Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : An-Nida'

HIZBULLAH DAN HIZBUSSYAITHAN DALAM AL-QURAN Jani Arni
An-Nida' Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v39i1.871

Abstract

Terdapat dua istilah yang cukup menarik digunakan oleh al-Quran yang mengacu kepada dua kelompok manusia; yakni istilah hizbullah dan hizbussyaithan. Hizbullah atau tentara/ pengikut Allah adalah orang-orang yang berwali dengan Allah memiliki ciri-ciri beriman kepada Allah dengan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya serta orang-orang yang mampu menjaga keimanannya tersebut meskipun terdapat tantangan yang cukup berat. Oleh karena itu, Allah menyebutkan balasan yang terbaik yang akan mereka peroleh; yakni keberuntungan, sehingga mereka disebut al-ghalibun dan al-muflihun. Sedangkan hizbussyaithan atau tentara/ pengikut syaithan adalah orang-orang munafik yang memiliki sifat khas berperilaku ganda, sehingga berbahaya bagi orang lain dan orang-orang musyrik dengan sifat khas menentang serta mengingkari semua perintah Allah. Kelompok ini akan memperoleh ganjaran yang buruk di dunia maupun di akhirat. Mereka dijuluki dengan al-khasirun dan ashab al-sya’ir
Pemikiran Sayyid Quthb tentang Makna Qital dalam Kitab Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Hidayatullah Ismail; Jani Arni; Ihfasni Arham; Edi Hermanto
An-Nida' Vol 44, No 2 (2020): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v44i2.12928

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian tafsir tematik dengan fokus pembahasan seputar makna ayat-ayat perang (qital) dalam Al-Qur’an perspektif Sayyid Quthb. Secara umum qital dalam Al-Qur’an dimaknai oleh sebagian mufassir dengan perang melawan kelompok kâfirîn yang menyerang terlebih dahulu, atau dengan kata lain bersifat defensif (dhifâ’iyah) dan melarang perang yang bersifat menyerang atau ofensif (thalabah). Berbeda Sayyid Quthb yang kental dengan basic pergerakan (haraki), bahwa qital dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna defensif, namun juga ofensif, dan itu bukan merupakan sebagai bentuk ekstremisme dan radikalisme, sebab Islam memiliki batasan dan kode etik dalam berperang, sehingga perang menjadi tidak serampangan. Selain itu tujuan utamanya adalah menegakkan kalimat Allah dan melepaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
The Values of the Qur'an in the Tradition of Beghanyut Selawat in the Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia, Bengkalis Regency, Riau Mujtahidah, Siti Barika; Arni, Jani; Bakar, Abu
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.24741

Abstract

This article discusses the reception of the community towards the tradition of Selawat Benghanyut in the Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia in Bengkalis Regency, Riau. The tradition of Selawat is performed by the Bengkalis community with the aim of preserving the village. The people of Bengkalis refer to it as "bele kampung," but now this tradition is known as "Selawat Beghanyut." Selawat Beghanyut is a salawat activity performed on boats. It is called Selawat Beghanyut because it involves floating with boats moving along the river or sea currents. This tradition is interesting to explore further because it contains the values of the Qur'an, conceptually known as the study of the living Qur'an. This field research employs a descriptive-qualitative method with a phenomenological approach. Data collection involves observation, interviews, and documentation. The results of the research indicate that the tradition of Selawat Beghanyut is a cultural behavior resulting from the reception of Muslims towards the Qur'an, especially Surah Al-Ahzab verse 56. This verse contains the command to send blessings upon the Prophet Muhammad (peace be upon him), and this command is implemented by the community in the form of Selawat Beghanyut. Furthermore, the tradition of Selawat Beghanyut also embodies religious and social values. The religious values include constant reminders to worship Allah, have faith in the Prophet, and adhere to the Qur'an. As for the social values, this tradition fosters brotherhood and serves as a platform for fostering relationships among all members of the community. Abstrak: Artikel ini membahas tentang resepsi masyarakat pada tradisi Selawat Benghanyut pada Perkumpulan Sholawat Laut Indonesia di Kabupaten Bengkalis, Riau. Tradisi selawat dilakukan oleh masyarakat Bengkalis bertujuan untuk memelihara kampung. Masyarakat Bengkalis menyebutnya dengan istilah “bele kampung”, namun sekarang tradisi ini dikenal dengan “Selawat Beghanyut”. Selawat Beghanyut adalah suatu kegiatan berselawat yang dilakukan di atas perahu. Dinamakan dengan Selawat Beghanyut karena diambil dari istilah berhanyut dengan perahu yang bergerak mengikuti arus sungai atau laut. Tradisi ini menarik untuk dikaji lebih mendalam karena memuat nilai-nilai Al-Qur’an atau secara konseptual dikenal dengan kajian living Qur’an. Penelitian dengan jenis penelitian lapangan ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Selawat Beghanyut merupakan hasil perilaku kultural dari resepsi umat Islam terhadap Al-Qur’an, khususnya surat Al-Ahzab ayat 56. Ayat tersebut berisi tentang perintah ber-selawat kepada Nabi Muhammad Saw, perintah tersebut diimplementasikan oleh masyarakat dengan bentuk Selawat Beghanyut. Selain itu, tradisi Selawat Beghanyut juga memuat nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai sosial. Nilai keagamaan  yaitu senantiasa mengingatkan untuk selalu beribadah kepada Allah, beriman kepada Nabi, serta agar selalu berpegang kepada Al-Qur’an. Adapun nilai-nilai sosial dalam tradisi ini yaitu memuat nilai persaudaraan serta ajang silahturahmi seluruh anggota masyarakat.