Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PENERAPAN EVIDENCE BASED NURSING DENGAN INTERVENSI BERMAIN TERAPEUTIK POP IT TERHADAP KECEMASAN ANAK SELAMA TERAPI INHALASI Rahma Dewi Sulistyawati; Rokhaidah Rokhaidah
Afiat Vol 10 No 2 (2024): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v10i2.4330

Abstract

Abstrak Brokopneumonia adalah infeksi yang memengaruhi saluran udara yang menuju paru-paru, yang juga dikenal sebagai bronkus. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh adanya bakteri, tetapi bisa juga disebabkan oleh infeksi virus dan jamur, salah satu pengobatan yang diberikan pada anak yang mengalami bronkopneumonia ialah terapi inhalasi. Terapi inhalasi merupakan suatu metode pengobatan yang menggunakan mukolitik dan bronkodilaator dalam bentuk hirupan. Tujuan dari terapi ini adalah untuk melonggarkan sekresi di saluran perapasan yang dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan. Seringkali pada anak balita mengalami kecemasan karena terapi inhalsi. Kecemasan dipengaruhi oleh penggunaan masker oksigen dan mesin pada terapi inhalasi. Hal ini juga sering terjadi pada anak balita yang sedang menjalani. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis asuhan keperawatan pada anak dengan bronkopneumonia dan intervensi bermain terapeutik pop it untuk mengurangi kecemasan anak selama terapi inhalasi. Penerapan bermain terapeutik pop it dilakukan pada pasien kelolaan yang dilakukan sebanyak 3x pertemuan selama 15-20 menit sedangkan pada pasien resume tidak diberikan intervensi inovasi. Data skor kecemasan menggunakan VFAS. Hasil dari penerapan bermain terapeutik pop it pada pasien kelolaan semula skor kecemasan sebesar 5 kemudian menurun menjadi 2, sedangkan untuk pasien resume yang tidak diberikan bermain terapeutik pop it semula skor kecemasan 5 kemudian menurun menjadi 4. Dampak lain dari bermain terapeutik pop it ialah dapat melatih motorik, sensorik dan aspek kognitif bagi anak seperti belajar berhitung, menyebutkan bentuk pada pop it dan melatih kecepatan tangan. Keywords: Anak, bermain terapeutik, hospitalisasi, kecemasan, pop it, , terapi inhalasi Abstract: Brochopneumonia is an infection that affects the airways leading to the lungs, also known as the bronchi. This infection is generally caused by bacteria, but can also be caused by viral and fungal infections. One of the treatments given to children who experience bronchopneumonia is inhalation therapy. Inhalation therapy is a treatment method that uses mucolytics and bronchodilators in the form of inhalation. The aim of this therapy is to regulate secretions in the reproductive tract that can cause respiratory tract obstruction. Often children under five experience anxiety due to inhalation therapy. Anxiety is influenced by the use of oxygen masks and machines in inhalation therapy. This also often happens to children under five who are undergoing it. The aim of this research is to help treat bleeding in children with bronchopneumonia and pop it therapeutic play intervention to reduce children's anxiety during inhalation therapy. The application of therapeutic pop play was carried out on managed patients in 3 meetings lasting 15-20 minutes, while on the resume the patient was not given any innovative intervention. Anxiety score data using VFAS. The results of applying pop it therapeutic play to patients managed to get an initial anxiety score of 5 then decreased to 2, while for resume patients who were not given pop it therapeutic play the anxiety score returned to 5 then decreased to 4. Another impact of pop it therapeutic play is that it can train motor, sensory and cognitive aspects for children such as learning to count, naming shapes on pop it and practicing hand speed Keywords: Children, therapeutic play, hospitalization, anxiety, pop it, , inhalation therapy
GAMBARAN PERSEPSI REMAJA TENTANG PENCEGAHAN STUNTING DI DEPOK Rokhaidah; Yessi Ayu, Permatasari
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 9 No 1 (2025): JURNAL KEPERAWATAN WIDYA GANTARI INDONESIA (JKWGI)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52020/jkwgi.v9i1.10495

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dengan prevalensi tinggi. Remaja berperan penting dalam pencegahannya. Studi di SMPN 13 Depok menunjukkan 81,3% responden belum pernah mendapat edukasi stunting, dan 56,3% hanya mengetahuinya dari TikTok. Sebagian besar belum memahami dampak dan pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran persepsi remaja mengenai pencegahan stunting di SMPN 13 Depok. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik, melibatkan 187 responden yang dipilih melalui proporsional sampling. Analisis data yang menggunakan statistik deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata usia remaja adalah 14,6 tahun, jenis kelamin laki-laki (52,4 %) dan perempuan (47,6%), sebagian pendidikan orang tua adalah pendidikan menengah (51,9%) dan status pekerjaan ibu mayoritas sebagai ibu rumah tangga (65,2%),  sebagian responden (52,9%) memiliki persepsi positif dan sebanyak (47,1%) memiliki persepsi negative tentang pencegahan stunting. Persepsi positif dapat meningkatkan kesadaran, keterlibatan, dan motivasi remaja untuk menyebarkan informasi yang benar, sehingga membantu menurunkan angka stunting secara berkelanjutan. Persepsi negatif remaja tentang stunting dapat menyebabkan kurangnya kesadaran, pola hidup tidak sehat, dan rendahnya partisipasi dalam pencegahan stunting. Hal ini berisiko meningkatkan angka stunting di generasi mendatang akibat kurangnya pemahaman dan kepedulian sejak dini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan peneliti selanjutnya untuk menganalisis mengenai korelasi ataupun dampak dari karakteristik tersebut terhadap pencegahan stunting.
Edukasi Pencegahan dan Deteksi Dini Anemia Pada Siswi Remaja di Sekolah MAN 5 Jakarta Utara Marcelina, Lina Ayu; Anggraeni, Diah Tika; Wahyudi, Chandra Tri; Samaria, Dora; Rokhaidah, Rokhaidah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.19031

Abstract

ABSTRAK Anemia merupakan masalah gizi yang sering terjadi di seluruh dunia, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa anemia paling banyak terjadi pada remaja putri, dengan prevalensi sebesar 32%, sementara di Jakarta Utara prevalensinya mencapai 6,4%. Kurangnya informasi mengenai anemia pada remaja menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi. Oleh karena itu, edukasi mengenai anemia sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat guna mencegah anemia, khususnya pada siswi remaja di MAN 5 Jakarta. Kegiatan edukasi pencegahan dan deteksi dini anemia dilakukan dengan metode kombinasi yang melibatkan penyuluhan melalui pemaparan materi presentasi slide PowerPoint kepada 25 remaja putri. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 31 Mei 2024 di MAN 5 Jakarta, Marunda, Cilincing, dengan menggunakan metode penyuluhan. Berdasarkan hasil nilai pre-test dan post-test, didapatkan peningkatan nilai yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan ini berhasil diterima oleh remaja, sehingga mereka dapat memahami anemia dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang anemia pada remaja putri setelah diberikan edukasi. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan diperlukan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja perempuan tentang anemia dan pencegahannya. Kata Kunci:  Anemia , Edukasi, Remaja, Siswi  ABSTRACT Anemia is a prevalent nutritional problem worldwide, affecting both developing and developed countries. In Indonesia, data shows that anemia is most common among adolescent girls, with a prevalence of 32%, while in North Jakarta, the prevalence is 6.4%. A significant issue faced by partners is the lack of information about anemia among adolescents. Therefore, education is crucial to enhance knowledge and awareness in the community to prevent anemia, particularly among female students at MAN 5 Jakarta. The educational activities for anemia prevention and early detection were conducted using a combination method that involved presenting material through PowerPoint slides to 25 adolescent girls. The implementation of this community service activity consisted of three stages: preparation, execution, and evaluation. This activity was carried out on Friday, May 31, 2024, at MAN 5 Jakarta, Marunda, Cilincing, using the counseling method. Based on the pre-test and post-test scores, there was a significant improvement in the participants' knowledge. This indicates that the counseling was well-received by the adolescents, enabling them to understand anemia better than before. There is a significant increase in knowledge about anemia among adolescent girls after receiving education. Thus, continuous education is needed to further enhance the knowledge and understanding of adolescent girls regarding anemia and its prevention. Keywords: Education, Anemia, Female Students
Manfaat Berpuasa Terhadap Kesehatan Anak: Edukasi Kesehatan pada Siswa SD Muhammadiyah Meruyung, Depok, Jawa Barat Herlina; Permatasari, Indah; Jansen, Susiana; Rokhaidah
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TERPADU Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Abdimas Kesehatan Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jakt.v4i1.23057

Abstract

Indonesia is struggling with a triple burden of malnutrition, including childhood obesity. To deal with this, one thing that's been tried is regulating eating, like fasting. This community service program aims to provide children with knowledge about the health benefits of fasting in relation to obesity.  This community service program consists of an educational session for 276 elementary school students (SD), divided into three sessions: the first session for initial knowledge assessment, the second session for health education, and the third session for post-education knowledge assessment. The results of the first and third sessions showed that the students recognized five health benefits of fasting: (1) body detoxification, (2) improved digestive health, (3) maintaining an ideal body weight, (4) enhanced immune system function, and (5) improved brain function. Health education on the benefits of fasting to prevent and address childhood obesity can improve children's knowledge, thereby supporting healthy lifestyle behaviors to reduce the triple burden of malnutrition, particularly obesity. Future community service projects could continuing regular monitoring of students' nutritional status, such as weighing, measuring height, and measuring upper arm circumference.
Madu sebagai Terapi Komplementer untuk Anak dengan Diare Akut Rokhaidah, Rokhaidah
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 3 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 3/Nomor 1/Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.162 KB) | DOI: 10.33377/jkh.v3i1.42

Abstract

Abstract Diarrhea is an endemic disease in Indonesia which has the potential to become an Extraordinary Event (KLB) which is often accompanied by death. Handling diarrhea in addition to using pharmacotherapy techniques there are also complementary therapies that can be used, namely honey therapy. Benefits of honey to overcome diarrhea due to its antibacterial effect and its digestible nutritional content. Honey also helps in replacing body fluids lost due to diarrhea. The purpose of this study was to analyze the effect of honey on acute diarrhea in children under 5 years of age. The research method used was quasi experimental with pretest and posttest non equivalent control group design. The hypothesis of this study is that there are honeycomb influences on bowel frequency and fecal characteristics in children under 5 years of age with acute diarrhea. The results of this study showed a significant difference in frequency of bowel movements and stool consistency before and after giving honey (p value = 0.001) so It can be concluded that honey affects the frequency of bowel movements and stool consistency in children under five with acute diarrhea Keywords: acute diarrhea, children under 5 years, honey
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu dalam Pemberian Imunisasi Difteri pada Balita Muklati, Ameylia Hilda; Rokhaidah, Rokhaidah
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 4 No. 2 (2020): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 4/Nomor 2/Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.592 KB) | DOI: 10.33377/jkh.v4i2.76

Abstract

Immunization is prevention efforts to increase a person's immunity to several diseases that can be prevented by immunization (PD3I), specifically Diphtheria Pertusis Tetanus (DPT). This study aims to analyze the relationship of mother’s characteristics (age, education, employment), mother’s knowledge, maternal attitudes, beliefs of mother and family support with compliance in the provision of diphtheria immunization to toddlers. This study uses quantitative analytics with Cross-Sectional design with a puposive sampling technique and obtained 75 respondents. Respondents this study of a mother having a toddler (aged 1-5 years) in RW 01, Kukusan Village, Beji Sub-District, Depok City. The instruments used are primary data (questionnaire and observation) and secondary data (KMS/KIA books). Analysis of the data used is the bivariate statistical with the Chi-Square method. The results showed that there is a relation between age (p=0.008), education (p=0,000), employment (p=0.003), mother’s knowledge (p=0.001), maternal attitudes (p=0.001), beliefs of mother (p=0.003) and family support (p=0,000) with maternal compliance in the provision of diphtheria immunization to toddlers in RW 01 Kukusan Village, Beji Sub-District, Depok City. The researchers recommend health education about immunization to mothers to improve compliance in providing children immunizations.
Metode Glenn Doman Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autis Aydillah, Desy; Rokhaidah, Rokhaidah
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2018): EDITION MARCH 2018
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.348 KB) | DOI: 10.33366/jc.v6i1.740

Abstract

ABSTRACT Autism is a complex developmental disorder typically arises during the first three years of life, with one of its characteristics being a disorder of social interaction. This study was conducted to determine the effectiveness of Glenn Doman Method on the ability of social interaction of children with autism. This research uses experimental quasi research design with disign approach one group pretest posttest design. The sample used were 15 autistic children with total sampling technique. Data were analyzed by T-dependent test. The result of statistical analysis shows p value 0,000 (0,000
Pelatihan dan Pendampingan Kader Posyandu dalam Pemantauan Pertumbuhan Balita untuk Pencegahan Stunting di Depok Rokhaidah, Rokhaidah; Jansen, Susiana; Herlina, Santi; Florensia, Lima
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.20389

Abstract

ABSTRAK Prevalensi stunting di Kota Depok pada tahun 2023 mencapai 25,4%, menunjukkan perlunya intervensi berkelanjutan untuk menurunkan angka tersebut. Salah satu upaya penting adalah penguatan peran kader Posyandu dalam pencegahan stunting. Kader Posyandu, sebagai motivator dan edukator, memiliki peran strategis dalam meningkatkan status gizi balita melalui pelatihan yang memadai, motivasi, dan dukungan dari berbagai pihak. Posyandu Markisa di Kelurahan Pangkalan Jati menghadapi kendala berupa kurangnya pendidikan dan pelatihan kader serta keterbatasan sumber daya edukasi. Namun, kader di Posyandu Markisa memiliki potensi besar dalam penerapan pengetahuan lokal, penyuluhan kesehatan, serta pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi kader melalui pelatihan dan pendampingan yang meliputi pendidikan kesehatan, pelatihan pemantauan pertumbuhan balita. Sasaran kegiatan ini adalah 12 kader Posyandu Markisa. Metode pelaksanaan pelatihan berupa ceramah dan demontrasi. Kader diberikan materi mengenai pencegahan stunting serta demontrasi dan redemontrasi pertolongan pengukuran pertumbuhan anak. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sangat baik dan mampu melakukan pengukuran pertumbuhan anak dengan benar. Kesimpulan: Pelatihan kader posyandu mampu meningkatkan pengetahuan kader dalam pencegahan stunting dan menambah ketrampilan kader dalam pengukuran pertumbuhan anak. Kata Kunci: Anak, Kader Posyandu, Pelatihan, Stunting  ABSTRACT The prevalence of stunting in Depok City in 2023 reached 25.4%, indicating the need for sustainable interventions to reduce the rate. One important effort is to strengthen the role of Posyandu cadres in stunting prevention. Posyandu cadres, as motivators and educators, have a strategic role in improving the nutritional status of children under five through adequate training, motivation, and support from various parties. Posyandu Markisa in Pangkalan Jati Village faces constraints such as a lack of cadre education and training and limited educational resources. However, cadres at Posyandu Markisa have great potential in the application of local knowledge, health counseling, and prevention and early detection of health problems. This Community Service Activity (CSA) aims to maximize the potential of cadres through training and mentoring which includes health education, toddler growth monitoring training. The targets of this activity were 12 cadres of Posyandu Markisa. The method of implementing training is in the form of lectures and demonstrations. Cadres were given material on stunting prevention as well as demonstrations and redemonstrations of child growth measurement assistance. The results of the training showed a very good increase in cadre knowledge and were able to measure children's growth correctly. Conclusion: Posyandu cadre training can increase cadre knowledge in stunting prevention and increase cadre skills in measuring child growth. Keywords: Children, Posyandu cadres, training, stunting
Pendampingan Siswa Kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melalui Kegiatan Edukasi Peran Remaja dalam Pencegahan Stunting Dan Pelatihan P3K di Sekolah Dasar Rokhaidah, Rokhaidah; Marcelina, Lina Ayu; Herlina, Santi; Jansen, Susiana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.17442

Abstract

ABSTRAK Pelatihan kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sangat penting untuk membantu kader UKS memahami lebih baik tentang berbagai aspek kesehatan, seperti pencegahan stunting, dan pertolongan pertama. Dengan pengetahuan ini, siswa dapat memberikan edukasi kepada komunitas sekolah. Pelatihan kader UKS sangat penting untuk memastikan bahwa program kesehatan di sekolah berjalan efektif dan berkelanjutan. Dengan pelatihan, kader UKS menjadi lebih kompeten, mampu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, mendidik siswa dan komunitas sekolah, serta mencegah masalah kesehatan seperti stunting dengan lebih baik. Pelatihan ini juga membantu membentuk kader UKS sebagai pemimpin dan teladan dalam mempromosikan kesehatan di lingkungan sekolah. Pelatihan ini dilakukan pada siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 6 dengan total jumlah peserta 29 siswa. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku serta keterampilan praktis siswa berperan mencegah stunting dan memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Metode pelaksanaan pelatihan berupa ceramah dan demontrasi. Siswa diberikan materi mengenai peran remaja dalam pencegahan stunting serta demontrasi dan redemontrasi pertolongan pertama pada kecelakaan. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa cukup baik dan penilaian praktik pertolongan pertama pada kecelakaan semua siswa memiliki kemampuan yang baik. Kesimpulan: Pelatihan siswa kader UKS mampu meningkatkan pengetahuan siswa dalam pencegahan stunting dan menambah ketrampilan siswa dalam pertolongan pertama pada kecelakaan. Kata Kunci: Anak, Pelatihan, P3K, Siswa, Stunting, UKS   ABSTRACT Training for School Health Unit (UKS) cadres is very important to help UKS cadres understand better about various aspects of health, such as stunting prevention and first aid. With this knowledge, students can provide education to the school community. UKS cadre training is very important to ensure that health programs in schools are effective and sustainable. With training, UKS cadres become more competent, able to provide quality health services, educate students and the school community, and better prevent health problems such as stunting. This training also helps shape UKS cadres into leaders and role models in promoting health in the school environment. This training was carried out on grade 6 elementary school (SD) students with a total of 29 students. The aim of this training is to improve students' knowledge, attitudes, behavior and practical skills to play a role in preventing stunting and providing first aid in accidents. The training implementation method is in the form of lectures and demonstrations. Students were given material regarding the role of teenagers in preventing stunting as well as demonstrations and re-demonstrations of first aid in accidents. The results of the training showed that the increase in students' knowledge was quite good and the assessment of first aid practices in accidents was that all students had good abilities. Conclusion: Training of UKS cadre students is able to increase students' knowledge in stunting prevention and increase students' skills in first aid for accidents. Keywords: Children, First Aid, Students, Stunting, Training, UKS
Training Of Trainer (TOT) Kader Posyandu untuk Generasi Bebas Stunting di Kelurahan Pasir Putih Sawangan-Depok Rokhaidah, Rokhaidah; Marcelina, Lina Ayu; Florensia, Lima
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i4.12773

Abstract

ABSTRAK Pemerintah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan target penurunan yang signifikan dari kondisi 24,4% pada 2021 menjadi 14% pada 2024. Provinsi Jawa barat merupakan salah satu provinsi yang menjadi 12 provinsi prioritas stunting. Stunting merupakan masalah keluarga, maka intervensinya difokuskan pada keluarga khususnya keluarga 1000 HPK yang dilaksanakan di posyandu. Penurunan angka stunting dengan Intervensi sensitive untuk menangani penyebab tidak langsung dengan optimalisasi peran kader Kesehatan. Permasalahan mitra adalah belum dilakukannya Training of Trainer (ToT) kader Kesehatan untuk generasi bebas stunting. Solusi bagi masalah yang dihadapi mitra di kelurahan Pasir Putih kecamatan Sawangan-Depok adalah dengan Program Kemitraan Masyarakat Dasar (PKM-D)  melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) kader Posyandu untuk generasi bebas stunting yang dilaksanakan pada tangga 1-30 Juni 2023 dan diikuti oleh 13 orang kader Posyandu di Kelurahan Pasir Putih Sawangan Depok. Tujuan dari Program Kemitraan Masyarakat Dasar (PKM-D) ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku serta keterampilan praktis kader posyandu dalam berperan mencegah stunting. Metode pelaksanaan pelatihan berupa ceramah dan demontrasi. Kader posyandu diberikan materi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak serta demontrasi dan redemontrasi cara pemeriksaan penyimpangan tumbuh kembang anak. Selanjutnya kader melakukan praktik pengukuran tumbuh kembang anak di posyandu masing-masing. Terdapat peningkatan pengetahuan kader dari rerata nilai pretest 70 meningkat pada saat post test dengan rerata nilai 89,5. Serta nilai rata-rata kader dalam keterampilan pemeriksaan tumbuh kembang anak adalah 71. Kesimpulan: Kegiatan ToT kader posyandu dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Kata Kunci: Kader, Posyandu, Stunting, Training Of Trainer   ABSTRACT The government has set stunting as a national priority issue in the 2020-2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN) with a target of a significant reduction from 24.4% in 2021 to 14% in 2024. West Java Province is one of the 12 priority provinces stunting. Stunting is a family problem, so the intervention is focused on the family, especially the 1000 HPK families implemented at the Posyandu. Reducing stunting rates with sensitive interventions to deal with indirect causes by optimizing the role of health cadres. The partner's problem is that health cadre training of trainers (ToT) has not been carried out for a stunting-free generation. The solution to the problems faced by partners in the Pasir Putih sub-district, Sawangan-Depok sub-district is the Basic Community Partnership Program (PKM-D) through the Posyandu cadre Training of Trainer (ToT) activities for stunting-free generations which are held on June 1-30 2023 and are followed by by 13 Posyandu cadres in Pasir Putih Sub-District, Sawangan Depok. The aim of the Basic Community Partnership Program (PKM-D) is to increase knowledge, attitudes, behavior and practical skills of posyandu cadres in their role in preventing stunting. The training implementation method is in the form of lectures and demonstrations. Posyandu cadres were given material on child growth and development as well as demonstrations and demonstrations on how to check for irregularities in child growth and development. Furthermore, the cadres practice measuring the growth and development of children in their respective posyandu. There is an increase in the knowledge of cadres from an average pretest score of 70 to an increase in the post test with an average score of 89.5. As well as the average score of cadres in the skill of examining child growth and development is 71. Conclusion: ToT activities for psoyandu cadres can increase cadres' knowledge and skills in monitoring children's growth and development. Keywords: Cadres, Posyandu, Stunting, Training of Trainer