Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Uji daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp. Pangemanan, Andrew; ., Fatimawali; Budiarso, Fona
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10840

Abstract

Abstract: Turmeric (Curcuma longa) is a plant that is known to have medicinal properties, especially the rhizome. The active compound that contained in the rhizomes are able to work as an antibacterial. This study aimed to measure the inhibitory of turmeric rhizome (Curcuma longa) extract against the growth of Staphylococcus aureus and Pseudomonas sp. This was an experimental laboratory study. The polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) was tested by well method with concentration of 40%, 20%, 10%, and 5%. The result showed that the polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) with a concentration of 40%, 20%, 10%, 5% can inhibit the growth of Staphylococcus aureus with the average of each is 15,0 mm, 14,5 mm, 13,5 mm and 11,0 mm while Pseudomonas sp with a mean diameter of each is 13,1 mm, 11,1 mm, 9,3 mm and 8,8 mm. Conclusion: The polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) has an inhibitory effect against the growth of Staphylococcus aureus and Pseudomonas sp.Keywords: curcuma longa, inhibition, staphylococcus aureus, pseudomonas spAbstrak: Kunyit (Curcuma longa) merupakan salah satu tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat terutama bagian rimpangnya. Senyawa aktif yang terkandung dalam rimpang mampu bekerja sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap pertumbuhan bakteri Staphyococcus aureus dan Pseudomonas sp. Jenis peneitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik. Kadar ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) yang diujikan dengan metode sumuran yaitu 40%, 20%, 10% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) dengan konsentrasi 40%, 20%, 10%, 5% dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan rerata masing-masing 15,0 mm, 14,5 mm, 13,5 mm, dan 11,0 mm sedangkan Pseudomonas sp dengan masing-masing rerata yaitu 13,1 mm, 11,1 mm, 9,3 mm, dan 8,8 mm. Simpulan: Ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp.Kata kunci: curcuma longa, daya hambat, staphylococcus aureus, pseudomonas sp
Seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa Lestari, Bella; Kepel, Billy J.; Budiarso, Fona
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10843

Abstract

Abstract: Toxoplasmosis is infectious disease caused by Toxoplasma gondii, which its definitive host is cat. Toxoplasmosis symptoms are asymptomatic but able to causing fatality particularly in pregnant woman which inducing miscarriage. This study aims to obtain Toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua Village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). This study method is cross-sectional descriptive . The population is people of Rumengkor Dua Village. The sample is blood serum collected from people of Rumengkor Dua Village. Data from interview questionnaire and latex agglutination test results included in the frequency distribution table and analyzed based on the results presentation. The result showed of toxoplasmosis seroepidemiology among people of Rumengkor Dua village Minahasa County by using Agglutination Latex Test (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) is 68,2%, with majority of women, age 41-50, junior high school as the last education, housewives, income less than 1 million rupiah, consuming raw meat, not consuming raw vegetables, wash vegetables and fruits, having cat and dog as pet, and have no miscarriage history.Keywords: toxoplasmosis, catAbstrak: Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii, dimana kucing adalah hospes definitifnya. Gejala toksoplasmosis asimptomatis namun akibat yang ditimbulkan bisa fatal terutama bila mengenai ibu hamil dan bisa mengakibatkan keguguran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroepidemiologi toksoplasmosis pada masyarakat di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji Aglutinasi Lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah semua orang yang berada di desa Rumengkor Dua dengan sampel penelitian serum darah pada masyarakat di desa Rumengkor Dua. Data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan subjek penelitian dan data hasil pemerikasaan laboratorium toksoplasmosis dengan cara tes aglutinasi lateks dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisa berdasarkan prosentasinya. Penelitian ini menunjukkan seroepidemiologi toksoplasmosis di Desa Rumengkor Dua Kabupaten Minahasa dengan menggunakan uji aglutinasi lateks (LAT Toxocheck-MT Eiken, Japan) adalah 68,2%, yang mayoritas adalah wanita, usia 41-50 tahun, tingkat pendidikan SLTP, ibu rumah tangga, penghasilan ≤1 juta rupiah, mengkonsumsi daging mentah atau kurang matang, tidak mengkonsumsi sayuran mentah, mencuci sayuran dan buah sebelum dikonsumsi, memelihara kucing, anjing, dan tidak ada riwayat keguguran.Kata kunci: toksoplasmosis, kucing
STATUS GIZI PADA REMAJA SMP NEGERI 6 MANADO MENGUNAKAN INDEKS MASSA TUBUH DAN LINGKAR PINGGANG Pangow, Sofia; Bodhi, Widdhi; Budiarso, Fona
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 12, No 1 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.1.2020.27005

Abstract

Abstract: The influence of nutrition on growth, development, intelligence, and productivity shows the great role of nutrition in human life. Nowadays, Indonesia is facing double nutritional problem, namely the problems of under nutrition and over nutrition. This study was aimed to obtain the profile of nutritional status of students at SMP N 6 Manado (junior high school). This was a descriptive study using a cross-sectional design. Nutritional status was determined by calculating body mass index (BMI) and measuring waist circumference. Respondents were 417 students of grade 1 to grade 3 students. The results showed that based on BMI calculations, 238 respondents (57%) were underweight; 141 respondents (34%) were normal weight; 15 respondents (4%) were overweight; and 23 respondents (5%) were obese. Based on the measurement of waist circumference, there were 23 obese respondents (5%); 9 respondents (2%) were male and 14 respondents (3%) were female. In conclusion, more than 50% of the students at SMPN 6 Manado were underweight, albeit, some students were overweight nad obese.Keywords: teenagers, nutritional status Abstrak: Pengaruh masalah gizi terhadap pertumbuhan, perkembangan, intelektual, dan produktivitas menunjukkan besarnya peran gizi bagi kehidupan manusia. Saat ini, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi dengan perhitungan indeks massa tubuh (IMT) dan pengukuran lingkar pinggang. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden ialah siswa kelas 1 sampai kelas 3 di SMPN 6. Hasil penelitian mendapatkan 417 responden. Berdasarkan IMT didapatkan 238 responden (57%) dengan status gizi kurang, 141 responden (34%) dengan status gizi normal, 15 responden (4%) dengan status gizi lebih, dan 23 responden (5%) dengan status gizi obesitas. Pada pengukuran lingkar pinggang didapat 23 responden obesitas (5%), terdiri dari 9 laki-laki (2%) dan 14 perempuan (3%) dengan total responden 417 orang. Simpulan penelitian ini ialah lebih dari 50% siswa SMPN 6 Manado dengan status gizi kurang namun terdapat juga sebagian siswa dengan status gizi lebih dan obesitas.Kata kunci: remaja, status gizi
Uji Anti Bakteri Ekstrak Daun Tanaman Kaki Kuda (Centella asiatica L. Urban) sebagai Tumbuhan Obat Anti Tuberkulosis Rimporok, Aprilia; Budiarso, Fona; Fatimawali, .
Jurnal Biomedik : JBM Vol 12, No 1 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.1.2020.27003

Abstract

Abstract: Tuberculosis is still a serious problem in various countries. Prolonged tuberculosis treatment using several anti-tuberculosis drugs may cause side effects, one of which is multi drug resistance (MDR). Nowadays, people prefer to use herbal plants due to the low price and fewer side effects. One of the herbal plants is tiger herb (Centella asiatica L. Urban). This study was aimed to determine the inhibitory and bactericidal activity of the extract of tiger herb leaves on Mycobacterium tuberculosis H37Rv by using the 7H9 Midlebrook media for the minimum inhibitory concentration (MIC) and Lowenstein Jensen (LJ) media for the minimum bactericidal concentration (MBC). The concentration of tiger herb leaf extract were 12.5%, 25%, 50%, 75%, and 100%. The results showed the MICs were at concentrations of 25%, 75%, and 100%. Meanwhile, the MBC was not found at all concentrations used (25%, 75%, and 100%). In conclusion, Centella asiatica L. Urban leaf ectract can inhibit but can not kill Mycobacterium tuberculosis bacteria.Keywords: Mycobacterium tuberculosis, tiger herb plant, Centella asiatica L. Urban Abstrak: Tuberkulosis masih menjadi permasalahan di berbagai negara. Pengobatan tuberkulosis yang lama dan menggunakan beberapa obat anti tuberkulosis memungkinkan timbulnya efek samping, salah satunya yaitu multi drug resistant (MDR). Saat ini masyarakat lebih memilih menggunakan tanaman berkhasiat karena harga yang murah dan memiliki efek samping yang lebih sedikit. Salah satu tanaman yang berkhasiat ialah Tanaman Kaki Kuda (Centella asiatica L. Urban). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas daya hambat dan daya bunuh ekstrak daun kaki kuda (Centella asiatica L. Urban) terhadap pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis H37Rv dengan menggunakan media Midlebrook 7H9 untuk menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan media Lowenstein Jensen (LJ) untuk menentukan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM), menggunakan konsentrasi ekstrak daun tanaman kaki kuda: 12,5%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan KHM pada konsentrasi 25%, 75%, dan 100% namun pada KBM masih terdapat pertumbuhan bakteri di semua konsentrasi yang digunakan yaitu konsentrasi 25%, 75%, dan 100%. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun tanaman kaki kuda (Centella asiatica L. Urban) dapat menghambat tetapi tidak dapat membunuh bakteri Mycobacterium tuberculosisKata kunci: Mycobacterium tuberculosis, tanaman kaki kuda, Centella asiatica L. Urban
UJI RESISTENSI BAKTERI ESCHERICHIA COLI YANG DIISOLASI DARI PLAK GIGI TERHADAP MERKURI DANANTIBIOTIK SIPROFLOKSASIN Kepel, Lisa; ., Fatimawali; Budiarso, Fona
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.6604

Abstract

Abstract: Mercury-resistant bacteria can be found in the oral cavity, especially in dental plaques which are exposed to mercury in amalgam. Albeit, not all mercury resistant bacteria must be resistant to antibiotics. This study aimed to determine the level of the resistance of Escherichia coli in mercury and to determine whether the mercury-resistant bacteria have become resistant to the antibiotic ciprofloxacin. This study used a descriptive exploratory method with samples of Escherichia coli bacteria, mercury, and antibiotics that were available in the Laboratory of Pharmaceutical Microbiology University of Sam Ratulangi Manado. The bacterium E. coli were grown in four concentrations of mercury. The results showed that E. coli was resistant to mercury. However, in three repetitions of antibiotic it was found that E. coli was still sensitive to ciprofloxacin. Based on the results, it is advisable to do a similar study in groups using the same antibiotic but with different treatments.Keywords: mercury, bacteria, resistant, ciprofloxacin antibioticAbstrak: Bakteri resisten merkuri bisa ditemukan di dalam rongga mulut pada plak gigi yang terpapar merkuri (amalgam). Bakteri yang resisten merkuri tidak harus resisten terhadap antibiotic. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat resisensi bakteri Escherichia coli (E.coli) terhadap merkuri dan untuk mengetahui apakah bakteri yang resisten merkuri ini juga resisten terhadap antibiotik siprofloksasin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan sampel E.coli, merkuri, dan antibiotik yang tersedia di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa E. coli yang ditanam pada empat konsentrasi merkuri resisten terhadap merkuri. Dari hasil uji resisten antibiotik dengan tiga kali pengulangan didapatkan bahwa E. coli yang resisten merkuri ini masih sensitif terhadap siprofloksasin. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk dilakukan penelitian yang serupa secara berkelompok dengan menggunakan antibiotik yang sama tetapi dengan perlakuan yang berbeda.Kata kunci: merkuri, bakteri, resisten, antibiotik siprofloksasin
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN MERKURI DALAM URINE, FESES, DAN KARANG GIGI PADA INDIVIDU DI DAERAH PESISIR PANTAI DESA WINERU KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA Budiarso, Fona; Ottay, Ronald Imanuel
KESMAS Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No. 1 Januari 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merkuri merupakan logam yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan, jika tidak diolah dengan baik. Merkuri tercemar pada air laut dapat terpapar pada manusia terlebih yang tinggal didaerah pesisir pantai dengan konsumsi hasil laut yang tinggi. Adanya pencemaran merkuri di laut memicu munculnya  bakteri  yang  resisten  terhadap  merkuri.  Oleh  karena  itu  peneliti tertarik untuk mengetahui adakah bakteri yang resisten terhadap merkuri dalam urine, feses, dan karang gigi pada individu di daerah pesisir pantai Desa Wineru Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara.Desain penelitian adalah metode deskriptif eksploratif. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah urine, feses, dan karang gigi pada individu yang telah menetap lebih dari 30 tahun di daerah pesisir pantai Desa Wineru Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Kemudian diuji secara morfologi,  fisiologi,  dan  biokimia  dilaboratorium . Hasil penelitian menunjukan adanya bakteri resisten merkuri pada sampel urine, feses dan karang gigi. Terbukti dengan ditemukan 4 bakteri resisten merkuri dari 6 isolat yang bertahan sampai 40 ppm pada HgCl2  dan 20 ppm pada Fenil merkuri, yaitu: Bacillus sp, E.coli, Streptococcus sp, dan Staphylococcus sp. Kata Kunci: Merkuri, Bakteri Resisten Merkuri.
Molecular Docking Senyawa Gingerol dan Zingiberol pada Tanaman Jahe sebagai Penanganan COVID-19 Ratu, Belinda D. P. M.; Bodhi, Widdhi; Budiarso, Fona; Kepel, Billy J.; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje
eBiomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.9.1.2021.32361

Abstract

Abstract: COVID-19 is a new disease. Many people feel the impact of this disease. There is no definite cure for COVID-19, so many people use traditional medicine to ward off COVID-19, including ginger. This study aims to determine whether there is an interaction between compounds in ginger (gingerol and zingiberol) and the COVID-19’s main protease (6LU7). This study uses a molecular docking method using 4 main applications, namely Autodock Tools, Autodock Vina, Biovia Discovery Studio 2020, and Open Babel GUI. The samples used were gingerol and zingiberol compounds in ginger plants downloaded from Pubchem. The data used in this study used Mendeley, Clinical Key, and PubMed database. The study showed that almost all of the amino acid residues in the gingerol compound acted on the 6LU7 active site, whereas the zingiberol did not. The results of the binding affinity of ginger compounds, both gingerol and zingiberol, do not exceed the binding affinity of remdesivir, a drug that is widely researched as a COVID-19 handling drug. In conclusion, gingerol and zingiberol compounds in ginger can’t be considered as COVID-19’s treatment.Keywords: molecular docking, gingerol, zingiberol Abstrak: COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang baru. Banyak masyarakat yang merasakan dampak dari penyakit ini. Belum ada pengobatan pasti untuk menyembuhkan COVID-19, sehingga banyak masyarakat yang menggunakan pengobatan tradisional untuk menangkal COVID-19, termasuk jahe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara senyawa pada jahe (gingerol dan zingiberol) dengan main protease COVID-19 (6LU7). Penelitian ini menggunakan metode molecular docking dengan menggunakan 4 aplikasi utama, yaitu Autodock Tools, Autodock Vina, Biovia Discovery Studio 2020, dan Open Babel GUI. Sampel yang digunakan yaitu senyawa gingerol dan zingiberol pada tanaman jahe yang diunduh di Pubchem. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan database Mendeley, Clinical Key, dan PubMed. Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua residu asam amino pada senyawa gingerol bekerja pada sisi aktif 6LU7, sedangkan tidak demikian pada zingiberol. Hasil binding affinity senyawa jahe, baik gingerol maupun zingiberol tidak  melebihi binding affinity remdesivir, obat yang banyak diteliti sebagai obat penanganan COVID-19. Sebagai simpulan, senyawa gingerol dan zingiberol pada tanaman jahe tidak dapat dipertimbangkan sebagai penanganan COVID-19Kata Kunci: molecular docking, gingerol, zingiberol
Molecular Docking terhadap Senyawa Isoeleutherin dan Isoeleutherol sebagai Penghambat Pertumbuhan SARS-CoV-2 Prasetio, Nathanael F.; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje; Budiarso, Fona
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31809

Abstract

Abstract: Dayak onions are herbal plants used by Indonesians as an anti-inflammatory, anticancer, antimicrobial, antidiabetic, antihypertensive and antiviral. By consuming herbal plants, it can increase immunity which is the main key in preventing the virus, especially COVID-19. This study was aimed to determine the effect of dayak active compound anchoring on the growth of the corona virus. This study used molecular docking method. The results of visualization of molecular docking when compared to the binding affinity of remdesivir obtained a binding affinity of -7.3, while the binding affinity of isoeleutherin and isoeleutherol was -6.9, so the result was lower than remdesivir. isoeleutherin and isoeleutherol compounds have a lower binding affinity value than remdesivir, so isoeleutherin and isoeleutherol compounds have lower yields as inhibitors of COVID-19.Keywords: dayak onions, SARS-CoV-2, molecular docking  Abstrak: Bawang Dayak merupakan tanaman herbal yang digunakan masyarakat Indonesia sebagai antiinflamasi, antikanker, antimikroba, antidiabetes, antihipertensi dan antivirus. Dengan mengkonsumsi tanaman herbal dapat meningkatkan kekebalan tubuh yang menjadi kunci utama dalam mencegah virus terlebih COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambatan senyawa aktif bawang dayak terhadap pertumbuhan dari corona virus. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian penambatan molekul (molecular docking). Hasil visualisasi molecular docking jika dibandingkan binding affinity dari remdesivir didapatkan binding affinity yaitu -7,3 sedangkan binding affinity dari isoeleutherin dan isoeleutherol adalah -6,9, maka diperoleh hasil yang lebih rendah dari remdesivir. senyawa isoeleutherine dan isoeleutherol memiliki nilai binding affinity yang lebih rendah dari remdesivir, maka senyawa isoeleutherin dan isoeleutherol memiliki hasil yang lebih rendah sebagai penghambat COVID-19.Kata Kunci: bawang dayak, SARS-CoV-2, molecular docking
Molekuler Docking tehadap Senyawa Eugenol dan Myricetin pada Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai Penghambat Pertumbuhan SARS-CoV-2 Gerungan, Yizreel Y.; Kepel, Billy J.; Fatimawali, .; Manampiring, Aaltje; Budiarso, Fona D.; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31748

Abstract

Abstract: Cloves contain many chemical compounds that can be used for health. COVID-19 is a disease that is shaking the world today. Many people feel the impact of this disease. Until now, there is no definite cure and vaccine for the handling of COVID-19.  Objective to determine the interaction between compounds in cloves (eugenol and myricetin) and the main protease COVID-19 (6LU7). This study use a molecular docking, method using 4 main applications: autodock tools, autodock vina, biovia discovery studio and open babel. This study showed that almost all amino acid residues in the eugenol and myricetin compounds worked on the 6LU7 active site. The binding affinity of eugenol compounds in clove plants does not exceed the binding affinity of remdesivir, a drug studied as a drug for handling COVID-19, while the binding affinity of myricetin compounds in cloves plant exceeds the binding affinity of remdesivir. In conclusion, myricetin compounds have better results for use as a growth inhibitor for COVID-19 than eugenol.Key words: Cloves, COVID-19, molecular docking.  Abstrak: Cengkeh memiliki banyak kandungan senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan bagi kesehatan. COVID-19 merupakan penyakit yang mengguncang dunia saat ini. Banyak masyarakat yang merasakan dampak dari penyakit ini. Hingga saat ini belum ada obat dan vaksin yang pasti untuk penanganan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara senyawa pada cengkeh (eugenol dan myricetin) dengan main protease COVID-19 (6LU7). Jenis penelitian ini menggunakan metode molekuler docking dengan menggunakan 4 aplikasi utama: autodock tools, autodock vina, biovia discovery studio dan open babel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir semua residu asam amino pada senyawa eugenol dan myricetin bekerja pada sisi aktif 6LU7. Hasil binding affinity senyawa eugenol pada tumbuhan cengkeh tidak melebihi binding affinity dari remdesivir, obat yang diteliti sebagai obat penanganan COVID-19, sedangkan hasil binding affinity senyawa myricetin pada tumbuhan cengkeh melebihi binding affinity dari remdesivir. Simpulan penelitian ini ialah senyawa myricetin memiliki hasil yang lebih baik untuk digunakan sebagai penghambat pertumbuhan COVID-19 dari pada eugenol.Kata kunci: Cengkeh, COVID-19, molekuler docking.
Uji Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etanol Buah Sirih (Piper betle L.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Angelique C. M. Tanan; Fona Budiarso; Widdhi Bodhi; Fatimawali Fatimawali; Billy J. Kepel; Aaltje Manampiring
eBiomedik Vol. 10 No. 1 (2022): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v10i1.37659

Abstract

Abstract: Cancer is one of the causes of high mortality rate in the world. Side effects and the high cost of treatment are a problem for cancer sufferers. The use of herbal medicine is increasingly chosen as an alternative cancer treatment because of the fewer side effects and affordable price. Betel (Piper betle L) is one of the plants of Piper genus that is often used as a medicinal plant. This study was aimed to determine the cytotoxic activity test of the ethanol extract of betel fruit against the Artemia salina Leach. The cytotoxic test using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. The concentrations given are 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 100 ppm, 10 ppm, 0 ppm. Observations on Artemia salina larvae were carried out for 24 hours after administration of the extract. The results showed that the ethanolic extract of betel fruit has a high toxic value, is the LC50 value of 60.05 ppm. In conclusion, the ethanol extract of betel fruit is cytotoxic and has the potential as an anticancer.Keywords: Cytotoxic test; Betel Fruit (Piper betle L.); Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)  Abstrak: Kanker merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian di dunia. Efek samping dan biaya yang mahal dari pengobatan menjadi masalah bagi para penderita kanker. Penggunaan obat herbal semakin banyak dipilih sebagai pengobatan alternatif kanker dikarenakan efek samping yang lebih sedikit dan harga yang terjangkau. Sirih (Piper betle L) adalah salah satu tanaman dari genus Piper yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol buah sirih terhadap  Artemia salina Leach. Penelitian uji sitotoksik menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Konsentrasi yang diberikan yaitu 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 100 ppm, 10 ppm, 0 ppm. Pengataman pada Artemia salina dilakukan selama 24 jam setelah pemberian ekstrak. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol buah sirih memiliki nilai toksik yang tinggi, yaitu nilai LC50 sebesar 60,05 ppm. Sebagai simpulan, ekstrak etanol buah sirih bersifat sitotoksik dan berpotensi sebagai antikanker.Kata Kunci: Uji sitotoksik; Buah Sirih (Piper betle L.); Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)