Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Panggung

Lukisan Ivan Sagita “Makasih Kollwitz” (2005) dalam Sejarah Seni Lukis Modern Indonesia: Tinjauan Ikonografi dan Ikonologi M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.10

Abstract

 Penelitian ini menganalisis karya seni lukis berjudul “Makasih Kollwitz” (2005), yang dilu- kis oleh Ivan Sagita. Dengan menggunakan sejarah seni sebagai dasar pendekatan, selanjutnya pilihan teori utama yang dipakai adalah teori ikonografi dan ikonologi Erwin Panofsky. Metode penelitian sejarah meliputi, pencarian data di lapangan dan sumber-sumber pustaka, seleksi dan kritik data, analisis dan interpretasi data untuk menghasilkan sintesis, selanjutnya penyu- sunan historiografi atau laporan penelitian sejarah. Hasil penelitian ini berisi, deskripsi pra iko- nografi yang menerangkan tahap awal aspek ide tekstual, yaitu menggambarkan sosok wanita tua renta mengambang di langit, terbaring dengan beralaskan rambutnya yang memanjang melampaui tubuhnya. Nenek itu sedang dalam proses kematian. Analisis ikonografi menjelas- kan tentang tema dan konsep. Hal itu mengungkapkan tema fenomena kematian, dengan ru- jukan konsep dasar tentang kefanaan hidup dan nilai survival eksistensi kehidupan manusia. Interpretasi ikonologi menjelaskan nilai simbolis pada karya. Melalui pengalaman kejiwaan dan latar belakang sosial dan kebudayaan seniman, terungkap bahwa lukisan ini merupakan kristalisasi simbol tentang kontradiksi dalam eksistensi kehidupan manusia.   Kata kunci: Surrealisme, kematian,  kontradiksi, eksistensi
Prinsip Estetika Pakaian Cosplay Yogyakarta: Fantasi dan Ekspresi Desain Masa Kini Deni Setiawan; Timbul Haryono; M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.103

Abstract

ABSTRACTCostume, dress code, animation, comics, legends, and manga, are inseparable parts of the cosplay costume. Those parts give fantasy and digital world discourse through costume style. Its spiritual domain stands on Japanese culture by being cultured through clothing. One of them, cosplay ideo- logy, reflects the self-imaging through social communities, as an e?ort for group and self-existence. Cosplay entity bridges fantasy and real world, presents designers’ expressions through the costume designs to show. This writing will be analyzed by using the main theories based on Dewitt H. Parker point of view, in The Principles of Aesthetics, which divides principles of aesthetics into three, they are: Principle of Organic Unity, Principle of Dominant Element, and Principle of Balance. Principle of organic unity indicates that cosplay clothing is an accumulation of design elements, to refer and mark a figure. Principle of dominant element, is accentuation, or the center of interest of a cosplay clothing design. Principle of balance, see placement and setting ornamentation applied to cosplay clothing.Keywords: cosplay clothing, principles of aesthetics, costume style, YogyakartaABSTRAKPakaian, dress code, animasi, dan manga, merupakan unsur yang tidak terpisahkan dalam pakaian cosplay. Unsur-unsur tersebut merupakan wacana dunia digital dan fantasi pada dunia pakaian. Ranah spiritualnya berp?ak pada kebudayaan Jepang yang dibudayakan melalui pakaian. Ideologi cosplay salah satunya menggambarkan pencitraan diri komuni- tas sosial, sebagai usaha untuk aktualisasi diri. Entitas cosplay mampu menjembatani du- nia fantasi dan realita, yang membelenggu keinginan manusia untuk bergaya. Tulisan ini akan dianalisis dengan teori pokok berdasarkan pandangan Dewitt H. Parker, dalam The Principles of Aesthetics, yang membagi prinsip estetika menjadi tiga, yaitu: prinsip kesatu- an organik, prinsip unsur dominan, dan prinsip keseimbangan. Prinsip kesatuan organik menunjukkan, bahwa pakaian cosplay merupakan akumulasi dari unsur-unsur desain, un- tuk merujuk dan menandai tokoh. Prinsip unsur dominan, merupakan aksentuasi, atau pusat perhatian dari sebuah desain pakaian cosplay. Prinsip keseimbangan, melihat penem- patan dan pengaturan ornamentasi yang diaplikasikan pada pakaian cosplay.Kata kunci: pakaian cosplay, prinsip estetika, gaya pakaian, Yogyakarta
Ikonografi dan Ikonologi Lukisan Djoko Pekik: ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.137

Abstract

ABSTRACT This research talked about ‘Tuan Tanah Kawin Muda’, painted by Djoko Pekik, with art history as the basic approach and therefore using Erwin Panofsky’s iconography and iconology theory. Hi- story research method followed with field data investigation, literature data, selection and critic, ana- lysis and source interpretation purposing to get the synthesis, continue with historiography framing. The result of this research contains; Preiconography descriptions explained the early textual aspect idea, reveals communication and conflict between the two figures. Iconography analysis explained about theme and concept, it tells about the oppression through economy asset, social, and cultural. The creator thought about how to defend among the conflict. Iconology interpretation, explained the art work symbolic value. Through the psychology experience and his social also cultural background, conclude that this painting is a crystallization symbol of deprivation and defense from the suffering poor people’s right. Keywords: Social realism, social conflict, oppression symbol  ABSTRAK Penelitian ini tentang lukisan Djoko Pekik yang berjudul ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ yang dianalisis dengan pendekatan sejarah seni dan memakai teori ikonografi dan ikonolo- gi Erwin Panofsky. Metode yang dipakai adalah metode sejarah dengan langkah pencarian sumber di lapangan dan pustaka (heuristik), seleksi dan kritik, analisis dan interpretasi sumber untuk menghasilkan sintesis, dan penyusunan historiografi. Hasil penelitian ini berupa: Deskripsi pra ikonografi berisi tanggapan awal aspek tekstual, mengungkap ko- munikasi dan konflik antara dua figur. Analisis ikonografis yaitu tentang tema dan konsep penindasan kaum laki-laki pada perempuan lewat kekuasaan modal ekonomi, sosial dan kultural. Konsep dasar penciptaannya tentang konflik antara kekuasaan yang menindas dan hak yang harus dipertahankan. Interpretasi ikonologis yaitu tentang nilai simbolik yang diungkap dalam lukisan. Lewat pengalaman psikologis pelukis dengan berbagai ke- kerasan dan penderitaan, serta pandangan hidup dari latar belakang sosial dan kultural- nya, maka lukisan ini merupakan kristalisasi simbol dari perampasan dan pertahanan hak rakyat bawah yang menderita.. Kata kunci: realisme sosial, konflik sosial, simbol ketertindasan
Instalasi Eco Art Sebagai Media Kultivasi Mikroalga M. Agus Burhan; Anusapati Anusapati; Lutse Lambert Daniel Morin
PANGGUNG Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i1.1539

Abstract

Penelitian artistik ini untuk menciptakan karya seni rupa instalasi dengan prinsip eco art yang bisa difungsikan sebagai photobioreactor untuk kultivasi mikroalga. State of art permasalahan penciptaan karya, meliputi seni rupa instalasi, eco art, kultivasi mikroalga, dan photobioreactor. Tujuan penelitian artistik ini menciptakan karya seni instalasi eco art sebagai media kultivasi mikroalga. Metode penelitian artistik ini adalah practice based research, peneliti menyatu dengan objek yang dikerjakan dalam penghayatan secara timbal balik (in and through), juga harus merujuk metode penciptaan terpublikasi, sehingga tidak subjektif dan pemaparannya rinci. Metode penciptaan David Campbell sebagai rujukan, yaitu preparation, concentration, incubation, illumination, verification-production. Hasil penelitian ini berupa karya instalasi eco art yang secara teknis memenuhi syarat untuk kultivasi mikroalga. Air dengan organisme mikroalga mengalir dalam instalasi melakukan proses fotosintesis, yang bisa menghasilkan bermacam bahan senyawa, seperti senyawa karbohidrat, untuk produksi bio energi, industri farmasi, dan kosmetik. Photobioreactor ini ditampilan sebagai seni instalasi eco art dengan bentuk silinder terpilin, dalam citra artistik estetika kontemporer.Kata Kunci: Instalasi, Eco Art, Photobioreactor, Kultivasi Mikroalga