p-Index From 2021 - 2026
8.592
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Kurios Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Gamaliel Teologi Praktika PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi Praktika Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Ra'ah KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Magenang: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Ra'ah: Journal of Sociology of Religion
Claim Missing Document
Check
Articles

Sikap Etis Gereja Terhadap Perceraian dan Pernikahan Kembali Stevanus, Kalis
KURIOS Vol. 4 No. 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v4i2.80

Abstract

This paper aims to expose the ethical attitude of the church in dealing with divorce and remarriage in order to be useful as an input for the pastoral ministry in taking handle with those who are going to divorce, has been divorced or who has remarried. By using an analytical descriptive on texts such Matthew 5:32; 19: 9; Mark 10: 11-12; Luke 16:18, and 1 Corinthians 7: 10-11, then the following results are obtained: First, Christian marriage is a monogamous and wholly partnership(indestructible); second, adultery destroys the foundation of marriage, but it should not be a legal reason for divorce; third, divorce never recommended or ordered; fourth, only the separation is allowed, not the divorce due to the goal of reconciliation; fifth, remarriage with the person who has been divorced is a transgression; sixth, the settlement of divorce and remarriage issues that have occurred is the responsibility of the believers communally (whole) to regain those who have separated from their partners.   Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memaparkan sikap etis gereja dalam menyikapi perceraian dan pernikahan kembali agar bermanfaat sebagai bahan masukan bagi pelayanan pastoral gereja https://alimentoshoy.acta.org.co/ dalam menangani anggota warganya yang hendak bercerai, telah bercerai atau yang menikah kembali. Dengan penggunaan metode analisis-deskriptif terhadap teks-teks seperti: Matius 5:32; 19:9; Markus 10:11-12; Lukas 16:18 dan 1 Korintus 7:10-11, maka diperoleh hasil: Pertama, pernikahan Kristen merupakan persekutuan yang bersifat monogami dan seumur hidup (tak terceraikan); kedua, perzinahan merusak fondasi pernikahan, tapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan legal untuk bercerai; ketiga, perceraian tidak pernah dianjurkan maupun diperintahkan; keempat, hanya perpisahan yang diperbolehkan, bukan perceraian dengan tujuan untuk rekonsiliasi; kelima, pernikahan kembali dengan orang yang sudah bercerai merupakan pelanggaran (kesalahan); keenam, penyelesaian masalah perceraian dan pernikahan kembali yang telah terjadi adalah tanggung jawab warga gereja secara komunal (keseluruhan) untuk mendapatkan kembali mereka yang telah berpisah dari pasangannya.
Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Oci, Markus; Stevanus, Kalis
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 3 No 1 (2021): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v3i1.57

Abstract

The rapid development of Science and Technology in the era of the Industrial Revolution 4.0 has influenced various aspects of human life, both in the world of work and the world of education. The purpose of this article is written with the hope that Christian Religious Colleges can answer the challenges of the Industrial Revolution 4.0 in order to produce human resources or graduates who are able to compete in the midst of global competition. One of the steps is to reconstruct a curriculum that is responsive to technological developments. The compilation and implementation of curricula at Christian Religious Colleges must refer to KKNI and the National Higher Education Standards. The research method used is qualitative research with a literature study approach. The analysis process carried out is to use various literary sources, both journals, books and other reliable reference materials to support the author's analysis. Thus it can be concluded that there are six steps in the preparation of the curriculum for Christian Religious Higher Education which refers to the Indonesian National Qualifications Framework (KKNI): 1. Formulating a Graduate Profile; 2. Formulating Graduate Learning Outcomes; 3. Determine the Study Material; 4. Compiling Subjects; 5. Determining the Structure of the Course and, 6. Developing a semester learning plan (RPS). Derasnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di era Revolusi Industri 4.0 telah mempengaruhi pelbagai aspek kehidupan manusia, baik di dunia kerja maupun dunia pendidikan. Tujuan artikel ini ditulis dengan harapan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen dapat menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 guna menghasilkan sumber daya manusia atau lulusan yang mampu bersaing di tengah persaingan global. Salah satu langkahnya adalah merekonstruksi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan teknologi. Penyusunan dan pelaksanaan kurikulum di Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen wajib mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Proses analisis yang dilakukan adalah menggunakan berbagai sumber literatur-literatur baik jurnal, buku dan bahan referensi lainnya yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Dengan demikian dapat disimpulkan ada enam langkah dalam penyusunan kurikulum Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI): 1. Merumuskan Profil Lulusan; 2. Merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan; 3. Menentukan Bahan Kajian; 4. Menyusun Matakuliah; 5. Menetapkan Struktur Matakuliah dan, 6. Menyusun Rencana pembelajaran semester (RPS).
Misi sebagai Rencana Allah: Kesatuan Injil Matius dan Kisah Para Rasul dalam Sejarah Keselamatan Stefani, Stefani; Stevanus, Kalis
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.718

Abstract

This study aims to demonstrate the theological unity between the evangelistic mission referred to as the Great Commission in Matthew 28:18–20 and the practice of evangelism in the book of Acts as an integral part of the realization of God's mission of salvation. The Great Commission is not a human initiative, but a divine command originating from the authority of Christ and carried out under the guidance of the Holy Spirit. The methods used are narrative-theological and literature study. The results of the study are to show the integral continuity of the narrative of Matthew 28:18–20 serves as the theological foundation of the church's mission, while the Acts of the Apostles shows the concrete realization of the mandate in evangelistic actions. Thus, the two texts demonstrate the unity of the narrative of Matthew and the Acts of the Apostles so that the church today has a complete theological basis in carrying out its mission and the Holy Spirit as its main agent or as a link between the Christological proclamation (Matthew) and the ecclesiological realization (Acts of the Apostles) which confirms the mission as an integral part of the work of the Trinity. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kesatuan teologis antara misi penginjilan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18–20 dan praktik penginjilan dalam kitab Kisah Para Rasul sebagai bagian integral dari realisasi misi keselamatan Allah. Amanat Agung bukanlah inisiatif manusia, melainkan perintah ilahi yang bersumber dari otoritas Kristus dan dilaksanakan di bawah tuntunan Roh Kudus. Metode yang digunakan adalah naratif-teologis dan studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah menunjukkan kesinambungan integral narasi Matius 28:18–20 berfungsi sebagai landasan teologis misi gereja, sedangkan Kisah Para Rasul memperlihatkan realisasi konkret mandat tersebut dalam tindakan penginjilan. Dengan demikian, kedua teks tersebut memerlihatkan kesatuan narasi Matius dan Kisah Para Rasul agar gereja masa kini memiliki dasar teologis yang utuh dalam melaksanakan misi dan Roh Kudus sebagai agen utamanya atau sebagai penghubung antara proklamasi Kristologis (Matius) dan realisasi ekklesiologis (Kisah Para Rasul) yang menegaskan misi sebagai bagian integral dari karya Trinitas.
Memaknai Kisah Ayub Bagi Orang Kristen Dalam Menghadapi Penderitaan Stevanus, Kalis; Marbun, Stefanus
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v1i1.20

Abstract

Penderitaan bisa dialami bagi semua orang baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada anak-anak. Setiap orang ataupun keluarga pernah menghadapi tragedi hidupnya masing-masing, misalnya peristiwa kematian, sakit, krisis keuangan, penyakit, dan sebagainya. Dalam rangka merefleksikan penderitaan orang percaya, salah satu kitab yang menarik perhatian untuk dibahas adalah kitab Ayub. Kisah Ayub hingga kini masih tetap menjadi bahan pembicaraan ketika seseorang menghadapi penderitaan. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan dapat mengalami penderitaan yang begitu berat. Dengan pendekatan menggunakan metode analisis naratif terhadap kitab Ayub ini diharapkan orang percaya masa kini dapat memaknai penderitaan dengan bercermin dari pengalaman Ayub tersebut, dan selanjutnya penting melakukan refleksi diri. Tujuannya agar orang Kristen termotivasi untuk bertahan dalam iman, manakala berhadapan langsung dengan realitas penderitaan yang tak terhindari. Berdasarkan kajian analisis naratif terhadap kisah penderitaan Ayub maka diperoleh beberapa makna penderitaan sebagai refleksi bagi iman orang percaya, antara lain: pertama, bahwa orang Kristen tidak terlepas dari realitas penderitaan. Kedua: Iman orang Kristen akan diuji Tuhan. Ketiga: Tuhan adalah Tuhan yang Mahaadil, tidak ada kecurangan dalam diri-Nya. Keempat: Penderitaan orang Kristen ada dalam batas dan pengawasan Tuhan, sehingga tidak satu pribadi maupun kuasa apapun yang dapat menjamah orang percaya, jika tidak mendapat ijin-Nya. Kata-kata Kunci: Ayub, makna, penderitaan, refleksi, orang Kristen
Dari Mimbar ke Kehidupan Sehari-hari: Pengaruh Nyata Gaya Hidup Gembala terhadap Jemaat Sole , Anita Sari; Stevanus, Kalis
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1016

Abstract

This study aims to examine in depth how a pastor's lifestyle influences the congregation's practices in the context of the challenges of modernity. This study uses a library research method, which involves collecting and analyzing literature from various relevant theological and scientific sources. The results of the study indicate that a pastor's lifestyle, which reflects spiritual, moral, and social values, has a significant influence on the character formation of the congregation, both individually and communally. In the shepherding process, a pastor's exemplary life becomes the primary medium in transferring Christian values to the congregation through concrete actions, not just verbal teachings. A pastor's lifestyle impacts three main dimensions of the congregation's life: spirituality, moral ethics, and social relationships. Authentic and consistent exemplary behavior from a pastor has been proven to strengthen faith, shape ethical character, and encourage the congregation's active participation in social life and church services. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana gaya hidup seorang gembala sidang memengaruhi praktik hidup jemaat dalam konteks tantangan modernitas. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, yang melibatkan pengumpulan dan analisis literatur dari berbagai sumber teologis dan ilmiah yang relevan. Hasil kajian menujukan bahwa gaya hidup gembala, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial, memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter jemaat, baik secara individual maupun komunal. Dalam proses penggembalaan, keteladanan hidup seorang gembala menjadi media utama dalam mentransfer nilai-nilai kekristenan kepada jemaat melalui tindakan nyata, bukan hanya ajaran verbal. Gaya hidup seorang gembala berpengaruh pada tiga dimensi utama dalam kehidupan jemaat, yakni spiritualitas, etika-moral, dan hubungan sosial. Keteladanan yang otentik dan konsisten dari seorang gembala terbukti mampu memperkuat iman, membentuk karakter etis, serta mendorong partisipasi aktif jemaat dalam kehidupan sosial dan pelayanan gereja.
Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini Loru, Ariance; Stevanus, Kalis
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1017

Abstract

This study aims to analyze the concept of servant leadership based on Philippians 2:6-8 and its relevance to the modern church. The method used in this study is a qualitative approach through literature review and exegetical study. The focus of the study is directed at the practical theological realm of Jesus Christ's example of humility, self-emptying, and obedience to the point of death on the cross. The exegetical results indicate that servant leadership offers an alternative, transformative solution amidst the challenges of the modern church, such as secularization, technological development, religious pluralism, and socio-cultural change. The example of Jesus Christ, which teaches three main aspects of servant leadership: relinquishing personal rights, taking on the form of a servant, and living in obedience and sacrifice, will shape the character of Christian leaders who are humble, imbued with integrity, and contextual. This study confirms that servant leadership is not merely an organizational strategy, but a theological calling rooted in the example of Jesus Christ himself.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan hamba berdasarkan Filipi 2:6-8 serta relevansinya bagi gereja modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan studi eksegesis. Fokus kajian diarahkan ke ranah teologis praktis terhadap teladan Yesus Kristus yang merendahkan hati, mengosongkan diri dan taat sampai mati di atas kayu salib. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa kepemimpinan hamba memberikan alternatif yang solusi tranformatif di tengah tantangan gereja modern, seperti sekularisasi, perkembangan teknologi, pluralisme agama, serta perubahan sosial-budaya. Teladan Yesus Kristus yang mengajarkan tiga aspek utama kepemimpinan hamba, yaitu: melepaskan hak pribadi, mengambil rupa sebagai hamba, serta hidup dalam ketaatan dan pengorbanan akan membentuk karakter pemimpin Kristen yang rendah hati, berintegritas, dan kontekstual. Penelitian ini memberikan penegasan bahwa kepemimpinan hamba bukan sekedar strategi organisasi, melainkan panggilan teologis yang berakar pada teladan Yesus Kristus sendiri.
Konsep Diri Remaja Kristen Yatim Piatu: Studi Fenomenologi Kalis Stevanus; Maria Setiarini
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 1 No. 2 (2021): December
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v1i2.53

Abstract

The death of a parent can be a devastating and painful experience for a teenager. Teenagers lose love and parental figures. The correct self-concept is needed by teenagers in living their lives. To develop the correct self-concept, of course, involve other parties, such as orphanages. This study aims to describe the self-concept of adolescents who have orphaned status at the Dorkas Porong Orphanage, Sidoarjo. This study the author uses a qualitative approach with a phenomenological perspective. Data were collected through observation and in-depth interviews of the five research subjects who were orphans. The results showed that in general, they already had a good self-concept because of the Christian spiritual development at the orphanage. This spiritual guidance guides teenagers to learn to accept and appreciate themselves positively. They show: 1) a life style that is full of enthusiasm in carrying out daily life, 2) has a clear purpose in life, 3) can carry out daily responsibilities at the orphanage with enthusiasm and 4) is able to adapt to the environment. In addition, the formation of their self-concept supported by a family-friendly environment becomes a motivation for self-acceptance of adolescents and helps adolescents to live a normal adolescence, even without the presence of their parents.