Claim Missing Document
Check
Articles

Rancang Bangun Sistem Monitoring Kelembaban dan Suhu Pasir Sarang Penyu Berbasis Internet of Things (IoT) Santoso, Hendi; Hestirianoto, Totok; Jaya, Indra; Pujiyati, Sri
Seminar Nasional Teknik Elektro Vol. 3 No. 1 (2023): SNTE II
Publisher : Forum Pendidikan Tinggi Teknik Elektro Indonesia Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyu merupakan jenis reptilia laut yang hidup di daerah tropis dan subtropis. Penyu merupakan hewan yang mempunyai sifat Temperature-dependent Sex Determination (TSD). Suhu saat masa inkubasi telur menentukan jenis kelamin betina atau jantan. Penyu yang merupakan hewan berdarah dingin tidak bisa mengerami telurnya sendiri. Keberhasilan penetasan telur penyu secara alamiah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti: faktor letak sarang, kedalaman sarang, suhu sarang, kelembapan sarang dan lingkungan sekitarnya. Sistem monitoring yang dikembangkan oleh penelitian ini yaitu sistem monitoring secara real time dan berbasis IoT menggunakan mikrokontroler Arduino Uno dan NodeMcu 6288. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi peneliti atau masyarakat dalam pengukuran kelembapan dan suhu pasir yang dimanfaatkan untuk bidang-bidang tertentu. Pengukuran suhu pasir menggunakan sensor DS18B20 waterproof, kelembapan pasir menggunakan sensor SKU SEN:0193 serta suhu dan kelembapan udara menggunakan DHT22. Modul sdcard berfungsi untuk menyimpan data hasil perhitungan sensor secara realtime dan terus-menerus. Desain alat ukur dirancang untuk mudah dibawa (portable) dan mudah untuk digunakan. Bahan yang digunakan adalah plastik poly propylene yang mempunyai dimensi 11x8x18 cm. Instrumen ini dapat mencatat secara autonomous dan logger setiap 5 menit sekali dan di tampilkan ke web server dan aplikasi smartphone. Alat ini mampu memberikan informasi data suhu pasir, kelembapan pasir, suhu udara dan kelembapan udara pada sarang penyu semi alami. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan instrumen, suhu pasir sarang penyu semi alami Konservasi Penyu Pangumbahan berkisar antara 27,9 ℃ – 33,2 ℃ dengan rata-rata 30,2℃. Suhu udara berkisar antara 21,5 ℃ – 38,9 ℃ dengan rata-rata 27,5 ℃. Kelembapan pasir berkisar antara 21% – 41% dengan rata-rata 34,3%. Kelembapan udara 38,1% – 89,7% dengan rata-rata 81,9%.
Echogram Image Analysis for Pelagic Fish School Classification in Bungus Waters, West Sumatra Lansky, Jovian; Solikin, Steven; Pujiyati, Sri; Hestirianoto, Totok
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 17 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.17.3.69567

Abstract

Tropical marine fisheries are characterized by high species diversity but low individual abundance per species within the same water column, making the detection of distinct fish schools challenging using hydroacoustic technology. However, a hydroacoustic survey conducted in Bungus, West Sumatra, in October 2023 revealed the presence of approximately 14 identifiable fish schools of varying sizes, indicating the potential for further analytical investigation. This study aims to characterize and classify fish schools by analyzing echogram imagery and extracting key acoustic parameters through a statistical multivariate approach. Acoustic data were collected using a Simrad EK-15 echosounder operating at 200 kHz. Subsequent data processing was performed in Echoview, followed by multivariate analysis. From an initial dataset of 24 detected schools, 12 parameters were retained for analysis. These parameters were categorized into three groups: (1) energetic parameters, including target strength (TS), volume backscattering strength (Sv), area backscattering strength (Sa), skewness, and kurtosis; (2) morphometric parameters, consisting of school height, length, perimeter, and volume; and (3) bathymetric parameters, represented by average school depth. Latitude and longitude were included as supplementary spatial descriptors. Among the 12 parameters, latitude did not contribute to school characterization and was therefore excluded from further analysis. Multivariate results indicated that morphometric parameters (particularly school height and area) and energetic parameters (Sa and TS) were the most influential in differentiating school structure. Cluster analysis based on the remaining 11 parameters identified two distinct groups of fish schools: Group 1, comprising 14 schools (58.3%), and Group 2, comprising 10 schools (41.7%). These findings demonstrate that integrating hydroacoustic metrics with multivariate statistical methods provides an effective framework for identifying and characterizing fish schools in tropical waters with inherently complex species assemblages.