Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Critical Analysis of the Inclusive Education Implementation in the Concept of Freedom of the Soul and Zona Proximal Development Wijiastuti, Asri; Masitoh, Siti; Ainin, Ima Kurrotun; Ardianingsih, Febrita
JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/inklusi.v3n2.p62-71

Abstract

AbstractKi Hadjar Dewantara laid the foundation of education in Indonesia through his thoughts related to the nature of children in 1913-1919. On the other hand Lev Vygotsky (1896-1934) stated a theory that children are able to learn with the help of competent people. Both theories illustrate that the implementation of education will provide freedom and happiness for children in learning to learn by understanding children naturally and as they are. Research that has been done using ethnographic design aims to dissect and trace Ki Hadjar Dewantara's thoughts and Vygotsky's theory in the implementation of inclusive education. Data collection is done through documentation studies, guided group discussions, and questionnaires. The results of the analysis of the position of Vygotsky's theory in the implementation of inclusive education in the concept of the Zone of Proximal Development are focused on how children construct knowledge according to their culture and ways. The ZPD concept which focuses on cognitive theory emerged around 1993 which in Indonesia itself had been developed by Ki Hadjar Dewantara in 1913-1919 the emphasis was on teaching according to the nature of the child. Ki Hadjar's philosophy is heavily influenced by Maria Montessori's thoughts which emphasize the value of children's independent activities and the importance of children's growth as individuals. In 1952 Ki Hadjar Dewantara created a "system among" approach that put forward œFreedom of the Soul. The system that supports the child's natural nature in order to develop inner and outer life according to his own nature. Knowledge and intelligence are only tools, the fruit is the maturity of the soul that can realize life and livelihood in an orderly, holy, and useful for others. The concepts of œFreedom of the Soul and ZPD, are aligned in the cognitive view and efforts of children in obtaining the concept of knowledge in the implementation of education in the classroom. AbstrakKi Hadjar Dewantara meletakkan dasar pendidikan di Indonesia melalui pemikirannya terkait dengan sifat anak-anak pada tahun 1913-1919. Di sisi lain, Lev Vygotsky (1896-1934) menyatakan teori bahwa anak-anak dapat belajar dengan bantuan orang yang kompeten. Kedua teori tersebut menggambarkan bahwa implementasi pendidikan akan memberikan kebebasan dan kebahagiaan bagi anak dalam belajar belajar dengan memahami anak secara alami dan sebagaimana adanya. Penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan desain etnografi bertujuan untuk membedah dan melacak pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan teori Vygotsky dalam implementasi pendidikan inklusif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, diskusi kelompok terpimpin, dan kuesioner. Hasil analisis posisi teori Vygotsky dalam penerapan pendidikan inklusif dalam konsep Zona Pengembangan Proksimal difokuskan pada bagaimana anak-anak membangun pengetahuan sesuai dengan budaya dan cara mereka. Konsep ZPD yang berfokus pada teori kognitif muncul sekitar tahun 1993 yang di Indonesia sendiri telah dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1913-1919 penekanannya adalah pada pengajaran sesuai dengan sifat anak. Filosofi Ki Hadjar sangat dipengaruhi oleh pemikiran Maria Montessori yang menekankan nilai kegiatan mandiri anak-anak dan pentingnya pertumbuhan anak sebagai individu. Pada tahun 1952 Ki Hadjar Dewantara menciptakan pendekatan "sistem di antara" yang mengedepankan "Kebebasan Jiwa". Sistem yang mendukung sifat alami anak untuk mengembangkan kehidupan dalam dan luar sesuai dengan sifatnya sendiri. Pengetahuan dan kecerdasan hanyalah alat, buah adalah kematangan jiwa yang bisa mewujudkan kehidupan dan mata pencaharian secara tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain. Konsep "Kebebasan Jiwa" dan ZPD, diselaraskan dalam pandangan kognitif dan upaya anak-anak dalam memperoleh konsep pengetahuan dalam implementasi pendidikan di kelas. 
Literasi Siswa Penyandang Disabilitas Rungu di Kelas Inklusif Novialassafitri, Sibi Dyah; Wijiastuti, Asri; Yuliyati, Yuliyati; Ardianingsih, Febrita; Ainin, Ima Kurrotun; Ashar, Muhammad Nurul
JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/inklusi.v4n2.p113-125

Abstract

                                                               Abstrak Siswa penyandang disabilitas rungu di kelas inklusif membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi kegiatan membaca, menulis, dan berceritera sebagai upaya mengembangkan literasi dan menunjang keberhasilan mencapai hasil belajar yang optimal. Penulisan artikel bertujuan melakukan tinjauan mendalam hasil temuan terdahulu dan melakukan analisis diskriptif kajian literasi penyandang disabilitas rungu. Desain penelitian menggunakan literature review dengan analisis diskriptif. Penelusuran artikel melalui publikasi google, google cholar, research gate, ERIC dengan kata kunci literasi, inklusi dan penyandang disabilitas rungu dengan rentang tahun 2000 sampai dengan 2020 yang dapat diakses fulltext dengan format pdf. Artikel yang terkait dengan literasi siswa penyandang rungu di kelas inklusif ditemukan sejumlah 35 artikel, selanjutnya dikaji dan dianalisis. Hasil penelitian menggambarkan literasi di kelas inklusif ditentukan oleh keterampilan literasi siswa penyandang disabilitas rungu, strategi pembelajaran di kelas inklusif dan dukungan teknologi. Simpulan keterampilan literasi menjadi faktor kunci siswa penyandang disabilitas rungu berpartisipasi aktif di kelas inklusif.Kata Kunci: Siswa Penyandang Disabilitas Rungu, Kelas Inklusi, Keterampilan Literasi, Teknologi . AbstractStudent with hearing hard in inclusive classrooms need more time to explore reading, writing and storytelling activities as an effort literacy skill and support achieving optimal learning outcomes. The aim of article writing is an in-depth review of previous finding and a descriptive analysis of relevant study focus on students with hard hearing literacy skill. The research design used a literature review with descriptive analysis. Articles searching through Google, Google scholar, research gate, ERIC with the keywords literacy, inclusive and students with hard hearing ranging from 2000 to 2020 which accessed in full text in pdf format. A total of 35 articles related literacy and deafness were identified, examined and analysis. Result indicated that literacy in inclusive classroom depend on literacy skill of students with hard hearing, instruction strategies in inclusive classroom and technology support. Conclusion is literacy skill is a key factor for students with hard hearing to actively participate in inclusive classroom. Consequently to increasing the quantity and improving research quality in the field is recommended.Keywords: Students with hard of hearing, inclusive classroom, literacy skill, technology
Penerapan Metode Picture Exchange Communication System (PECS) Terhadap Keterampilan Komunikasi Anak Spektrum Autisme Arfi, Qibti 'Inayatul; Ardianingsih, Febrita
JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/inklusi.v4n2.p126-137

Abstract

                                                            AbstrakAnak spektrum autisme merupakan salah satu individu yang memiliki hambatan keterampilan komunikasi dan membutuhkan suatu metode untuk meningkatkan keterampilan komunikasinya. Metode Picture Exchange Commununication System (PECS) merupakan salah satu best practice untuk mengembangkan keterampilan komunikasi anak spektrum autism. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang penerapan metode Picture Exchange Commununication System (PECS) terhadap keterampilan komunikasi anak spektrum autisme. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan desain berupa penelitian survei. Sampel penelitian terdiri atas 38 guru, terapis, atau orang yang berkompeten dalam pengembangan keterampilan komunikasi anak spektrum autisme di wilayah Provinsi Jawa Timur melalui penyebaran kuisioner menggunakan google form. Uji validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS, sedangkan data penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: guru dan terapis di Jawa Timur yang telah menerapkan metode PECS sebesar 79%. Sebagian besar guru dan terapis tersebut sudah menerapkan PECS fase ke-1 sampai fase ke-6 sesuai tahapanannya dan merasa PECS sesuai dengan anak spektrum autism serta dapat meningkatkan keterampilan komunikasinya. Kata Kunci: anak spektrum autisme, metode PECS, keterampilan komunikasi anak spektrum autisme.                                                                 AbstractChildren with autism spectrum are one of the individuals who have communication skills barriers and need a method to improve their communication skills. The Picture Exchange Communication System (PECS) method is one of the best practices for developing communication skills for children with autism spectrum. This study aims to describe the application of the Picture Exchange Communication System (PECS) method to the communication skills of children with autism spectrum. This type of research is quantitative descriptive with a survey research design. The research sample consisted of 38 teachers, therapists, or people who are competent in developing communication skills for autism spectrum children in East Java Province through the distribution of questionnaires using google forms. Test the validity and reliability using SPSS, while the research data were analyzed quantitatively using percentages. The results showed that: 79% of teachers and therapists in East Java had applied the PECS method. Most of the teachers and therapists have implemented PECS phase 1 to phase 6 according to their stages and feel that PECS is suitable for children on the autism spectrum and can improve their communication skills.Keywords: autism spectrum, PECS methods, communication skills of autism spectrum.
Pencegahan Stunting Melalui Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Anak Pada Kader Kesehatan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar Ardianingsih, Febrita; Wahjuni, Endang Sri; Sugianto, Yenny Meilany; Habsari, Janti Tri
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2376

Abstract

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) hingga tahun 2023, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih di atas batas WHO (<20%), dan Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan kasus terbanyak. Salah satu intervensi kemenkes yang belum mencapai target adalah pemantauan pertumbuhan balita, yang baru mencapai 79,2% dari target 85%. Rendahnya kualitas pemantauan pertumbuhan balita menjadi salah satu penyebab. Hanya 33,8% kader yang mampu mencatat hasil penimbangan dengan benar, hanya 1,5% kader yang mampu menginterpretasikan hasil penimbangan dengan tepat, dan hanya 3% penimbangan balita oleh kader yang dianggap akurat. Untuk mengatasi masalah ini, dilaksanakan pelatihan pemantauan pertumbuhan anak bagi kader kesehatan. Tujuan pelatihan adalah (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam memantau pertumbuhan secara akurat dan (2) mendukung program intervensi spesifik Kemenkes untuk menurunkan stunting. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahapan: (1) koordinasi dengan mitra, (2) pelaksanaan pelatihan dengan penyampaian materi dan praktik, dan (3) evaluasi pretest-posttest. Peserta pelatihan adalah 40 kader kesehatan dari 11 desa/kelurahan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Analisis data hasil evaluasi menggunakan statistik deskriptif. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengenal stunting dan mengukur pertumbuhan anak. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai dari 55,65 (kategori cukup) menjadi 77,15 (kategori baik). Peningkatan tersebut dapat berimplikasi pada (1) kemampuan kader dalam pelayanan posyandu sehingga mengurangi kesalahan dalam pencatatan data dan interpretasi hasil pemantauan pertumbuhan, (2) memperkuat peran kader dalam pengumpulan data yang lebih akurat untuk program-program kesehatan masyarakat, dan (3) mendukung ketercapaian intervensi spesifik Kemenkes dalam menurunkan stunting. Stunting Prevention Through Child Growth Monitoring Training for Health Cadres in Sutojayan District, Blitar Regency Abstract Based on the 2023 Indonesia Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in children under five in Indonesia remains above the WHO threshold of 20%, with East Java having one of the highest rates. One of the Ministry of Health's interventions that has not met its target is child growth monitoring, which has reached only 79.2% of the 85% target Poor quality of growth monitoring is a key issue, as only 33.8% of health cadres record weight measurement results correctly, 1.5% can interpret them accurately, and only 3% of weight measurements taken by cadres are considered accurate. To address this, a training program on child growth monitoring was implemented for health cadres. The training aimed to (1) improve the knowledge and skills of health cadres in accurately monitoring growth, and (2) support the Ministry of Health's specific interventions to reduce stunting. The activity was carried out in three stages: (1) coordination with partners, (2) training delivery including theory and practice, and (3) pre-test and post-test evaluations. The training involved 40 health cadres from 11 villages in Sutojayan Sub-district, Blitar Regency. Data analysis was performed using descriptive statistics. The training successfully improved the cadres' knowledge and skills in identifying stunting and measuring growth. The evaluation results showed an average score increase from 55.65 (moderate category) to 77.15 (good category). This improvement has several implications: (1) better accuracy in posyandu services, reducing errors in data recording and interpretation, (2) stronger roles in collecting more accurate data for public health programs, and (3) supporting the achievement of the Ministry of Health's stunting reduction targets.
Pemanfaatan Metode PECS (Picture Exchange Communication System) untuk Meningkatkan Pemahaman Instruksi Dua Langkah pada Peserta Didik Autis Spektrum Disorder Wahyudi, Zahra Ajid Berlianti; Pinky Agustin, Madeline; Kinanthi , Morula; Mauliya; Ananda , Eka; Ardianingsih, Febrita
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10, Nomor 02 Juni 2025 publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.26517

Abstract

This study examines the use of the Picture Exchange Communication System (PECS) method to enhance the understanding of two-step instructions among learners with Autism Spectrum Disorder (ASD). The aim of this research is to provide a comprehensive explanation of the application of PECS as a method to improve communication skills and the ability to follow two-step instructions in children diagnosed with ASD. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through direct observation, interviews, and documentation at Sonokwijenan II/96 Surabaya State Elementary School. The results indicate that the use of PECS is effective in improving students’ ability to comprehend sequential two-step instructions and express their needs.
A TEACCH Class Model for Comprehensive Intervention in Children with Autism Spectrum Disorder Ardianingsih, Febrita; Ashar, Muhammad Nurul; Wijiastuti, Asri
Journal of Education for Sustainability and Diversity Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Angstrom Centre of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.427 KB) | DOI: 10.57142/jesd.v1i2.53

Abstract

Autism Spectrum Disorders (ASD) are pervasive developmental disorders that cover various aspects of development. Interventions using drugs are still not clearly proven to address the core problems of children with autism spectrum disorders, so interventions are directed at non-pharmacological approaches. The aim of this study is to examine the TEACCH class model for comprehensive interventions for children with ASD in all aspects of development. This research uses a qualitative approach. The data sources for this study were a vice principal and two teachers from one of the autism special schools in Malang, East Java, Indonesia. Data collection techniques through interviews and observation. Data analysis used the Miles & Huberman Flow Analysis Model. The validity of the data was carried out by triangulating sources, techniques, and theories. Research findings (1) The minimal TEACCH class model consists of a whiteboard, bench, visual support, and a sensory/quiet corner. Teachers apply TEACCH by implementing structured learning activities (clear, coherent, and predictable activities) and flexible ones (adjusting to the needs of each child) by involving an independent work system. (2) The application of TEACCH can improve the skills of autistic spectrum children in communication, social, emotional-behavior, and cognitive aspects.
Visual Support Based on Indonesian Local Wisdom for Personal Hygiene Learning of Children with Autism Spectrum Disorders Ardianingsih, Febrita; Ashar, Muhammad Nurul; Budiyanto, Budiyanto
Journal of Education for Sustainability and Diversity Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Angstrom Centre of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.561 KB) | DOI: 10.57142/jesd.v1i2.55

Abstract

The degree of severity of autism can cause deficits in the development of activities of daily living, one of which is personal hygiene skills (bathing, toileting, washing hands, brushing teeth). The development of personal hygiene skills is important for children with autism spectrum disorders for health promotion and ensuring opportunities for increased socialization and participation in various environments. Strategies that incorporate visual support are considered evidence-based practices that capitalize on the strengths of children with ASD. Sources of images for creating visual support are actually quite a lot available on the internet, but they are still rarely suitable for Indonesian culture. This study aims to (1) develop visual support products based on local wisdom as a personal hygiene learning strategy for children on the autistic spectrum, and (2) determine the feasibility of visual support products based on local wisdom in learning personal hygiene for children with autism spectrum disorders. This study adapted the ADDIE approach to only 3 stages: Analyze, Design, and Develop. The findings of this study are: (1) this development resulted in an electronic catalog book and visual supports on personal hygiene based on Indonesian local wisdom, and (2) the electronic catalog book and visual supports based on Indonesian local wisdom in learning personal hygiene for children with autism spectrum disorders are very feasible based on expert validation.
Strategi Efektif untuk Meningkatkan Perilaku dan Kemampuan Kognitif Anak Autis dalam Proses Pembelajaran Octaviani Reiz Anwari; Rindu Tasyariefah; Dyah Puspita Ayu; Aiska Fachriyah Qurrotu Aini; Febrita Ardianingsih; Pamuji Pamuji
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2025 (3)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v5i3.1618

Abstract

Gangguan spektrum autisme (GSA) menjadi salah satu kondisi yang memengaruhi perkembangan sosial, komunikasi, dan perilaku anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik dan tantangan yang dihadapi oleh anak dengan kondisi GSA, serta strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mendukung perkembangan anak tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan guru, observasi langsung terhadap perilaku dan interaksi Aaron (ARN), dan dokumentasi dengan aspek yang diukur dalam instrumen mencakup kemampuan komunikasi verbal, fokus dan atensi saat mengerjakan tugas, interaksi sosial, ekspresi emosi, minat belajar, serta respon terhadap stimulus visual dan auditorial. Analisis data dilakukan secara tematik, yaitu dengan mengidentifikasi tema-tema utama dari wawancara, observasi, dan dokumen, serta menarik kesimpulan berdasarkan pola yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ARN memiliki minat yang tinggi terhadap aktivitas visual dan menunjukkan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, meskipun mengalami kesulitan dalam komunikasi verbal dan interaksi sosial. Keterlibatan dalam aktivitas menggambar dan membaca buku bergambar mencerminkan preferensi belajar yang kinestetik dan visual. Selain itu, ARN menunjukkan ketidakminatan terhadap aktivitas yang melibatkan interaksi sosial, yang dapat menghambat perkembangan keterampilan sosialnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan yang tepat, termasuk penggunaan alat bantu visual dan pendekatan berbasis bukti seperti terapi perilaku kognitif, sangat penting untuk membantu ARN mengatasi tantangan yang dihadapinya. Implikasi dari penelitian ini yaitu bahwa guru dan lingkungan sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung dan inklusif dalam kegiatan sosial sehingga meningkatkan perkembangan ARN dalam aspek kognitif, sosial, dan emosional.
Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Anak-Anak di Community Learning Center Kinabalu, Malaysia melalui Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Endang Sri Wahjuni; Nur Shanti Retno Pembayun; Febrita Ardianingsih; Nur Ilahi Anjani; Hafshah Yasmina Abidah; Nastiti Aryudaningrum; Evy Wulandari; Susi Susanti; Tita Rachma Ayuningtyas; Anja Hesnia Kholis; Nurullia Hanum Hilfida; Resinta Rahma Mareta Saputri; Natali Anno Angel Simamora
JURPIKAT Vol 7 No 1 (2026): 7.1 2026
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v7i1.2886

Abstract

This community service program focuses on improving clean and healthy living behavior (PHBS) among children at the Community Learning Center (CLC) Kampung Melayu Sulaiman, Sandakan, Sabah, Malaysia, a migrant community with limited access to health education. The program aims to enhance students’ knowledge and practices related to PHBS through structured and participatory educational activities. A Participatory Action Research (PAR) approach was employed, involving students, teachers, and CLC administrators in the processes of needs identification, planning, implementation, evaluation, and follow-up. Activities were carried out both online and onsite through health education sessions, handwashing and toothbrushing demonstrations, and the distribution of educational materials. The results indicate an improvement in students’ knowledge, basic PHBS skills, and behavioral changes such as washing hands before meals and maintaining personal hygiene. Overall, the program positively contributed to increasing children’s health awareness and strengthening teachers’ capacity to continue PHBS education independently