Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Pendidikan Nonformal

Model Kepemimpinan Kolektif Pesantren Studi Kasus Pada Pesantren Al-Adzkiya’ Nurus Shofa Karang Besuki Kecamatan Sukun Kabupaten Malang Norma Sholihah; Rezka Arina Rahma
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 15, No 2 (2020): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v15i2p64-73

Abstract

AbstrakPondok pesantren merupakan salah satu lembaga di jalur nonformal yang berbasis keagamaan dengan mempelajari nilai-nilai keislaman. Di dalam pesantren diterapkan model kepempimpinan untuk mengelola seluruh kegiatan yang ada. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji model kepemimpinan kolektif di pesantren. Lokasi penelitian adalah di Pesantren Al-Adzkiya’ Nurus Shofa Karang Besuki Kecamatan Sukun Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data pada penelitian ini menggunakan model interaktif dari Miles and Huberman. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa (1) Peran para pemimpin kolektif yang ada di pondok pesantren meliputi: berusaha menjalankan visi dan misi, menyusun struktur kepengurusan, menggerakkan para santri, mengambil sebuah keputusan, dan bertanggung jawab di berbagai kegiatan pondok; (2) Kepemimpinan kolektif dalam proses pengambilan keputusan mencakup identifikasi masalah, mendefinisikan masalah pada forum, mengumpulkan ide dan gagasan,  memilih solusi yang paling tepat untuk memutuskan, dan memberikan hasil putusan yang sudah disepakati oleh para ketua pondok atau pemimpin kolektif yang ada di Pondok Pesantren Anshofa; (3) Faktor kepemimpinan kolektif dipengaruhi oleh faktor pendukung secara internal meliputi kiai dan santri, sedangkan secara eksternal berupa sarana dan prasarana. Sedangkan faktor penghambat adalah kurangnya komunikasi, adanya santri yang kurang taat, dan stigma dari masyarakat. AbstractIslamic boarding schools are one of the non-formal institutions based on religion by studying Islamic values. In the pesantren, a leadership model is applied to all existing activities. The purpose of this analysis is to examine the collective leadership model in pesantren. The research location is Pesantren Al-Adzkiya’ Nurus Shofa Karang Besuki, Sukun District, Malang Regency. The method used in this research is qualitative with a case study approach. The research used data interview techniques such as interviews, observation, and document study. Data analysis in this study used an interactive model from Miles and Huberman. The results of the study indicate that (1) the role of collective leaders in the Islamic boarding school includes: trying to carry out the vision and mission, compiling the management structure, mobilizing the students, making decisions, and being responsible for various activities of the boarding school; (2) collective leadership in the decision-making process includes problems, defining problems in the forum, collecting ideas and ideas, choosing the most appropriate solution to decide, and providing the results of decisions that have been agreed upon by the head of the boarding school or collective leaders in Pondok Pesantren Anshofa; (3) the leadership factor is built by supporting factors internally including Kiai and students, while externally in the form of facilities and infrastructure. In comparison, the inhibiting factors are the lack of communication, the presence of disobedient students, and the stigma from society.
PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 33 KOTA MALANG Lailatul Magfiroh; Ellyn Sugeng Desyanty; Rezka Arina Rahma
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 14, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v14i1p54-67

Abstract

Abstract: The Character is not born based on descent, but throughout the process of the character education which starts from early childhood. The phenomenon which occurs in ABA Kindergarten 33 is when the researcher come to the institute, the researcher see that the children can take a line behind their friends and  accompanied by the teachers, thus the researcher  interested to do the research about the formation of  thedisciplin  character in ABA 33 kindergarten through the habituation method. The purpose of the research is for: (1) to describe the process of the formation of the discipline character through the habituation methods in ABA 33 kindergarten; (2) to describe the behavior which showed by the children after they get the habituation; and (3) to find out the supporting  and inhibitors factors in ABA 33 kindergarten. The research method which used by the researcher that is qualitative method. The research uses data collection technique, through observation, interview, documentation studies. The subject which are use in this research are teacher, cleanness employee, learners. There are three data analysis techniques which used that is: (1) data reduction; (2) data display; and (3) drawing conclusionAbstrak: Hasil penelitian menunjukkan bahwa di TK Aisyiyah Bustanul athfal 33 melakukan pembentukan karakter disiplin melalui metode pembiasaan, hasil dari temuan penelitian tentang proses pembentukan karakter disiplin anak usia dini melalui metode pembiasaan adalah: (1) guru membiasakan anak untuk datang tepat waktu; (2) guru membiasakan anak untuk mengembalikan barang ke tempat semula; (3) guru membiasakan anak untuk membereskan mainan setelah bermain di dalam kelas; (4) guru membiasakan anak untuk bersabar dan tertib dalam menunggu giliran cuci tangan; dan (5) petugas kebersihan membiasakan anak untuk mengantri ketika ke kamar mandi.  Pembiasaan yang dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 33 tidak hanya pembiasaan melalui ucapan atau kata motivasi saja, namun pembiasaan melalui perilaku juga dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 33, perilaku yang ditunjukkan oleh anak setelah mendapatkan pembiasaan dari guru yaitu: (1) anak datang tepat waktu, akan tetapi ada beberapa anak yang belum bisa datang tepat waktu, hal ini mengacu pada jumlah anak yang terlambat setiap hari mengalami naik turun; (2) anak mengembalikan barang yang telah digunakan pada tempatnya, hal ini ditunjukkan dengan kesadaran anak mengembalikan barang yang telah digunakan pada tempatnya tanpa diminta oleh guru, baik itu mainan ataupun alat tulis; (3) tertib dalam menunggu giliran, hal ini di tunjukkan dengan kesadaran anak berbaris di belakang temanya ketika cuci tangan tanpa didampingi oleh guru. Faktor pendukung pembentukan karakter disiplin di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 33 yaitu adanya contoh dari pendidik, dan konsistensi yang dilakukan pendidik. Faktor yang menghambat pembentukan karakter disiplin di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 33 yaitu ada beberapa orang tua yang tidak peduli dengan perkembangan anaknya,dan tidak adanya kerja sama antara orang tua dan sekolah, dan kematangan usia anak juga mempengaruhi pembentukan karakter disiplin anak usia dini di TK ABA 33
Konstruksi Model Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Kesetaraan Berbasis Keswadayaan Oleh PKBM Di Kabupaten Malang Moh Ishom; Kukuh Miroso Raharjo; Rezka Arina Rahma
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 15, No 1 (2020): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v15i1p45-51

Abstract

AbstrakTujuan penelitian mendeskrisikan pola manajemen penyelenggaraan Kejar Paket C Swadana dengan dana yang terbatas. Penelitian  menggunakan rancanagn  penelitian studi kasus, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan wawancara dan FGD, dan dianalisis dengan metode analisis interaktif (Miles Hubermans, 1992). Temuan penelitian ini adalah : (a) pengelola PKBM memiliki semangat yang luar biasa dalam mengawali program kejar paket C, dengan biaya sendiri, (b) sambil melakasanakan pogram PKBM mengembangkan program PNF lainnya, (c) Dengan biaya yang diangsur oleh warga belajar mampu mendorong semangat warga belajar paket C, (d) mulai tahun 2016 PKBM telah behasil meluluskan warga belajar Paket C, dan (e) pada tahun 2018 mulai mendapakan BOP Paket C hingga saat ini. AbstractThe purpose of the study is to describe the management pattern of organizing the Swadana Package C Chase with limited funds. Research uses a case study research design, using a qualitative approach. Data were collected by interview and FGD, and analyzed by interactive analysis methods (Miles Hubermans, 1992). The findings of this study are: (a) the manager of PKBM has an extraordinary enthusiasm in initiating a program Paket C, at their own expense, (b) while carrying out the PKBM program developing other PNF programs, (c) With the installments paid by the learning citizens able to encourage the enthusiasm of the citizens to learn Paket C, (d) starting in 2016 PKBM has succeeded in graduating residents to learn Package C, and (e) in 2018 began getting BOP Paket C to date
Komponen Pembelajaran pada Transfer Pengetahuan Pewarisan Bisnis Keluarga Industri Pandai Besi Choiro, Umu Da'watul; Rahma, Rezka Arina
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 18, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v18i12023p36-44

Abstract

Blacksmithing is a life skill based on local wisdom to support people's lives. Transfer of knowledge in the blacksmith industry takes place informally through learning while working. The purpose of this study was to determine the learning components of the blacksmith's knowledge transfer. This research uses a qualitative case study approach with interview and observation methods. The learning components in the knowledge transfer of the blacksmith industry include panjak as students, masters and senior panjak as educators. The aim of learning is to produce panjaks that master a series of skills ranging from basic, intermediate, to advanced skills, as provisions for work and even the skills of trying to open their own pande. The media used are the same as the equipment and materials for the production process. Pande and the master's house as a place to study. Study time is the same as pande production time. Learning methods include nuntui, nuturi, practice and question and answer. Evaluation of learning in the learning process runs naturally through observations of panjak performance.