Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pattern of Bacteria, Antibiotic Uses and Sensitivity among Ear, Nose, and Throat Infectious Disease in Otolaryngology Ward in Tertiary Hospital Yolla Sri Agustina; Imam Megantara; Arif Dermawan
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v7n1.1545

Abstract

Objective: To provide an overview of antibiotic use, bacterial patterns and sensitivity to antibiotics in the otolaryngology ward.Methods: This was a cross-sectional study, with total sampling method from medical record data of otolaryngology inpatients that use antibiotics for the period of January 1, 2016–June 30, 2016. Exclusion criteria are incomplete patient medical records and chemotherapy or radiotherapy patients. The variables studied were antibiotic use, bacterial pattern and susceptibility.Results: Among 276 subjects included in the inclusion criteria, the most widely used are single antibiotics (98.9%), generally used for 2–3 days (73.9%), via intravenous lines (92%), and with indications as empirical+prophylaxis (77.5%). Commonly used antibiotics are cefazolin (42.51%), ceftriaxone (29.54%), and cefotaxime (20.76%). The most common bacteria were E. coli (36.36%) and the most sensitive types of antibiotics were meropenem, amikacin, and tigecyclin, while the most resistant antibiotics were ampicillin, ciprofloxacin, and ceftriaxone.Conclusions: The majority of antibiotics used in the otolaryngology treatment room are cefazolin as prophylaxis. E. coli were the most found culture results and the most sensitive types of antibiotics, namely meropenem, amikacin, and tigecyclin, while the most resistant antibiotics were ampicillin, ciprofloxacin, and ceftriaxone.Keywords: Antibiotics, antibiotic sensitivity, bacterial pattern, ears, nose, throat
Chronic Rhinosinusitis Patient with Nasal Polyp Characteristics at Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Outpatient Clinic, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung Dina Riana; Arif Dermawan; Wijana Wijana; Ongka Muhammad Saifuddin
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.53 KB)

Abstract

Objective: To evaluate chronic rhinosinusitis (CRS) with nasal polyp (NP) characteristics in patients with routine visits to the Otolaryngology-Head and Neck Surgery outpatient clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung.Methods: This descriptive retrospective cross-sectional study was conducted at the Rhinology-Allergy Outpatient Clinic, Departement of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, in the period of January 2014 to December 2014. Data were obtained from medical records and the sampling method used was total sampling. A total of 100 CRS with NP patients were evaluated. Nasal endoscopy examinations were performed. Patients were classified based on age into 10–20 years, 21–31 years, 32–42 years, 43–53 years, and >54 years groups. Results: Chronic rhinosinusitis with NP incidences were mostly found in male patients compared to females. There were several CRS cases with NP risk factors, including smoking and allergy. Conclusions: In the study, CRS with NP patients may possibly have one or more risk factors. Smoking is the major risk factor from CRS with NP after allergy. Keywords: Nasal polyp, nasal endoscopy, rhinosinusitis, risk factor DOI: 10.15850/ijihs.v4n2.834
Laporan Kasus: Otitis Media Supurastif Kronik Tipe Kolesteatoma dengan Fistel Kutaneus Multipel dan Kelainan Kongenital Telinga Luar Unilateral Fransiskus Poluan; Arif Dermawan; Lina Lasminingrum; Bogi Soeseno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 32 No. 2 (2016): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Otitis media supuratif kronik (OMSK) tipe kolesteatoma sering dijumpai dan dapat menimbulkan komplikasi seperti fistel kutaneus. Kelainan kongenital telinga luar berupa mikrotia dan atresia liang telinga merupakan faktor predisposisi terbentuknya OMSK tipe tersebut. Pada tulisan ini dilaporkan kasus OMSK tipe kolesteatoma yang disertai fistel kutaneus multipel dan kelainan kongenital telinga luar. Seorang perempuan berusia 21 tahun memiliki riwayat nyeri telinga disertai otorea berulang pada telinga kanan sejak tiga tahun yang lalu. Kelainan tersebut disertai keluarnya cairan dari fistel kutaneus pada daerah preaurikular dan retroaurikular. Selain itu, pasien juga menderita kelainan kongenital telinga luar yaitu mikrotia dan atresia kanalis akustikus eksternus. Untuk tata laksana dilakukan mastoidektomi dinding runtuh dan penutupan primer fistel dan kanaloplasti. Kasus ini, OMSK tipe kolesteatoma dengan fistel kutaneus multipel disertai kelainan telinga luar, merupakan kasus yang jarang ditemukan. Kata kunci: kolesteatoma, mikrotia, mastoidektomi dinding runtuh Abstract Chronic suppurative otitis media (CSOM) with cholesteatoma often leads to complications such as cutaneous fistula. Congenital outer ear abnormality such as microtia and aural atresia is a predisposing factor of cholesteatoma formation and middle ear infection. We present a case of 21-year old woman who came with history of pain in her right ear with recurrent otorrhea since 3 years ago and discharge from preauricular and retroauricular fistulae, with microtia and aural atresia. Canal wall down mastoidectomy, primary closing of fistula and canaloplasty were successfully done. Currently, the general condition of the patient is fine. CSOM with cholesteatoma and multiple cutaneous fistula with congenital outer ear abnormality is a rare case, which can be treated with canal wall down mastoidectomy primary closing of cutaneous fistula with edge excision and canaloplasty. Keywords: cholesteatom, microtia, canal wall down mastoidectomy.
Penerapan Precision medicine pada Rinitis Alergi di Poliklinik T.H.T.K.L. RS Dr. Hasan Sadikin Bandung Pudyastuti Rachyanti; Teti Madiadipoera; Arif Dermawan; Sally Mahdiani
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4 Juni 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i4.31283

Abstract

Rinitis alergi adalah suatu proses inflamasi pada mukosa hidung yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) setelah pajanan alergen. Gejalanya terdiri dari hidung tersumbat, hidung berair, hidung gatal dan bersin. Saat ini paradigma baru dalam perawatan medis adalah precision medicine yang terdiri dari 4 prinsip yaitu penatalaksanaan secara personal, prediksi kesuksesan, pencegahan perkembangan penyakit serta partisipasi pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil penerapan precision medicine pada rinitis alergi dengan melakukan penelitian observasional  retrospektif pada 120 pasien rinitis alergi di Poliklinik Rinologi-Alergi Departemen/KSM Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. RS Dr. Hasan Sadikin, periode 1 Januari 2017 – 31  Desember 2017. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dengan nasoendoskopi, pemeriksaan penunjang berupa tes kulit tusuk dengan ekstrak alergen ALK-Abello, penilaian kualitas hidup dengan rhinoconjuctivitis quality of life questionaire (RQLQ). Penerapan precision medicine dinilai berdasarkan penegakan diagnosis dan tatalaksana per individu, pengukuran nilai skala analog visual total gejala hidung dan kepatuhan pasien kontrol. Efektivitas pengobatan pada rinitis alergi dinilai setelah pengobatan selama 4 minggu. Penerapan precision medicine diperoleh hasil bahwa rinitis alergi terkontrol dan tidak terkontrol sesuai skala analog visual total gejala hidung adalah sebesar 71,7% dan 28,3%, serta angka kepatuhan pasien kontrol adalah 100%. Didapatkan kesimpulan bahwa penerapan precision medicine pada rinitis alergi menghasilkan efektivitas yang baik.Kata Kunci: Precision medicine Rinitis alergi, Skala analog visual.
Karakteristik OMSK Dengan Kolesteatoma Pada Pasien Rawat Inap di RS Hasan Sadikin Periode 2016-2017 Arif Tria; Lina Lasminingrum; Arif Dermawan
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 3 (2020): Volume 5 Nomor 3 Maret 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i3.28764

Abstract

Pendahuluan : Otitis Media Supuratif Kronik merupakan infeksi kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga tengah disertai gangguan pendengaran. Kolesteatoma adalah salah satu komplikasi utama OMSK. Makalah ini bertujuan menggambarkan karakteristik OMSK dengan kolesteatoma pada pasien rawat inap di RSHS pada tahun 2016-2017.Metode : Penelitian deskriptif observasional potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis pasien rawat inap RSHS pada tahun 2016-2017 dengan diagnosis OMSK dengan kolesteatoma.Hasil : Pada periode 2016-2017 jumlah pasien OMSK dengan kolesteatoma sebanyak 116 pasien, terdiri dari 86 pasien (74%) dewasa, 30 pasien (26%) anak-anak, 66 pasien (57%) perempuan, 50 pasien (43%) laki-laki, gangguan pendengaran konduktif (43%)., pembentukan kolesteatoma pada cavum timpani dan mastoid (89, 77%) dan 22 pasien (18.9%) dengan komplikasi OMSK.Diskusi : Insidensi OMSK berulang pada pasien dewasa cukup tinggi. Karena itu, pasien disarankan untuk menuntaskan pengobatan dan melakukan pemeriksaan penunjang guna mengetahui kemungkinan terjadinya komplikasi.Kesimpulan : Penderita OMSK kolesteatoma terbanyak adalah dewasa perempuan. dengan gangguan pendengaran konduktif dan lokasi pembentukan kolesteatoma terbanyak adalah pada cavum timpani dan mastoid. Terdapat 22 pasien dengan komplikasi OMSKKata Kunci : kolesteatoma, konduktif, OMSK, perforasi
Hearing status of children under five years old in Jatinangor district Wijana Wijana; Frino Abrianto; Shinta Fitri Boesoirie; Arif Dermawan
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 50, No 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.464 KB) | DOI: 10.32637/orli.v50i1.348

Abstract

Background: Hearing is one of the most influential factors in children developmental process. The critical period of hearing and speech development begins in the first 6 months of life and continues until the age of 3 years. World Health Organization estimates that one to three in a thousand births have sensorineural hearing loss (SNHL). Early detection of hearing loss is substantial so that the diagnosis can be established and appropriate intervention can be done earlier. Purpose: To determine the hearing status in children under five years of age in Jatinangor. Method: A cross-sectional observational study with 240 subjects under the age of five in 12 Integrated Healthcare Center (Posyandu) in Jatinangor. Examinations included parental interviews, Behavioral Observation Audiometry (BOA), Otoacoustic Emissions (OAE), and tympanometry tests. Result: One child (0.4%) had moderate conductive hearing lossin the left ear, 1 child (0.4%) had bilateralsevere SNHL, and 7 children (2.9%) had profound bilateral SNHL. Conclusion: The incidence of hearing loss in children under five in Jatinangor was 3.8%, with bilateral profound SNHL asthe highest number, and the most common cause were prenatal Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus (TORCH) infections.Keywords: children under-five, early detection, hearing status ABSTRAKLatar belakang: Pendengaran merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan anak. Periode kritis perkembangan pendengaran dan berbicara dimulai dalam 6 bulan pertama kehidupan dan terus berlanjut sampai usia 3 tahun. Badan kesehatan dunia memperkirakan satu sampai tiga dalam seribu kelahiran terdapat kejadian gangguan dengar jenis sensorineural. Deteksi dini gangguan dengar penting untuk dilakukan sehingga diagnosis dapat ditegakkan dan intervensi yang tepat dapat dilakukan sedini mungkin. Tujuan: Untuk mengetahui status pendengaran pada anak usia bawah lima tahun di kecamatan Jatinangor. Metode: Penelitian observasional potong lintang dengan subjek penelitian 240 anak usia bawah lima tahun di 12 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Kecamatan Jatinangor. Dilakukan pemeriksaan meliputi wawancara orangtua anak, tes Behavioral Observation Audiometry (BOA), tes Otoacoustic Emissions (OAE) dan tes timpanometri. Hasil: Didapatkan 1 anak (0,4%) mengalami gangguan dengar konduktif derajat sedang pada telinga kiri, 1 anak (0,4%) mengalami gangguan dengar sensorineural derajat berat bilateral, dan 7 anak (2,9%) mengalami gangguan dengar sensorineural derajat sangat berat bilateral. Kesimpulan: Angka kejadian gangguan dengar pada balita di kecamatan Jatinangor sebesar 3,8% dengan gangguan dengar terbanyak berupa sensorineural derajat sangat berat bilateral, dan latar belakang penyebab terbanyak adalah infeksi prenatal Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes simplex virus (TORCH).
Korelasi otitis media dengan temuan nasoendoskopi pada penderita rinosinusitis akut Ariel Anugrahani; Teti Madiadipoera; Arif Dermawan
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.015 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i2.114

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada hidung dan sinus paranasal yang berlangsung kurang dari 12 minggu. Adanya sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sumbatan pada tuba Eustachius sehingga dapat terjadi gangguan ventilasi dan inflamasi yang dapat menimbulkan otitis media. Tujuan: Melihat adanya hubungan hidung tersumbat, nasal edema, dan rinore pada pasien rinosinusitis akut dengan otitis media. Metode: Penelitian dengan desain cross sectional study dan data diambil secara deskriptif retrospektif dari rekam medis, di Poliklinik Rinologi Alergi Ilmu Kesehatan THT-KL RSHS Bandung, dalam periode Januari 2013 - Juni 2014. Didapatkan jumlah sampel sebanyak 93 pasien yang terdiri dari 38 pasien dengan OMA, 27 pasien dengan OME, dan 28 pasien dengan OMSK, dengan usia 1 sampai 79 tahun, berdasarkan derajat berat penyakit menurut Visual Analogue Scale (VAS), gejala hidung berdasarkan Weeke, Davis dan Okuda, pemeriksaan nasoendoskopi berdasarkan Lund-Kennedy. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis, chi square (p<0,05), dan analisis korelasi Spearman. Hasil: Terdapat korelasi yang bermakna antara otitis media dengan temuan nasoendoskopi yaitu edema mukosa dan rinore. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara peningkatan gejala obstruksi hidung dan edema mukosa serta rinore pada temuan nasoendoskopi pada penderita rinosinusitis akut dengan otitis media. Kata kunci: rinosinusitis akut, nasoendoskopi, otitis mediaABSTRACT Background: Acute rhinosinusitis is an inflammation of the nose and paranasal sinuses, which going on less than 12 weeks. If the Eustachian tube obstruction occurs, there will be ventilation and inflammatory disorders that can cause otitis media.rPurpose: This study aimed to find out the correlation of nasal obstruction, nasal edema, and rhinorrhea in acute rhinosinusitis patients with otitis media. Methods: The study was a cross sectional study which data were collected from retrospective descriptive study based on medical record at Rhinology-Allergy Clinic of ORL-HNS Department, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from January 2013 to June 2014, involved 93 patients from 1 to 79 years old. Data were analyzed by using the Kruskal-Wallis, chi square, and Spearman statistical test based on anamnesis, severity of the disease using Visual Analogue Scale, nasal symptoms from Weeke, Davis and Okuda, nasoendoscopy findings from Lund-Kennedy. Results: There was a significant correlation between otitis media with mucosal edema and rhinorrhea from nasoendoscopy. Conclusion: There was a correlation between the increased symptoms of nasal obstruction,mucosal edema, and rhinorrhea in nasoendoscopy findings in patients with acute rhinosinusitis with the occurrence of otitis media. Key words: acute rhinosinusitis, nasoendoscopy, otitis media
Efektivitas imunoterapi terhadap gejala, temuan nasoendoskopik dan kualitas hidup pasien rinosinusitis alergi Yuwan Pradana; Teti Madiadipoera; Melati Sudiro; Arif Dermawan
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.553 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i2.24

Abstract

Background: Rhinosinusitis is one of major health problems which increased the economic burden. With symptoms include nasal congestion, rhinorrhea, facial pain, and sometimes reduced or loss of smell, this condition may impair work productivity and quality of life (QOL). Rhinosinusitis is one of the comorbidity of allergic rhinitis. Allergen specific immunotherapy provides protection against the occurence of allergic symptoms and inflammatory reactions due to allergen exposure, that results in improvement  of QOL of allergic rhinosinusitis patients.   To assess the effectiveness of immunotherapy in the  severity of the disease, nasal symptoms, nasoendoscopic findings, drugs intake, and the QOL in allergic rhinosinusitis patients treated with specific immunotherapy. Methods: A retrospective descriptive study conducted at the Rhinology-Allergy Clinic of ORL-HNS Department, Dr.Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, on January - December 2011, towards 25 patients, by anamnesis, severity of the disease using Visual Analogue Scale (VAS), nasal symptoms from Weeke, Davis and Okuda, nasoendoscopic findings from Lund-Kennedy, drug intake score, and QOL assesment using Rhinoconjuctivitis Quality of Life Questionaire. Results: There was a significant correlation (p<0,05) between specific immunotherapy for 1 year observed by reduced disease severity, reduced nasal symptoms, nasoendoscopic findings improvement, reduced drug intake, and increased Quality of Life which shows significant results from 3 months after immunotherapy using Wilcoxon differential test (p<0,001). Conclusion: Immunotherapy for 1 year was significantly reduced disease severity, reduced nasal symptoms, improved nasoendoscopic findings, reduced drug intake, and improvement of QOL in patients with allergic rhinosinusitis began from 3 months after immunotherapy and maintained afterwards. Key words: allergic rhinosinusitis, nasal symptoms, nasoendoscopy, specific immunotherapy, quality of life    Abstrak :  Latar belakang: Rinosinusitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat sehingga menjadi beban besar terhadap perekonomian masyarakat. Dengan gejala berupa hidung tersumbat, rinore, nyeri pada wajah dan dapat disertai berkurang atau hilangnya penciuman, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup. Rinosinusitis merupakan salah satu komorbiditas dari rinitis alergi. Imunoterapi alergen spesifik bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap timbulnya gejala alergi dan reaksi inflamasi akibat pajanan alergen, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien rinosinusitis. Tujuan: Membuktikan efektivitas imunoterapi terhadap tingkat beratnya penyakit, gejala hidung, nasoendoskopi, penggunaan obat dan kualitas hidup pasien rinosinusitis alergi yang diberikan pengobatan imunoterapi selama 3, 6, dan 12 bulan. Metode: Dilakukan penelitian deskriptif retrospektif, di Poliklinik Rinologi Alergi Ilmu Kesehatan THT-KL RSHS Bandung, dalam periode JanuariDesember 2011 pada 25 pasien, menggunakan anamnesis, tingkat berat penyakit berdasarkan Visual Analogue Scale (VAS), gejala hidung  berdasarkan Weeke, Davis dan Okuda, pemeriksaan nasoendoskopi berdasarkan Lund-Kennedy, penggunaan obat dan penilaian kualitas hidup dengan Rhinoconjuctivitis Quality of Life Questionaire. Hasil: Didapatkan hubungan bermakna berdasarkan uji chi-kuadrat-Friedman   antara imunoterapi selama 1 tahun (p<0,05) terhadap penurunan tingkat berat penyakit, penurunan gejala hidung, perbaikan temuan nasoendoskopi, penurunan penggunaan obat, serta peningkatan kualitas hidup. Didapat perbaikan secara bermakna sejak 3 bulan pasca imunoterapi (p<0,001) berdasarkan uji beda Wilcoxon. Kesimpulan: Imunoterapi selama 1 tahun efektif terhadap penurunan tingkat berat penyakit, penurunan gejala hidung, perbaikan temuan nasoendoskopi, penurunan penggunaan obat, serta peningkatan kualitas hidup pada pasien rinosinusitis alergi, dengan perbaikan sejak 3 bulan dan bertahan hingga 1 tahun pasca-imunoterapi. Kata kunci: rinosinusitis alergi, gejala hidung, nasoendoskopi, imunoterapi, kualitas hidup 
Abses subgaleal sebagai komplikasi otitis media supuratif kronis Riska Adriana; Sally Mahdiani; Bogi Soeseno; Arif Dermawan
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1545.434 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i1.107

Abstract

Latar belakang: Abses subgaleal merupakan salah satu komplikasi yang jarang dari otitis media supuratif kronis. Abses subgaleal ditemukan sekitar 32,4%, namun baru satu kasus mastoiditis dengankomplikasi abses subgaleal pada pasien dewasa yang pernah dilaporkan. Tujuan: Laporan kasus inidimaksudkan untuk mempresentasikan gambaran klinis dan diagnosis, serta penatalaksanaan dari otitismedia supuratif kronis dengan komplikasi abses subgaleal. Kasus: Satu kasus otitis media supuratifkronis dengan komplikasi mastoiditis dan terjadi perluasan infeksi ke ruang subgaleal pada seorang wanitaberumur 21 tahun, gravida 35 minggu. Penatalaksanaan: Dilakukan insisi drainase di temporoparietal,kemudian dilakukan mastoidektomi setelah tindakan terminasi kehamilan. Kesimpulan: Abses subgalealadalah salah satu komplikasi yang jarang terjadi akibat dari otitis media supuratif kronis. Diagnosis secaradini dan penatalaksanan yang tepat akan menentukan tingginya keberhasilan. Kata kunci: Otitis Media Supuratif Kronis, abses subgaleal, gravidaABSTRACT Background: Subgaleal abscess is a rare complication of chronic suppurative otitis media. Subgaleal abscess was found about 32,4%, but only one case of subgaleal abscess as a complication of mastoiditisin adult had been reported. Purpose: To present the clinical and diagnostic findings along with themanagement of subgaleal abscess with mastoidectomy. Case: A case of chronic suppurative otitis mediawith mastoiditis complication and extension into subgaleal space that was found in a 21 years old, 35weeks gravid woman. Management: Drainage incision at temporofacial region and later, mastoidectomyafter childbirth. Conclusion: Subgaleal abscess is one of the rare complications of chronic suppurativeotitis media. Early diagnosis and appropriate treatment will improve the outcome. Keywords: Chronic suppurative otitis media, subgaleal abscess, gravida
Relationship between stunting and clinical ear, nose and throat disorders Aryo Mandraguna Wibowo; Arif Dermawan; Ratna Anggraeni
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 52, No 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i1.486

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting is an impediment marker for child welfare. Based on the United Nations Nutrition report, in 2018, as many as 50.5 million children worldwide under the age of 5 years were wasting and 150.8 million were stunting. Stunting is associated with morbidity, mortality, stunted-child- development, decreased learning capacity, increased risk of infection, and decreased productivity. Until now, stunting is still a problem in many countries, including Indonesia which calls for serious solution. Stunting is associated with deficiencies of micronutrients such as vitamins A, D, zinc and iron resulting in impaired physical development and decreased immune system. In the field of ORL-HNS, stunting in toddlers could cause various disorders such as impaired hearing development, otitis media, rhinitis, and tonsillitis. Purpose: To describe the relationship between stunting and clinical abnormalities occurrence in the ORL-HNS, to increase awareness of stunting prevention and the related ORL-HNS disorders, and to be a reference for further research of ORL-HNS disorders in stunting patients. Literature review: Stunting or failure to thrive is a condition that describes a chronic undernutrition status during a child’s growth and development since the beginning of life, which is represented by a z-score of height for age less than minus two standard deviations based on the WHO growth standard curve. Conclusion: Stunting is a condition caused by an unbalanced nutritional intake during the golden period, not by growth hormone abnormalities, nor by certain diseases. Micronutrient deficiency could have a role in the occurrence of several clinical abnormalities of ORL-HNS in stunting children.ABSTRAKLatar belakang: Stunting merupakan penanda untuk kesejahteraan anak. Berdasarkan laporan United Nations Nutrition pada tahun 2018 sebanyak 50,5 juta anak di seluruh dunia yang berusia di bawah 5 tahun mengalami wasting dan sebanyak 150,8 juta mengalami stunting. Stunting berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, terhambatnya perkembangan anak, penurunan kapasitas belajar, peningkatan risiko infeksi, dan penurunan produktivitas. Hingga saat ini, stunting masih menjadi salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan di banyak negara, termasuk di Indonesia. Stunting berhubungan dengan defisiensi mikronutrien seperti vitamin A, D, zink dan zat besi yang berakibat terganggunya perkembangan fisik dan penurunan sistem imunitas. Di bidang THT-KL, stunting pada balita diduga dapat menimbulkan berbagai kelainan seperti gangguan perkembangan pendengaran, otitis media, rinitis, dan tonsilitis. Tujuan: Untuk menggambarkan adanya hubungan stunting dengan terjadinya kelainan klinis di bidang THT–KL, meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah stunting dan    kelainan THT-KL yang berhubungan dengan stunting, serta dapat menjadi rujukan penelitian lebih lanjut mengenai prevalensi gangguan THT-KL pada pasien dengan stunting. Tinjauan pustaka: Stunting atau gagal tumbuh adalah suatu kondisi yang menggambarkan status gizi kurang yang memiliki sifat kronis pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal masa kehidupan yang dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur kurang dari minus dua standar deviasi berdasarkan kurva standar pertumbuhan WHO. Kesimpulan: Stunting merupakan kondisi yang disebabkan oleh kurang seimbangnya asupan gizi pada masa periode emas, bukan disebabkan oleh kelainan hormon  pertumbuhan maupun akibat dari penyakit tertentu. Hasil dari beberapa penelitian mengungkapkan bahwa defisiensi mikronutrien dapat berperan terhadap terjadinya beberapa kelainan klinis THT–KL pada anak dengan stunting.