Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

TERAPI TRANSPERSONAL TEKAN KECEMASAN ORANG DENGAN TERINFEKSI HIV/AIDS (ODHA) DI KABUPATEN KARO SINULINGGA, ELYSABETH BR; S, Yulia; Juhdeliena, Juhdeliena; Manihuruk, Gracia Aktri Margareth; Harefa, Lenny Angelina
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2273

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berbentuk kegiatan edukasi tentang terapi transpersonal tekan kecemasan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang terjangkau sesuai target kelompok yakni mengurangi rasa cemas yang mereka miliki karena stigma dan status sebagai ODHA. ODHA sering mengalami stigma dan diskriminasi di masyarakat sehingga ODHA sering merahasiakan status HIV dan mengalami penolakan baik itu oleh keluarga maupun masyarakat sekitar. Orang yang terinfeksi dengan HIV/AIDS (ODHA) berisiko mengalami cemas atau stress akibat perubahan kesehatan terkait penurunan daya tahan tubuh dan komplikasi terkait dengan hal tersebut selain dari pengelolaan efek samping akibat pengobatan (ARV). Pelatihan terapi transpersonal yang diberikan berdasarkan peka budaya Karo dan spiritual Nasrani diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan kesehatan ODHA, khususnya kecemasan ODHA dengan model SABETH. Tujuan utama dari PKM ini adalah peningkatan pengetahuan, religiusitas, mengurangi stress dan stigma pada ODHA sehingga untuk evaluasi akan dilakukan sebelum dan sesudah materi diberikan dalam bentuk pre-post quiz. Hasil pretest didapatkan rerata 60,4 dan posttest rerata 75.6 sedangkan peningkatan nilai setelah edukasi adalah sekitar 15,2 poin. Berdasarkan hasil yang didapat, disimpulkan bahwa seminar ini meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ODHA tentang terapi transpersonal tekanan kecemasan orang dengan HIV/AIDS di Kabupaten Karo.
PENINGKATAN PENGETAHUAN CAREGIVER FORMAL PEMULA DALAM MERAWAT ORANG SAKIT MELALUI EDUKASI KESEHATAN Yulia Sihombing; Theresia Theresia; Elysabeth Sinulingga; Adventina Delima Hutapea; Mega Sampepadang; Gracia Aktri Margareth Manihuruk
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26770

Abstract

Abstrak: Kebutuhan akan caregiver meningkat terkait lebih banyak prevalensi penyakit tidak menular dan degeneratif serta populasi orang tua. Caregiver adalah orang yang membantu orang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan terlibat dalam perawatan dan pengobatan orang yang sakit dan menderita disabilitas akibat penyakitnya. Caregiver formal merupakan caregiver yang membantu pasien selain caregiver informal/familial caregiver. Kebutuhan akan jasa pendamping orang sakit (caregiver) formal semakin meningkat disebabkan oleh keluarga yang belum siap/mampu berperan sebagai familial caregiver. Tujuan PkM: Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan caregiver formal pemula yang berasal dari yayasan dalam merawat orang sakit. Metode: Metode pelaksanaan PkM adalah dengan memberikan edukasi tentang cara merawat orang sakit melalui seminar daring dan edukasi diberikan oleh anggota tim PkM. Kegiatan ini diikuti oleh caregiver formal yang berasal dari tiga mitra berlokasi di Jakarta, Tangerang dan Bali berjumlah 59 orang. Kegiatan dievaluasi dengan pre-posttest masing-masing sebanyak 10 pertanyaan. Hasil: Kegiatan PKM dilakukan dengan baik dan tepat waktu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan caregiver formal pemula tentang merawat orang sakit meningkat, naik dari nilai rata-rata pretest 38.17 menjadi nilai rata-rata posttest 49.75. Kegiatan dirasakan berdampak bagi caregiver dengan respon antusias dalam pengajuan pertanyaan dalam sesi diskusi. Pelatihan ini dapat dilakukan berkelanjutan dengan pemberian pelatihan yang melatih keterampilan dan psikomotorik sesuai panduan kementrian kesehatan.Abstract: The The need for caregivers is increasing due to the greater prevalence of non-communicable and degenerative diseases and the aging population. Caregivers are people who help people fulfill their daily needs and are involved in the care and treatment of people who are sick and suffer from disabilities due to their illness. Formal caregivers are caregivers who assist patients in addition to informal/familial caregivers. The need for formal caregiver services is increasing due to families who are not able to act as familial caregivers. PkM Objectives: The purpose of this activity is to increase the knowledge of novice formal caregivers from foundations in caring for the sick. Methods: The method of implementing PkM is by providing education on how to care for the sick through online seminars and education provided by PkM team members. This activity was attended by formal caregivers from three partners located in Jakarta, Tangerang and Bali totaling 59 people. The activity was evaluated with a pre-posttest. Results: PKM activities are carried out well and on time. The results of the activity showed that the level of knowledge of novice formal caregivers about caring for the sick increased, rising from the pretest mean score of 38.17 to the posttest mean score of 49.75. The activity was felt to have an impact on caregivers with an enthusiastic response in asking questions in the discussion session. This training can be carried out continuously by providing training that trains skills and psychomotor skills according to the Ministry of Health guidelines.
FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN WAKTU TINGGAL PASIEN DI DEPARTEMEN GAWAT DARURAT : STUDI LITERATURE REVIEW Yogantara, Nyoman Tri; Sinulingga, Elysabeth Br
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46082

Abstract

Keterlambatan waktu tinggal pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan indikator penting dalam menilai kualitas dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Waktu tinggal yang terlalu lama dapat menurunkan kepuasan pasien, meningkatkan risiko klinis, dan menambah beban kerja tenaga kesehatan. Kajian ini mengulas 11 artikel nasional dan internasional dari tahun 2020 hingga 2024 untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan waktu tinggal pasien di IGD berdasarkan klasifikasi input, throughput, dan output. Faktor input meliputi karakteristik pasien seperti usia, jenis kelamin, tingkat kegawatan, serta akses transportasi yang mempengaruhi lama pasien di IGD. Faktor throughput mencakup proses internal rumah sakit seperti triase, pemeriksaan penunjang, dan konsultasi medis yang dapat mempercepat atau memperlambat penanganan pasien. Sementara itu, faktor output didominasi oleh ketersediaan tempat tidur dan sistem pemindahan pasien ke ruang perawatan lanjut. Beberapa studi juga menyoroti pentingnya pelatihan sumber daya manusia dan peran pengetahuan keluarga pasien dalam mempercepat proses pelayanan. Keseluruhan temuan menunjukkan bahwa keterlambatan waktu tinggal di IGD bersifat multidimensi dan memerlukan pendekatan sistemik untuk menguranginya. Oleh karena itu, intervensi berbasis teknologi informasi, optimalisasi alur layanan, serta edukasi masyarakat perlu diintegrasikan dalam strategi manajemen IGD yang berkelanjutan guna meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan rumah sakit.
The Relationship between Family Support and Self-Care Behavior among Individuals with Hypertension in Tangerang Simanullang, Elistina; Simatupang, Jessica Margaretha; Siregar, Septiana Sry Rezeki; Sinulingga, Elysabeth; Sihaloho, Shinta Marina J.P.
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 13 No. 1 (2025): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v13i1.9221

Abstract

Background: Uncontrolled hypertension can lead to severe complication and is a significant contributor to mortality. The family serves as a key functional component in supporting individuals with hypertension, playing a critical role in improving self-care behaviors. Purpose: This study sets out to examine the relationship between family support and self-care behaviors among individuals with hypertension in a community health center in Tangerang Method: A cross-sectional design was employed involving 88 respondents selected through accidental sampling. Data were analyzed using the Pearson chi-square test. Result: The finding revealed that 52 respondents (59.1%) had moderate self-care behavior, and 74 respondents (84.1%) had good family support. The Pearson chi-square test revealed no significant association between family support and self-care behavior (p > 0.05). Conclusion: There was no significant association between family support and self-care behavior among individuals with hypertension. These results suggest that healthcare providers should continue to educate and involve families while also empowering individuals to take an active role in managing their condition. Future intervention study encourages additional strategies alongside family support that effectively promote self-care behaviors.
Edukasi Cara Merawat Orang dengan HIV/AIDS pada Caregiver di Kabupaten Tanah Karo: Educating Tanah Karo District Caregivers on How to Take Care for Individuals with HIV/AIDS Sihombing, Yulia; Theresia, Theresia; Sinulingga, Elysabeth; Sampepadang, Mega; Debby, Chryest
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 11 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i11.9660

Abstract

People living with HIV/AIDS (PLWHA) often experience stigma and discrimination in the community, so they usually keep their HIV/AIDS status a secret and experience rejection by both family and the community. An informal caregiver is a companion, consisting of friends, neighbors, or volunteers, who take care of PLWA who are excluded by their family and need help/assistance to carry out activities related to daily needs and medication. The Commission for HIV/AIDS and Drug Control (KPA) GBKP Moderamen Tanah Karo shelters and assists volunteers who act as caregivers of PLWHA. The purpose of this PKM is to provide health education related to PLWHA assistance, aiming to increase caregiver capacity and enrich the knowledge of KPA GBKP staff. The method of conducting PKM is by educating caregivers on how to care for people living with HIV/AIDS through online seminars delivered by PKM team members. The results of this PKM showed an increase in knowledge, as indicated by a rise in the pretest mean from 66.8 to 80.5 in the posttest. Health education increases caregiver knowledge, as evidenced by the posttest average, which shows a significant increase in knowledge.
OUTCOME PASIEN POST OPERASI JANTUNG YANG MENDAPATKAN EDUKASI PRA OPERASI DI INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT [OUTCOME OF POST-HEART SURGERY PATIENTS RECEIVING PRE-OPERATIVE EDUCATION IN THE INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT] Elizabeth Friska Hasibuan; Vincentia Puspasari Adi; Sri Budi Susanti; Marisa Junianti Manik; Elysabeth Sinulingga
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8339

Abstract

Cardiac surgery is an intervention to correct and improve the anatomy and function of the heart. The preparations made by the nurse include conducting an orientation involving introduction to the operating room and post-surgery, education to deal with anxiety and postoperative pain, deep breathing exercises and effective coughing, spirometry incentive exercises, and early mobilization so that the patient understands what will be experienced before and after the procedure in the intensive care unit. This study aimed to determine the outcome of post-cardiac surgery patients who received care education in a pre-operative orientation at the ICCU, a private hospital in western Indonesia. This research used a quantitative descriptive design and univariate statistical analysis with a sample size of 15 participants using an accidental sampling technique. The instruments used were pain measurement observation sheets with a numerical scale, spirometry to measure lung volume capacity, and mobilization observation checklists, as well as the Hospital Anxiety Depression Scale questionnaire to measure anxiety. All participants received preoperative education. The results showed that all participants experienced decreased pain levels and could mobilize early, gradually from 24 to 72 hours post-surgery. A total of 10(66.67%) participants had a mild level of anxiety 24 hours after heart surgery, and 11(73.34%) participants experienced a consistent increase in lung volume capacity. Pre-cardiac surgery education provides the expected post-operative outcomes: decreasing pain and anxiety levels, increasing lung volume capacity, and gradual mobilization. BAHASA INDONESIA Bedah jantung adalah suatu tindakan operasi untuk mengoreksi dan memperbaiki anatomi dan fungsi jantung. Persiapan yang dilakukan perawat adalah melakukan orientasi meliputi pengenalan ruangan tindakan dan post operasi, edukasi untuk mengatasi kecemasan dan nyeri post operasi, latihan nafas dalam dan batuk efektif, latihan insentive spirometri serta mobilisasi dini, sehingga pasien memahami apa yang akan dialami sebelum dan sesudah tindakan operasi di ruangan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran outcome pasien post operasi jantung yang menerima edukasi perawatan dalam orientasi pre operasi di ICCU salah satu rumah sakit swasta di Indonesia bagian barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dan analisis statistik univariat dengan jumlah sampel 15 partisipan menggunakan tehnik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi pengukuran nyeri dengan skala numerik, spirometri untuk mengukur kapasitas volume paru, dan ceklis observasi mobilisasi, serta kuesioner Hospital Anxiety Depression Scale untuk mengukur kecemasan. Seluruh partisipan  mendapatkan edukasi pre operasi. Hasil menunjukkan seluruh partisipan mengalami penurunan tingkat nyeri dan mampu mobilisasi dini bertahap dari 24 jam sampai 72 jam post operasi. Sebanyak 10(66,67%) partisipan memiliki kecemasan tingkat ringan pada 24 jam post bedah jantung, dan 11(73,34%) partisipan mengalami kenaikan kapasitas volume paru secara konsisten. Edukasi pre operasi jantung memberikan outcome post operasi yang diharapkan yakni penurunan tingkat nyeri dan kecemasan, kenaikan kapasitas volume paru dan mobilisasi secara bertahap.  
EFEKTIVITAS TERAPI AUTOGENIK DALAM MENGURANGI NYERI PADA PASIEN POST EKSISI FAM DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI BEKASI, JAWA BARAT Elysabeth Sinulingga; Joni Idola Zendrato; Netral Gulo
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i2.8538

Abstract

BAHASA Fibroadenoma mammae atau FAM merupakan benjolan yang terdapat pada payudara dan merupakan tumor jinak. Salah satu penatalaksanaan medis pada FAM ialah dengan eksisi bedah. Salah satu efek samping yang timbul setelah eksisi bedah adalah nyeri. Penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan teknik farmakologi dan non-farmakologi. Salah satu intervensi keperawatan dalam mengurangi nyeri dengan teknik non-farmakologi ialah terapi autogenik. Terapi autogenik merupakan salah satu terapi relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri dan mempunyai manfaat dalam menurunkan nyeri, mengurangi stres dan ketegangan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari terapi autogenik dalam mengurangi nyeri pada pasien post eksisi FAM dengan pendekatan asuhan keperawatan. Penelitian ini dilakukan kepada salah satu pasien post eksisi FAM dengan keluhan nyeri skala 5 saat beraktivitas dan skala 4 saat istrahat dengan indikator Numeric Rating Scale (NRS). Implementasi keperawatan terapi autogenik dilakukan kepada pasien selama 3 hari dengan durasi terapi 10 menit dan dilakukan 3 kali dalam sehari. Evaluasi yang didapatkan pada hari pertama nyeri pasien berkurang dari skala 5/4 menjadi skala nyeri 3/2, evaluasi hari kedua menjadi skala nyeri 2/1, evaluasi hari ketiga menjadi skala nyeri 1/0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi autogenik efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien post eksisi FAM.   Fibroadenoma mammae (FAM) is a benign breast tumor that presents as a lump. One of the medical treatments for FAM is surgical excision. A common side effect following surgical excision is pain. Pain management can be achieved through pharmacological and non-pharmacological methods. One non-pharmacological nursing intervention for pain relief is autogenic therapy. Autogenic therapy is a relaxation technique based on passive concentration and body perception, facilitated by self-suggestion, with proven benefits in reducing pain, stress, and muscle tension. This study aims to evaluate the effectiveness of autogenic therapy in reducing pain in patients following FAM excision, using a nursing care approach. The research was conducted on a post-FAM excision patient who reported pain at a level of 5 during activity and 4 at rest, as measured using the Numeric Rating Scale (NRS). The nursing implementation of autogenic therapy was carried out for 3 days, with each session lasting 10 minutes, performed three times a day. On the first day, the patient's pain decreased from a 5/4 scale to a 3/2 scale, on the second day it decreased to a 2/1 scale, and by the third day, the pain was reduced to a 1/0 scale. The results indicate that autogenic therapy is effective in reducing pain in post-FAM excision patients.  
The Relationship between Family Support and Self-Care Behavior among Individuals with Hypertension in Tangerang Elistina Simanullang; Jessica Margaretha Simatupang; Septiana Sry Rezeki Siregar; Elysabeth Sinulingga; Shinta Marina J.P. Sihaloho
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 13 No. 1 (2025): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v13i1.9221

Abstract

Background: Uncontrolled hypertension can lead to severe complication and is a significant contributor to mortality. The family serves as a key functional component in supporting individuals with hypertension, playing a critical role in improving self-care behaviors. Purpose: This study sets out to examine the relationship between family support and self-care behaviors among individuals with hypertension in a community health center in Tangerang Method: A cross-sectional design was employed involving 88 respondents selected through accidental sampling. Data were analyzed using the Pearson chi-square test. Result: The finding revealed that 52 respondents (59.1%) had moderate self-care behavior, and 74 respondents (84.1%) had good family support. The Pearson chi-square test revealed no significant association between family support and self-care behavior (p > 0.05). Conclusion: There was no significant association between family support and self-care behavior among individuals with hypertension. These results suggest that healthcare providers should continue to educate and involve families while also empowering individuals to take an active role in managing their condition. Future intervention study encourages additional strategies alongside family support that effectively promote self-care behaviors.
Edukasi Caregiver untuk Merawat Orang yang Terinfeksi dengan HIV (ODHA) di Indonesia Elysabeth Sinulingga; Yakobus Siswadi; Lani Natalia Watania; Erivita Sakti; Regina Situmorang; Frida Lina Br Tarigan
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/81av6q14

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berbentuk kegiatan edukasi tentang edukasi caregiver untuk merawat orang yang terinfeksi dengan HIV (ODHA). ODHA sering mengalami stigma dan diskriminasi di masyarakat sehingga ODHA sering merahasiakan status HIV dan mengalami penolakan baik itu oleh keluarga maupun masyarakat sekitar. Komisi HIV/AIDS dan NAPZA (KPA) Moderamen GBKP terbentuk atas kepedulian tentang masalah HIV/AIDS yang ada di Tanah Karo. Bentuk pelayanan KPA Moderamen GBKP antara lain pemberian sosialisasi mengenai HIV/AIDS, pendampingan ODHA dan keluarga, serta menyediakan rumah singgah untuk membantu ODHA dan keluarganya. Caregiver informal seringkali harus memberikan bantuan dan perawatan terhadap ODHA tanpa dibekali oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai sementara ODHA berisiko mengalami perubahan kesehatan terkait penurunan daya tahan tubuh dan komplikasi terkait dengan hal tersebut selain dari pengelolaan efek samping akibat pengobatan (ARV). Pelatihan caregiver diberikan berdasarkan peka budaya Karo dan spiritual Nasrani diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan Kesehatan ODHA, personal hygine ODHA. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terutama individu yang hidup dengan HIV/AIDS dan keluarga/orang yang mendampingi sehingga diharapkan individu dan keluarga/pendamping (caregiver informal) dapat melakukan tindakan yang tepat dan sesuai dalam memelihara kondisi kesehatan dan mencegah komplikasi akibat HIV yakni menurun menjadi AIDS. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah materi diberikan dalam bentuk pre-post quiz. Target luaran PKM adalah diseminasi dalam bentuk artikel ilmiah pada jurnal PKM-CSR atau jurnal akreditasi sinta.
Analisis Hubungan Dukungan Sosial Berbasis Spiritual dan Budaya Dengan Stigma dan Kepatuhan ARV Pada ODHA di Sumatera Utara Regina Situmorang; Elysabeth Sinulingga; Jon Parulian Simarmata
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59087

Abstract

Abstrak (Times New Roman 11, Bold, spasi 1, spacing before 6 pt, after 6 pt) Stigma dan kepatuhan ARV pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA ) merupakan masalah utama yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setidaknya tingkat kepatuhan terhadap ARV sebesar 95% untuk mencegah munculnya strain virus yang resistan. Sumatera Utara termasuk salah satu dari sebelas provinsi prioritas HIV di Indonesia. Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan ODHA, baik itu perilaku pengelolaan diri, efikasi diri, harga diri ODHA, keterlibatan perawatan HIV, bahkan kesehatan mental dan kualitas hidup ODHA. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan dukungan sosial berbasis spiritual dan budaya deangan stigma dan kepatuhan minum ARV pada orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan dukungan sosial berbasis spiritual dan budaya dengan stigma pada ODHA dengan p value 0.001 dan terdapat hubungan dukungan sosial berbasis spiritual dan budaya dengan kepatuhan pada ODHA dengan p value 0.002. Dukungan sosial sangat berperan penting dalam kehidupan ODHA, termasuk dalam kepatuhan ARV dan stigma yang dialami ODHA. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan metode kualitatif atau memasukkan faktor lain untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Kata Kunci: HIV, AIDS, dukungan sosial, stigma. Abstract Stigma and adherence to antiretroviral therapy (ART) among people living with HIV/AIDS (PLWHA) remain major issues and continue to be serious challenges today. The World Health Organization recommends at least a 95% level of ART adherence to prevent the emergence of drug-resistant viral strains. North Sumatra is one of the eleven priority provinces for HIV in Indonesia. Social support is one of the factors influencing the lives of PLWHA, including self-management behavior, self-efficacy, self-esteem, engagement in HIV care, as well as mental health and quality of life. This study aimed to determine the relationship between spirituality- and culture-based social support with stigma and adherence to ART among people living with HIV/AIDS (PLWHA) in North Sumatra. The research employed a quantitative method with a cross-sectional design. The findings showed that there was a significant relationship between spirituality- and culture-based social support and stigma among PLWHA, with a p-value of 0.001, and a significant relationship between spirituality- and culture-based social support and ART adherence among PLWHA, with a p-value of 0.002. Social support plays a very important role in the lives of PLWHA, including ART adherence and the stigma experienced by PLWHA. Future studies are expected to employ qualitative methods or include additional factors to obtain a more comprehensive understanding. Keywords: HIV, AIDS, Social support, Stigma.