Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Terhadap Kinerja Penyuluh Pertanian di Provinsi DKI Jakarta Ayu Puspita Sari; Sugihardjo; Widiyanto
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 2 No. 06 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.501 KB) | DOI: 10.59141/jiss.v2i06.319

Abstract

COVID-19 pertama kali ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada Februari 2020 dan setidaknya sudah menyebar ke 124 negara di dunia. COVID-19 masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020, kemudian menyebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia. Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia diprediksi akan mempengaruhi eksistensi sektor pertanian apabila perkembangannya semakin meluas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis kinerja penyuluh pertanian di Provinsi DKI Jakarta selama diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar; (2) Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian di Provinsi DKI Jakarta selama diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar; (3) Mengetahui pengaruh antara faktor internal dan eksternal penyuluh pertanian terhadap kinerja penyuluh pertanian selama diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif dengan eksplanatori. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) yaitu di Provinsi DKI Jakarta. Metode pengambilan sampel ditentukan dengan teknik sensus. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja penyuluh pertanian di Provinsi DKI Jakarta selama diberlakukannya PSBB berada pada kategori baik dengan pelaksanaan dalam kategori cukup dan evaluasi dan pelaporan dalam kategori sangat baik. Kinerja penyuluh pertanian Provinsi DKI Jakarta dipengaruhi oleh umur, masa kerja, pendidikan, pelatihan, ketersediaan sarana prasarana, dan kondisi lingkungan kerja sebesar 52,5%.
Bahasa Inggris: Bahasa Indonesia Moh Rizwan Rizal; Sugihardjo Sugihardjo; Putri Permatasari
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): Juni, 2023
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of rice which is quite well-known in Klaten Regency is the rojolele srinuk rice variety. The rojolele srinuk rice variety has become the identity of Klaten Regency because it has its own characteristics and features a fluffier, savory and fragrant taste compared to other rices. The existence of the rojolele srinuk rice variety can motivate rice farmers in Klaten Regency to cultivate it. The motivation of rice farmers in Klaten Regency can be formed because there are factors that influence it, such as being able to increase income and have the convenience of obtaining seeds of the Rojolele Srinuk variety of rice. Therefore, it is necessary to conduct research on the motivation of farmers in cultivating the rojolele srinuk rice variety in Klaten Regency. This study aims to 1) Assess the motivation level of farmers in cultivating the Rojolele Srinuk variety of rice in Klaten Regency. 2) Knowing the factors forming the motivation of farmers in cultivating Rojolele Srinuk variety rice in Klaten Regency. 3) Analyzing the relationship between the forming factors of motivation and the motivation level of farmers in cultivating the Rojolele Srinuk variety of rice in Klaten Regency.
Analisis faktor dan persepsi pemuda desa terhadap pekerjaan petani Cahyo Bagus Tri Nugroho; Sugihardjo; Putri Permatasari; Sapja Anantanyu
Journal of Agrosociology and Sustainability Vol. 1 No. 1: (July) 2023
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/jassu.v1i1.2023.58

Abstract

Pekerjaan petani merupakan menjadi mata pencaharian utama di pedesaan. Mata pencaharian petani didominasi oleh orang tua lebih dari 50 tahun termasuk di Kecamatan Sumberlawang. Mayoritas penduduk Kecamatan Sumberlawang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 14.122 jiwa, angka tersebut paling tinggi dibandingkan mata pencaharian lain. Namun taraf hidup dan luas lahan pertanian tidak terkait dengan minat pemuda desa, oleh sebab itu mereka cenderung bekerja di kota setelah tamat sekolah. Ketidaktertarikan bekerja di desa disebabkan kurangnya minat pada profesi pertanian. Di Sumberlawang memiliki prosentase 18,89% pemuda berusia 15-29 tahun, jumlah yang cukup besar dan dapat bermanfaat bagi keberlangsungan pertanian jika pemuda tersebut tidak pindah ke kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk persepsi kaum muda tentang pekerjaan pertanian dan persepsi kaum muda tentangnya. Partisipan dalam penelitian ini adalah pemuda berusia 15 hingga 29 tahun. Sampel sebanyak 98 pemuda diambil dengan menggunakan metode proporsional random sampling. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengAnalisis data menggunakan  software program IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor berikut mempengaruhi persepsi kaum muda tentang pekerjaan pertanian: pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman pribadi, akses informasi, dan kosmopolitan. Persepsi pemuda baik tentang pendapatan, sedangkan persepsi tentang pensiun netral, persepsi tidak baik, terutama kebanggaan petani, pengembangan karir, persepsi buruk terhadap pertanian.
PENINGKATAN KAPASITAS KEGEMPAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM DESA TANGGUH BENCANA Fadlurrahman Fiqi Salman; Kusnandar Kusnandar; Sugihardjo Sugihardjo
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.16955

Abstract

Abstrak: Gempa bumi tidak seperti bencana alam lainnya yang dapat diprediksi, namun manusia dapat mengurangi risiko bencana melalui Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Program PRB yang berlaku di Indonesia saat ini adalah Program Desa Tangguh Bencana (Destana). Desa Santong Mulia memiliki beberapa masalah bencana yaitu tingkat risiko gempa bumi tinggi, tingkat kerugian tinggi terhadap gempa bumi, termasuk 17 desa dengan indeks kerentanan sosial tinggi, dan tingkat kapasitas ketangguhan rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kegempaan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) melalui program destana, agar memiliki kapasitas serta kemandirian dalam penanggulangan bencana tingkat desa. Mitra pengabdian masyarakat adalah TSBD Santong Mulia berjumlah 20 orang. Metode yang digunakan adalah sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Evaluasi peningkatan pengetahuan kegempaan melalui pemberian pre-test dan post-test. Hasil evaluasi terdapat peningkatan pengetahuan mitra sebesar 45%. Hasil wawancara dan observasi ditemukan perubahan kapasitas Masyarakat pada aspek sumber pengetahuan bencana, paradigma penanggulangan bencana, pengetahuan bencana dan PRB, dokumen penanggulangan bencana desa, dan pelaksanaan PRB tingkat desa.Abstract: Earthquakes are not like other predictable natural disasters, but humans can reduce disaster risks through Disaster Risk Reduction (DRR). The DRR program in Indonesia is Disaster Resilient Village, as known as Desa Tangguh Bencana (Destana). Santong Mulia Village has disaster-related problems, namely a high level of earthquake risk, a high level of loss to earthquakes, 17 villages with a high social vulnerability index, and a low level of resilience capacity. This community service activity aims to improve knowledges, attitudes, and skills of the Disaster Preparedness Team as known as Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), through the Destana Program. The participant is TSBD Santong Mulia with 20 people. The methods were socialization, training, and mentoring. The evaluation of knowledge improvement was carried out through giving pre and posttest. The participant knowledge was increased by 45%. The capacity level has changed such as disaster knowledge sources, disaster management paradigms, disaster and DRR knowledge, disaster management documents, and village-level DRR implementation.
Peran Penyuluh sebagai Agent of Change dalam Adopsi Inovasi Padi Rojolele Srinuk Sandra Mega Prestiana; Dwiningtyas Padmaningrum; Sugihardjo Sugihardjo
JIA (Jurnal Ilmiah Agribisnis) : Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Vol. 8 No. 3 (2023)
Publisher : Department of Agribusiness, Halu Oleo University Jointly with Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37149/jia.v8i3.621

Abstract

Introducing Rojolele Srinuk rice variety, an innovation from the Klaten Regency Government, and Delanggu Village is one of the villages targeted for developing these varieties. It is inseparable from the role of agricultural extension workers as agents of change in the process of adoption by farmers. As someone on behalf of the government, the agricultural extension worker is obligated to influence the decision-making process to restore Rojolele's existence in Delanggu Village. This study aimed to analyze the role of agricultural extension workers as agents of change and identify internal agents of change who play a role in adopting the Rojolele Srinuk rice innovation in Delanggu Village. The research method used in this research is a descriptive qualitative method—data collection technique with in-depth interviews with 12 informants, observation, and document study. The results showed that: 1) the role of an extension worker as the agent of change in the adoption of Rojolele Srinuk rice innovations includes: a) developing awareness of the target that needs change; b) establishing an information exchange relationship; c) to diagnose target problems; d) to create an intent to change in the target; f) to create an intent into action; g) to stabilize adoption and prevent discontinuance; h) to achieving change targets and ending dependency relationships. 2) The role of agricultural extension workers as agents of change has been good and quite good in establishing an information exchange relationship. 3) There are internal change agents in the social system who have a more significant effort in adopting Rojolele Srinuk rice innovations in persuasion and marketing.
The Role of Coastal Women’s Empowerment in Achieving The Success of SDGs: A Study on The Kebaya Group, Bekasi Rahadiyand Aditya; Suryo Ediyono; Sugihardjo Sugihardjo
Prosperity: Journal of Society and Empowerment Vol 3, No 2 (2023): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/prosperity.v3i2.18192

Abstract

Land conversion has occurred in the coastal area of Kampung Beting, Pantai Bahagia Village, Bekasi Regency. What used to be a mangrove plantation has transformed into spaces for fish and shrimp ponds. This phenomenon took place from 2001 to the early 2010s. The promise of lucrative income led the community to compete in changing land use without considering the potential consequences. After 2011, the community gradually began to feel the negative impacts of this land conversion. To this day, the entire area that was once used for ponds has turned into the sea, causing the community to lose their livelihoods. Furthermore, not only have they lost their livelihoods, but they have also been confronted with land degradation, which threatens their sustainability. This study examines how coastal women's empowerment activities can contribute to sustainable development. The research employs a phenomenological approach, and data is collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that Coastal Women's Empowerment Contributes to Sustainable Goals in Climate Change Mitigation, Gender Equality, and Poverty Alleviation. In climate change mitigation activities, there are two key activities: 1) the development of women's behavior in efforts to improve and rehabilitate critical lands, and 2) women's involvement in the maintenance of mangrove trees. In gender equality activities, there is one main activity: 1) active participation of women in productive economic activities, allowing coastal women in Pantai Bahagia Village to have regular activities beyond their domestic responsibilities. The focus of poverty alleviation activities is 2) increasing income by utilizing non-timber mangrove products for food processing and crafts.
Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata Sendang Wonogiri Gilang Fadhilah Apriddisa Rasundawa; Sapja Anantanyu; Sugihardjo Sugihardjo
Eastasouth Journal of Impactive Community Services Vol 4 No 02 (2026): Eastasouth Journal of Impactive Community Services (EJIMCS)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/ejimcs.v4i02.550

Abstract

Salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan desa wisata. Pokdarwis Sendang Pinilih di Desa Wisata Sendang berperan dalam penggalian dan pengembangan potensi wisata yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran Pokdarwis Sendang Pinilih dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Sendang serta mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat Pokdarwis Sendang Pinilih dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Sendang. Penelitian ini menggunakan metode dasar penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peran Pokdarwis Sendang Pinilih dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Sendang yaitu sebagai motivator, fasilitator/penggerak, dan komunikator. Peran sebagai motivator dilakukan dengan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat Desa Sendang, peran sebagai fasilitator/penggerak dilakukan dengan memberikan fasilitas kepada masyarakat Desa Sendang melalui pelatihan dan pelibatan dalam paket-paket wisata, dan peran sebagai komunikator dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan masyarakat Desa Sendang dan pengunjung wisata. Faktor pendukung Pokdarwis Sendang Pinilih dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Sendang adalah potensi wisata yang dimiliki Desa Sendang, antusiasme masyarakat, serta dukungan dan kebijakan Pemerintah Desa Sendang serta faktor penghambatnya adalah anggaran dan sumber daya manusia Pokdarwis Sendang Pinillih serta masyarakat.
Community Empowerment in The Economic Field of Fish Farmers in The Corporate Social Responsibility Program Rudy Kurniawan; Ravik Karsidi; Sapja Anantanyu; Sugihardjo Sugihardjo
Journal of The Community Development in Asia Vol 5, No 2 (2022): May 2022
Publisher : AIBPM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32535/jcda.v5i2.1494

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the concept of Corporate Social Responsibility (CSR) in PT. Multi Dimensi Kreasi (MDK), reviewing the implementation of PT. MDK's CSR program, formulating a model for empowering fish farmers and assessing the success of empowering fish farmers in the Bokesan, Sindumartani Village, Sleman, Yogyakarta. The research method is qualitative. The sampling technique used was purposive sampling, snowball sampling, and Forum Group Discussion (FGD). Data collection techniques consist of interviews, observation, and documentation. The data validation technique used is triangulation. The data analysis technique uses an interactive model. The results of the study concluded that the CSR in PT. MDK is done by applying the innovation concept of Micro Bubble Generator (MBG), the CSR Implementation is carried out with the principles of empowerment, and the empowerment model, namely Intensification of aquaculture with MBG innovation, Stages of empowerment, including awareness, capacity, and empowerment, Community empowerment in the economic sector through PT. MDK's CSR program for fish farmers is quite successful.Keywords: Community Empowerment, Economy, Corporate Social Responsibility, Micro Bubble Generator.