Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Antara Regulasi Emosi dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RST II dr. Soepraoen Septa Jaya Amanda; Indari Indari; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52050

Abstract

AbstrakKanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan prevalensi tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Proses kemoterapi sering menimbulkan efek samping fisik dan psikologis yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Regulasi emosi memiliki peran penting dalam membantu pasien mengatasi stres selama menjalani pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara regulasi emosi dan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RST II dr. Soepraoen Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional dan melibatkan 80 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner ERQ dan EORTC QLQ-C30, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki regulasi emosi dan kualitas hidup dalam kategori baik. Terdapat hubungan positif signifikan antara regulasi emosi dan kualitas hidup dengan nilai r = 0,289 dan p = 0,009 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi dapat membantu individu beradaptasi terhadap stres akibat pengobatan. Oleh karena itu, intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan strategi regulasi emosi disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara.Kata Kunci: Kanker Payudara, Regulasi Emosi, Kualitas Hidup. AbstractBreast cancer is one of the most prevalent cancers worldwide, including in Indonesia. Chemotherapy often causes physical and psychological side effects that can significantly reduce patients’ quality of life. Emotional regulation plays a crucial role in helping patients cope with stress during treatment. This study aimed to analyze the relationship between emotional regulation and quality of life among breast cancer patients undergoing chemotherapy at RST II dr. Soepraoen Malang. The study employed a quantitative correlational approach with a cross-sectional design involving 80 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) and the EORTC QLQ-C30, then analyzed using the Spearman Rho correlation test. The results showed that most respondents had good emotional regulation and quality of life levels. A significant positive correlation was found between emotional regulation and quality of life (r = 0.289; p = 0.009, p < 0.05). These findings indicate that the ability to regulate emotions helps individuals adapt to treatment-related stress. Therefore, psychological interventions focusing on strengthening emotional regulation strategies are recommended to enhance the quality of life of breast cancer patientsKeywords: Breast cancer, Emotional regulation, Quality of life.
Early Detection of Hypertension in Village Communities Through Routine Examinations and Health Counseling Huan Frian Pusung; Dion Kunto Adi Patria
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v4i2.584

Abstract

Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and is often undetected because it frequently presents without symptoms. Community-based screening and health education through integrated health service posts play an important role in the early detection and prevention of hypertension-related complications. This study aimed to assess blood pressure status and evaluate early hypertension detection practices among community members. A cross-sectional study was conducted involving 58 participants selected using a total sampling technique. Blood pressure was measured with a sphygmomanometer, and early detection practices were assessed using a structured questionnaire. Data were analyzed using univariate analysis to describe the distribution of blood pressure categories and levels of early detection practices. The results showed that 37.9% of respondents were classified as having Stage I hypertension, 27.6% had Stage II hypertension, and 34.5% had normal blood pressure. Regarding early detection practices, 77.6% of respondents demonstrated good practices. Despite generally good early detection practices, a considerable proportion of community members had hypertension. Strengthening routine blood pressure screening and providing continuous health education at the Integrated Health Service posts level are essential to improve hypertension control and prevent complications.
Hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar Zakaria, Amin; Rismawati, Novi; Patria, Dion Kunto Adi; Jamil, Mokhtar; Nurmayuniya, Heny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2288

Abstract

Background: Sleep disorders in elementary school-aged children are a problem that can affect growth and development, cognitive function, and academic achievement. Sleep hygiene, as the practice of good sleep habits, is an important factor in preventing sleep disorders. Despite the high prevalence of sleep disorders in children, research on the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in the Kepanjen area, Malang Regency, is still limited. Purpose: To analyze the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in elementary school-aged children. Method: This quantitative analytical study with a cross-sectional approach involved 4th, 5th, and 6th grade students at Kemiri 2 Public Elementary School, located in Kemiri Village, Kepanjen District, Malang Regency, East Java. The sample was selected using a total sampling technique, resulting in a sample of 68 respondents. Data collection used the Sleep Hygiene Index and Sleep Disturbance Scale for Children questionnaires, which have been tested for validity and reliability. Data analysis used the chi-square test with a p-value > 0.05. Results: The majority of respondents (72.1%) had good sleep hygiene. However, 55.9% of respondents required sleep monitoring, and 20.6% experienced sleep disturbances. Statistical testing showed a p-value of 0.028, indicating a significant relationship between sleep hygiene and sleep disturbances in elementary school children. Conclusion: Sleep hygiene is significantly associated with sleep disturbances in elementary school children. Good sleep hygiene practices can be a preventative measure to reduce the risk of sleep disturbances in school-aged children.   Keywords: Elementary School Children; Sleep Disturbances; Sleep Hygiene.   Pendahuluan: Gangguan tidur pada anak usia sekolah dasar merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang, fungsi kognitif, dan prestasi akademik. Sleep hygiene sebagai praktik kebiasaan tidur yang baik, menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah gangguan tidur. Meskipun prevalensi gangguan tidur pada anak cukup tinggi, penelitian mengenai hubungan sleep hygiene dengan gangguan tidur di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional melibatkan siswa kelas 4, 5, dan 6 di SDN 2 Kemiri yang berlokasi di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling, sehinggal didapatkan sampel sebanyak 68 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Sleep Hygiene Index dan Sleep Disturbance Scale for Children yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p-value > 0.05. Hasil: Mayoritas responden memiliki sleep hygiene yang baik sebanyak 72.1%. Namun, 55.9% responden memerlukan pemantauan gangguan tidur dan 20.6% mengalami gangguan tidur. Uji statistik menunjukkan nilai p value 0.028 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Simpulan: Sleep hygiene memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Praktik sleep hygiene yang baik dapat menjadi upaya preventif dalam menurunkan risiko gangguan tidur pada anak usia sekolah.   Kata Kunci: Anak Sekolah Dasar; Gangguan Tidur; Sleep Hygiene.
Survey Of Socio-Demographic, Behavioral, and Clinical Factors Associated with Stroke in The Elderly in Indonesia Pratiwi, Nadia Rahmi Amelia; Asri, Yuni; Fani, Rif'atul; Patria, Dion Kunto Adi
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 14, No 1 (2026): EDITION MARCH 2026
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v14i1.8054

Abstract

Stroke is the leading cause of death and disability throughout the world, with a higher burden in low- and middle-income countries, including Indonesia. As the elderly population grows, identifying factors linked to stroke is essential for prevention and policy-making. This study aims to examine the association between sociodemographic, behavioral, and clinical factors and stroke among Indonesians aged ? 60 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). This study employed a cross-sectional design using secondary data from a nationally representative survey. A total of 97,339 older adults were included in the analysis. Stroke status was based on self-reported physician-diagnosed status. Independent variables included age, sex, education, marital status, employment, residence, hypertension, heart disease, smoking, and alcohol consumption. Data were analyzed using complex survey analysis with sampling weights, utilizing descriptive statistics and Chi-square tests to examine associations between variables. Analyses were conducted using IBM SPSS Statistics version 27.0.1, adjusting stratification and clustering in the survey design. The prevalence of stroke was 3.2%. Significant associations were found between stroke and age, gender, education, occupation, place of residence, hypertension, heart disease, smoking habits, and alcohol use (all p0.05). Stroke was more common among individuals with hypertension, heart disease, lower educational attainment, those who were unemployed, and those living in urban areas. Stroke in older Indonesians is strongly influenced by modifiable factors, particularly hypertension and lifestyle behaviors. Targeted prevention, early detection, and lifestyle interventions are critical to mitigating the stroke burden in Indonesia’s aging population.
Hubungan Faktor Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Mananggu: Penelitian Sri Wahyuni Guamo; Dion Kunto Adi Patria
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6278

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan. Lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik dapat menjadi tempat yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penular DBD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sanitasi lingkungan dan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Mananggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 60 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik (75,0%), dengan proporsi kejadian DBD sebesar 41,7%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,049 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dan kejadian DBD. Selain itu, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,826 menunjukkan bahwa responden dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik memiliki risiko sekitar 3,8 kali lebih tinggi mengalami DBD dibandingkan dengan responden yang memiliki sanitasi lingkungan yang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dan kejadian DBD. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas sanitasi lingkungan melalui pemberantasan sarang nyamuk serta edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan sebagai langkah pencegahan DBD.