Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Flourishing Journal

Problematika Perilaku Merokok pada Remaja: Perspektif Psikologi Sosial Sheni Oktriacita Nurmawadah; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.936 KB) | DOI: 10.17977/um070v1i62021p488-497

Abstract

Abstract: Smoking behaviour is often encountered among the society. Although there have been many warnings about the dangers of smoking, there are still many people who choose to become active smokers. In order to review this issue, the author uses the literature review method. In the perspective of social psychology, there are several causes of smoking behaviour, especially in adolescents, such as motivation and expectations, fears, perceptions, and expectations of self-efficacy. In addition, unhealthy behaviour such as smoking can also be influenced by the concept of initiation and implementation of behaviour. Social psychology can also play a role in reducing smoking behaviour among adolescents. There are 2 ways that can be applied. First is by displaying advertisements and second by framing the messages/advertisements shown. This framing includes positive framing and negative framing. Keywords: smoking behavior; adolescent; psychology Abstrak: Perilaku merokok seringkali kita jumpai di lingkungan sekitar. Meskipun sudah banyak peringatan tentang bahaya merokok, tetapi masih banyak orang yang memilih menjadi perokok aktif. Banyak data yang menunjukkan bahwa perokok terus meningkat di setiap tahunnya. Padahal, dampak negatif merokok sangat besar. Baik bagi perokok itu sendiri, maupun bagi orang di sekitarnya. Mulai dari penyakit ringan hingga penyakit kronis yang dapat menyebabkan kematian. Penulis menggunakan metode review literatur dalam mengkaji problematika ini. Dalam perspektif psikologi sosial, terdapat beberapa penyebab perilaku merokok, khususnya pada remaja, seperti, motivasi dan harapan, ketakutan, persepsi, serta harapan efikasi diri. Selain itu, perilaku tidak sehat seperti merokok juga dapat dipengaruhi oleh konsep inisiasi dan implementasi perilaku. Psikologi sosial juga dapat berperan untuk membantu mengurangi perilaku merokok pada remaja. Ada 2 cara yang dapat diterapkan. Pertama, dengan menampilkan iklan yang relevan dan yang kedua, dengan melakukan framing terhadap pesan atau iklan yang akan ditampilkan. Framing ini meliputi framing positif dan framing negatif. Kata kunci: perilaku merokok; remaja; psikologi
Kesepian di Masa Pandemi Covid-19: Peran Welas Diri sebagai Prediktor Wahyu Eka Febriliyani; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p267-277

Abstract

AbstractThis study aims to determine whether self-compassion is a predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic. This research is a correlational-quantitative research. The population in this study were students, with a convenience sampling technique of sampling. The research subjects in this study amounted to 67 students in the city of Malang. The data collection method used 2 questionnaires, namely the R-UCLA Loneliness Scale Version 3 to measure loneliness and the Self-Compassion Scale (SWD) to measure self-compassion. This study uses simple linear regression data analysis. The results of this study indicate that self-compassion is a significant predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic (p=0,000 < 0,05) and contribute 16% to the loneliness (R2=0,16). Thus, it can be concluded that the higher the level of self-compassion an individual has, the lower the level of loneliness he feels. This research recommends the importance of developing self-compassion in individuals to reduce feelings of loneliness due to the COVID-19 pandemic situation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah welas diri merupakan prediktor dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa, dengan teknik sampling convenience sampling. Subjek penelitian pada penelitian ini berjumlah 67 mahasiswa di Kota Malang. Metode pengambilan data menggunakan 2 kuesioner yaitu R-UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur kesepian dan Skala Welas Diri (SWD) untuk mengukur welas diri. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa welas diri merupakan prediktor yang signifikan dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19 (p=0,000 < 0,05) dan berkontribusi sebesar 16% (R2=0,16). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat welas diri yang dimiliki individu, maka tingkat kesepian yang ia rasakan akan semakin rendah. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya mengembangkan welas diri pada diri individu untuk mengurangi rasa kesepian akibat situasi pandemi COVID-19.
Perilaku Help-Seeking Layanan Kesehatan Mental: Perspektif Teori Social Learning Alifatus Sholeha Putri; Savira Rana Labiba; Titik Yulita Sari; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p330-337

Abstract

68% of Indonesians who underwent examinations experienced psychological problems such as anxiety. The concern is the low response of individuals seeking help from mental health services. The writing purpose of this article is to find out why people with mental disorders feel comfortable talking about the mental problems they face with individuals who are not professionals. The literature review used in this article. It is hoped that using this method will produce an answer to the question in the phenomenon that is being raised through previous sources that cannot be produced from other research methods. The result was found that there were at least 5 reasons, namely social stigma in society, lack of understanding about mental health, fear, lack of access to psychologists, and the costs incurred. As a result, individuals experience psychological distress, which results in reluctance to seek professional help. To overcome this problem, efforts can be made to reduce the stigma that appears in society by providing a sense of security to someone who needs help with mental health services and maximizing the role of the media to highlight developments in science about mental awareness so that they can be more aware of themselves. AbstrakSebanyak 68 % masyarakat Indonesia yang melakukan pemeriksaan, mengalami masalah psikologis seperti cemas. Namun, yang menjadi perhatian ialah rendahnya respon individu untuk mencari bantuan layanan kesehatan mental. Tujuan dari adanya penulisan artikel ini ialah untuk mengetahui dan mengkaji alasan apa yang mendasari penderita gangguan mental lebih nyaman menceritakan masalah mental yang dihadapinya kepada individu yang bukan profesional. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ialah review literature. Diharapkan dengan menggunakan metode ini menghasilkan sebuah jawaban atas pertanyaan dalam fenomena yang sedang diusung melalui sumber sebelumnya yang tidak dapat dihasilkan dari metode penelitian lainnya. Dari hasil review literature ditemukan setidaknya ada 5 alasan yakni stigma sosial di masyarakat, kurang pahamnya mengenai kesehatan mental, ketakutan, kurangnya akses psikolog serta biaya yang dikeluarkan. Sebagai dampaknya, individu mengalami distress psikologis yang mengakibatkan keengganan untuk mencari bantuan pihak professional. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang bisa dilakukan ialah menekan stigma yang muncul di masyarakat, dengan memberi rasa aman terhadap seseorang yang membutuhkan pertolongan layanan kesehatan mental serta memaksimalkan peran media untuk menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan tentang sadar mental sehingga bisa lebih sadar terhadap diri sendiri.
Peningkatan Adiksi Internet Selama Pandemi COVID-19 Ditinjau Dari Perspektif Psikologi Sosial Annisyah Rahmania Rayhan; Alvania Claresta Sarah Christian; Afi Rizqi Zakaria; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p64-70

Abstract

Pemberlakuan berbagai kebijakan sebagai respon dari penyebaran pandemi COVID-19 di seluruh dunia yang bertujuan untuk mencegah bertambahnya angka pasien positif COVID-19 ini menimbulkan berbagai macam dampak. Salah satunya adalah naiknya angka adiksi atau kecanduan internet. Tujuan dari penelitian ini adalah guna mengetahui bagaimana pandangan ilmu psikologi sosial dalam melihat kenaikan angka kecanduan internet yang terjadi selama pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah eksplanasif dengan pendekatan kualitatif. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa faktor penyebab yang berkorelasi dengan kenaikan angka kecanduan internet ini adalah faktor psikologis dan tujuan serta motivasi dari penggunaan internet itu sendiri. Teori lainnya yang dapat menjelaskan kenaikan tersebut adalah social exchange and interdependence theory, fearful attachment style, dan social comparison theory. Agar angka kecanduan internet ini tidak semakin bertambah, kita dapat menekannya dengan melakukan usaha kontrol diri baik secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain di mana upaya tersebut akan semakin maksimal apabila dibarengi dengan motivasi yang kuat dan efikasi diri yang positif. AbstractThe implementation of various policies in response to the spread of the COVID-19 pandemic around the world was carried out to prevent an increase in the number of positive COVID-19 patients from causing various kinds of impacts, one of which is increasing the number of internet addictions. The purpose of this research was to find out how social psychology considered the increasing number of internet addictions. The method is used for explanatory purposes with a qualitative approach. The analysis results show that the causative factors that correlate with the increase in the number of internet addictions are psychological factors and the purpose and motivation of using the internet. Other theories that can explain the increase are social exchange and interdependence theory, fearful attachment theory, and social comparison theory. We can prevent an increase in the number of Internet addictions by exercising self-control, both independently and with the assistance of others. If there is strong motivation and positive self-efficacy, these efforts will be maximized.
Negara dan Kediktatoran: Perspektif Psikologi Sosial Utami, Masita; Sa’id, Mochammad
Flourishing Journal Vol. 2 No. 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i42022p239-246

Abstract

Abstract: Leaders are almost always needed in a group or organizational situation, including a state, which has the purpose of making decisions. One style of leadership is authoritarian leadership. Leaders who embrace this leadership style are called dictators and the state or government led by dictators is called the dictatorship. However, empirical researches in psychology on dictatorship phenomena are still rarely done. Therefore, we expect this paper will encourage more empirical researches on this phenomenon in the field of psychology, especially social psychology. This article was written with a literature review approach from a variety of relevant sources: books, book chapters, review articles, and research articles. The perspective used is social psychological perspective because in our opinion it is more precise and comprehensive. The results of literature review show that dictatorship consists of three types: monarchic dictatorship, military dictatorship, and civilian dictatorship. The figure of a dictator in dictatorship state has narcissism trait classified in the Dark Triad characteristics. The dictatorship state has two main problems namely power-sharing and authoritarian control. Empirically, dictatorship practices have more negative than positive impacts on a state. In addition, dictatorship practices are also contrary to the nature of leadership should be played by a state leader. Abstrak: Pemimpin hampir selalu dibutuhkan dalam situasi kelompok atau organisasi, termasuk dalam sebuah negara, yang memiliki tujuan untuk membuat keputusan. Salah satu gaya kepemimpinan adalah kepemimpinan otoriter yang identik dengan kepemimpinan sewenang-wenang. Pemimpin yang menganut gaya kepemimpinan ini disebut dengan diktator dan negara atau pemerintahan yang dipimpin oleh diktator disebut dengan kediktatoran. Namun demikian, penelitian empiris di bidang psikologi mengenai fenomena kediktatoran masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya riset-riset empiris di bidang psikologi, khususnya psikologi sosial, mengenai fenomena kediktatoran. Artikel ini ditulis dengan pendekatan telaah literatur (literature review) dari berbagai sumber yang relevan, baik itu berupa buku, book chapter, artikel telaah, maupun artikel penelitian. Perspektif yang digunakan adalah perspektif psikologi sosial karena dianggap lebih tepat dan komprehensif. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa kediktatoran terdiri dari tiga jenis, yaitu monarchic dictatorship, military dictatorship, dan civilian dictatorship. Sosok diktator dalam negara kediktatoran biasanya memiliki trait kepribadian narsisisme yang tergolong dalam karakteristik Dark Triad. Negara kediktatoran memiliki dua masalah utama yaitu power-sharing dan authoritarian control. Secara empiris, praktik kediktatoran memiliki lebih banyak dampak negatif daripada positif bagi sebuah negara. Selain itu, praktik kediktatoran juga bertentangan dengan hakikat kepemimpinan yang harusnya diperankan oleh seorang pemimpin negara.
Optimisme dan Motivasi Belajar di Masa Pandemi COVID-19: Studi pada Mahasiswa Bidikmisi Muhammad Ali Jibril; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 2 No. 12 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i122022p751-759

Abstract

Online learning used during the pandemic is very different from learning that has been done before. This had an impact on the smoothness of learning activities during a pandemic and caused a variety of new problems, one of which was a decrease in student learning motivation. This study aims to determine the relationship between optimism and learning motivation during the COVID-19 pandemic in Bidikmisi students in the State University of Malang using a quantitative-correlational approach. The sampling technique used is quota sampling with a total of 160 subjects. The research instruments used to collect data were the Academic Motivation Scale (AMS) and Life Orientation Test-Revised (LOT-R). The results of this study are the correlation coefficient between optimism and learning motivation on the Intrinsic Motivation dimension (rxy = 0.179), on the Extrinsic Motivation dimension (rxy = 0.201), and on the Amotivation dimension (rxy = 0.256). The result shows that there is a significant positive relationship between optimism and learning motivation. Abstrak Pembelajaran daring yang digunakan ketika masa pandemi sangat berbeda dengan pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini berdampak pada kelancaran kegiatan belajar ketika pandemi dan menyebabkan berbagai masalah baru, salah satunya adalah menurunnya motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara optimisme dan motivasi belajar di masa pandemi COVID-19 pada mahasiswa bidikmisi di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling kuota dengan jumlah subjek sebanyak 160 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Academic Motivation Scale (AMS) dan Life Orientation Test-Revised (LOT-R). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara optimisme dan dimensi-dimensi motivasi belajar yaitu dimensi Intrinsic Motivation (rxy= 0,179), Extrinsic Motivation (rxy= 0,201) dan Amotivation (rxy= 0,256). Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimisme dan motivasi belajar mahasiswa di masa pandemi COVID-19. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi optimisme yang dimiliki mahasiswa, maka motivasi belajarnya akan semakin meningkat.