Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Gejala Sick Building Syndrome (SBS) pada Pekerja di Lantai 12 PT Y Tahun 2025 Muhammad Fadhlillah Ramadhan; Eka Cempaka Putri; Izzatu Millah; Mirta Dwi Rahmah Rusdy
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8110

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan keluhan kesehatan yang muncul pada individu saat berada di dalam bangunan atau ruangan, seperti mengantuk atau kelelahan, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, iritasi mata dan kulit, iritasi hidung atau tenggorokan, hingga keluhan pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala SBS pada pekerja staf di PT Y tahun 2025 serta menggambarkan kondisi kualitas udara dalam ruang (Indoor Air Quality) di ruang kerja lantai 12. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional pada tahun 2025. Sampel diambil dengan total sampling sebanyak 68 responden. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, dan masa kerja, sedangkan variabel dependen adalah gejala SBS. Gejala SBS diukur menggunakan kuesioner, sementara data IAQ diperoleh dari hasil pengukuran internal perusahaan berupa kadar karbon dioksida (CO₂) dan total volatile organic compounds (TVOC) pada beberapa titik di ruang kerja lantai 12. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square (continuity correction) serta perhitungan Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi SBS sebesar 75,0% (51 orang). Hasil pengukuran IAQ menunjukkan seluruh titik pengukuran CO₂ tidak memenuhi baku mutu (100%) karena melebihi 1.000 ppm, sedangkan seluruh titik pengukuran TVOC memenuhi baku mutu (100%) karena ≤3 ppm. Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,880), jenis kelamin (p=0,663), maupun masa kerja (p=0,254) dengan gejala SBS (p>0,05). Analisis hubungan CO₂ dan TVOC dengan SBS tidak dapat dilakukan karena seluruh hasil pengukuran berada pada satu kategori sehingga tidak terdapat variasi data.
Gambaran Stres Kerja pada Pekerja di PT X pada Tahun 2026 Salsabila Maharani; Eka Cempaka Putri; Fierdania Yusvita; Izzatu Millah
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9178

Abstract

Stres kerja merupakan salah satu masalah psikososial utama dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perkantoran yang dapat menurunkan produktivitas dan memicu gangguan kesehatan. Karyawan PT X dihadapkan pada tuntutan akurasi tinggi dan tenggat waktu ketat dalam industri inspeksi, yang berpotensi memicu stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stres kerja pada pekerja di PT X Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan analisis deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 54 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk mengukur stres kerja dengan menggunakan Perceived Stress Scale-10. Metode deskriptif dan teknik total sampling dipilih agar dapat menyajikan gambaran tingkat stres kerja seluruh populasi karyawan secara objektif dan menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 45 pekerja (83,3%). Kemudian pekerja dengan kategori stres ringan berjumlah 7 orang (13,0%) dan pekerja dengan kategori stres tinggi berjumlah 2 orang (3,7%). Berdasarkan analisis distribusi jawaban per item pernyataan, bentuk respons stres yang paling menonjol dirasakan pekerja adalah perasaan gelisah dan tertekan (item nomor 3) dengan nilai mean tertinggi sebesar 2,35, sedangkan aspek yang paling minimal dikeluhkan adalah keyakinan diri dalam mengatasi masalah pribadi (item nomor 4) dengan nilai mean terkecil sebesar 1,57. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja di PT X mengalami tingkat stres kerja pada kategori sedang yang didominasi oleh respons psikologis berupa perasaan gelisah dan tertekan. Rekomendasi bagi manajemen PT X yaitu penyediaan program pelatihan manajemen stres kerja, penyederhanaan alur pelaporan administrasi internal, penguatan dukungan sosial, serta implementasi pemantauan tingkat stres kerja secara berkala, serta bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor-faktor spesifik yang memengaruhi stres tersebut.