Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Modified Hughes Tarsoconjunctival Flap Procedure for Lower Eyelid Defect: A Case Series Aulia; Hendriati
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 9 No. 3 (2025): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v9i3.1226

Abstract

Background: The Hughes procedure, or tarsoconjunctival flap, is a technique used in reconstructing full-thickness lower eyelid defects involving >50% of the eyelid margin to restore anatomical integrity, function, and cosmesis of the eyelid. The modified Hughes procedure spares the marginal upper lid tarsus and removes the levator muscle aponeurosis from the tarsoconjunctival flap. This study reports a case series of patients who underwent a modified Hughes procedure after basal cell carcinoma excision. Case presentation: Two patients underwent lower eyelid reconstruction using the modified Hughes procedure. After a wide excision of the tumor, a tarsoconjunctival flap was created to reconstruct the posterior lamella of the eyelid. Subsequently, the anterior lamella of the eyelid was reconstructed using a full-thickness skin graft and an advancement flap, respectively. Both patients underwent a second surgery, tarsus flap release, 6-8 weeks after the first surgery. Postoperatively, tarsal flap apposition, skin flap/graft, and stitches were intact. After the tarsus flap release, wound healing was good. A tumor biopsy showed basal cell carcinoma. Conclusion: The modified Hughes procedure is a treatment of choice in reconstructing full-thickness lower eyelid defects involving >50% of the eyelid margin. Full-thickness skin graft and advancement flap to reconstruct the anterior lamella of the eyelid are chosen after considering skin color, texture similarity, and the laxity of the eyelid and cheek.
Gambaran Klinis Pasien Trauma Palpebra di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2021-2023 Freegaito, Adhycahyo; Hendriati; Irawati, Lili
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1340

Abstract

Latar Belakang:  Trauma palpebra merupakan cedera periokular yang sering ditemukan dan dapat memengaruhi fungsi proteksi okular, drainase air mata, serta estetika wajah. Keterlibatan kanalis lakrimal dapat menyebabkan epifora dan komplikasi jangka panjang apabila tidak ditangani secara tepat. Data mengenai karakteristik klinis dan keterlibatan kanalis lakrimal masih terbatas meskipun trauma palpebra merupakan salah satu cedera mata paling umum. Objektif: Mengetahui gambaran klinis, mekanisme cedera, lokasi laserasi, dan pola keterlibatan kanalis lakrimal pada pasien trauma palpebra di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2021 - 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder rekam medis. Sebanyak 68 sampel pasien trauma palpebra yang memenuhi kriteria inklusi diolah dengan teknik total sampling. Hasil: Mayoritas pasien merupakan kelompok dewasa (61,8%) dan didominasi oleh laki-laki (67.6%) dengan mekanisme cedera terbanyak akibat benda tumpul (83.8%) dengan lokasi kejadian paling sering adalah jalan raya (63.2%). Trauma banyak terjadi di regio palpebra superior (35.3%), sebagian besar tanpa keterlibatan margo maupun kanalis lakrimal (63,2%), namun semua trauma yang mengenai margo palpebra melibatkan kanalis lakrimalTatalaksana terbanyak adalah penjahitan palpebra  (63.2%). Kesimpulan: Trauma palpebra paling banyak dialami oleh laki-laki usia produktif terutama akibat trauma tumpul yang terjadi di jalan raya dengan regio superior sebagai lokasi utama tanpa kerusakan margo atau kanalis lakrimal. Deteksi dini keterlibatan saluran lakrimal tetap penting dilakukan untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Pencegahan trauma dapat dilakukan melalui edukasi keselamatan berkendara dan kepatuhan aturan lalu lintas. Penelitian selanjutnya disarankan mengevaluasi hasil jangka panjang dan strategi pencegahan yang lebih efektif.