Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pertanggungjawaban Perdata Lembaga yang Tidak Berbadan Hukum dalam Pengumpulan Dana Publik untuk Mewujudkan Kepastian Hukum Khikmatussafira, Ilma; Ismail; Setiawan, Puguh Aji Hari
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4776

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan hukum dan pertanggungjawaban perdata lembaga tidak berbadan hukum dalam kegiatan pengumpulan dana di Indonesia. Praktik penghimpunan dana oleh komunitas, kelompok masyarakat, dan organisasi tanpa status badan hukum semakin berkembang, terutama melalui media sosial dan sarana digital. Namun, perkembangan tersebut belum diimbangi dengan kepastian hukum yang memadai sehingga berpotensi menimbulkan penyimpangan, penyalahgunaan dana, serta ketidakjelasan hubungan hukum antara penyelenggara, donatur, dan penerima manfaat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan studi kepustakaan untuk mengkaji batasan lembaga yang diperbolehkan melakukan pengumpulan dana menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang beserta peraturan pelaksananya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi yang ada belum mengatur secara jelas praktik pengumpulan dana oleh lembaga tidak berbadan hukum, sehingga menimbulkan kekosongan norma dan ketidakpastian mengenai legalitas kegiatannya. Dalam aspek pertanggungjawaban perdata, penyelenggara tetap dapat dimintai tanggung jawab melalui mekanisme wanprestasi atau perbuatan melawan hukum, meskipun tidak memiliki status badan hukum. Prinsip dasar hukum perdata menegaskan bahwa setiap subjek yang melakukan perbuatan hukum dapat dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan regulasi untuk memberikan kepastian hukum, memperkuat perlindungan masyarakat, serta menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kegiatan pengumpulan dana publik
Legal Protection for Cryptocurrency Holders as a Means of Conducting Transactions in the Digital Age Robby, Robby; Setiawan, Puguh Aji Hari; Iryani, Dewi
Journal of Social Research Vol. 5 No. 5 (2026): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i5.3168

Abstract

The problem in this research is about the binding power of the use of cryptocurrencies in electronic business transactions as a medium for buying and selling transactions. Meanwhile, money in Islam is the same as the currency that is determined in the policy in Indonesia, namely it has value, is generally accepted, and has a certain type that has been determined. In addition, what is called a legal medium of exchange is only recognized as an asset, not a legal currency in Indonesia. This research uses a normative legal (library-based) approach with a statute approach to analyze legal regulations for crypto asset owners in conducting digital transactions in Indonesia. Based on the results of the research, it is known that there are differences between policy provisions electronic transactions and currency laws as well as the provisions of the Civil Code. The difference that exists occurs in business transactions using cryptocurrencies as currency in buying and selling transactions in the digital era using the internet network. The use of crypto does not have binding force in even though the terms and pillars of the agreement have been met. because it still contains elements of gharar, dharar and qimar in accordance with the opinions of the scholars and hasik of the 7th MUI Ijtima Ulama Year 2021.  Therefore, their use as a medium of exchange is considered prohibited and lacks legal protection under Indonesian law.
Legal Protection For Bank Customers Regarding The Disclosure Of Financial Information By Tax Authorities Based On Law Number 9 Of 2017 And Law Number 27 Of 2022 Banjarnahor, Ewi; Suhariyanto, Didik; Setiawan, Puguh Aji Hari
Ilmu Hukum Prima (IHP) Vol. 9 No. 1 (2026): JURNAL ILMU HUKUM PRIMA
Publisher : jurnal.unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jihp.v9i1.7766

Abstract

This research examines the legal tension between the state’s interest in tax collection and the protection of bank customers’ privacy rights under two regimes: Law No. 9 of 2017 on Access to Financial Information for Tax Purposes and Law No. 27 of 2022 on Personal Data Protection, alongside bank secrecy provisions in Law No. 10 of 1998. The expanded authority of tax authorities to access financial data aims to enhance transparency and compliance but risks infringing privacy rights. Using a normative juridical method with statutory, conceptual, and case approaches, the study analyzes key legal sources, including the 1945 Constitution and Constitutional Court Decision No. 102/PUU-XV/2017. The analysis applies the principle of proportionality, as well as theories of legal protection (Philipus M. Hadjon) and legal certainty (Gustav Radbruch). Findings indicate that legal protection for bank customers remains largely formal and lacks substantive safeguards. Broad access by tax authorities is not matched by clear mechanisms of oversight, accountability, and legal responsibility. Normative overlap between tax disclosure rules and personal data protection obligations creates legal uncertainty for both financial institutions and customers. The study concludes that regulatory harmonization is necessary to resolve these conflicts. It recommends establishing an independent supervisory body and strengthening accountability frameworks to ensure a proportional balance between effective tax enforcement and the protection of citizens’ privacy rights. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum primer meliputi UUD NRI Tahun 1945, UU No. 9 Tahun 2017, UU No. 27 Tahun 2022, serta Putusan Mahkamah Konstitusi No. 102/PUU-XV/2017. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menelaah disharmoni norma dan penerapan asas proporsionalitas dalam pembatasan hak privasi. Pendekatan konseptual digunakan untuk mengkaji teori perlindungan hukum Philipus M. Hadjon dan teori kepastian hukum Gustav Radbruch sebagai pisau analisis terhadap pelaksanaan kebijakan keterbukaan informasi keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap nasabah bank dalam pelaksanaan keterbukaan informasi keuangan masih bersifat formal dan belum substansial. Akses data keuangan oleh otoritas pajak belum diimbangi dengan mekanisme pengawasan, akuntabilitas, dan tanggung jawab hukum yang jelas. Terdapat tumpang tindih antara kewenangan fiskus dalam UU No. 9 Tahun 2017 dan kewajiban perlindungan data pribadi dalam UU No. 27 Tahun 2022, yang menimbulkan ketidakpastian hukum bagi lembaga keuangan dan nasabah. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi dan pembentukan lembaga pengawas independen untuk menjamin keseimbangan antara efektivitas fiskal dan perlindungan hak privasi warga negara.
Effectiveness Of Trademark Protection In Electronic Commerce In A Case Study Of Trademark Infringement In Indonesia -, Andi; Setiawan, Puguh Aji Hari; Hartana, Hartana
Ilmu Hukum Prima (IHP) Vol. 9 No. 1 (2026): JURNAL ILMU HUKUM PRIMA
Publisher : jurnal.unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jihp.v9i1.7767

Abstract

This study analyzes the effectiveness of trademark protection in Indonesia’s e-commerce sector amid rising digital trade and increasing infringement, including unauthorized use, counterfeiting, and consumer deception. It aims to identify causal factors and evaluate enforcement mechanisms. Using a juridical-normative method with case studies, the research examines legal documents, infringement cases, and platform-level protection policies. The findings show that although regulations such as Law No. 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications and Government Regulation No. 80 of 2019 on Electronic Commerce exist, enforcement gaps persist, enabling ongoing violations. Key issues include weak supervision, inconsistent enforcement, and limited platform accountability. The study concludes that legal protection remains suboptimal due to lack of coordination among regulators, business actors, and e-commerce providers. Recommended measures include strengthening regulatory synergy, enhancing monitoring by authorities, optimizing platform-based filtering and enforcement mechanisms, and increasing legal awareness among businesses and consumers. These steps are necessary to ensure legal certainty, improve compliance, and support fair and sustainable growth of Indonesia’s e-commerce ecosystem.