Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Continuity of Midwifery Care for Mrs. C with Breast Engorgement at Deby Cyntya Independent Midwifery Practice: A Case Study Sopi Aribah Bancin; Ribur Sinaga; Marliani Marliani; Kamelia Sinaga; Deby Cyntia
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60992

Abstract

Background: Continuity of Care (CoC) is a comprehensive midwifery care model that provides continuous services from pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, to family planning. Breast engorgement is one of the most common postpartum problems that may interfere with breastfeeding and reduce maternal comfort if not managed appropriately. Objective: This study aimed to describe the implementation of Continuity of Midwifery Care for Mrs. C with breast engorgement at Deby Cyntya Independent Midwifery Practice in 2026. Methods: This study employed a descriptive case study design using the Continuity of Care approach. Midwifery care was provided comprehensively from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning services. Data were collected through interviews, physical examinations, observations, documentation, and review of medical records. Data analysis was conducted descriptively by comparing the findings with current evidence-based midwifery practices. Results: The implementation of Continuity of Midwifery Care was carried out comprehensively according to the standards of midwifery care. During the postpartum period, Mrs. C experienced breast engorgement, which was managed through breastfeeding education, correct breastfeeding techniques, breast care, warm compresses, oxytocin massage, and family support. Following the interventions, the mother's condition improved, breast engorgement decreased, breastfeeding became more effective, and no complications were identified throughout the continuity of care. Conclusion: Comprehensive Continuity of Midwifery Care contributes to the early detection and appropriate management of breast engorgement, promotes successful breastfeeding, and improves maternal and neonatal health outcomes during the postpartum period.
Comparison of Labor Duration by Parity Among Mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District Ribur Sinaga; Sari Khowajan Tondang; Eva Ratna Dewi; Marliani; Ali Imran Sirait; Dyanti SR Butarbutar
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2599

Abstract

Prolonged labor remains an important clinical issue because it can increase maternal fatigue and the risk of complications during delivery. Parity is known to influence the progress of labor, yet stage-specific evidence comparing primiparous and multiparous mothers in primary care settings is still limited. Understanding these differences is essential to improve intrapartum monitoring and maternal support. Objective: This study aimed to compare labor duration between primiparous and multiparous mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District, and to identify which stages of labor contribute most to the observed differences. Method: This study employed a quantitative observational analytic approach with a cross-sectional design conducted from April to July 2024. The sample consisted of 30 mothers (15 primiparous and 15 multiparous) selected using predetermined inclusion and exclusion criteria. Data on labor duration were obtained through direct observation and medical records. Descriptive analysis and the Mann–Whitney U test were used to examine differences between groups. Findings: The overall mean labor duration was longer in primiparous mothers (10.60 hours) compared with multiparous mothers (5.13 hours). Stage-specific analysis showed a significant difference in the first stage (Kala I), with primiparous mothers averaging 10.24 hours (7–11 hours 30 minutes) and multiparous mothers 6.5 hours (4–8 hours 45 minutes) (p = .000). No statistically significant differences were found in the second stage (mean 19 vs 15 minutes; p = .065) or the third stage (mean 10 vs 7 minutes; p = .086). Implications: The findings highlight the importance of focused monitoring and supportive care during the first stage of labor, particularly for primiparous mothers, to reduce anxiety and prevent prolonged labor. The results can inform clinical practice in primary care settings to improve labor management strategies. Originality/Value: This study provides stage-based comparative evidence on labor duration using clinic-level data, offering practical insight into parity-related differences and contributing to improved intrapartum care planning.
Satu Jam Pertama yang Menentukan: Efektivitas Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Kesehatan Neonatus dan Keberhasilan Asi Eksklusif Juita Ernanda Tampubolon; Juliana Munthe; Ridesman Ridesman; Marliani Marliani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.60436

Abstract

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses pemberian ASI pada bayi dalam satu jam pertama setelah kelahiran yang memiliki peran penting terhadap kesehatan neonatus dan keberhasilan ASI eksklusif. Implementasi IMD yang belom optimal masih menjadi masalah di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk melihat efektivitas Inisiasi Menyusu Dini terhadap Kesehatan neonatus dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan yaitu tinjauan literatur dengan menelaah lima artikel ilmiah nasional dan internasional yang diperolah melalui database elektronik dan di publikasikan dalam beberapa tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa IMD efektif dalam meningkatkan daya tahan tubuh bayi, menjaga kestabilan suhu tubuh, mencegah hipotermia, menurunkan risiko infeksi dan kematian neonatal, serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Selain itu, IMD juga membantu memperlancar produksi ASI dan mengurangi risiko perdarahan postpartum pada ibu, dukungan tenaga Kesehatan, jenis persalinan, kontak kulit ibu dan bayi, serta dukungan keluarga. Kesimpulannya, IMD memiliki manfaat yang besar bagi Kesehatan ibu dan bayi sehingga penanganannya perlu ditingkatkan secara optimal di fasilitas pelayanan Kesehatan.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Difteri Pada Anak Usia 1-5 Tahun Menggunakan Media Leaflet Di Puskesmas Tuntungan Kecamatan Medan Tuntungan Provinsi Sumatra Utara Tahun 2026 Ome Bancin; Marlina Simbolon; Marliani Marliani; Masdian Zega; Senna Warita Saragih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61727

Abstract

Difteri merupakan penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi, namun masih menjadi masalah kesehatan karena rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya ibu yang memiliki anak usia 1–5 tahun. Kurangnya pemahaman mengenai gejala, penularan, dan pencegahan difteri dapat meningkatkan risiko terjadinya kasus pada anak. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan yang efektif, salah satunya melalui media leaflet yang bersifat informatif, ringkas, dan mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi menggunakan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang pencegahan difteri pada anak usia 1–5 tahun di Puskesmas Tuntungan Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental melalui pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 1–5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tuntungan sebanyak 50 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian edukasi melalui media leaflet. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan ibu setelah diberikan edukasi. Nilai rata-rata pengetahuan sebelum intervensi sebesar 57,40 dan meningkat menjadi 83,20 setelah intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi menggunakan media leaflet efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pencegahan difteri pada anak. Dengan demikian, edukasi kesehatan melalui media leaflet direkomendasikan sebagai salah satu media promosi kesehatan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di pelayanan kesehatan primer.
DETERMINAN KELENGKAPAN IMUNISASI LANJUTAN PADA BATITA DI PUSTU TANJUNG AGUNG TIMUR KABUPATEN MUBA PROVINSI SUMATERA SELATAN Okta Orianti; Marliani
KAJIAN MULTIDISIPLIN ILMU (KAMI) Vol. 1 No. 01 (2026): KAJIAN MULTIDISIPLIN ILMU (KAMI)
Publisher : PT. Vhalery Media Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67429/wbrm5d30

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berkaitan dengan kelengkapan imunisasi lanjutan pada batita di Pustu Tanjung Agung Timur (TAT), Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2024. Metode yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, pendekatan ini dipilih untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, pengetahuan, serta dukungan keluarga dengan status kelengkapan imunisasi lanjutan pada batita. Pelaksanaan penelitian berlangsung pada periode Mei hingga Juni 2024 di Pustu TAT. Subjek penelitian meliputi seluruh ibu yang memiliki anak usia 24–35 bulan dan melakukan kunjungan ke Pustu TAT selama periode penelitian. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 40 orang, yang sekaligus dijadikan sampel penelitian melalui teknik total sampling. Proses pengolahan data dilakukan secara komputerisasi melalui beberapa tahapan, yaitu pengumpulan data (collecting), pemeriksaan data (checking), pemberian kode (coding), entri data (entering), dan pengolahan data (data processing). Selanjutnya, pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan program SPSS versi 17 dengan tahapan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar batita belum mendapatkan imunisasi lanjutan secara lengkap, yaitu sebanyak 22 anak (55,0%), sedangkan yang sudah lengkap sebanyak 18 anak (45,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel pengetahuan ibu dan dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan kelengkapan imunisasi lanjutan pada batita. Sementara itu, variabel umur, pendidikan, dan pekerjaan ibu tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap kelengkapan imunisasi lanjutan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PEKERJAAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PRAKTEK BIDAN NUR HAMIMAH DELI TUA TAHUN 2020 Nur Hamimah; Marliani Marliani; Astaria Br Ginting; Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2022): November: Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.495 KB) | DOI: 10.55606/jrik.v2i3.573

Abstract

Latar Belakang: Data Susenas menunjukkan bahwa satu diantara dua bayi usia 0-5 bulan diberi ASI eksklusif. Persentase bayi yang diberi ASI eksklusif relatif lebih tinggi di pedesaan dibandingkan dengan di perkotaan, yaitu 57,22% berbanding 54,77%. Kendala ibu dalam menyusui ada dua faktor yaitu faktor internal kurangnya pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dan faktor eksternal ASI belum keluar pada hari-hari pertama sehingga ibu berpikir perlu tambahan susu formula, ketidakmengertian ibu tentang kolostrum, banyak ibu yang masih beranggapan bahwa ASI ibu kurang gizi dan kualitasnya tidak baik. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki bayi 7-12 bulan di Praktek Bidan Nurhamimah. Jumlah sample yang digunakan sebanyak 38 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Metode analisa data dengan menggunakan chi square test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif dengan hasil uji chi-square di dapat hasil nilai p value 0,000 < 0,05. Kesimpulan: Ada hubungan tingkat pengetahuan dan pekerjaan ibu tehadap pemberian ASI ekslusif di Praktek Bidan Nur Hamimah Kecamatan Deli Tua Tahun 2020, hipotesis penelitian terbukti atau dapat di terima. Di harapkan kepada Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini lebih baik dengan menggunakan varibel-varibel lain.
Hubungan Dukungan Suami Terhadap Sikap Ibu Untuk Imunisasi Bayi di Puskesmas Peureulak Barat Aceh Timur Tahun 2024 Elvira Putri; Ester Simanullang; Marliani Marliani
Jurnal Ventilator Vol. 2 No. 3 (2024): September : Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v2i3.1375

Abstract

One reason for the lack of information regarding the economic costs of disability or death and the benefits of immunisation when children in the vicinity are not fully immunised is the discovery of signatures. Many people are confused by the terms vaccination and immunisation. Immunisation is given to neonates as soon as possible because it can avoid primary diseases through vaccination. If the baby receives the right vaccination, he will be protected from dangerous diseases such as disabilities. Basic immunisation of infants and toddlers is a routine immunisation programme as well as an additional immunisation programme to prevent communicable diseases (PD3I) such as tuberculosis, diphtheria, pertussis, tetanus, polio, hepatitis B, and measles to reduce morbidity, mortality and disability in infants and children. BCG once, DPT-HB three times, Polio four times, HB Uniject once, and measles once are the basic vaccines. These vaccines must be given to all infants to prevent diseases from entering the body. The method used was analytical survey research. Exploration of how and why this phenomenon occurs is the goal of the analytical survey research approach.
Case Report: Midwifery Care Management for A Newborn Infant (Mrs. D) with Caput Succedaneum at The Sarfina Sembiring Primary Clinic in 2026 Himawari Kirina Petranela Sriyani; Gita Lestari; Sari Nauli Lumban Gaol; Indira Virli Ananda; Putri Mayang Sari; Marliani; Santi Olivia Lumbantoruan; Sapta Fadila Karin; Rohani Pera
INDOGENIUS Vol 5 No 3 (2026): INDOGENIUS
Publisher : Department of Publication of Inspirasi Elburhani Foundation Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/igj.v5i3.1149

Abstract

Background & Objective: Caput succedaneum is a soft tissue edema on the newborn's scalp caused by mechanical pressure during labor. This condition is commonly found in prolonged labor or instrumental deliveries and requires appropriate monitoring to distinguish it from other complications such as cephalhematoma. This study aims to implement comprehensive midwifery care for newborns with caput succedaneum using the 7-step Varney midwifery management approach. Method: This research used a descriptive method with a case study approach on baby "D" who was born with caput succedaneum at Sarfina Sembiring Primary Clinic in 2026. Data collection was conducted through anamnesis, physical examination, observation, and documentation. Data analysis used the 7-step Varney approach. Result: The baby was born with macrosomia (birth weight 4500 grams), length 53 cm, head circumference 39 cm, accompanied by caput succedaneum that crossed the suture lines with soft consistency. Care provided included monitoring vital signs, umbilical cord care, early initiation of breastfeeding, administration of vitamin K and HB0 immunization, and maternal education. The caput succedaneum showed spontaneous resolution within 3 days without complications. Conclusion: Comprehensive midwifery care with early detection, monitoring, and education is essential in the management of caput succedaneum. Appropriate management prevents complications and provides reassurance to the family.