Apriana Vinasyiam
1. Department Of Aquaculture, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, IPB University (Bogor Agricultural University) Jalan Lingkar Kampus IPB Darmaga, Bogor, Indonesia; 2. Aquaculture And Fisheries Chair Group, Wageningen University And Research, T

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Tingkat keragaman ukuran benih ikan lele Clarias sp. yang diberi Artemia dengan periode yang berbeda Jusadi, Dedi; Fitriani, Farida; Ekasari, Julie; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3162.987 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.156-161

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the effect of different Artemia feeding period on the size variation of catfish Clarias sp. larvae. One thousand two days post hatched larvae with an average body length of 0.7±0.03 cm were randomly distributed into 25 L round plastic tanks. The treatment conducted for 13 days with four treatment; without Artemia, given Artemia 1, 2, or 3 days in the first culture period. The results showed that 15 days old fish has the same survival rate in all treatments; and has two size distribution i.e. the small size (S) and medium size (M). Increasingly the period of administration of Artemia, the percentage of the amount of M-size fish increases, thereby giving Artemia were able to increase growth of larvae. Feeding catfish with Artemia for two days has shown producing better growth. Keywords: catfish, Artemia, size variation, growth performance  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan periode pemberian pakan Artemia terhadap kinerja pertumbuhan larva ikan lele Clarias sp. Seribu ekor larva lele yang berumur dua hari dengan panjang rata-rata 0,7±0,03 cm ditebar dalam wadah dengan volume air 25 L. Budidaya ikan dilakukan selama 13 hari dengan empat perlakuan, yaitu perlakuan tanpa pemberian Artemia, pemberian Artemia selama satu, dua, atau tiga hari di awal masa budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan umur 15 hari memiliki sintasan yang sama di semua perlakuan, serta memiliki dua sebaran ukuran, yakni ukuran kecil (S) dan ukuran sedang (M). Semakin lama periode pemberian Artemia, persentase jumlah ikan ukuran M meningkat, sehingga pemberian Artemia pada larva ikan lele mampu meningkatkan pertumbuhan. Pemberian Artemia selama dua hari memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Kata kunci: ikan lele, Artemia, keragaman ukuran, kinerja pertumbuhan
The growth rate of Nile tilapia Oreochromis niloticus fry fed on fermented Lemna sp. meal Rostika, Rita; Andriani, Yuli; Abram, Arthur Henry; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3203.2 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.101-106

Abstract

ABSTRACT  This research aimed to evaluate the supplementation of fermented Lemna sp. meal (FLM) in the artificial diet on the growth rate of Nile tilapia Oreochromis niloticus. The research design used was complete randomized design consisting of four treatments; A (0% FLM), B (20% FLM), C (30% FLM), and D (40% FLM) in triplicates. The parameters observed were the nutritional composition of LFM, daily growth rate (DGR), feed conversion ratio (FCR), survival rate (SR), and water quality. Fermentation with Effective Microorganism 4 (EM4) has increased crude protein and crude lipid of FLM respectively 5.60% and 5.76%. However it decreased the crude fiber of FLM up to 15.27%. The result suggested that supplementation of FLM 0–40% in the artificial diet could give DGR 0.81–1.20%, FCR 2.48–2.97; and SR 72%–84% in Nile tilapia. The addition of 40% LFM showed the best result among all treatments. Key words: Lemna meal, EM4, fermentation, Nile tilapia fry  ABSTRAK  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan tepung Lemna sp. fermentasi (TLF) pada pakan buatan terhadap laju pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas empat perlakuan, yaitu A (0% TLF), B (20% TLF), C (30% TLF), dan D (40% TLF) dengan masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian antara lain nilai nutrisi TLF, laju pertumbuhan harian (LPH) ikan nila, rasio konversi pakan (RKP), sintasan (SR), dan kualitas air. Fermentasi dengan Effective Microorganism 4 (EM4) meningkatkan protein kasar dan lemak kasar TLF sebesar masing-masing 5,60% dan 6,76%, akan tetapi menurunkan serat kasar hingga 15,27%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian TLF 0–40% dalam pakan komersial menghasilkan LPH 0,81–1,20%; RKP 2,48– 2,97; dan SR 72%–84%. Pemberian TLF sebanyak 40% merupakan perlakuan yang menunjukkan hasil terbaik. Kata kunci: tepung Lemna, EM4, fermentasi, benih ikan nila
Availability of puerulus from natural catch for lobster panulirus spp. nursery culture Diatin, Iis; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag; Hernanda, Virta Rizki; Nidwidyanthi, Nidwidyanthi; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.2.133-141

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang melakukan ekspor lobster ke negara Hongkong, Vietnam, China, dan Singapura, dengan nilai ekspor lobster Indonesia mengalami rata-rata pertumbuhan 3,54% pertahun. Produksi lobster tersebut masih mengandalkan hasil tangkapan, karena budidaya lobster belum banyak dilakukan di Indonesia. Pantai Barat Provinsi Lampung dikenal sebagai daerah tangkapan lobster yang dimanfaatkan oleh nelayan setempat sebagai sumber pendapatan utama. Untuk mengetahui potensi ekonomi dari budidaya lobster, maka dilakukan penelitian dengan tujuan menganalisis ketersediaan benih bening lobster (BBL) dan rantai pasok lobster sebagai suplai benih untuk kebutuhan budidaya lobster. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode survei di Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Responden dalam penelitian adalah para nelayan penangkap BBL dan pengepul BBL. Penentuan responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lobster utama yang ditangkap adalah jenis lobster pasir dan lobster Mutiara. Hasil tangkapan nelayan lobster pada bulan gelap yaitu rata-rata 121 340 ekor BBL/bulan, sedangkan pada bulan terang rata-rata 4 680 ekor BBL/bulan, sehinnga dalam setahun benih yang dihasilkan mencapai 1.500.000 ekor BBL. BBL hasil tangkapan nelayan akan dijual pengepul kecil, selanjutnya ke pengepul besar, distributor dan eksportir. BBL terdistribusi ke berbagai wilayah mencakup Lampung, Bengkulu, Jambi, Palembang dan Jakarta. Marjin pemasaran yang diperoleh pengepul kecil dan besar mencapai 15 %. Produksi benih lobster yang melimpah di perairan Pantai Pesisir Barat Lampung sangat berpotensi untuk pengembangan budidaya pendederan lobster sebagai sumber ekonomi baru.
Production performance of nursery graded eel Anguilla bicolor bicolor in recirculating aquaculture system Budiardi, Tatag; Effendi, Irzal; Rahman, Muhammad Aghistni; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.2.109-127

Abstract

The growth rate highly varies in nurseries of eel. Variations in size lead to competition in obtaining feed, this causes stunting of smaller fish. This situation leads to high production costs due to poor feed utilization efficiency. Grading needs to be done periodically to improve nursery production performance. Water quality is controlled by a recirculation system that can support production performance through the degradation of toxic compounds. This study aims to analyze the production and nursery performance of graded eel (Anguilla bicolor bicolor) that graded in the same batch in a recirculation system. Completely randomized design (CRD) consisting of three treatments with four replications was used in this research. The treatments included nursery of graded eels for 60 days in three groups of initial weight size, namely 0,35±0,00 g (A); 0,50±0,00 g (B); and 1,04±0,00 g (C). There were 344 eels (A), 239 eels (B), and 116 eels (C) in each replication. The best nursery production performance was obtained in the treatment of 1,04±0,00 g, and the best nursery business performance was obtained in the treatment of 0,50±0,00 g.
Production and business performance of Anguilla bicolor fingerlings in a recirculation system with different stocking densities Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Arlita, Kriswidya; Vinasyiam, Apriana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia; Affandi, Ridwan; Kamal, Mohammad Mukhlis; Wahju, Ronny Irawan; Nurilmala, Mala
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.156-169

Abstract

Eel (Anguilla bicolor) in the grow-out culture requires good fingerling seeds. Increasing the eel productivity can be done by increasing the stocking density, that should be balanced with good environmental and feed management. This study aimed to analyze the production and business performance of fingerlings in a recirculation system to increase the eel survival and growth rate. The study used a completely randomized design with three different stocking densities, namely 4 g/L (A), 5 g/L (B), and 6 g/L (C). The average weight of each fingerling was 20 ± 4.09 g, that was kept in a 1.5-m3 pond with a recirculation system. Feeding was performed two times a day using commercial feed with probiotic supplementation. The results showed that different stocking densities significantly affected feed conversion ratio, total biomass weight, and coefficient of variance. However, different stocking densities had no significant effect on survival rate, absolute weight growth rate, specific weight growth rate, and condition factor. The C treatment obtained the highest profit with an R/C ratio of 1.20 ± 0.03. The best production and cultivation performance of eel fingerling in a recirculation system with different stocking densities is found in treatment C (6 g/L). Keywords: Anguilla bicolor, business performance, production performance, recirculation system, stocking density ABSTRAK Budidaya ikan sidat (Anguilla bicolor) pada segmen pembesaran memerlukan benih yang baik khususnya untuk benih fingerling. Upaya peningkatan produksi benih ikan sidat dapat dilakukan dengan peningkatan padat tebar yang diiringi dengan manajemen lingkungan dan pakan yang baik. Tujuan penelitian ini menganalisis kinerja produksi dan kinerja usaha pada pemeliharaan fingerling dalam sistem resirkulasi sehingga meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 3 perlakuan padat tebar dengan tiga ulangan, yaitu padat tebar 4 g/L (A), 5 g/L (B), dan 6 g/L (C). Fingerling ikan sidat yang digunakan berbobot awal 20 ± 4,09 g/ekor, yang dipelihara dalam bak 1,5 m3 dengan sistem resirkulasi. Pakan diberikan dua kali sehari berupa pakan buatan komersial yang diberi probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruh nyata terhadap parameter rasio konversi pakan, laju pertumbuhan mutlak biomassa, dan koefisien keragaman bobot tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak bobot, laju pertumbuhan spesifik bobot, dan faktor kondisi. Hasil analisis kinerja usaha budidaya fingerling dengan padat tebar berbeda menunjukkan berbeda nyata dan sebanding dengan kinerja produksi. Perlakuan C memberikan keuntungan tertinggi dengan rasio R/C sebesar 1,20 ± 0,03. Kinerja produksi dan kinerja usaha budidaya fingerling ikan sidat (Anguilla bicolor) dalam sistem resirkulasi dengan padat tebar berbeda terbaik terdapat pada perlakuan C (6 g/L). Kata kunci: Anguilla bicolor, kinerja produksi, kinerja usaha, padat tebar, sistem resirkulasi
Nursery of bonylip barb fish Osteochilus hasselti in an aquaponics system Hadiroseyani, Yani; Diatin, Iis; Faozar, Miftah Fajri; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.55-65

Abstract

Bonylip barb fish Osteochilus hasselti is traditionally cultivated as a by-product in a polyculture system due to the problem of seed availability. The increase in local market demand for O. hasselti has not been met due to the low productivity of the growers. In an effort to increase the availability of fish seeds, intensification at the nursery stage has the potential to be effective in overcoming the limitations of land and water for cultivation. The aquaponic system can maximize yields through vertical use of space and also overcome water limitations with a recirculation system. This study aimed to evaluate the effectiveness of the aquaponics system on the intensification of O. hasselti nursery. The treatment tested was the stocking density of O. hasselti at an initial length of 4.28 ± 0.52 cm and a weight of 0.73 ± 0.29 g as many as 100 ind./m2, 150 ind./m2, and 200 ind./m2 in an aquaponic system with bok choy plants (Brassica rapa subsp. chinensis). Bonylip barb fish nursery for 30 days using aquaponic system showed that the treatment resulted in maximum survival with absolute length growth, feed conversion ratio, coefficient of variation in length and weight which were not significantly different (P>0.05). At densities above 100 ind./m2, the absolute weight growth value and the specific growth rate were higher. Overall, it can be concluded that the aquaponics system can be used for O. hasselti nursery at high stocking densities with the best production performance at a stocking density of 200 ind./m2. Keywords: fish density, growth, intensification, pak choi ABSTRAK Ikan nilem Osteochilus hasselti dibudidayakan secara tradisional sebagai produk sampingan dalam sistem polikultur karena masalah ketersediaan benih. Peningkatan permintaan pasar lokal terhadap nilem belum dapat dipenuhi karena rendahnya produktivitas pembesaran. Dalam upaya meningkatkan ketersediaan benih ikan, intensifikasi pada tahap pendederan berpotensi efektif mengatasi keterbatasan lahan dan air untuk budidaya. Perkembangan teknologi budidaya dengan sistem akuaponik dapat memaksimalkan hasil melalui pemanfaatan ruang secara vertikal dan mengatasi keterbatasan air dengan sistem resirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem akuaponik terhadap intensifikasi pendederan ikan nilem. Perlakuan yang diuji adalah padat tebar ikan nilem dengan panjang 4,28 ± 0,52 cm dan bobot 0,73 ± 0,29 g sebanyak 100 ekor/m2, 150 ekor/m2, dan 200 ekor/m2 pada sistem akuaponik dengan tanaman pak choi Brassica rapa subsp. chinensis. Pendederan nilem selama 30 hari dalam sistem akuaponik memperlihatkan bahwa perlakuan menghasilkan kelangsungan hidup serta panjang dan bobot yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada kepadatan di atas 100 ekor/m2 diperoleh nilai pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sistem akuaponik dapat digunakan untuk pendederan ikan nilem pada padat tebar yang tinggi dengan kinerja produksi terbaik pada padat tebar 200 ekor/m2. Kata kunci: padat tebar, pertumbuhan, intensifikasi, pak choi
Nursery of red tilapia Oreochromis niloticus in a small-scale aquaponics system with different stocking densities Hadiroseyani, Yani; May Sharly, Anita; Shafruddin, Dadang; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.210-219

Abstract

Aquaponics is a fish and hydroponic plant-rearing system that utilises fish waste as a plant nutrient. Because water quality can be maintained at an optimal level for fish in the system to enhance farming productivity. This study was conducted to evaluate the effects of fish density on the nursery stage of red tilapia in a small-scale aquaponic system. The study was conducted using a completely randomized design at three levels of stocking density, namely 250 fish/m2, 375 fish/m2, and 500 fish/m2 of red tilapia at an initial size of 6.8 ± 0.35 cm, with 30 net pots of bok choy plant as co-culture. The results that the increase in fish population escalated the productivity of both fish and vegetable in 30 days farming period. The stocking density did not affect fish survival 99 ± 0.82%, 97 ± 1.27%, and 97 ± 0.68%, respectively (p>0.05), but supported a better specific growth rate, namely 3.09 ± 0.30%/day; 3.57 ± 0.23%/day; 4.03 ± 0.04%/day (p<0.05). Interestingly, the smallest coefficient of diversity and lowest feed conversion ratio were obtained at 500 fish/m3, whereas absolute length growth did not differ. Bok choy production increased with fish density, namely 2.82 ± 0.06 kg; 2.88 ± 0.08 kg; 3.17 ± 0.10 kg, respectively (p<0.05). The water quality parameter values were almost identical in all treatments, except for the lowest bacterial abundance gained at stocking density of 500 fish/m3. In conclusion, the aquaponic system can be used to nurseries tilapia seeds at high stocking densities for production efficiency. Keywords: aquaculture, bok choy, hydroponics, intensification ABSTRAK Akuaponik adalah sistem pemeliharaan ikan dan tanaman hidroponik yang memanfaatkan kotoran ikan sebagai nutrisi tanaman. Karena kualitas air dapat dipertahankan pada tingkat optimal untuk ikan dalam sistem akuaponik untuk meningkatkan produktivitas budidaya. Penelitian ini dilakukan mengevaluasi pengaruh peningkatan kepadatan ikan pada tahap pendederan ikan nila merah dalam sistem akuaponik skala kecil. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap pada tiga tingkat kepadatan tebar yaitu 250 ekor/m2, 375 ikan/m2, dan ikan nila merah sebanyak 500 ekor/m2 dengan ukuran awal 6,8 ± 0,35 cm, pada masing-masing sistem aquaponik dengan 30 net pot tanaman bok choy. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan populasi ikan telah meningkatkan produktivitas ikan dan sayuran dalam masa budidaya 30 hari. Peningkatan padat penebaran tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan yaitu berturut-turut sebesar 99 ± 0,82%, 97 ± 1,27%, dan 97 ± 0,68% (p>0,05), namun mampu mendukung laju pertumbuhan spesifik yang lebih baik yaitu 3,09 ± 0,30%/hari; 3,57 ± 0,23%/hari; dan 4,03 ± 0,04%/hari (p<0,05). Menariknya, koefisien keanekaragaman terkecil dan rasio konversi pakan terendah diperoleh pada kepadatan 500 ekor/m3, sedangkan pertumbuhan panjang absolut tidak berbeda. Produksi bok choy meningkat seiring dengan kepadatan ikan yaitu berturut-turut 2,82 ± 0,06 kg; 2,88 ± 0,08 kg; 3,17 ± 0,10 kg, (p<0,05). Nilai parameter kualitas air hampir sama pada semua perlakuan, kecuali kelimpahan bakteri terendah diperoleh pada padat tebar 500 ekor/m3. Secara keseluruhan, produksi ikan dan tanaman tertinggi terdapat pada kepadatan penebaran 500 ekor/m3. Kesimpulannya, sistem akuaponik dapat digunakan untuk pembibitan benih ikan nila dengan padat tebar tinggi untuk efisiensi produksi. Kata kunci: akuakultur, hidroponik, intensifikasi, pak coy
INTEGRASI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA (SDM) DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANISME AKUATIK LAUT TEPAT GUNA TERPADU DI KABUPATEN KEPAULAUAN SELAYAR, SULAWESI SELATAN Vinasyiam, Apriana; Effendi, Irzal; Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Hadiroseyani, Yani; Astari, Belinda
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 4 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i4.2371

Abstract

The production of fisheries cultivation in Selayar Islands Regency has obstacles, including lack of technology, disease attacks, and not yet mastered marketing strategies and sales of production results. This is the background for implementing the integration of human resource development (HRD) and integrated appropriate marine aquatic organism cultivation technology in Selayar Islands Regency, South Sulawesi. This activity aims to increase human resources' capacity in aquatic organism cultivation through training and mentoring activities. The community service program consists of maritime development training through fish cultivation, hybrid public lectures on potential and challenges in mariculture, discussions on program sustainability/exploration of cooperation with the Fisheries Service and Regional Secretary, and visits and consultations on community ponds. Maritime development training through fish cultivation uses materials on container preparation, cultivation systems, feed and feeding, water quality management, and fish and shrimp health management. Public lectures on potential and challenges in mariculture are carried out using materials on fish cultivation in KJA, lobster cultivation, and marketing of mariculture products. The partner stakeholders include IPB, the Fisheries Service of Selayar Islands Regency, UNHAS (TP3 Selayar Study Program), fisheries extension workers (KKP), and fish farming groups.
STUDI KASUS: PERFORMA USAHA PENDEDERAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) DI SITUBONDO, JAWA TIMUR Vinasyiam, Apriana; Hayati, Rizkhni Nuril; Astari, Belinda
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 4 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i4.1623

Abstract

The nursery phase of hybrid grouper (kerapu cantang; Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) farming is a crucial business segment, as it serves as a key link in the seed supply chain for grow-out operations. This study aims to analyze the profitability aspects of nursery operations at a commercial farm in Indonesia, using a trading enterprise (UD) in Situbondo, East Java, as a model. The research was conducted by collecting both primary and secondary data through interviews. Observations revealed an average fish survival rate of 86.5%, resulting in an estimated annual production of 99,000 fingerlings using a total of 14 nursery tanks measuring 4x3x1 m³ each. The largest investment cost components were the nursery tanks (40%) and water installation systems (33%). The main fixed and variable cost components were employee salaries (69%) and feed (84%), respectively. Financially, the nursery operation is profitable, generating an annual profit of IDR 274,338,923 and an R/C ratio of 1.59. The investment payback period is estimated at 1.68 years (20 months). Optimization of operations is recommended through production scale-up in the second year, by reducing feed costs, or by increasing the fry production.
KONTRIBUSI BIOFLOK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT BERBEDA Ekasari, Julie; Handayani, Tri Novi; Fauzi, Ichsan Achmad; Maulana, Fajar; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.59-70

Abstract

Biomassa bioflok dalam sistem pemeliharaan ikan dapat dimanfaatkan menjadi pakan alami tambahan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan lele Clarias gariepinus yang dipelihara menggunakan teknologi bioflok dengan tingkat pemberian pakan berbeda. Perlakuan terdiri dari tiga tingkat pemberian pakan, yaitu 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), dan 2,5% (FR2,5). Benih ikan lele dengan panjang awal 11,92 ± 0,03 cm dan bobot awal 11,31 ± 0,11 g dipelihara dengan padat tebar 25 ekor per akuarium (500 ekor m-3) selama 42 hari. Ulangan biologis tiap perlakuan berupa 3 unit akuarium (volume air 50 L). Ikan diberi pakan 3 kali setiap hari dengan jumlah pakan sesuai perlakuan. Penambahan tepung tapioka dilakukan setiap hari untuk mencapai rasio C/N 10. Hasil penelitian menunjukkan bobot akhir menurun seiring penurunan tingkat pemberian pakan (P<0,05), seperti ditunjukkan pula laju pertumbuhan spesifik. Terdapat indikasi kontribusi bioflok terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele berdasarkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan dan retensi protein. Akan tetapi, tidak dapat menggantikan peran pakan eksternal. Tingkat pemberian pakan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele pada sistem bioflok.Biofloc biomass could be used as additional natural food for fish in a biofloc-based fish culture system. This study aimed to evaluate the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus cultured in a biofloc system fed at different feeding levels. The treatments consisted of three feeding levels; 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), and 2,5% (FR2,5). Catfish juveniles with an initial average body length of 11,92 ± 0,03 cm and average body weight of 11,31 ± 0,11 g were reared at a density of 25 fish per aquarium (500 fish m-3) for 42 days. Each treatment had three unit aquaria (50 L water volume) as replicates. Cassava meal was added daily to reach C/N ratio of 10. The results showed that the fish’s final weight and specific growth rate were reduced, corresponding to the feeding rate. There was an indication that biofloc contributes to the fish growth performance based on the feed efficiency and protein retention level. However, biofloc could not replace the role of external feed to support the growth of African catfish.