Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Early Detection of Hypertension in Village Communities Through Routine Examinations and Health Counseling Huan Frian Pusung; Dion Kunto Adi Patria
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v4i2.584

Abstract

Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and is often undetected because it frequently presents without symptoms. Community-based screening and health education through integrated health service posts play an important role in the early detection and prevention of hypertension-related complications. This study aimed to assess blood pressure status and evaluate early hypertension detection practices among community members. A cross-sectional study was conducted involving 58 participants selected using a total sampling technique. Blood pressure was measured with a sphygmomanometer, and early detection practices were assessed using a structured questionnaire. Data were analyzed using univariate analysis to describe the distribution of blood pressure categories and levels of early detection practices. The results showed that 37.9% of respondents were classified as having Stage I hypertension, 27.6% had Stage II hypertension, and 34.5% had normal blood pressure. Regarding early detection practices, 77.6% of respondents demonstrated good practices. Despite generally good early detection practices, a considerable proportion of community members had hypertension. Strengthening routine blood pressure screening and providing continuous health education at the Integrated Health Service posts level are essential to improve hypertension control and prevent complications.
Hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar Zakaria, Amin; Rismawati, Novi; Patria, Dion Kunto Adi; Jamil, Mokhtar; Nurmayuniya, Heny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2288

Abstract

Background: Sleep disorders in elementary school-aged children are a problem that can affect growth and development, cognitive function, and academic achievement. Sleep hygiene, as the practice of good sleep habits, is an important factor in preventing sleep disorders. Despite the high prevalence of sleep disorders in children, research on the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in the Kepanjen area, Malang Regency, is still limited. Purpose: To analyze the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in elementary school-aged children. Method: This quantitative analytical study with a cross-sectional approach involved 4th, 5th, and 6th grade students at Kemiri 2 Public Elementary School, located in Kemiri Village, Kepanjen District, Malang Regency, East Java. The sample was selected using a total sampling technique, resulting in a sample of 68 respondents. Data collection used the Sleep Hygiene Index and Sleep Disturbance Scale for Children questionnaires, which have been tested for validity and reliability. Data analysis used the chi-square test with a p-value > 0.05. Results: The majority of respondents (72.1%) had good sleep hygiene. However, 55.9% of respondents required sleep monitoring, and 20.6% experienced sleep disturbances. Statistical testing showed a p-value of 0.028, indicating a significant relationship between sleep hygiene and sleep disturbances in elementary school children. Conclusion: Sleep hygiene is significantly associated with sleep disturbances in elementary school children. Good sleep hygiene practices can be a preventative measure to reduce the risk of sleep disturbances in school-aged children.   Keywords: Elementary School Children; Sleep Disturbances; Sleep Hygiene.   Pendahuluan: Gangguan tidur pada anak usia sekolah dasar merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang, fungsi kognitif, dan prestasi akademik. Sleep hygiene sebagai praktik kebiasaan tidur yang baik, menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah gangguan tidur. Meskipun prevalensi gangguan tidur pada anak cukup tinggi, penelitian mengenai hubungan sleep hygiene dengan gangguan tidur di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional melibatkan siswa kelas 4, 5, dan 6 di SDN 2 Kemiri yang berlokasi di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling, sehinggal didapatkan sampel sebanyak 68 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Sleep Hygiene Index dan Sleep Disturbance Scale for Children yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p-value > 0.05. Hasil: Mayoritas responden memiliki sleep hygiene yang baik sebanyak 72.1%. Namun, 55.9% responden memerlukan pemantauan gangguan tidur dan 20.6% mengalami gangguan tidur. Uji statistik menunjukkan nilai p value 0.028 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Simpulan: Sleep hygiene memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Praktik sleep hygiene yang baik dapat menjadi upaya preventif dalam menurunkan risiko gangguan tidur pada anak usia sekolah.   Kata Kunci: Anak Sekolah Dasar; Gangguan Tidur; Sleep Hygiene.
THE EFFECT OF NASAL CANNULA USE ON BLOATING INCIDENTS AT KARSA HUSADA HOSPITAL, BATU CITY Dion Kunto Adi Patria; Riki Ristanto; Yuni Asri
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oxygen administration via nasal cannula at a dose of 3-4 liters/minute is standard therapy for hypoxemic patients, but it has the potential to cause bloating due to air insufflation into the gastrointestinal tract. This study analyzed the relationship between nasal cannula use at a dose of 3-4 liters/minute for >8 hours and the incidence of bloating. The study used an observational analytical study with a cross-sectional design in 30 patients who received oxygen therapy via nasal cannula at a dose of 3-4 liters/minute for >8 hours at Karsa Husada Batu Hospital. Data were analyzed using a Chi-Square Test comparing the proportion of bloating before and after the intervention. Before the intervention, no patients reported bloating. After administration of 3-4 liters/minute for >8 hours, 26 respondents (86.7%) experienced bloating. The Chi-Square test showed a significant difference (χ²=24.04; df=1; p<0.05). Conclusion: Use of a nasal cannula at a dose of 3-4 liters/minute for >8 hours significantly increases the risk of bloating.
Hubungan Perilaku Konsumsi Alkohol Dengan Obesitas Sentral Pada Pria Dewasa Muda Di Wilayah Perkotaan Giggsy Almero Daffa Arkana; Musthika Wida Mashitah; Dion Kunto Adi Patria
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.576

Abstract

Obesitas sentral merupakan faktor risiko utama penyakit kardiometabolik dan semakin sering ditemukan pada usia produktif. Salah satu faktor perilaku yang diduga berkontribusi adalah konsumsi alkohol. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara perilaku konsumsi alkohol dan akumulasi lemak abdomen pada pria dewasa muda di komunitas perkotaan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dan melibatkan 123 responden pria. Data karakteristik responden, pola konsumsi alkohol, serta lingkar perut dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pengukuran langsung. Obesitas sentral ditentukan berdasarkan lingkar perut >90 cm. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil menunjukkan bahwa 74,0% responden mengonsumsi alkohol dalam berbagai tingkat frekuensi, dengan 43,9% occasional drinker, 28,5% reguler drinker, dan 1,6% heavy drinker. Sebanyak 25,2% responden mengalami obesitas sentral. Proporsi obesitas sentral meningkat seiring dengan intensitas konsumsi alkohol, yaitu 0% pada non-drinker, 20,4% pada occasional drinker, 51,4% pada reguler drinker, dan 100% pada heavy drinker. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi alkohol dan obesitas sentral (p < 0,001). Konsumsi alkohol berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko obesitas sentral pada pria dewasa muda, menunjukkan pola hubungan menyerupai dosis–respon. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian konsumsi alkohol dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Early Detection of Hypertension in Village Communities Through Routine Examinations and Health Counseling Huan Frian Pusung; Dion Kunto Adi Patria
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v4i2.584

Abstract

Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and is often undetected because it frequently presents without symptoms. Community-based screening and health education through integrated health service posts play an important role in the early detection and prevention of hypertension-related complications. This study aimed to assess blood pressure status and evaluate early hypertension detection practices among community members. A cross-sectional study was conducted involving 58 participants selected using a total sampling technique. Blood pressure was measured with a sphygmomanometer, and early detection practices were assessed using a structured questionnaire. Data were analyzed using univariate analysis to describe the distribution of blood pressure categories and levels of early detection practices. The results showed that 37.9% of respondents were classified as having Stage I hypertension, 27.6% had Stage II hypertension, and 34.5% had normal blood pressure. Regarding early detection practices, 77.6% of respondents demonstrated good practices. Despite generally good early detection practices, a considerable proportion of community members had hypertension. Strengthening routine blood pressure screening and providing continuous health education at the Integrated Health Service posts level are essential to improve hypertension control and prevent complications.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Diet Pasien Hipertensi Pada Lansia di Puskesmas Dulupi: Penelitian Desi Arisandi; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6212

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global karena prevalensinya terus meningkat. Kondisi ini ditandai oleh tekanan darah yang tinggi secara menetap dan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pasien hipertensi pada lansia di puskesmas dulupi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan metode cross-sectional untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pasien hipertensi di Puskesmas Dulupi. Sampel sebanyak 47 responden dari 99 populasi dipilih dengan purposive sampling menggunakan rumus Slovin (margin of error 10%). Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,000 (p ≤ 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien hipertensi. Ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pasien hipertensi pada lansia di puskesmas dulupi.
Hubungan Faktor Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Mananggu: Penelitian Sri Wahyuni Guamo; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6278

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan. Lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik dapat menjadi tempat yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penular DBD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sanitasi lingkungan dan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Mananggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 60 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik (75,0%), dengan proporsi kejadian DBD sebesar 41,7%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,049 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dan kejadian DBD. Selain itu, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,826 menunjukkan bahwa responden dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik memiliki risiko sekitar 3,8 kali lebih tinggi mengalami DBD dibandingkan dengan responden yang memiliki sanitasi lingkungan yang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dan kejadian DBD. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas sanitasi lingkungan melalui pemberantasan sarang nyamuk serta edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan sebagai langkah pencegahan DBD.
Pengaruh Edukasi Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Narkoba Ega Salsabilla; Dion kunto Adi Patria
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1161

Abstract

Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan masa depan remaja. Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya narkoba menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba pada kalangan pelajar. Edukasi kesehatan merupakan salah satu upaya promotif dan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang bahaya narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang bahaya narkoba pada siswa kelas XII SMA 1 Kandangan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode pre-eksperimental menggunakan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA 1 Kandangan sebanyak 315 orang. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% sehingga diperoleh sampel sebanyak 76 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi kesehatan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 36 responden (47,4%), sedangkan setelah diberikan edukasi kesehatan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 52 responden (68,4%). Hasil uji statistik menggunakan Paired Sample t-Test diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 (p<0,05), yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang bahaya narkoba pada siswa kelas XII SMA 1 Kandangan. Kesimpulan penelitian ini adalah edukasi kesehatan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan tingkat pengetahuan tentang bahaya narkoba. Edukasi kesehatan dapat digunakan sebagai salah satu strategi promotif dan preventif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Survey Of Socio-Demographic, Behavioral, and Clinical Factors Associated with Stroke in The Elderly in Indonesia Nadia Rahmi Amelia Pratiwi; Yuni Asri; Rif&#039;atul Fani; Dion Kunto Adi Patria
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 14, No 1 (2026): EDITION MARCH 2026
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v14i1.8054

Abstract

Stroke is the leading cause of death and disability throughout the world, with a higher burden in low- and middle-income countries, including Indonesia. As the elderly population grows, identifying factors linked to stroke is essential for prevention and policy-making. This study aims to examine the association between sociodemographic, behavioral, and clinical factors and stroke among Indonesians aged ? 60 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). This study employed a cross-sectional design using secondary data from a nationally representative survey. A total of 97,339 older adults were included in the analysis. Stroke status was based on self-reported physician-diagnosed status. Independent variables included age, sex, education, marital status, employment, residence, hypertension, heart disease, smoking, and alcohol consumption. Data were analyzed using complex survey analysis with sampling weights, utilizing descriptive statistics and Chi-square tests to examine associations between variables. Analyses were conducted using IBM SPSS Statistics version 27.0.1, adjusting stratification and clustering in the survey design. The prevalence of stroke was 3.2%. Significant associations were found between stroke and age, gender, education, occupation, place of residence, hypertension, heart disease, smoking habits, and alcohol use (all p0.05). Stroke was more common among individuals with hypertension, heart disease, lower educational attainment, those who were unemployed, and those living in urban areas. Stroke in older Indonesians is strongly influenced by modifiable factors, particularly hypertension and lifestyle behaviors. Targeted prevention, early detection, and lifestyle interventions are critical to mitigating the stroke burden in Indonesia’s aging population.
Hubungan Victimization Bullying dengan Self-Esteem Siswa Kelas VIII Sofiyatul Ummah; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i1.1395

Abstract

Victimization bullying merupakan kondisi dimana seseorang mengalami tindakan agresif dari teman sebaya yang bersifat merugikan dan membahayakan. Pengalaman tersebut berdampak negatif pada kesejahteraan mental, salah satunya adalah menurunnya self-esteem atau harga diri. Self-esteem berperan yang krusial dalam perkembangan remaja, apabila self-esteem seseorang rendah akan memicu munculnya masalah psikososial dalam kehidupan remaja. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan victimization bullying dengan tingkat self-esteem siswa kelas VIII UPT SMP Negeri 1 Selorejo. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menerapkan purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 171 siswa. Instrumen menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang  telah diadaptasi dalam bahasa indonesia, dengan reliabilitas OBVQ α =0,801 dan reliabilitas RSES α = 0,696. Analisis data menggunakan uji Spearman’s Rank. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas (56,7%) memiliki pengalaman bullying dalam kategori rendah, sementara tingkat self-esteem sebagian besar (80,7%) dalam kategori sedang. Uji statistik memperlihatkan p-value = 0,000 (p <0,05) yang memiliki makna kedua variabel memiliki hubungan signifikan. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa siswa yang mengalami victimization bullying cenderung memiliki self-esteem yang rendah.