Claim Missing Document
Check
Articles

Membangun empati siswa melalui bermain peran pada materi konflik sosial kelas VIII C SMP Lab UM Soraya Mei Lina; Agus Purnomo
Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS Vol. 4, No. 1
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.358 KB)

Abstract

This article supports expressing play activities in social conflict material to increase student empathy. Class action research (CAR) which consists of 4 stages namely; (1) Planning, (2) Implementing, (3) Observation, and (4) Reflection. PTK is conducted in two cycles in class VIII C with a total of 32 students. From the implementation process proves that with direct assistance through role playing, students can experience difficulties in direct interaction with the social. This happened because in some students the drama of totality. Can argue with role playing students can build empathy to respect other individuals.DOI: 10.17977/um022v4i12019p007
Makna Pendidikan dan Pewarisan Ajaran Samin bagi Masyarakat di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Rohana Siti Nurkasanah; Agus Purnomo; Bayu Kurniawan
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i2p108-118

Abstract

Masyarakat Samin adalah salah satu komunitas di Jawa Tengah yang biasa dikenal dengan sedulur sikep. Masyarakat Samin muncul sebagai bentuk penolakan terhadap Belanda. Penolakan tersebut diikuti dengan sikap tidak setuju terhadap beberapa hal, misalnya keberadaan sekolah. Akan tetapi, perkembangan zaman yang semakin maju telah membawa banyak perubahan pada masyarakat Samin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sejarah, makna pendidikan formal, dan ajaran Samin. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ajaran Samin yang dipelopori Samin Surosentiko pada tahun 1890 dan langsung diterima oleh masyarakat Blora. Hal tersebut dikarenakan keadaan masyarakat Blora sangat memprihatinkan. Tekanan dari pemerintahan Belanda pada bidang pendidikan, melalui sekolah masyarakat akan mendapat penanaman nilai yang berbasis kebudayaan Belanda. Sekitar tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, sedikit demi sedikit masyarakat Samin mulai menerima pendidikan formal. Mulai tahun 2000-an mayoritas masyarakat Samin sudah menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Ajaran Samin yang masih dipegang teguh sebagai patokan hidup masyarakat Samin yaitu ucapan, pikiran, dan tingkah laku. The Samin community is a community in Central Java which is commonly known as sedulur sikep. The Samin community emerged as a form of rejection of the Dutch. This rejection was followed by disagreement with several things, for example the existence of a school. However, the progress of the times has brought many changes to the Samin community. The purpose of this study was to describe the history, meaning of formal education, and Samin's teachings. This research uses qualitative research with a descriptive approach. The research was conducted in Sambongrejo Village, Sambong District, Blora Regency. Data obtained from primary and secondary data. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Based on the research, it can be concluded that the Samin teachings were pioneered by Samin Surosentiko in 1890 and were immediately accepted by the people of Blora. This is because the condition of the people of Blora is very apprehensive. The pressure from the Dutch government on education, through community schools, will get the inculcation of values based on Dutch culture. Around 1945 after Indonesia's independence, little by little the Samin people began to receive formal education. Starting in the 2000s, the majority of the Samin people have taken formal primary and junior high school education. The Samin teachings that are still firmly adhered to as the standard of life for the Samin community are speech, thoughts, and behavior.
Pengaruh Pembelajaran Outdoor terhadap Pengetahuan, dan Sikap Pelestarian Lingkungan Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi Universitas Kanjuruhan Malang Agus Purnomo
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 20, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.02 KB) | DOI: 10.17977/jpg.v20i1.284

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Mengetahui pengaruh pembelajaran outdoor terhadap pengetahuan pelestarian lingkungan mahasiswa S1 Pendidikan Geografi Universitas Kanjuruhan Malang, (2) Mengetahui pengaruh pembelajaran outdoor terhadap sikap pelestarian lingkungan mahasiswa S1 Pendidikan Geografi Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini termasuk jenis eksperimen yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan pendidikan terhadap sikap dan perilaku mahasiswa sebelum dan sesudah diberi tindakan. Berdasarkan uji homogenitas kemampuan kognitif peserta didik didapatkan kesimpulan bahwa karakter subjek penelitian homogen jadi penentuan kelas eksperimen dan kontrol dapat dilakukan dengan metode random. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan pembelajaran outdoor dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang pelestarian lingkungan, hal ini ditandai dengan hasil uji beda antara kelas kontrol dan eksperimen yang menunjukkan beda yang signifikan. Tetapi itu tidak menjamin sikap mereka akan konsisten dengan pengetahuan yang dimiliki. Jadi untuk menyikapi hal tersebut, dalam upaya meningkatkan pemahaman peserta didik pada pelestarian lingkungan maka tidak hanya dari satu pihak saja, yaitu lembaga pendidikan. Perlu adanya kerja sama dengan pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan mereka, seperti orang tua, masyarakat sekitar, sampai petugas kebersihan agar terbentuk masyarakat yang paham terhadap pelestarian lingkungan demi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.Kata Kunci:   Pengetahuan, Sikap, Perilaku dan Pembelajaran OutdoorDOI: http://dx.doi.org/10.17977/um017v20i12015p037
PELATIHAN PEMBUATAN ENAMEL KULINER BERMOTIF BATIK BELANDA (1840-1940) BAGI MASYARAKAT KAMPOENG HERITAGE KAJOETANGAN Lisa Sidyawati; Agus Purnomo; Abdul Rahman Prasetyo
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i2.4142

Abstract

Kampoeng Heritage Kajoetangan terletak di dalam sebuah gang di Jalan Jend. Basuki Rachmat Gg. VI dan ini dikelola oleh Pokdarwis dalam manajemen wisata maupun perawatan spot-spot heritagenya, terdapat 32 spot di dalam kampung yang bisa dikunjungi wisatawan, diantara spot-spot tersebut terdapat spot andalan kuliner lawasan yang termasuk dalam sajian perjalanan Susur Kampung, spot ini sering disinggahi wisatawan ketika melepas lelah berjalan. Terdapat 3 spot kuliner yaitu: Rumah Mbah Ndut, Omah Dawet Ireng, dan Rumah Jamu. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah spot kuliner ini belum ter-branding dengan baik untuk menjadi suasana Indische karena keterbataan kemampuan dan keterampilan warga dalam membuat branding, masyarakat masih menggunakan alat seadanya yang dimiliki, padahal dalam sebuah kuliner hal ini menjadi sangat berarti dan utama. Tujuan pengabdian ini adalah pelatihanxpembuatanxperlengkapan spot-spotxkulinerxdenganxteknikxbatikxlukisxmotifxBelanda (1840-1940) berbahan enamel sebagai penguatan identitas indische. Metode pengabdian yang dilakukan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi di Pedesaan (PRA) dengan tahapan Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) Tahap identifikasi produk serta sosialisasi, (2) Tahap praktek serta pendampingan; (3) Tahap monitoring serta evaluasi. Produk yang dihasilkan dalam pengabdian ini adalah cangkir, mug, teko, wakul nasi, piring dan nampan yang dibatik lukis dengan motif Batik Belanda.
EFEKTIFITAS MODEL REACT DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN SISWA TENTANG PEMBELAJARAN IPS MATERI MOBILITAS SOSIAL Indra Kusuma Wardani; Agus Purnomo
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.385 KB) | DOI: 10.15408/sd.v6i1.10620

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas penerapan model RACET dalam meningkatkan hasil belajar pada materi mobilitas sosial. Materi mobilitas sosial memiliki karakter yang kontekstual atau dekat dengan lingkungan siswa  sehingga sesuai dengan model ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi ekperimen  dengan desain nonequivalent control group. Subjek dalam penelitian ini ditentukan menggunakan cara uji homogenitas pada seluruh populasi, yaitu kelas VIII di SMPN 9 Malang. Setelah diketahui kelas yang setara maka penentuan subjek (kelas kontrol dan eksperimen) menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan pembelajaran model REACT yaitu 84,02 dengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional yaitu 78,75. Keuntunggan dari menggunakan model pembelajaran ini ada 9 salah satunya adalah pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata. Hasil penerapan menunjukkan hasil bahwa model ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebanyak 30 siswa dari pembelajaran yang biasa digunakan. Peningkatan ini didapatkan dari keunggulannya yang mampu untuk mengaitkan antara materi dengan kehidupan nyata di sekitar siswa. Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata merupakan salah satu cara untuk membuat siswa lebih paham dan mengerti pemebelajaran apabila dikaitan dengan kehidupan nyata sehingga siswa dapat menemukan pengetahuan yang baru dengan sendirinya.Kata Kunci: REACT, hasil belajar, mobilitas soisal.
PENDAMPINGAN IMPLEMANTASI MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF DI SMP N 2 DAMPIT KABUPATEN MALANG Agus Purnomo
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol. 3, No. 1, April 2020
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v3i1p1-5

Abstract

SMP N 2 Dampit pernah mendapatkan pendampingan dari Universitas Brawijaya untuk membuat media pembelajaran menggunakan Power Point. Banyak manfaat yang dirasakan oleh guru di sekolah tersebut adalah mereka mampu untuk menyajikan bahan ajar menggunakan perangkat lunak Microsoft Office Power Point yang dilengkapi dengan link. Namun setahun setelah pelaksanaan perlu ada penyegaran dan pembaruan tentang bagaimana cara menggunakan media pembelajaran yang inovatif. Untuk itu direncanakan penyegaran media pembelajaran pada MS Power Point dilakukan 1 kali pertemuan, dan pembaruan media FlipBook Maker serta Prezi dilakukan 1 kali pertemuan. Total rencana dari kegiatan pendampingan ini adalah 2 kali pertemuan di sekolah mitra. Instrumen yang digunakan mencakup modul petunjuk, laptop, proyektor, dan mini wifi. Hasil yang didapatkan adalah (1) Menyegarkan kembali kemampuan untuk membuat media menggunakan MS Power Point menggunakan hyperlink. Sebelumnya guru-guru di SMP N 2 Dampit sudah mendapatkan pelatihan dari Universitas Bawijaya, (2) Mendapatkan pemahaman baru dalam menyajikan materi dengan menggunakan media FlipBook Maker. Media yang sebelumnya dibuat menggunakan MS Power Point merupakan bahan dasar sebagai media FlipBook Maker, dan (3) Mendapatkan pemahaman baru dalam menyajikan materi dengan menggunakan media prezzi. Pada dasarnya prezzi merupakan media untuk bahan tayang yang sama dengan MS Power Point, hanya saja dalam media ini sudah terdapat template yang siap untuk digunakan dengan animasi yang lebih menarik.
STRATEGY COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH THE DEVELOPMENT OF TANI BETET TOURISM IN NGANJUK REGENCY, EAST JAVA Defita Dwi Anggi; Agus Purnomo; I Nyoman Ruja
JURNAL SOCIUS Vol 10, No 2 (2021): JURNAL SOCIUS
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jurnalsocius.v10i2.11188

Abstract

The research aims to formulate a strategy for community empowerment by developing the Tani Betet Tourist destination in Nganjuk Regency,  East Java.  The method used is a quantitative method with SWOT analysis. The number of respondents was 20 people and one key informant. The number of respondents is as many as 20 people and key respondents 1 person. The results of this study are strategies used in community empowerment in Tani Betet Tourism, which are contained in quadrant I (Progressive Strategy). Strategies that can be done in the development of Tani Betet Tourism is to maximize the role of the community in supporting packaging and promoting tourism that has the opportunity to increase tourist visits. Utilization of community empowerment programs in sustainable tourism development. The active role of local governments is to give rise to trust in each other in society to accept the technological developments present. The benefits of this research provide strategies as a reference in optimizing community empowerment in Tani Betet Tourism, for tourism development through community empowerment programs.
Bentuk kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMPN 8 Malang untuk menumbuhkan kepedulian sosial siswa Martaningsih Martaningsih; I Dewa Putu Eskasasnanda; Agus Purnomo
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1182.142 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i1p14-22

Abstract

Purpose this research is describing the activity of Red Cross Youth Volunteer in Public Junior High School 8 Malang to grow social concern. This research uses a qualitative approach with descriptive type research. Purposive technique is used to gather the informant's data. The procedure of data aggregation comprises of observation, interview, and documentation. This research found the activity of Red Cross Youth Volunteer are regular exercise, health alert, socialization to another extracurricular and social service. The activity purpose to increase student's social concern. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMPN 8 Malang untuk menumbuhkan kepedulian sosial siswa. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan informan yang digunakan yaitu teknik purposive. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah bentuk kegiatan ekstrakurikuler PMR SMPN 8 Malang diantaranya, yaitu latihan rutin, siaga kesehatan, sosialisasi ke ekstrakurikuler lain, dan bakti sosial. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepedulian sosial pada diri siswa.
Pendidikan remaja putri di mata orang tua studi kasus Desa Wonosunyo Kabupaten Pasuruan Ardhana Karina Reswari; Siti Malikhah Towaf; Agus Purnomo
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.43 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p249-255

Abstract

The purpose of this study was to analyze the vision of parents of young women in Wonosunyo Village, Gempol Subdistrict, Pasuruan Regency. This study uses a qualitative approach with a type of descriptive research. The data sources used are primary data sources and secondary data sources. There are three data collection techniques in the study, namely interviews, observation, and documentation. The conclusion of this study is that education is an insignificant thing when parents and children agree that the most important thing is to work and move on. Parents who cannot finance their children's education due to low income. Low income is felt not to be able to afford school fees, pocket money, to provide transport money. The desire to escape poverty is to marry off his child. Marrying their children at an early age is a family's desire that must be realized to fulfill a better and better life expectancy. The desire to benefit from marrying her child at an early age is the hope of every parent. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visi orang tua remaja putri Desa Wonosunyo Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Pendekatan kualittatif dengan jenis penelitian deskriptif digunakan untuk mencapai tujuan penelitianini. Sumber data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini berkesimpilan bahwa pendidikan menjadi suatu hal yang tidak penting ketika orang tua dan anak menyepakati yang terpenting adalah bekerja dan melanjutkan hidup. Orang tua yang tidak dapat membiayai pendidikan anaknya karena pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah dirasa tidak akan mampu untuk membiayai sekolah, uang jajan, hingga memberikan uang transport. Keinginan untuk lepas dari jeratan kemiskinan adalah dengan menikahkan anaknya. Menikahkan anaknya di usia dini adalah keinginan keluarga yang harus diwujudkan untuk memenuhi harapan hidup yang lebih baik dan layak. Keinginan mendapat keuntungan dari menikahkan anaknya di usia dini adalah harapan setiap orang tua.
Peranan Pokdarwis dalam mengembangkan wisata agropolitan di Desa Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Dina Rahma Ardhiana; Sukamto Sukamto; Agus Purnomo; I Nyoman Ruja; Mely Kurnia
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 2 No. 9 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe the role Pokdarwis in developing agropolitan travel Poncokusumo Poncokusumo District of Malang. The research approach used is qualitative descriptive research. Source data used are primary data and secondary data. Data collection techniques are observation, interview and documentation. Analysis of data using an interactive model of Miles & Huberman with the data collection phase, data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The results showed that the role of people who become members of Pokdarwis in developing Agropolitan travel can be seen from three stages: planning, implementation and evaluation. In the planning stage Agropolitan travel Pokdarwis follow Musrenbang and decision making. The implementation stage Agropolitan travel Pokdarwis involved in the supply of land, coordinating, following the community development activities organized by the government and maintain infrastructure and engage in discussions on the evaluation of the evaluation stage. The role of the community who are members of Pokdarwis in developing agropolitan Poncokusumo travel is good enough because people have their own initiatives to develop agropolitan travel. however The role of the community who are members of Pokdarwis in developing agropolitan Poncokusumo travel is good enough because people have their own initiatives to develop agropolitan travel. however The role of the community who are members Pokdarwis in developing agropolitan Poncokusumo travel is good enough because people have their own initiatives to develop agropolitan travel. However there needs to be a synergy between the government and society, and the strategy for Agropolitan travel can develop optimally. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peranan Pokdarwis dalam mengembangkan wisata agropolitan di Desa Poncokusumo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman dengan tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan masyarakat yang menjadi anggota Pokdarwis dalam mengembangkan wisata agropolitan dapat dilihat dari 3 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap perencanaan Pokdarwis wisata agropolitan mengikuti kegiatan Musrenbang dan pengambilan keputusan. Tahap pelaksanaan Pokdarwis wisata agropolitan terlibat dalam dengan menyediakan lahan, melakukan koordinasi, mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat yang diadakan oleh pemerintah dan memelihara sarana prasarana serta terlibat dalam diskusi evaluasi pada tahap evaluasi. Peranan masyarakat yang menjadi anggota Pokdarwis dalam mengembangkan wisata agropolitan di Desa Poncokusumo sudah cukup baik karena masyarakat mempunyai inisiatif sendiri untuk mengembangkan wisata agropolitan. Namun perlu ada sinergitas antara pemerintah dan masyarakat, dan strategi agar wisata agropolitan bisa berkembang secara maksimal.