Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

TINGKAT KERAWANAN BENCANA BIOLOGIS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN PENDEKATAN SPASIAL DI KABUPATEN BOMBANA Osu Oheoputra Husen; Erny Tamburaka
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 14 No. 1 (2022): Envirotek: Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/envirotek.v14i1.122

Abstract

Penelitian ini menganalisis persebaran indeks kerawanan DBD berdasarkan incidence rate (IR). Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara Penelitian menggunakan desain kuantitatif. Objek analisis adalah jumlah kasus, frekuensi serta indeks kerawan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan analisis spasial (ArcView 3.2). Kasus DBD di Kabupaten Bombana tersebar di enam kecamatan dan 35 desa/kelurahan. Poleang Barat 208 kasus, Poleang 111 kasus, Poleang Selatan 64 kasus, Poleang Timur 46 kasus, Rumbia 24 kasus dan Rumbia Tengah 17 kasus. Ada 12 desa/kelurahan berstatus “sangat rawan”, 6 yang “rawan”, 2 yang “agak rawan”, 8 yang “agak aman” dan 7 desa/kelurahan yang “aman”. Rata-rata jumlah kasus DBD yang terjadi sekitar 0,33-0,98 % dari total jumlah penduduk. Ditemukan usia 0-10 tahun (48,30 %), 11-20 tahun (28,09 %). Menjangkiti laki-laki sebanyak 49,57 % dan perempuan 50,43 %.
PKM Inovasi Teknologi Pertanian pada Pengelolaan Lahan Sawah di Desa Lampeantani Kecamatan Rarowatu Kabupaten Bombana Husen, Osu Oheoputra; Eva Safitri Maladeni; I Made Sukratman; Jamal Mukaddas; Delfi Handayani; Chelita Vero Anggia Putri; Ainun Nur Rahmayani
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEMBANGUN NEGERI Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEMBANGUN NEGERI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengolahan lahan pada sawah di Desa Lampeantani secara umum masih dikelola secara tradisional tanpa menggunakan teknologi atau input pertanian modern sehingga dapat membatasi optimalisasi produktivitas pertanian. Para petani yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Lampeantani sudah berupaya menyewa alat pengolahan lahan/traktor namun dengan keterbatas alat/mesin traktor yang tersedia menyebabkan waktu tunggu/antrian yang dibutuhkan cukup lama dan juga harga sewa yang cukup tinggi turut membebani biaya produksi para petani. Berdasarkan uraian permasalahan diatas maka terdapat 2 capaian/tujuan yang akan dipenuhi, pertama yaitu peningkatan keberdayaan mitra melalui aspek manajemen dengan peningkatan jumlah aset dan kedua peningkatan keberdayaan mitra melalui aspek sosial kemasyarakatan dengan peningkatan pengetahuan terhadap inovasi teknologi pertanian. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Lampeantani Kecamatan Rarowatu Kabupaten Bombana menghasilkan dua Kesimpulan yaitu telah terjadi peningkatan level pemberdayaan masyarakat bidang pengembangan sosial kemasyarakatan berupa peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap inovasi teknologi pertanian terhadap pengolahan lahan sawah. Kedua yaitu peningkatan level keberdayaan mitra berupa aspek menjemen dengan peningkatan jumlah asset kelompok tani Sinar Pagi sehingga memberikan kesempatan kepada masyarakat terhadap aksesibilitas terhadap alat pertanian modern.
Analisis Perkembangan Pendapatan Daerah dan Infrastruktur Jalan dalam Mendukung Pembangunan di Daerah Otonomi Baru: Studi Kasus di Kabupten Buton Selatan Mirad; Lapipi; Hasddin; Tri Astuti; Alfian Ishak; Osu Oheoputra Husen
SCEJ (Shell Civil Engineering Journal) Vol. 9 No. 2 (2024): SCEJ (Shell Civil Engineering Journal)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Muhammadiyah University of Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/scej.v9i2.7158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan pendapatan daerah Kabupaten Buton Selatan periode 2016–2022 berdasarkan sumber pendapatan dan faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pengelolaan keuangan daerah. Selain itu, penelitian ini mengevaluasi kondisi infrastruktur jalan di wilayah ini dan dampaknya terhadap efisiensi ekonomi, konektivitas antardaerah, dan peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini menganalisis data sekunder dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), Badan Pusat Statistik (BPS), dan dokumen instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan daerah masih didominasi oleh dana perimbangan dengan kontribusi rata-rata 79,77%, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif kecil, meskipun mengalami peningkatan sebesar 4,82% pada tahun 2022. Ketergantungan yang tinggi terhadap transfer pusat mengindikasikan perlunya strategi diversifikasi sumber pendapatan untuk meningkatkan kemandirian fiskal daerah. Dari sisi infrastruktur, panjang jalan mengalami penurunan signifikan sebesar 24,55 km pada tahun 2021–2022, yang dapat menghambat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun telah dilakukan perbaikan jalan, namun perbaikan kualitas jalan masih mengakibatkan beberapa ruas jalan mengalami kerusakan, sehingga diperlukan kebijakan pemeliharaan yang lebih efektif. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan rekomendasi strategis dalam mengoptimalkan pengelolaan keuangan daerah dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di Kabupaten Buton Selatan.
PENERAPAN PROGRAM LANGIT BIRU TERHADAP PENURUNAN PENYAKIT ISPA DI KOTA KENDARI Husen, Osu Oheoputra
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol. 4 No. 3 (2019)
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportation is an important activity in the lives of Indonesian people. However, in the implementation of transortions it has a negative impact on the environment such as air pollution. The air pollution caused by pollutants has an impact on public health, ARI is a respiratory disease that is often experienced by urban communities. The Blue Sky program is an effort to reduce air pollution from the transportation sector that has been launched since 1996. The results of the Langit Biru program on reducing respiratory distress cases have not yet been felt, various obstacles in this program are still being obtained. In fact, several studies in other countries have shown that air pollution control can contribute significantly to decreasing cases of respiratory disease. Therefore, in order to realize safe air quality for health, greater support and roles are needed from the government, program implementers, and the community.
UPAYA PENCEGAHAN DAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP TANGGAP DARURAT BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI (Studi Kasus Di Kecamatan Kolono Timur Kabupten Konawe Selatan) Tamburaka, Erny; Husen, Osu Oheoputra
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol. 4 No. 4 (2019)
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disaster prevention and community preparedness have a significant and strong influence on earthquake and tsunami disaster response in East Kolono sub-District, South Konawe Regency with an R2 value of 0.888, which means prevention and public preparedness have an effect of around 88.80% on disaster response earthquake and tsunami. Partially, prevention has a significant and strong influence on earthquake and tsunami disaster response,and community preparedness also have a significant and strong influence on the earthquake and tsunami disaster response in East Kolono sub-District. In the management of earthquake and tsunami disaster response in the eastern sub-district of East Kolono, it is carried out by making routes and evacuation sites, where there are eleven 11 potential and feasible temporary evacuation locations in Ngapawali Village for 2 points; Batu Putih Village 3 points; 2 points of Rumba-Rumba Village, 2 points of Ampera Village and 2 points of Amolengu Village, and 9 main points of evacuation, namely in Ngapawali Village 1 point, Batu Putih Village 2 points, Rumba-Rumba Village 2 points, Ampera Village 2 points, and Amolengu Village 2 points.
Evaluasi Kinerja Tempat Pembuangan Sampah Sementara Kota Unaaha: Studi Kasus pada Infrastruktur, Kesesuaian Lahan, dan Dampak Lingkungan Husen, Osu Oheoputra; Mukaddas, Jamal; Handa, Muhamad Idham
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol. 10 No. 1 (2024): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v10i1.4630

Abstract

Kecamatan unaaha merupakan salah satu penghasil sampah terbanyak di kabupaten konawe, berdasarkan dari data dinas lingkungan hidup kabupaten konawe untuk estimasi volume sampah kecamatan unaaha pada tahun 2022 mencapai 10 ton perhari. Potensi timbulan sampah yang besar jika tidak dipersiapkan penanggulangannya dengan baik maka memberikan dampak buruk terhadap lingkungan seperti pencemaran lingkungan rusaknya keindahan tata kota dan kesehatan masyarakat. Mengantisipasi hal tersebut maka diperlukan evaluasi kinerja Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara di Kecamatan Unaaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi infrastruktur, daya tampung dan kesesuaian lahan TPS sementara menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini menggunakan metode survey, skoring dan tumpangsusun (overlay). Hasil penelitian yaitu terdapat 3 TPS yang tidak teridentifikasi di lapangan dari 16 TPS yang terinventaris DLH Kab. Konawe, infrastruktur TPS di Kecamatan Unaaha dalam katagori buruk, perlu adanya penambahan minimlal 1 TPS ukuran 6 m3 masing-masing di kelurahan tumpas, kelurahan wawinggole, kelurahan tuoy, kelurahan asambu, kelurahan unaaha dan kelurahan latoma. Terdapat 5 TPS yang di ketogorikan cukup sesuai dengan kesesuaian lahan yang terdapat di 3 kelurahan yaitu kelurahan puunaha, kelurahan arombu, kelurahan ambekairi.
Form of Communication for Teaching Bajo Children The Local Values in Utilizing Natural Marine Resources Jumaidin, La Ode; Irawati, Irawati; Udu, Sumiman; Hasddin, Hasddin; Husen, Osu Oheoputra
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.26285

Abstract

The issue behind the research on the Bajo tribe is the lack of understanding regarding the forms of communication used by the tribe to impart knowledge about local wisdom concerning the sustainable use of coastal and marine resources. Therefore, the aim of this research is to identify both the forms of local wisdom and the communication methods used to educate Bajo children about the sustainable use of coastal resources, ensuring the preservation of the Bajo tribe's cultural identity. The study was conducted among the Bajo tribe living along the coast of the Tiworo Strait in Muna Regency and West Muna Regency. The research informants consisted of 15 individuals, purposively selected, including elders and tribal leaders. The findings revealed that the local wisdom being passed down includes traditional management of coastal natural resources, such as: (a) the mammia kadialo tradition, involving fishing practices, which include palilibu, pongka, and sasakai; (b) traditional methods of fishing, including missi, ngarua, mana (archery using traditional tools), and nyuluh/balobe (also called ngobor); (c) the Pamali tradition, which involves specific taboos at certain times and places; and (d) the Maduai Pinah ritual, a form of worship for the "sea ruler" believed to protect and provide natural resources. Communication methods used to teach Bajo children about the utilization of natural resources include intrapersonal communication, interpersonal communication, and group communication. Permasalahan yang mendasari penelitian tentang suku Bajo adalah kurangnya pemahaman mengenai bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan oleh suku tersebut dalam menyampaikan pengetahuan tentang kearifan lokal terkait pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk kearifan lokal dan metode komunikasi yang digunakan dalam mendidik anak-anak suku Bajo tentang pemanfaatan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, sehingga dapat menjaga kelestarian identitas budaya suku Bajo. Penelitian ini dilakukan pada suku Bajo yang tinggal di sepanjang pesisir Selat Tiworo di Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat. Informan penelitian terdiri dari 15 orang yang dipilih secara purposive, termasuk para tetua dan kepala suku. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kearifan lokal yang diwariskan meliputi pengelolaan tradisional sumber daya alam pesisir, antara lain: (a) tradisi mammia kadialo, yang melibatkan praktik penangkapan ikan, termasuk palilibu, pongka, dan sasakai; (b) cara tradisional menangkap ikan, seperti missi, ngarua, mana (memanah dengan alat tradisional), serta nyuluh/balobe (juga disebut ngobor); (c) tradisi Pamali, yaitu larangan pada waktu dan tempat tertentu; dan (d) ritual Maduai Pinah, yaitu penyembahan kepada "penguasa laut" yang diyakini melindungi dan menyediakan sumber daya alam bagi mereka. Metode komunikasi yang digunakan untuk mengajarkan anak-anak suku Bajo tentang pemanfaatan sumber daya alam meliputi komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, dan komunikasi kelompok.
Urban Forest Ecosystem Approaches to Mitigating Urban Heat Island Effects Husen, Osu Oheoputra; Hasddin; Ishak, Alfian; Tiro, Ahmad Haeruddin; Hidayat, Johri; Sumarata, De Naddya Yaumil Fadillah; Akeo, Jei
Jurnal Sylva Lestari Vol. 14 No. 2 (2026): May
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v14i2.1354

Abstract

The urban heat island phenomenon has become a major concern for medium-sized tropical coastal cities, driven by interactions among land-use change, increasing building density, and the effectiveness of spatial planning. This paper examines how urban forest distribution and building density relate to urban heat island intensity using an urban ecology framework, remote sensing-based spatial analysis, including normalized difference vegetation index (NDVI), normalized difference built-up index (NDBI), and land surface temperature (LST), and spatial planning policy evaluation. The study combines Landsat imagery (2015–2023) with spatial planning documents, green space data, and stakeholder interviews. LST was obtained from NDVI-based emissivity-corrected digital number temperature-radiation-brightness conversion, and linear regression was used to determine the impact of NDVI and NDBI on LST. Based on the research findings, the two cities show different LST patterns. In Baubau, the temperature rise is largely influenced by building density, meaning the denser the buildings, the hotter the city becomes. In Kendari, on the other hand, temperature changes are more strongly influenced by vegetation density. Important ecological features, such as urban forests, mangrove forests, and coastal vegetation, remain scattered along the city’s outskirts. Their existence has not been fully integrated into urban spatial planning. As a follow-up to these findings, we emphasize the need for ecosystem-based measures to tackle the urban heat island effect. This includes tightening regulations on building density and green open spaces through permitting systems, as well as preserving remaining vegetation while developing well-integrated green corridors. Keywords: Baubau, building intensity, green open space, Kendari, land surface temperature, urban ecology