Mutu pendidikan nasional merupakan prasyarat utama pembangunan sumber daya manusia (SDM), namun berbagai indikator menunjukkan bahwa investasi dan reformasi kebijakan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan capaian belajar dan daya saing lulusan. Artikel ini bertujuan mengkaji kesenjangan antara idealisme kebijakan mutu pendidikan, terutama Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam, dengan realitas input pendidikan dan kapasitas implementasi di satuan pendidikan. Penelitian menggunakan metode integrative literature review dengan analisis dokumen dan analisis tematik terhadap regulasi, laporan resmi, serta publikasi ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, rendahnya capaian PISA dan posisi pembangunan manusia Indonesia mengindikasikan bahwa persoalan mutu tidak dapat dipahami hanya sebagai masalah kurikulum, melainkan sebagai masalah ekosistem pendidikan. Kedua, implementasi pedagogi progresif terhambat oleh ketimpangan input berupa kesejahteraan guru, kompetensi pedagogik, fasilitas pembelajaran, kemiskinan peserta didik, dan beban administrasi. Ketiga, melalui Teori Modal Manusia, Teori Sistem Sosial, dan Teori Implementasi Kebijakan, reformasi pembelajaran hanya akan efektif apabila diikuti penguatan input, lingkungan, dan tata kelola implementasi. Artikel ini menawarkan model sintesis bahwa kualitas SDM merupakan hasil interaksi antara investasi pendidikan, keseimbangan sistem, dan kapasitas eksekusi kebijakan. Implikasi kebijakan menuntut prioritas pada pemerataan fasilitas, perlindungan dan pengembangan profesi guru, penyederhanaan administrasi, serta pembiayaan berbasis kebutuhan satuan pendidikan.