Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Pertumbuhan Tanaman Cabai Keriting Pada Fase Vegetatif Dengan Pemupukan Berbasis Mikroorganisme Juhariah, Jujuk; Aulia, Margaretha Praba
AGROTECH Research Journal Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/arj.v5i1.1391

Abstract

Boyolali selain terkenal dengan hasil peternakannya juga terkenal dengan hasil pertaniannya, baik itu secara organik maupun konvensional. Tanaman hortikultura merupakan jenis tanaman banyak dibudidayakan terutama komoditas sayuran. Salah satu jenis tanaman hortikultura unggulan Boyolali adalah cabai. Fase vegetatif pertumbuhan tanaman cabai adalah salah satu faktor penunjang berhasilnya budidaya cabai di Boyolali. Untuk mendukung berkembangnya pertanian cabai organik di Boyolali maka perlu adanya suatu penelitian yang bertujuan untuk menganalisis dan mempelajari penggunaan pupuk organik berbasis mikroorganisme pada fase vegetatif tanaman cabai keriting. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah membandingkan dua perlakuan pemupukan dengan pupuk organik cair berbasis mikroorganisme pada fase vegetatif tanaman cabai keriting. Tanaman cabai keriting dalam bedengan diberi perlakuan selang seling setiap bedengannya menggunakan dua jenis pupuk yang berbeda. Kemudian akan diamati pada tujuh hari setelah tanam (HST), 14 HST, 21 HST, 28 HST, dan 35 HST. Adapun parameter yang akan diamati adalah jumlah tanaman hidup dalam satu bedeng, tinggi tanaman, jumlah daun, dan waktu muncul tanda peningkatan fase pertumbuhan dari vegatif ke fase generatif yang ditandai dengan munculnya cabang pertama dan diikuti dengan munculnya bunga. Hasil pengamatan kemudian diuji dengan analisis komparatif dengan dua sampel yang tidak berkorelasi. Hasil penelitian terhadap pertumbuhan tanaman cabe keriting pada fase vegetatif menunjukkan bahwa aplikasi pupuk A dan B tidak berpengaruh nyata di semua parameter, baik itu tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang.
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP KARATERISTIK SERTA UJI KESUKAAN TEH BUNGA TELANG Aulia, Margaretha Praba; Rusmanto, Rusmanto; Agustria, Weni; Mardiansyah, Firman; Juhariah, Jujuk
AGROTECH Research Journal Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/arj.v4i1.926

Abstract

Bunga telang (?Clitoria ternatea?) adalah tumbuhan merambat yang biasa ditemukan di pekarangan atau tepi hutan dan kaya akan kandungan antioksidan. Tanaman telang (Clitoria ternatea) yang digunakan dalam penelitian ini adalah merupakan tanaman telang yang tumbuh subur di pekarangan warga Desa Madumulyo Kabupaten Boyolali. Tanaman telang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, namun belum banyak yang mengetahui tentang manfaat dan potensi bunga telang. Salah satu olahan bunga telang yang bermanfaat adalah sebagai minuman kesehatan. Telang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Pembuatan teh telang sangat dipengaruhi oleh sinar matahari. Karena proses utama yang dilakukan dalam pembuatan teh telang adalah pengeringan. Dalam percobaan ini di ujikan pembuatan teh telang menggunakan tray dryer dengan variasi waktu (t) dan suhu (T). Kadar air yang diharapkan adalah 10% dry base. Pada penelitian ini bunga dikeringkan dengan cara bunga telang segar disortasi, ditimbang dan masing-masing diberikan kombinasi perlakuan yang telah ditentukan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL Faktorial) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu suhu pengeringan dengan cabinet dryer, faktor kedua yaitu lama pengeringan. Faktor pertama adalah suhu dengan, T1 40OC, T2 50oC, T3 60oC. Serta faktor kedua adalah waktu dengan t1 1 jam, t2 2 jam, t3 3 jam. Dari rancangan ini di dapatkan 9 kombinasi perlakuan yang masing-masing perlakuan 2 kali pengulangan sehingga dilakukan 18 kali percobaan. Analisis yang dilakukan adalah kadar air, dan dan warna. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hasil pengeringan dengan hasil terbaik yakni kadar sesuai 15,7% serta warna yang menurut koresponden yang berjumlah 30 orang menjawab pada T3t2. Kata Kunci : Pengeringan, Teh Bunga Telang, Uji hedonik
Microwave-Assisted Extraction of Polysaccharides from Chlorella pyrenoidosa and Its Characterization Aulia, Margaretha Praba; Azis, Muhammad Mufti; Rochmadi, Rochmadi; Budiman, Arief
Indonesian Journal of Chemistry Vol 25, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.103337

Abstract

This study explored an efficient method for extracting polysaccharides from Chlorella pyrenoidosa using microwave-assisted extraction (MAE) with water as the solvent, a technique consistent with green chemistry principles. The goal was to enhance the yield and quality of polysaccharides for their potential applications as multifunctional active ingredients in the pharmaceutical and functional food industries. Key extraction parameters, including extraction time (10, 20, and 30 min), temperature (80 °C), and solid-to-liquid ratios (1:20, 1:30, 1:40 m/v), were systematically evaluated. The results indicated that a solid-to-liquid ratio of 1:40 m/v at 80 °C for 10 min yielded the highest polysaccharide content (56.64%). FTIR analysis confirmed the presence of pyranose rings in D-glucose and hydroxyl groups, while HPLC identified D-mannose (58.12%) as the predominant sugar, followed by D-glucose (34.46%), D-galactose (3.61%), and L-rhamnose (3.81%). Purified polysaccharide was composed of major mannose and glucose, a biomolecule very important given that it has wide applications in medical and food industries.
Microwave-Assisted Extraction (MAE) Untuk Pengambilan Protein dari Chlorella pyrenoidosa Khairun Nisa, Anis; Aulia, Margaretha Praba
AGROTECH Research Journal Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Microwave-Assisted Extraction (MAE) merupakan metode inovatif untuk pengambilan protein dari mikroalga Chlorella pyrenoidosa, yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berbagai manfaat kesehatan. Chlorella pyrenoidosa, yang termasuk dalam kelompok Chlorophyta, memiliki potensi sebagai sumber protein berkelanjutan dan efisien, dengan kandungan protein mencapai 50-60% dari berat keringnya. Namun, proses ekstraksi protein dari mikroalga ini menghadapi tantangan karena dinding sel yang kaku dan ketahanan terhadap pelarut konvensional. Microwave-Assisted Extraction (MAE) menggunakan radiasi gelombang mikro untuk memfasilitasi pelepasan protein intraseluler dengan cara memanaskan secara merata, yang mengurangi degradasi termal dan mempertahankan fungsionalitas protein. Penelitian menunjukkan bahwa Microwave-Assisted Extraction (MAE) dapat meningkatkan hasil dan kemurnian protein hingga 40-50% dibandingkan metode konvensional, serta mengurangi waktu ekstraksi hingga 50%. Meskipun terdapat tantangan dalam pengaturan parameter proses dan biaya investasi awal, prospek penggunaan MAE dalam ekstraksi protein dari Chlorella pyrenoidosa sangat menjanjikan, terutama dalam memenuhi permintaan akan sumber protein nabati yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi ekstraksi dan mengeksplorasi aplikasi Microwave-Assisted Extraction (MAE) dalam industri pangan dan nutrisi.
RESPON KEDELAI HITAM (Glycine max (L) MERRIL) DENGAN INOKULASI MIKORIZA PADA BERBAGAI TARAF PEMUPUKAN ANORGANIK DI TANAH REGOSOL BOYOLALI Dwi Suci Lestariana; Margaretha Praba Aulia
Jurnal Agriovet Vol. 2 No. 1 (2019): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kedelai hitam merupakan tanaman semusim sebagai bahan baku pangan fungsional seperti kecap, yang masih jarang dibudidayakan oleh masyarakat. Petani di Boyolali saat rotasi tanaman di musim kemarau lebih banyak yang menanam jagung dibandingkan kedelai sehingga produksi kedelai di Boyolali lebih rendah dibandingkan jagung. Tantangan budidaya kedelai di Boyolali adalah sebagian besar tanah termasuk jenis regosol yang mempunyai produktivitas rendah karena faktor pembatas dari sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, petani dapat melakukan perbaikan teknik budidaya dengan melakukan aplikasi pupuk hayati seperti mikoriza. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon kedelai hitam dilihat dari parameter pertumbuhan kedelai hitam, hasil kedelai hitam, dan infektivitas mikoriza pada tanah regosol dengan inokulasi mikoriza, pemberian pupuk anorganik NPK dengan berbagai variasi dosis, maupun kombinasi keduanya. Penelitian ini disusun secara faktorial dengan 2 faktor pelakuan, faktor pertama yaitu inokulasi mikoriza yang terdiri dari 2 taraf yaitu M0 (tanpa inokulasi) dan M1 (diinokulasi) dan faktor kedua yaitu aplikasi pupuk anorganik yang terdiri dari 4 taraf yaitu A0 (kontrol) A1 (100% dosis rekomendasi), A2 (75% dosis rekomendasi), A3 (50% dosis rekomendasi), A4 (25% dosis rekomendasi) sehingga didapatkan 10 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam pada taraf 5% jika hasilnya berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Rate Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan M0A3 mempunyai kecenderungan memberikan hasil yang tinggi pada parameter pertumbuhan kedelai hitam, perlakuan M0A4 mempunyai kecenderungan memberikan hasil yang tinggi untuk parameter hasil kedelai hitam, dan terjadinya kompatibilitas antara rhizobium dan mikoriza sehingga mempengaruhi tingkat infektivitas mikoriza dan mampu meningkatkan serapan N dan P pada jaringan kedelai hitam. Kata Kunci : kedelai hitam, mikoriza, rhizobium, pupuk anorganik, regosol Abstract Black soybeans are seasonal crops as functional food such as soy sauce, which is still rarely cultivated by the farmer in Boyolali. Farmers in Boyolali during crop rotation in the dry season planted more corn than soybeans so that soybean production in Boyolali was lower than corn. The challenge of soybean cultivation in Boyolali is that most of the soils are regosols which have low productivity due to the limiting factors of soil physical, chemical and biological characteristics. To improve these conditions, farmers can improve their cultivation techniques by applying biological fertilizers such as mycorrhiza. This study aims to determine the response of black soybeans seen from the parameters of the growth of black soybeans, black soybean yields, and mycorrhizal infectivity in regosol soils with mycorrhizal inoculation, variouse dosage of NPK inorganic fertilizer application, and as well as a combination of both. This research was arranged in factorial with 2 treatment factors, the first factor was mycorrhizal inoculation consisting of 2 levels; M0 (without inoculation) and M1 (inoculated) and the second factor was the application of inorganic fertilizers consisting of 4 levels; A0 (control),A1 (100% recommended dose), A2 (75% recommended dose), A3 (50% recommended dose), A4 (25% recommended dose) so there were 10 treatment combinations and each treatment is repeated 3 times. The results analyzed by analysis of variance at the 5% level if the results were significantly different continued by the Duncan Multiple Rate Test (DMRT) at the 5% level. The results showed that the M0A3 treatment had a tendency to give high value on the growth parameters of black soybeans, the M0A4 treatment had a tendency to give high value for the black soybean yield parameters, and there was compatibility between rhizobium and mycorrhiza thus affecting the level of mycorrhizal infectivity and was able to increase N and P uptake in black soybean tissue. Key words: black soybean, mychorriza, rhizobium, inorganic fertilizer, regosols