Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi Pektin dan Sari Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Sifat Fisik, dan Kimia: The Comparison of Pectin Concentration and Extract of Belimbing Wuluh (Avverhoa bilimbi L.) on the Physical, Chemical, and Organoleptic Properties of Carrot Jam (Daucus carota L.) Maulidia, Sofiyani Riski; Kurniawati, Elly
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 4 No. 1 (2025): January
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v4i1.3522

Abstract

Salah satu titik kritis dalam pembuatan selai, yaitu proporsi antara bubur buah, pektin, asam sitrat, dan gula. Penambahan pektin jika terlalu banyak menghasilkan selai dengan tekstur yang lebih padat. Sedangkan asam sitrat ditambahkan untuk menciptakan pH asam yang membantu pembentukan gel. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pektin dan sari belimbing wuluh terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik selai wortel, mengetahui konsentrasi pektin dan sari belimbing wuluh terhadap sifat organoleptik serta menentukan produk terbaik. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAL) dengan 2 faktor dan dilakukan 3 kali pengulangan. Konsentrasi perbandingan sari belimbing wuluh (P) dan pektin (S) antara lain P1S1 = (15% : 1%), P1S2 = (15% : 1,5%), P1S3 = (15% : 2%), P2S1 = (20% : 1%), P2S2 = (20% : 1,5%), P2S3 = (20% : 2%), P3S1 = (25% : 1%), P3S2 = (25% : 1,5%), P3S3 = (25% : 2%). Hasil penelitian memberikan pengaruh signifikan terhadap daya oles, kadar air, vitamin C, dan pH bertutur-turut sebesar 2,9 cm – 6,5 cm, 29,66%bb – 35,51%bb, 28,62 mg/100g – 39,57 mg/100g, dan 3,57 – 4,59, serta mutu hedonik selai. Namun tidak berpengaruh terhadap kadar abu dan total padatan terlarut.
Multigrain Rice Instan Sebagai Sumber Protein dan Karbohidrat: Instant Multigrain Rice as a Source Of Protein And Carbohydrates Gemilang, Galuh; Kurniawati, Elly
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 4 No. 1 (2025): January
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v4i1.5127

Abstract

Multigrain rice adalah makanan pokok siap saji yang terbuat dari pencampuran kacang-kacangan dan sereal, yang kaya akan serat pangan dan protein nabati. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi multigrain rice instan dengan kandungan protein dan karbohidrat tertinggi. multigrain rice instan merupakan kombinasi biji-bijian dan kacang-kacangan, seperti sorgum, jagung, kedelai, dan edamame, yang kaya akan nutrisi. Formulasi yang diuji adalah F1 (20% sorgum, 30% jagung, 0% kedelai, 50% edamame), F2 (20% sorgum, 30% jagung, 10% kedelai, 40% edamame), F3 (20% sorgum, 30% jagung, 20% kedelai, 30% edamame), F4 (20% sorgum, 30% jagung, 30% kedelai, 20% edamame), F5 (20% sorgum, 30% jagung, 40% kedelai, 10% edamame), dan F6 (20% sorgum, 30% jagung, 50% kedelai, 0% edamame). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan tiga kali pengulangan. Analisis kandungan protein dan karbohidrat dilakukan sesuai SNI 01-2891-1992. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F1 memiliki kandungan protein tertinggi sebesar 18,45%, sedangkan formulasi F6 memiliki kandungan karbohidrat tertinggi sebesar 69,41%. Kombinasi serealia dan kacang-kacangan seperti sorgum, jagung, kedelai, dan edamame berperan sebagai sumber serat, protein nabati, dan karbohidrat. Multigrain rice instan ini dapat menjadi alternatif pangan fungsional yang praktis, memenuhi kebutuhan gizi, dan mendukung keanekaragaman pangan. Penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan produk pangan sehat berbasis multigrain.
Analisis Fisik, Mikroba, pH, dan Sensorik Es Krim Fungsional Probiotik dengan Kombinasi Ubi Jalar Ungu: Physical, Microbial, pH, and Sensory Analysis of Functional Probiotic Ice Cream with Purple Sweet Potato Combination Arif Alya Lukman, Mohamad Rifqi; Kurniawati, Elly
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 4 No. 2 (2025): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v4i2.5169

Abstract

Dengan meningkatnya pengetahuan konsumen tentang pangan sehat, permintaan pangan fungsional yang lezat, bergizi, dan bermanfaat bagi kesehatan meningkat pesat. Salah satu inovasi untuk menjawab kebutuhan ini adalah es krim probiotik. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui pengaruh penambahan bakteri probiotik Streptococcus thermophilus & Lactobacillus acidophilus dan ubi jalar ungu terhadap sifat Mikrobiologi dan sifat fisik. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Masing-masing perlakuan diulang dua kali. Terdapat 9 perlakuan yaitu P1 (bakteri 0% : ubi ungu 0 gr), P2 (bakteri 3% : ubi ungu 0 gr), P3 (bakteri 6% : ubi ungu 0 gr), P4 (bakteri 0% : ubi ungu 150 gr), P5 (bakteri 3% : ubi ungu 150 gr), P6 (bakteri 6% : ubi ungu 150 gr), P7 (bakteri 0% : ubi ungu 300 gr), P8 (bakteri 3% : ubi ungu 300 gr), P9 (bakteri 6% : ubi ungu 300 gr). Analisis yang digunakan adalah analisis varians (ANOVA) dengan SPSS, dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bakteri probiotik Streptococcus thermophilus & Lactobacillus acidophilus dan ubi jalar ungu memberikan pengaruh nyata terhadap total bakteri, nilai pH, overrun, daya leleh dan sensorik mutu hedonik. Perlakuan terbaik pada es krim probiotik terdapat pada perlakuan P2 dengan hasil total bakteri (8,85 log CFU), pH (6,02), overrun (17,41%), daya leleh (13 menit), nilai hedonik (warna 4,00; aroma 4,56; tekstur 4,56; rasa 5,84).
Pengaruh Lama Waktu Blanching dan Perbedaan Konsentrasi Perendaman Natrium Metabisulfit Terhadap Karakteristik Beras Pisang Barlin dengan Pengeringan Food Dehydrator: The Effect of Blanching Duration and Sodium Metabisulfite Soaking Concentration on the Characteristics of Barlin Banana Rice Dried Using a Food Dehydrator Fakuza, Hanna Farhan; Kurniawati, Elly
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 4 No. 2 (2025): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v4i2.5171

Abstract

Pisang merupakan buah lokal yang kaya akan gizi seperti vitamin C, protein, kalsium, vitamin A, dan zat besi, serta berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan alternatif seperti beras pisang. Namun, kandungan enzim polifenol oksidase pada pisang dapat memicu reaksi pencoklatan (browning) saat proses pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu blanching dan konsentrasi perendaman natrium metabisulfit terhadap karakteristik fisik dan kimia beras pisang Barlin yang dikeringkan menggunakan food dehydrator. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu tiga taraf lama blanching (0, 5, dan 10 menit) dan variasi konsentrasi natrium metabisulfit (0, 300 ppm). Hasil menunjukkan bahwa kedua perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap browning index dan kandungan karbohidrat. Semakin lama blanching, terjadi penurunan kandungan gizi akibat denaturasi, sedangkan perendaman natrium metabisulfit dapat menyebabkan pelarutan zat gizi ke dalam air. Perlakuan kombinasi perendaman natrium metabisulfit 300 ppm dan blanching 5 menit menunjukkan hasil paling optimal dalam menjaga tampilan warna cerah dengan browning indeks  70,50 ± 3,82, serta mempertahankan kadar karbohidrat yang relatif tinggi (67,27 ± 0,03%).
Drying Kinetics of Banana Chips: A Modeling Approach Hermanuadi, Didik; Iswahyono, Iswahyono; Kurniawati, Elly; Djamila, Siti; Bahariawan, Amal
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i4.1090-1100

Abstract

The primary goal of this research is to identify and evaluate the most suitable thin-layer drying model to effectively interpret the drying characteristics of banana chips and determine moisture diffusivity at different drying temperatures. The study utilized physiologically mature “kapok” bananas from the local market in Jember Regency. A flash dryer with a 4000-watt electric heating system was used, equipped with a blower for air circulation, an exhaust fan to expel water vapor. The bananas were processed into chips with a thickness of 1 mm. A total of 2000 g of banana chips were dried at constant temperature according to treatment conditions (air velocity 3.2 m/s, drying at temperatures of 60, 70, and 80°C). The study found that higher drying temperatures (80°C) achieved the highest initial drying rate (35.9% in 30 min) compared to 60°C (28.0%) and 70°C (22.0%). However, the drying rate gradually decreased at all temperatures. The drying kinetics of banana chips at 60, 70, and 80°C aligned well with the modified Midilli model. Effective moisture diffusivity values for banana chips at 60, 70, and 80°C were 4.947E-9 m²/s, 5.165(10–9) m²/s, and 5.756(10–9) m²/s, respectively, indicating that drying at 80°C was the most effective. The effective moisture diffusivity value showed a strong correlation with air velocity, drying temperature, material thickness, RH, and specific material attributes. Keywords: Banana, Diffusivity, Drying, Thin layer drying, Modified Midilli Model.