Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH SUHU UDARA DAN BERAT SAMPEL PADA PENGERINGAN TAPIOKA MENGGUNAKAN PENGERING UNGGUN TERFLUIDAKAN . Suherman; Aprilina Purbasari; Margaretha Praba Aulia
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tapioka di Kabupaten Pati merupakan kategori industri kecil/rumah tangga, yang cukup memeliki potensi ekonomi yang sangat besar. Kendala utama yang dihadapi adalah teknologi proses pengeringan produk. Selama ini proses pengeringan dilakukan dengan menghamparkan tepung di lantai bak penjemuran. Proses pengeringan memerlukan waktu minimal 6 jam, dan apabila mendung atau akan turun hujan, maka produk akan dikumpulkan kembali walaupun masih basah. Hal inilah yang menyebabkan kualitas produk jauh dari standar SNI dan seringkali proses produksi dihentikan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini tepung tapioka dengan kadar air 40% telah dikeringkan menggunakan pengering unggun terfluidakan menjadi tapioka kering dengan kadar air dibawah 14%. Paramater operasi yang diteliti adalah suhu pengeringan (30, 40, dan 60 °C) dan berat tapioka basah (100, 200, dan 250 g). Hasil eksperimen menunjukkkan bahwa tepung tapioka bisa dikeringkan hanya dalam waktu 30 menit dengan suhu 50°C. Kurva pengeringan memperlihatkan adanya periode laju pengeringan konstan di awal pengeringan sampai kadar uap air di padatan 0,3. Semakin tinggi suhu pengeringan, maka laju pengeringan semakin besar dan kandungan air sisa di padatan semakin rendah. Sedangkan, semakin banyak material padatan yang diumpankan, maka laju pengeringan semakin rendah, akan tetapi kandungan air sisa di padatan relatif sama.Kata kunci: pengeringan, tapioka, unggun terfluidakan
PEMISAHAN GINGEROL DARI RIMPANG JAHE SEGAR MELALUI PROSES EKSTRAKSI SECARA BATCH Hargono Hargono; Fitra Pradhita; Margaretha Praba Aulia
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v9i2.920

Abstract

Jahe  mengandung  gingerol  yang  sangat  bermanfaat  dalam industri farmasi dan makanan. Gingerol dapat di gunakan dalam crosslinking pati untuk mengikat-silangkan rantai karbon pada pati sehingga memiliki sifat mendekati gandum. Gingerol di pasaran jarang tersedia, mahal harganya dan berkualitas rendah, sehingga perlu dipelajari metode ekstraksi gingerol untuk menghasilkan gingerol berkualitas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mencari variabel paling berpengaruh dalam ekstraksi gingerol dari rimpang jahe segar dengan menggunakan variabel suhu ekstraksi, berat jahe, dan ukuran partikel jahe, selanjutnya dilakukan optimasi ekstraksi gingerol dari variabel yang paling berpengaruh. Penelitian ini dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut n-hexane dan dilakukan secara batch. Variabel terikat adalah volume n-hexane 300 ml, kecepatan pengadukan 450 rpm, dan waktu ekstraksi 1jam dengan pengambilan sampel setiap 10 menit.Sedangkan variabel berubahnya adalah suhu ekstraksi 50 dan 60 oC. Berat jahe masing-masing 50 dan 75 g; ukuran partikel jahe 10 x 10 x 1 mm; dan 5 x 5 x 1 mm. Prosedur penelitian ini yaitu persiapan awal bahan dengan mencuci dan memperkecil ukuran jahe segar sesuai dengan variabel. Pembuatan kurva standar dimaksudkan untuk analisis gingerol. Analisis gingerol hasil percobaan dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer. Dari hasil penelitian didapat bahwa berat jahe adalah variabel paling berpengaruh dalam ekstraksi gingerol. Kondisi optimum yang di dapat adalah saat berat jahe 75 g, di ekstraksi menggunakan pelarut 300 ml n-hexane menghasilkan gingerol dengan konsentrasi 498 ppm.Kata Kunci: gingerol, crosslinking, rimpang jahe, n-hexane, oleoresin
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI GINGEROL DARI RIMPANG JAHE SEGAR MENGGUNAKAN PELARUT n-HEXANE SECARA BATCH Fitra Pradhita; Margaretha Praba Aulia; H Hargono
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2388.338 KB)

Abstract

Ginger contains gingerol which is very useful in the industry. Gingerol can be used in the crosslinking of starch to crosslinking the carbon chains in the starch. Gingerol on the market are still rare, expensive and of poor quality, so it needs to be studied gingerol extraction method to efficiently generate high-quality gingerol. This study aims to determine the most influential variables between solvent feed ratio, particle size ginger, temperature and look for the optimum operating conditions on the extraction of gingerol from fresh ginger rhizome. This study is planned by the method of factorial design two levels and three independent variables are: temperature (50 and 60 °C), particle size (10x10x1 mm and 5x5x1 mm), solvent feed ratio (1:6 and 1:4 g / ml solvent) . Dependent variable used is the volume of n-hexane 300 ml technical, stirring speed of 450 rpm and extraction time 1hr with sampling every 10 minutes. 3 variables show a positive influence / improve gingerol obtained and solvent feed ratio is the most influential. Optimum conditions in the extraction process is at a temperature of 60 ° C gingerol, 5x5x1 mm particle size, and solvent feed ratio of 1:4 g / ml solvent.
USING CHLORELLA PYRENOIDOSA FERTILIZER FOR CONTROLLING SOIL ACIDITY IN MELON CULTIVATION MARGARETHA PRABA AULIA
INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTI SCIENCE Vol. 1 No. 11 (2021): INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTISCIENCE - FEBRUARY 2021 EDITION
Publisher : CV KULTURA DIGITAL MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Most of the agricultural lands in Indonesia are in the same condition, which is the decrease in soil fertility. Continuous supply of chemical fertilizers causes soil to become nutrient poor, microbial diversity poor, hardened, and not loose. Besides this soil damage is also characterized by acidic soil pH. Soil acidification can cause a decrease in crop yields. This study aims to determine the effect of Chlorella pyrenoidosa microalgae in recovery soil acidity and its effect on rice crop productivity. This research involved laboratory analysis and field analysis. Laboratory analysis was conducted by treating acidic soil using 3 types of treatment, namely treatment using lime, treatment using urea chemical fertilizer, and treatment using Chloten fertilizer (Chlorella pyrenoidosa). Based on the laboratory scale analysis conducted the best results in recovery soil acidity are Chloten fertilizer (Chlorella pyrenoidosa) because it improves soil pH from acid (4,5) to neutral pH (7) which is the optimal pH for soil.
ORGANOLEPTICS TEST FOR MELON CULTIVATION WITH CHLORELLA PYRENOIDOSA MICROAGAE BASED FERTILIZER MARGARETHA PRABA AULIA; RANGGA WARSITA AJI; JUJUK JUHARIAH
INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTI SCIENCE Vol. 1 No. 12 (2021): INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTISCIENCE - MARCH 2021 EDITION
Publisher : CV KULTURA DIGITAL MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melon cultivation is not easy and requires intensive handling because melon plants are sensitive to environmental changes and are susceptible to disease. The use of Chlorella pyrenoidosa microalgae-based fertilizer is one of the breakthroughs that have been made by researchers in helping melon cultivation. This microalgae fertilizer is intended for nutrient fulfillment as well as controlling soil pH. People are still very unfamiliar with the use of this Chlorella Pyrenoidosa microalgae-based fertilizer. It is necessary to carry out further analysis of the use of microalgae Chlorella Pyrenoidosa as fertilizer, especially for use in melon cultivation. The analysis carried out was to see the results of the preference test based on the organoleptic test of the melon itself with the use of Chlorella Pyrenoidosa fertilizer. It is intended that the community, especially melon farmers, can have more knowledge about this microalgae-based organic fertilizer. The feasibility test of the results was carried out by the organoleptic test method on 30 respondents with different age variations on the preferences for melons produced by each treatment. Organoleptic test includes testing of the color, smell, taste, and texture of each melon produced by each treatment. Organoleptic data were analyzed using SPSS using the One Way Anova method and followed by Duncan's analysis. The use of Chlorella Pyrenoidosa microalgae fertilizer did not have a significant difference to the organoleptic test on its use in melon cultivation. This can be used as an option for farmers to use Chlorella Pyrenoidosa microalgae fertilizer as a substitute fertilizer for melon cultivation.
KAJIAN EKSPERIMEN PENGERINGAN TEPUNG TAPIOKA DI PENGERING FLUIDISASI Margaretha Praba Aulia
BAROMETER Vol 3 No 2 (2018): Barometer
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.461 KB) | DOI: 10.35261/barometer.v3i2.1398

Abstract

Tepung tapioka di industri kecil menengah dikeringkan dengan metode konvensional dengan dihamparkan dibawah sinar matahari. Kendala utamanya adalah kecepatan pengeringan rendah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini tepung tapioka dengan kadar air 40 ± 5%  telah dikeringkan menggunakan pengering fluidisasi menjadi tepung tapioka dengan kadar air dibawah 15% (basis basah). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu udara pengering dan masa umpan terhadap kecepatan pengeringan. Parameter operasi yang diteliti adalah suhu pengeringan (40, 50 dan 60°C) dan masa umpan tapioka (100, 200, dan 300 g). Hasil eksperimen menunjukkan adanya periode pengeringan laju konstan sampai kadar uap air padatan 0,4 yang kemudian menunjukkan periode menurun. Semakin tinggi suhu pengering, maka laju pengeringan semakin besar. Sedangkan semakin banyak masa padatan yang diumpankan, maka laju pengeringan semakin rendah.
RESPON KEDELAI HITAM (Glycine max (L) MERRIL) DENGAN INOKULASI MIKORIZA PADA BERBAGAI TARAF PEMUPUKAN ANORGANIK DI TANAH REGOSOL BOYOLALI Dwi Suci Lestariana; Margaretha Praba Aulia
Jurnal Agriovet Vol. 2 No. 1 (2019): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kedelai hitam merupakan tanaman semusim sebagai bahan baku pangan fungsional seperti kecap, yang masih jarang dibudidayakan oleh masyarakat. Petani di Boyolali saat rotasi tanaman di musim kemarau lebih banyak yang menanam jagung dibandingkan kedelai sehingga produksi kedelai di Boyolali lebih rendah dibandingkan jagung. Tantangan budidaya kedelai di Boyolali adalah sebagian besar tanah termasuk jenis regosol yang mempunyai produktivitas rendah karena faktor pembatas dari sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, petani dapat melakukan perbaikan teknik budidaya dengan melakukan aplikasi pupuk hayati seperti mikoriza. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon kedelai hitam dilihat dari parameter pertumbuhan kedelai hitam, hasil kedelai hitam, dan infektivitas mikoriza pada tanah regosol dengan inokulasi mikoriza, pemberian pupuk anorganik NPK dengan berbagai variasi dosis, maupun kombinasi keduanya. Penelitian ini disusun secara faktorial dengan 2 faktor pelakuan, faktor pertama yaitu inokulasi mikoriza yang terdiri dari 2 taraf yaitu M0 (tanpa inokulasi) dan M1 (diinokulasi) dan faktor kedua yaitu aplikasi pupuk anorganik yang terdiri dari 4 taraf yaitu A0 (kontrol) A1 (100% dosis rekomendasi), A2 (75% dosis rekomendasi), A3 (50% dosis rekomendasi), A4 (25% dosis rekomendasi) sehingga didapatkan 10 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam pada taraf 5% jika hasilnya berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Rate Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan M0A3 mempunyai kecenderungan memberikan hasil yang tinggi pada parameter pertumbuhan kedelai hitam, perlakuan M0A4 mempunyai kecenderungan memberikan hasil yang tinggi untuk parameter hasil kedelai hitam, dan terjadinya kompatibilitas antara rhizobium dan mikoriza sehingga mempengaruhi tingkat infektivitas mikoriza dan mampu meningkatkan serapan N dan P pada jaringan kedelai hitam. Kata Kunci : kedelai hitam, mikoriza, rhizobium, pupuk anorganik, regosol Abstract Black soybeans are seasonal crops as functional food such as soy sauce, which is still rarely cultivated by the farmer in Boyolali. Farmers in Boyolali during crop rotation in the dry season planted more corn than soybeans so that soybean production in Boyolali was lower than corn. The challenge of soybean cultivation in Boyolali is that most of the soils are regosols which have low productivity due to the limiting factors of soil physical, chemical and biological characteristics. To improve these conditions, farmers can improve their cultivation techniques by applying biological fertilizers such as mycorrhiza. This study aims to determine the response of black soybeans seen from the parameters of the growth of black soybeans, black soybean yields, and mycorrhizal infectivity in regosol soils with mycorrhizal inoculation, variouse dosage of NPK inorganic fertilizer application, and as well as a combination of both. This research was arranged in factorial with 2 treatment factors, the first factor was mycorrhizal inoculation consisting of 2 levels; M0 (without inoculation) and M1 (inoculated) and the second factor was the application of inorganic fertilizers consisting of 4 levels; A0 (control),A1 (100% recommended dose), A2 (75% recommended dose), A3 (50% recommended dose), A4 (25% recommended dose) so there were 10 treatment combinations and each treatment is repeated 3 times. The results analyzed by analysis of variance at the 5% level if the results were significantly different continued by the Duncan Multiple Rate Test (DMRT) at the 5% level. The results showed that the M0A3 treatment had a tendency to give high value on the growth parameters of black soybeans, the M0A4 treatment had a tendency to give high value for the black soybean yield parameters, and there was compatibility between rhizobium and mycorrhiza thus affecting the level of mycorrhizal infectivity and was able to increase N and P uptake in black soybean tissue. Key words: black soybean, mychorriza, rhizobium, inorganic fertilizer, regosols
Pengaruh Jenis Hara Mikro pada Fermentasi Urin Sapi Sebagai Nutrisi Hidroponik pada Budidaya Selada Merah (Lactuca Sativa Var Red Rapids) susanto santo; Sigit Muryanto; Margaretha Praba Aulia
AGROTECH Research Journal Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.737 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Green House Hidroponik Fakultas Pertanian Universitas Boyolali, Desa Winong, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, pada Bulan Juli 2020 sampai dengan Agustus 2020. Penelitian dilaksanakan kedalam 3 tahap. Tahapan Pertama menyiapkan peralatan, bahan dan proses fermentasi urin sapi dengan MOL buah , 1 lt/10 lt urin ditambah larutan tetes 200 ml dan EM4 100 ml/liter urin. Tahapan kedua membuat nutrisi hidroponik NFT sesuai kebutuhan/perlakuan yang ada. Membuat Nutrisi induk dari urin sapi yang sudah difermentasi sesuai perlakuan sebagai nutrisi hidroponik, dengan memberi pengaya mikro NPK sesuai perlakuan, masing-masing 100 gr/liter urin dan beberapa pupuk mikro sesuai perlakuan 50 g/liter urin. Pembenihan selada merah. Tahapan ketiga menguji kualitas urin sapi hasil fermentasi dan pengkayaan unsur hara sebagai subtrat hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Selada Merah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pupuk mikro sebagai nutrisi pengaya yang paling optimal pada fermentasi urin sapi untuk subtrat hidroponik terhadap pertumbuhan dan hasil selada merah. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor perlakuan jenis pupuk mikro (P) sebagai nutrisi pengaya urin sapi, terdiri atas P1-AB Mix sebagai Kontrol (PABM), P2: Pupuk Mikro M (PM), P3 : Pupuk Mikro MF (PMF), P4 : Mol limbah buah (PMB). Analisis data menggunakan uji F taraf 5% kemudian uji DMR taraf 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.) Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Pada semua parameter pengamatan secara umum AB Mix (PABM) lebih bagus dari pada perlakuan lainya. Dari parameter tinggi tanaman, jumplah daun, panjang akar dan berat segar menunjukkan perbedaan sangat nyata. 2.) Perlakuan parameter AB Mix (PABM) dari parameter tinggi tanaman 25.67 cm, jumplah daun 25.5 helai, bobot segar 106.08 gr/tanaman dan panajang akar 28.793 cm. 3.)Perlakuan Mol buah (PMB) bisa menjadi pengganti nutrisi AB mix pada tanaman hidroponik.
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) Limbah Air Cucian Beras Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Agus Dwi Andita; Sigit Muryanto; Margaretha Praba Aulia
AGROTECH Research Journal Vol 3 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.85 KB) | DOI: 10.36596/arj.v2i2.617

Abstract

Limbah air cucian beras merupakan hasil buangan yang berasal dari proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, limbah air cucian beras mengandung beberapa komposisi seperti Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Mangan, Fosfor, Zat Besi, Nitogen, Magnesium, Kalium dan Kalsium.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) terhadap pengaplikasian konsentrasi pupuk organik cair (POC) fermentasi limbah air cucian beras. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April s/d Agustus 2021. Bertempat di Sidomulyo RT 003 / RW 006 Penggung, Boyolali. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu pemberian pupuk organik cair (POC) fermentasi limbah air cucian beras 5 taraf perlakuan dan 6 ulanganyaitu perlakuan tanpa pemberian pupuk organik cair fermentasi limbah air cucian beras, perlakuan pemberian konsentrasi pupuk organik cair(POC) fermentasi limbah air cucian beras dengan 10 ml/L, 20 ml/L, 30 ml/L dan 40 ml/L. Data hasil pengamatan di analisa dengan menggunakan sidik ragam Anova dan DMRT 5% menggunakan SPSS seri 25.Hasil penelitian menunjukkan pemberian konsentrasi pupuk organik cair fermentasi limbah air cucian beras 40 ml/L secara umum memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan pertumbuhan dan hasil seperti jumlah daun, waktu berbunga, jumlah polong dan bobot segar polong per tanaman. Pengamatan jumlah daun terbanyak yaitu 20,44 helai pada 35 HST, waktu berbunga tercepat yaitu 36,50 HST, jumlah polong per tanaman tertinggi yaitu 4,00 polong per tanaman dan bobot segar polong per tanaman tertinggi yaitu 103,78 gr.
Identifikasi Keragaman Gulma Pada Lahan Pertanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.) Di Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Boyolali Wardani, Diyah Kusuma; Aulia, Margaretha Praba
AGROTECH Research Journal Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/arj.v4i2.1019

Abstract

Cabai menjadi salah satu komoditas pertanian yang diminati oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan gulma pada tanaman budidaya mengakibatkan berbagai kerugian yang akhirnya dapat menurunkan hasil panen. Gulma sebagai pelindung hama dan patogen. Selain itu, gulma juga mengandung allelopati yang mampu meracuni tanaman budidaya. Gulma harus dikendalikan sebaik mungkin agar tidak merugikan petani. Identifikasi keragaman gulma penting untuk mengetahui teknik pengendalian gulma. Penelitian ini menggunakan metode survei. Ada 4 famili dengan 8 spesies gulma yang ditemukan di lahan pertanaman cabai yaitu Eleusine indica, Cynodon dactylon, Borreria laveis, Ageratum conyzoides, Paspalum conjugatum, Echinochloa cruss-galli, Mimosa pudica, dan Eupatorium odoratum. Jenis gulma yang berpotensi untuk pestisida nabati adalah Mimosa pudica dan Ageratum conyzoides. Herbarium kering bermanfaat untuk model pembelajaran. Kata kunci: Gulma, Identifikasi, Keragaman, Allelopati