (RPL), untuk dapat menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya guna menyelesiakan permasalahan kebutuhan dosen pada perguruan tinggi vokasi pelayaran. Penelitian deskriptif ini disajikan untuk menganalisis penyetaraan Ahli Teknika Kapal ke dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui studi pustaka dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahli Teknika Kapal dapat disetarakan dengan kualifikasi Dosen tingkat master yang memiliki jenjang 8 KKNI melalui instrumen penilaian yang disusun dalam penelitian.
FACE VALIDATION METHOD ALTERNATIVES FOR SHIPHANDLING FUZZY LOGIC DIFFICULTY MODEL Tri Tjahjono; Abdellatif Benabdelhafid; Antoni Arif Priadi
Jurnal Transportasi Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.756 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v14i2.1393.%p

Abstract

The development of shiphandling difficulty model for ferry is based on the empirical experience through the Master of Ro-Ro ferries. The SHDMF is consisted from two parts which are the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Fuzzy Inference System. Both parts had been validated through internal validation in the form of consistency test for the first part and robustness test for the second part. Further, the external/face validation is required to compare the proposed model with similar model through benchmarking approach. The benchmarking approaches are elaborated for the reliability, validity, possibility, efficiency and effectiveness. Through fuzzy group decision making method, the questionnaire survey is performed to verify the most appropriate approach based on the shiphandling simulator as the most preferred benchmarking tool by experts. Next, the proposed scenario is overviewed and discussed especially related to the advantages and drawbacks of shiphandling simulator. Keywords: shiphandling difficulty, fuzzy group decision making, internal validation Model pengukuran kesulitan pengendalian feri didasarkan pada pengalaman empiris melalui pernyataan nahkoda kapal feri Ro-Ro. SHDMF terdiri atas dua bagian, yaitu Analytic Hierarchy Process dan Fuzzy Inference System. Kedua bagian ini telah divalidasi melalui validasi internal dalam bentuk uji konsistensi untuk bagian pertama dan uji kehandalan untuk bagian kedua. Selanjutnya validasi atau wajah eksternal diperlukan untuk membandingkan model yang diusulkan dengan model yang diperoleh dari benchmarking. Pendekatan benchmarking dijabarkan untuk kehandalan, validitas, kemungkinan, efisiensi, dan efektivitas. Melalui metode fuzzy kelompok pembuatan keputusan, survei kuesioner dilakukan untuk memverifikasi pendekatan yang paling tepat dengan simulator pengendalian kapal sebagai alat yang paling disukai oleh para ahli untuk benchmarking. Selanjutnya skenario yang ditinjau-ulang dan dibahas terutama terkait dengan keuntungan dan kelemahan simulator pengendalian kapal. Kata-kata kunci: kesulitan pengendalian, fuzzy kelompok pembuatan keputusan, validasi internal
Desain Model Instrumen Penyetaraan Nakhoda Kapal Untuk Jabatan Dosen Melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Antoni Arif Priadi; Tri Cahyadi; Damoyanto Purba
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/transla.v21i2.1279

Abstract

Nakhoda kapal dengan kualifikasi Ahli Nautika Tingkat-II (ANT-II)  merupakan  profesional yang memiliki pengetahuan dan pengalaman pada level tertinggi dalam sistem operasi kapal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, menganalisis, dan evaluasi. Berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) membuka peluang bagi para profesional seperti Nakhoda kapal untuk setara dengan jenjang tertentumenggunakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Hal ini memungkinkan sebagai cara pemenuhan dosen pada pendidikan tinggi vokasi dari profesional atau industri. Penelitian deskripsi ini disajikan untuk menganalisis penyetaraan Nakhoda kapal ke dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui studi pustaka dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nakhoda kapal dapat disetarakan dengan jenjang 8 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui desain instrumen penilaian yang disusun berdasarkan aspek kompetensi pengajaran dan kompetensi profesional.
Desain Model Sertifikasi Profesi Teknika Kapal untuk Dosen dengan Rekognisi Pembelajaran Lampau Antoni Arif Priadi; Eko Nugroho; Heri Sularno
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.693 KB) | DOI: 10.25104/transla.v21i1.975

Abstract

Ahli Teknika Kapal merupakan  profesional yang memiliki tingkat pengetahuan dan pengalaman tertinggi dalam operasi permesinan kapal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, analisis, dan evaluasi. Melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) membuka peluang bagi para profesional seperti Ahli Teknika Kapal untuk setara dengan jenjang  kualifikasi dosen tertentu yang sesuai standard KKNI berdasarkan rekognisi pembelajaran lampau (RPL), untuk dapat menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya guna menyelesiakan permasalahan kebutuhan dosen pada perguruan tinggi vokasi pelayaran. Penelitian deskriptif ini disajikan untuk menganalisis penyetaraan Ahli Teknika Kapal ke dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia melalui studi pustaka dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahli Teknika Kapal dapat disetarakan dengan kualifikasi Dosen tingkat master yang memiliki jenjang 8 KKNI melalui instrumen penilaian yang disusun dalam penelitian.
Implementation of MLC 2006 for Indonesian Seafarers: A Gap Analysis in Aspects of Health Care and Social Security of Seafarers on Board Budi Purnomo; Imam Fachruddin; Antoni Arif Priadi; Damoyanto Purba; April Gunawan
IPTEK Journal of Proceedings Series No 4 (2020): 2nd Maritime Safety International Conference (MASTIC) 2020
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2020i4.7932

Abstract

Maritime workers are workers who are regulated internationally through the Maritime Labour Convention (MLC) 2006 which has been ratified by the Indonesian government through Law No. 15 of 2016. In the convention regulated aspects include health care on ships and land, social security, welfare facilities on land, access to seafarers' complaints, protection of health and safety, and accident prevention. This study aims to evaluate the application of the convention so far through the gap analysis method and index performance analysis (IPA). Gap analysis is used to get the difference between the performances and expectations of the respondents. To see the variables that need to be improved, maintained, not a priority for improvement or variables that are above expectation then used the IPA model. This research examines how seafarers' performances and expectations are related to the implementation of MLC in Indonesia, especially in the aspects of health care, social security, and welfare on board. The results show that almost all research variables suggest a gap although relatively small in value. First, it can be summarized that there are several variables that need to be improved such as Protection and health care, Hospitals on board, and complaints. These variable variables need to get attention for future improvements. There are several variables that need to be maintained such as visit a doctor, health, sick, disability, opportunity to use telephone and internet access, procedures for handling complaints, occupational health and safety (OHS), risk assessment, and safety meetings. Last, variables that are considered excessive in implementation should also get the attention that is medical