Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERAN KEPALA DESA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI PASAL 14 (A) NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL DESA PERSPEKTIF SIYASAH TANFIDZIYAH Santoso, Rudi; Aldiansyah, Okta; Maimun, Maimun; Zaharah, Rita; Fauzi, Mohammad Yasir
Keadilan : Jurnal Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang Vol 22 No 2 (2024): Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/keadilan.v22i2.1677

Abstract

Standar Pelayanan Minimal Desa adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan yang merupakan urusan desa yang berhak diperoleh setiap masyarakat desa secara minimal. Desa Wates masih banyak masalah yang menghambat penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal Desa secara optimal. Beberapa masalah tersebut antara lain adalah keterbatasan, informasi, anggaran, sarana, dan prasarana desa. Pelayanan publik memiliki peran penting dalam administrasi pemerintahan dan tata kelola yang baik. Hal ini terkait dengan implementasi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Standar Pelayanan Minimal Desa. Kepala Desa, sebagai pelaksana Standar Pelayanan Minimal Desa, memiliki tanggung jawab utama dalam memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan. Rumusan Masalah : 1) Bagaimana Peran Kepala Desa  Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Pasal 14(a) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Standar Pelayanan Minimal Desa Prespektif Fiqh Siyasah Tanfidziyah? 2)Bagaimana pandangan Fiqh Siyasah Tanfidziyah terhadap Peran Kepala Desa  Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Pasal 14(a) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Standar Pelayanan Minimal Desa Prespektif Fiqh Siyasah Tanfidziyah? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang diambil secara langsung, dan data sekuder diambil dari Buku, Skripsi,Tesis, Disertasi, Jurnal, Berita atau artikel Online. Hasil Penelitian ini Kepala Desa Wates telah melaksanan Pasal 14(a) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Standar Pelayanan Minimal Desa dengan menyediakan kemudahan pelayanan administrasi untuk semua warga yang dapat diakses secara online maupun offline, dan memperbaiki dan merawat fasiltias yang ada di desa yaitu fasilitas Kesehatan, Fasilitias Digital, Serta Fasilitas umum desa lainnya. Kepala Desa Wates dalam pemenuhannya sejalan dengan tugas kepemimpinan sesuai dengan prinsip-prinsip siyasah tanfidziyah dengan memberi petunjuk dengan benar, menjalankan keadilan, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat desa yang dipimpinnya, sesuai dengan ajaran Islam.        Kata Kunci  : Kepala Desa, Standar Pelayanan Minimal Desa, Siyasah Tanfidziyah            
SHARIA ECONOMIC LAW ANALYSIS ON ZAKAT MANAGEMENT AT BAZNAS BANDAR LAMPUNG CITY Zaharah, Rita; Fauzi, Mohammad Yasir
Jurnal Justisia Ekonomika: Magister Hukum Ekonomi Syariah Vol 8 No 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/justeko.v8i2.23630

Abstract

This study examines the potential of zakat as an economic instrument that can enhance the welfare of the Muslim community if managed properly according to Sharia principles. In practice, zakat's collection, management, and distribution should comply with religious guidelines to be used productively as a community fund source. However, current zakat management faces challenges, such as the use of conventional banks for zakat collection, distribution that is more consumption-oriented, and a management process that is not yet effective. This research was conducted at BAZNAS in Bandar Lampung City using a descriptive qualitative approach. The results show that the use of conventional banks by BAZNAS is solely as a zakat collection medium, not as a manager, and is considered compliant with Sharia economic law, referencing Ibn Asyur's maqashid shari'ah, as it provides broad benefits. As an official zakat management institution in Bandar Lampung, BAZNAS strives to manage zakat by government regulations to improve community welfare through distribution models that include consumptive and productive empowerment approaches.
Analisis Hukum Ekonomi Syari’ah terhadap Mekanisme Fundraising Dana Zakat Melalui Bank Konvensional pada BAZNAS Kota Bandar Lampung Zaharah, Rita; Faizal, Liky; Hermanto, Agus; Fauzi, Mohammad Yasir; Santoso, Rudi
Adzkiya : Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Meto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/adzkiya.v12i1.9263

Abstract

MUI Fatwa No. 1 of 2004 concerning Interest states that mu'amalah is not permitted using Conventional Banks because there is an Interest system in Conventional Financial Institutions and the practice of interest is haram. Fundraising zakat by BAZNAS Bandar Lampung City in practice is known to use Conventional Banks which are used in collecting zakat. This is contradictory and gives rise to speculation among the public because there is a discrepancy between the fundraising mechanism at BAZNAS Bandar Lampung City and the MUI fatwa No.1 of 2004. This research is field research with a descriptive qualitative approach. Data sources come from primary data and secondary data. The results obtained in this research are: First, the fundraising mechanism for zakat funds is carried out directly, namely muzaki go directly to the BAZNAS / UPZ office and indirectly, namely through transfers to bank accounts, including using conventional banks. This was done because of the existence of an MoU with the Bandar Lampung City Government in optimizing the collection of ASN zakat, the regulations of which are carried out by Regional Banks, and Commercial Banks are used to facilitate and target Muzakki who are not familiar with Sharia Banks, Commercial Banks are used only as a channel for zakat/UPZ (zakat collection unit), deposited and managed by Sharia Bank account. Second, the use of conventional banks in collecting zakat carried out by BAZNAS Bandar Lampung City from the perspective of sharia economic law based on findings and facts that occur in the field and based on maslahah murlah may be done because there are benefits and maslahah for many people (not problems for the interests of one group or certain individuals) and reject harm in order to maintain the goals of shara' (maqashid shari'ah)
Pemberian Wasiat Wajibah Bagi Non Muslim: Sebagai Rekonstruksi Hukum Keluarga Islam Di Indonesia Mohammad Yasir Fauzi; Eko Hidayat
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i1.5852

Abstract

Normatively, there is no provision in granting a mandatory will for non-Muslims. This legal vacuum encourages the Supreme Court to grant inheritance to non-Muslims through a mandatory will. 3 (three) Supreme Court cassation decisions grant mandatory wills to non-Muslim heirs. This decision is inconsistent with Islamic law and positive law in Indonesia. The provisions of mandatory wills in KHI article 209 are only intended for adopted children and adoptive parents. Islamic law prohibits non-Muslim heirs from inheriting property from a Muslim testator. This study aims to reconstruct the mandatory will law in Indonesia. This study is a field and library research, using a qualitative approach. Data were collected through interviews with 3 (three) Supreme Court Judges who tried and decided the case. The data were supported by 3 (three) Supreme Court Decisions, namely No. 368 K/AG/1995, No. 51 K/AG/1999, No. 16K/AG/2010, and Compilation of Islamic Law (KHI), Civil Code (KUHPdt). Data analysis using Miles and Hubermen analysis. The results of the study indicate that there are no legal provisions for heirs for non-Muslims through mandatory wills in the KHI, KUHPdt or Islamic law. 3 (Three) Supreme Court Decisions that allow heirs for non-Muslims through mandatory wills are decisions that are responsive to social conditions, equality and justice in society. Therefore, it is necessary to reconstruct Article 209 Paragraph (3) of the KHI to be illegitimate children, stepchildren and children of different religions with the testator who do not receive a will are given a mandatory will of up to 1/3 of the testator's inheritance. This reconstruction can be a consideration for the government in renewing inheritance law in Indonesia
Implikasi Perceraian Orang Tua Terhadap Moral Anak Prespektif Teori Anomie Emile Durkheim Kabul Wiono; Yasir Fauzi, Mohammad; Dharmayani
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (May)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i2.737

Abstract

Parental divorce has multidimensional impacts on children's moral development, yet studies integrating Islamic Family Law and Émile Durkheim's Anomie Theory remain limited. This research aims to analyze the implications of parental divorce on children's morality from the perspective of Islamic Family Law and to explain this phenomenon through the framework of Émile Durkheim's Anomie Theory. This study employs a qualitative approach using library research method, analyzing various relevant literature ranging from legislation, statistical reports, scientific journals, to Durkheim's classical works. The findings reveal that parental divorce triggers anomie conditions manifested in three patterns of implications: normative crisis, socio-emotional isolation, and deviant behavior. Islamic Family Law, through the concepts of hadhanah and maqashid al-syari'ah, offers a comprehensive framework for protecting children's morality, yet its implementation requires a more holistic reformulation. This study recommends strengthening mandatory mediation mechanisms, family restoration programs, and integrated post-divorce supervision.
ANALISIS KEDUDUKAN ANAK LAKI-LAKI SEBAGAI AHLI WARIS PENGGANTI ATAS WARISAN KAKEK DALAM KONDISI PERCERAIAN ORANG TUA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) Rama Saputra; Mohammad Yasir Fauzi; Sisca Novalia
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 5 No. 1 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, September 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v5i1.1525

Abstract

Konsep ahli waris pengganti dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) menjadi salah satu bentuk pembaruan hukum kewarisan Islam di Indonesia yang bertujuan memberikan perlindungan terhadap hak keturunan pewaris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan anak laki-laki sebagai ahli waris pengganti atas warisan kakek dalam kondisi perceraian orang tua menurut Kompilasi Hukum Islam, serta memahami prosedur memperoleh hak waris berdasarkan Pasal 185 KHI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui kajian terhadap Kompilasi Hukum Islam, literatur hukum kewarisan Islam, jurnal ilmiah, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan konsep ahli waris pengganti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ahli waris pengganti dalam Pasal 185 KHI memberikan kedudukan kepada anak dari ahli waris yang telah meninggal dunia lebih dahulu untuk menggantikan posisi orang tuanya dalam menerima warisan. Ketentuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan dengan sistem fiqh mawaris klasik yang didasarkan pada hubungan nasab dan mekanisme hijab, sehingga cucu tidak secara otomatis memperoleh hak waris apabila terdapat ahli waris lain yang lebih dekat dengan pewaris. Dalam praktiknya, hak waris ahli waris pengganti dapat diperoleh melalui musyawarah keluarga apabila seluruh ahli waris mencapai kesepakatan. Namun, apabila terjadi perselisihan mengenai status ahli waris maupun pembagian warisan, penyelesaian dapat dilakukan melalui Pengadilan Agama untuk memperoleh penetapan ahli waris sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Penelitian ini menggunakan teori tajdid al-fiqh, teori ijtihad, dan maqashid shari‘ah untuk menganalisis keberadaan ahli waris pengganti dalam KHI. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep ahli waris pengganti merupakan bentuk pembaruan hukum Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan sosial masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan prinsip dasar hukum kewarisan Islam. Selain itu, ketentuan tersebut juga mencerminkan upaya menjaga keturunan (hifz al-nasl) dan menjaga harta (hifz al-mal) sebagai bagian dari tujuan maqashid syari'ah. Dengan demikian, konsep ahli waris pengganti dalam KHI dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan hukum dan upaya mewujudkan keadilan dalam sistem kewarisan Islam di Indonesia.
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERPINDAHAN AGAMA SALAH SATU PASANGAN PASCA PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF MAQASHID ASY SYARIAH Irfan Fatihan Ahsan; Mohammad Yasir Fauzi; Kartika S
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i2.1113

Abstract

Pernikahan dalam Islam merupakan institusi sakral yang menuntut kesamaan aqidah sebagai dasar terbentuknya keluarga sakinah. Namun, fenomena perpindahan agama salah satu pasangan pasca pernikahan semakin sering terjadi dalam masyarakat modern yang pluralistik. Permasalahan akademik muncul ketika konversi agama tersebut tidak selalu lahir dari kesadaran spiritual, melainkan karena faktor eksternal seperti tuntutan administratif, tekanan keluarga, atau legitimasi sosial. Hal ini menimbulkan dilema, baik dari perspektif hukum Islam yang mayoritas ulama menyatakan murtad dapat membatalkan pernikahan, maupun hukum positif Indonesia yang menuntut penyelesaian perceraian hanya melalui pengadilan. Kekosongan norma inilah yang memunculkan persoalan status pernikahan, hak anak, dan keberlangsungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perpindahan agama salah satu pasangan pasca pernikahan dalam perspektif hukum Islam, sekaligus mengkritisinya dengan teori Maqashid al-Syari‘ah. Dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), serta pendekatan undang-undang (statute approach), penelitian ini menelaah regulasi perundang-undangan, literatur fiqh klasik, dan kajian akademik kontemporer terkait konversi agama dalam pernikahan ,Namun, dalam konteks Indonesia, keputusan tersebut tidak otomatis berlaku karena harus diputuskan melalui pengadilan agama. Analisis dengan pendekatan maqashid al-syari‘ah menekankan bahwa fenomena konversi agama harus dilihat dari tujuan syariat, yaitu perlindungan agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), keturunan (hifz al-nasl), kehormatan (hifz al-‘ird), dan harta (hifz al-mal Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya reformulasi regulasi hukum keluarga Islam di Indonesia agar lebih responsif terhadap fenomena konversi agama pasca pernikahan. Diperlukan aturan yang jelas, verifikasi motivasi yang adil, serta mekanisme mediasi berbasis maqashid untuk mencegah kerusakan sosial dan melindungi kemaslahatan keluarga.
Village Head Term Extension In Indonesia: A Fiqh Siyāsah Dustūriyyah Perspective Ilham Manando; Mohammad Yasir Fauzi; M. Dani Fariz Amrullah D
Jurnal El-Thawalib Vol 7, No 4 (2026)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-thawalib.v7i4.21097

Abstract

The amendment to Article 39 paragraph (1) of Law Number 3 of 2024, which extends the term of office of village heads from six to eight years, raises questions about development continuity, limitations on power, and the welfare of village communities. This study aims to analyze the legal construction of the extension and assess its conformity with fiqh siyāsah dustūriyyah. This prescriptive-analytical normative legal research applies statutory, conceptual, and case approaches. Primary legal materials consist of Law Number 6 of 2014 as amended by Law Number 3 of 2024, Government Regulation Number 16 of 2026, and Constitutional Court Decisions Number 42/PUU-XIX/2021 and Number 92/PUU-XXII/2024; secondary legal materials consist of books and journal articles on village governance, democracy, accountability, and fiqh siyāsah. Legal materials were collected through document study and source tracing based on relevance, authority, recency, and traceability. They were analyzed through grammatical, systematic, and teleological interpretation, then tested against the principles of amānah, justice, shūrā, maṣlaḥah, accountability, and prevention of mafsadah. The study finds that the shift from six years for a maximum of three terms to eight years for a maximum of two terms reduces maximum cumulative tenure from eighteen to sixteen years but lengthens the interval of electoral accountability. The policy is therefore a conditional maṣlaḥah: its substantive legitimacy depends on effective BPD oversight, periodic performance evaluation, budget transparency, community participation, complaint mechanisms, and enforceable sanctions. These findings formulate a conditional maṣlaḥah test for distinguishing beneficial political stability from a concentration of village power
Village Head Term Extension In Indonesia: A Fiqh Siyāsah Dustūriyyah Perspective Ilham Manando; Mohammad Yasir Fauzi; M. Dani Fariz Amrullah D
Jurnal El-Thawalib Vol 7, No 4 (2026)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-thawalib.v7i4.21097

Abstract

The amendment to Article 39 paragraph (1) of Law Number 3 of 2024, which extends the term of office of village heads from six to eight years, raises questions about development continuity, limitations on power, and the welfare of village communities. This study aims to analyze the legal construction of the extension and assess its conformity with fiqh siyāsah dustūriyyah. This prescriptive-analytical normative legal research applies statutory, conceptual, and case approaches. Primary legal materials consist of Law Number 6 of 2014 as amended by Law Number 3 of 2024, Government Regulation Number 16 of 2026, and Constitutional Court Decisions Number 42/PUU-XIX/2021 and Number 92/PUU-XXII/2024; secondary legal materials consist of books and journal articles on village governance, democracy, accountability, and fiqh siyāsah. Legal materials were collected through document study and source tracing based on relevance, authority, recency, and traceability. They were analyzed through grammatical, systematic, and teleological interpretation, then tested against the principles of amānah, justice, shūrā, maṣlaḥah, accountability, and prevention of mafsadah. The study finds that the shift from six years for a maximum of three terms to eight years for a maximum of two terms reduces maximum cumulative tenure from eighteen to sixteen years but lengthens the interval of electoral accountability. The policy is therefore a conditional maṣlaḥah: its substantive legitimacy depends on effective BPD oversight, periodic performance evaluation, budget transparency, community participation, complaint mechanisms, and enforceable sanctions. These findings formulate a conditional maṣlaḥah test for distinguishing beneficial political stability from a concentration of village power
Pembagian Harta Warisan Bagi Ahli Waris Disabilitas Intelektual Dalam Perspektif Hukum Islam : (Studi Kasus Di Kecamatan Blambangan Pagar Kabupaten Lampung Utara) Jihan Nafisha; Mohammad Yasir Fauzi; Hasanuddin Muhammad
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 14 No. 1 (2025): Maqasid Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqs.v14i1.26105

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum adanya kejelasan mengenai pembagian harta warisan kepada ahli waris penyandang disabilitas intelektual di dalam masyarakat, khususnya di Kecamatan Blambangan Pagar, Kabupaten Lampung Utara. Permasalahan ini penting diteliti karena berkaitan dengan keadilan dalam pewarisan menurut perspektif Hukum Islam. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahuai bagaimana praktik pembagian hartawarisan kepada ahli waris disabilitas intelektual serta bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian Kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dandokumentasi yang dilakukan di Kecamatan Blambangan Pagar, Kabupaten Lampung Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman dalam praktik pembagian warisan dimasyarakat, sebagian mengikuti ketentuan hukum waris islam dengan memberikan bagian kepada ahli waris disabilitas intelektual sesuai dengan haknya, sebagian lain tidak membagikannya dengan alasan ketidakmampuan mengelola harta. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan pemahaman dan penerapan hukum waris islam di masyarakat. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokus kajiannya terhadap perlakuan dalam pembagian warisan bagi penyandang disabilitas intelektual yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam studi hukum waris islam. Kata Kunci: Ahli Waris Disabilitas Intelektual, Hukum Islam, Pembagian HartaWaris.