Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Menggugat Legitimasi Budaya: Kritik Etika Sosial Kristen Terhadap Kekerasan Seksual dalam Adat Sifon Yesika Maubanu; Irene Ludji; Mariska Lauterboom
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2026): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/v8gn4y14

Abstract

The Sifon customary circumcision practice is a traditional male circumcision ritual that contains elements of sexual violence against women. This study examines women’s experiences within this tradition through the lens of Christian social ethics, employing a qualitative ethnographic approach. The findings reveal that the Sifon custom represents a systematic and institutionalized form of violence, in which women’s bodies are objectified as instruments in male healing rituals. This tradition normalizes sexual violence and reinforces the marginalization of women within the social structure of the community. From the perspective of Christian Social Ethics, this practice violates human dignity, social justice, and love for others. The sexual exploitation legitimized through cultural symbols reflects structural injustice that requires critical theological and social interpretation. The implications of this study underscore the importance of an ethical approach that prioritizes the rights of victims, fosters gender-sensitive cultural awareness, and supports social reconstruction that restores women’s dignity. Therefore, the Sifon customary practice is not merely a cultural heritage but an institutionalized form of sexual violence. Christian Social Ethics provides a moral foundation to deconstruct oppressive cultural legitimations and to promote social transformation that is just, equal, and respectful of women as dignified creations of God.
Analisis Semiotika Peirce dan Barthes terhadap Konstruksi Identitas Sosial dalam Struktur Simbuang Batu Bori Kalimbuang, Toraja Utara, Sulawesi Selatan Yusticia Paembonan; Izak Y.M. Lattu; Mariska Lauterboom
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2355

Abstract

Warisan megalitik Simbuang Batu di kompleks Bori Kalimbuang merupakan sistem tanda budaya material yang menyimpan makna sosial, hierarki, dan identitas kolektif masyarakat Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem tanda Simbuang Batu sebagai medium komunikasi visual lintas generasi, mengkaji relasi stratifikasi sosial tana' dengan hak kultural pendirian monolit, serta memetakan dinamika pergeseran norma adat pascakristianisasi melalui pendekatan semiotika integratif. Metode kualitatif deskriptif-analitis diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap delapan informan kunci, dengan analisis data menggunakan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara siklikal. Hasil penelitian menunjukkan Simbuang Batu beroperasi secara simultan sebagai icon, index, dan symbol dalam kerangka Peirce, sekaligus menghasilkan lapisan denotasi, konotasi, dan mitos dalam kerangka Barthes. Eksklusivitas hak pendirian bersifat kategoris berdasarkan strata tana' bulaan dan tana' bassi, tanpa korelasi langsung dengan dimensi fisik monolit. Pascakristianisasi, terjadi remythologization menuju formasi makna yang lebih terbuka secara finansial, namun syarat ritual material tetap bertahan karena cultural inertia yang kuat. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika budaya material di Indonesia, dan merekomendasikan pendekatan pelestarian yang mengakomodasi dinamika negosiasi budaya tanpa mengorbankan integritas ritual.
Decolonizing Christian Education in Batak: Initiating Curriculum Transformation Herman Tampubolon; Izak Y. M. Lattu; Mariska Lauterboom; Tony Tampake
Journal La Edusci Vol. 7 No. 4 (2026): Journal La Edusci
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallaedusci.v7i4.3292

Abstract

This article examines the enduring colonial legacy within Christian education in the Batak region, which has systematically marginalized indigenous knowledge and privileged Western pedagogical paradigms as the normative expression of Christianity. Focusing on the Sunday School ministry of the Huria Kristen Indonesia (HKI) church, the study initiates a critical inquiry into curriculum transformation through the lens of decolonial theory. Employing an interdisciplinary methodology that integrates the sociology of education, sociology of religion, and decolonial studies, qualitative data were gathered through in-depth interviews with two pastoral practitioners and contextual observations. The Batak philosophy of Sala Mandasor Sega Luhutan (SMSL) serves as a critical framework to deconstruct entrenched Eurocentric curricula and reconstruct pedagogical practices that center indigenous epistemology. Findings reveal that despite HKI’s historical resistance to missionary hegemony, its Sunday School curriculum remains dominated by hierarchical, banking-model pedagogy that treats children as passive recipients. Indigenous cultural elements are largely confined to ceremonial performances rather than substantive instructional integration, perpetuating epistemic alienation and dehumanization. The study argues that authentic decolonization requires pastors and educators to transition toward dialogical, problem-posing methodologies that recognize Sunday School children as active epistemic subjects bearing the imago Dei. By embedding Batak kinship values, oral traditions, and symbolic frameworks into core biblical instruction, Christian education can become a liberating practice that honors cultural heritage while fostering theological contextualization. This research offers a strategic pathway for ecclesiastical curriculum reform ahead of HKI’s centenary in 2027.
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Titania Madelein Litelnoni; Astrid Bonik Lusi; Mariska Lauterboom
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.
EKSPLOITASI ALAM DAN KRISIS KEBERLANJUTAN: PERSPEKTIF EKO-KRISTOLOGI DI TENGAH PERTAMBANGAN DAIRI Simbolon, Hotmaritua; Ludji, Irene; Lauterboom, Mariska
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1419

Abstract

Tulisan ini membahas dinamika sosial, ekologis, dan teologis terkait kehadiran PT. Dairi Prima Mineral (PT. DPM) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, khususnya di Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Masyarakat Dairi yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian menghadapi perubahan signifikan akibat aktivitas pertambangan seng dan timbal yang berlokasi di kawasan hutan lindung. Kehadiran tambang menimbulkan dampak ekologis berupa perubahan bentang alam, pencemaran tanah dan air, potensi longsor, serta ancaman bencana akibat pengelolaan limbah tambang. Selain itu, terjadi pergeseran sosial-budaya, termasuk melemahnya nilai gotong royong, perubahan mata pencaharian, polarisasi antara kelompok pro dan kontra tambang, hingga konflik dalam keluarga yang melibatkan relasi suku Pakpak dan Toba. Melalui pendekatan eko-teologi dan eko-kristologi, tulisan ini merefleksikan mandat manusia sebagai ciptaan segambar Allah yang dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara bumi, bukan mengeksploitasinya secara destruktif. Krisis ekologi dipahami sebagai akibat dari paradigma antroposentris yang keliru, sehingga diperlukan pembaruan cara pandang teologis yang menempatkan Kristus dalam relasi kosmis dengan seluruh ciptaan. Sebagai respons, diajukan langkah advokasi hukum, dialog dengan pemangku kepentingan, serta edukasi tanggap bencana sebagai upaya konkret membela keadilan ekologis dan keberlanjutan hidup masyarakat.