Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Kajian Kecepatan Dan Kestabilan Pada Beberapa Bentuk Kapal Pukat Cincin (Small Purse-Seiner) Di Sulawesi Utara (Study on the boat speed and stability of several Small Purse-seiner in North Sulawesi) Revols D. Ch. Pamikiran; Frangky E. Kaparang; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 5: Juni 2017
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.5.2017.14746

Abstract

This study was aimed at analyzing theboat technical characteristics covering shape and size, analyzing the boat speed and stability-related capability, and evaluating the speed and stability values based on the present standard. Boat speed determination was done based on the speed length ratio (SLR), andits valuation was based upon the boat resistance value and the boat thrust estimation. The boat stability determination was based on inclining experiment system and the static and dynamic stability calculation. Results showed that three small pure-seiners from Bitung, Manado, and Molibagu had specific shapes, U-button (Bitung) and Round-Button (Manado and Molibagu). The best boat speed achievement, based on shape, resistance, and thrust, was recorded in Manado boat. All small purse seiners had stable balance condition, but only Manado and Bitung boats met the International Maritime Organisation (IMO) standard. Keywords: Speed, Stability, Purse Seiner, North Sulawesi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kharakteristik teknis yang mencakup bentuk dan ukuran kapal,menganalisis kemampuan  dalam hal kecepatan dan kestabilan kapal, dan mengevaluasi nilai kecepatan dan kestabilan kapal berdasarkan pada standart yang ada. Penentuan kecepatan kapal dilakukan berdasarkan SLR (speed length ratio), dan penilaiannya dilakukan berdasarkan nilai tahanan kapal dan estimasi daya dorong kapal.Penentuan kestabilan kapal dilakukan berdasarkan teknik momen system (inclining experiment) dan perhitungan stabilitas statis dan dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Tiga kapal pukat cincin (small pure-seiner) dari daerah Bitung, Manado, dan Molibagu memiliki bentuk yang spesifik yaitu U-button (kapal Bitung) dan Round-Button (kapal Manado dan Molibagu); Capaian kecepatan kapal terbaik berdasarkan bentuk, tahanan, dan daya dorong kapal dicapai oleh kapal dari daerah Manado.Ketiga kapal objeksmall purse seiner memiliki kondisi keseimbangan yang stabil, namun demikian hanya kapal Manado dan Bitung memenuhi standard IMO (International Maritime Organisation). Kata-kata kunci : Kecepatan, Stabilitas, Kapal Pukat Cincin, Sulawesi Utara.
Ketaatan kapal pukat cincin yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terhadap wilayah penangkapan ikan yang ditetapkan menggunakan data Vessel Monitoring System Ade Pramana Febriansyah; Alfret Luasunaung; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 4: Desember 2016
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.4.2016.15024

Abstract

There are many problems faced by the Indonesian government in managing the territorial waters of the country, and one of which is Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing). Therefore, the Indonesian government has begun to implement a Vessel Monitoring System (VMS) using satellites and equipment transmitter placed on fishing vessels in order to easily control and monitor the fishing vessel movements or activities based on the ship position observed on Fisheries Monitoring Centre. Top of Form This study was aimed to evaluate the compliance of purse seiners based on the VMS and to map the movements and activities of purse seiner during their fishing operations. This research was conducted at the Regional Monitoring Centre (RMC) room of Marine and Fisheries Resources Monitoring Base in Bitung from January to March 2016 using a descriptive method. The number of vessels observed in this study was 7. The data analysis of Tracking VMS based on Regional Fisheries Management of the Republic of Indonesia (WPP NRI) showed that 87% purse seiner did not obey the rules of fishing ground establishment. Nevertheless, based on Sea Map issued by the Department of Navy Hydro Oceanography commonly used by fishermen, all the boat skippers did not break the rules. Keywords: Purse seiner, obedience, vessel monitoring system ABSTRAK Banyak masalah yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam mengelola wilayah perairan negara, dan salah satunya adalah masalah Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing). Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mulai menerapkan Vessel Monitoring System (VMS) yang menggunakan satelit dan peralatan transmitter yang ditempatkan pada kapal perikanan guna mempermudah pengawasan dan pemantauan terhadap pergerakan atau aktifitas kapal ikan, berdasarkan posisi kapal yang terpantau di Pusat Pemantauan Kapal Perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan kapal pukat cincin berdasarkan VMS; dan memetakan pergerakan dan aktifitas kapal pukat cincin selama beroperasi di laut. Penelitian ini dilakukan di ruangan Regional Monitoring Centre (RMC) Pangkalan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Bitung selama bulan Januari  sampai Maret 2016 dan dikerjakan dengan metode deskriptif. Jumlah kapal yang diamati dalam penelitian ini adalah 7 buah.  Hasil analisis data VMS berdasarkan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI), maka 87% kapal pukat cincin tidak taat terhadap aturan mengenai wilayah penangkapan. Namun demikian, berdasarkan Peta Laut terbitan Dinas Hidro Oseanografi TNI-AL yang lazim dipakai oleh nelayan, semua nakhoda kapal pukat cincin tidak melanggar peraturan mengenai wilayah penangkapan. Kata-kata kunci: Kapal pukat cincin, ketaatan, vessel monitoring system
Studi tentang sertifikasi hasil tangkapan ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Study on Fish Catch Certification in Samudera Bitung Fishing Port) Arthur B. Samola; Johnny Budiman; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.19369

Abstract

European Union is nowadays the largest market in the world for fisheries products; it is also the strickest country in controlling the food security. It has also established requirements for marine fisheries products (fresh or processed products) exported directly or indirectly to European Union must be free of IUU Fshing. The fish catch certification follows the legal aspects and national reguaations in line with international regulations. Fish catch certification consists of Initial Sheet, Derivative Sheet, and Simplified Derivative Sheet. The objectives of the study are to know the issuance procedure of fish catch certificate in the form of preliminary document, the issuance procedure of fich catch certificate iin the form of derivative document as export supporting document, and the issuance procedure of fish catch certificate in simple form of derivative document. This study was carried out in September - November 2016 in Samudera Bitung Fisheries Port. The initial sheet is used for >20 GT-fishing vessels and proposed by the ship owner or its representative, the derivative sheet was used for the fish processing unit, and the simplified derivative sheet was export and fishing document for < 20 GT-fishing boat. This document is fish catch certificate under agreement between DG MARE and Indonesian government.Keywords: IUU fshing, certification, initial sheet, derivative sheet, simplified derivative sheet Abstrak[1]Uni Eropa saat ini merupakan pasar terbesar di dunia untuk produk perikanan, namun merupakan negara yang paling ketat dalam pengaturan keamanan pangan. Juga telah menetapkan persyaratan bagi produk hasil tangkapan ikan di laut (segar maupun olahan) yang akan diekspor ke Uni Eropa secara langsung maupun tidak langsung harus bebas dari praktek IUU Fshing.  Pelaksanaan Sertifikasi Hasil Tangkapan Ikan mengacu pada dasar hukum dan peraturan nasional serta dengan mengikuti ketentuan aturan international. Sertifikasi Hasil Tangkapan Ikan terdiri atas 3 jenis yaitu Lembar Awal (Initial Sheet), Lembar Turunan (Derivative Sheet) dan Lembar Turunan yang Disederhanakan (Simplified Derivative Sheet). Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk, mengetahui prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Awal (SHTI-LA), prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan (SHTI-LT) dan prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan yang Disederhanakan (SHTI-LTS). Penelitian ini dilakukan pada bulan September - November 2016 di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (PPS). Dokumen  Lembar Awal digunakan untuk kapal penangkap berukuran  >20 GT, dokumen Lembar Turunan untuk unit pengolahan ikan, dan dokumen Lembar Turunan yang diserhanakan sebagai dokumen ekspor dan penangkapan ikan bagi kapal penangkap berukuran  < 20 GT. Dokumen yang disebut terakhir adalah sertifikat hasil tangkapan ikan di bawah kesepakatan antara DG MARE dan pemerintah Indonesia.Kata-kata Kunci: IUU fshing, sertifikasi, lembar awal, lembar turunan, lembar turunan yang disederhanakan
Teknologi Attractor Cumi Rangka Besi : Upaya Meningkatkan Produktifitas Sumberdaya Perikanan di Perairan Desa Kalasey Dua, Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Wilhelmina Patty; Fransisco P. T. Pangalila; Mariana E. Kayadoe; Eldy Majore; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 6 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.6.1.2021.24843

Abstract

Kondisi terumbu karang diperairan Sulawesi Utara, khusus di perairan Desa Kalasey Dua sudah dirusakan oleh kegiatan reklamasi yang dimulai sejak Tahun 2011. Dampak ekologi yang sudah dirasakan oleh masyarakat nelayan akibat proyek reklamasi pantai di Kalasey antara lain: rusaknya lahan mangrove dan terumbu karang akibat penimbunan material tanah dan batu secara langsung ke dalam perairan. Akibat rusaknya ekosistim pesisir di wilayah pesisir seperti terumbu karang, algae dll, membuat berkurangnya telur dan individu dewasa cumi-cumi di wilayah pesisir. Salah satu  proses yang dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan generasi atau memcegah kepunahan suatu sumberdaya adalah reproduksi atau perkembangbiakan. Dalam konteks penyediaan sumber hidup alternatif, maka Teknologi squid attractor (atraktor cumi). merupakan salah satu sarana buatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya dukung dan kelestarian sumberdaya cumi-cumi. Squid attractor mempunyai fungsi utama sebagai tempat melekatkan telur cumi-cumi sampai menetas; dan dalam kondisi tertentu sarana ini dapat berfungsi sebagai  fishing ground. Melihat Manfaat dari teknologi atraktor cumi ini, maka beberapa atraktor cumi-cumi rangka besi telah diletakan di perairan Desa Kalasey Dua, dengan tujuan utama memperkaya sumberdaya cumi-cumi di kawasan pesisir, dengan desain  atraktor yang dimodifikasi sehingga dalam pembuatanya mudah dan ramah lingkungan. Penerapan teknologi Attractor cumi ini memilik tingkat efektifitasnya antara 50 – 100 %, atau sebahagian besar sampai seluruh tali ditempeli dengan telur. Hal ini berarti ada penambahan stock sumberdaya cumi di perairan Desa Kalesey dua serta Konservasi lingkungan perairan Desa Kalasey dua.
Studi Pola Usaha penangkapan ikan pelagis kecil pada KM. Lionel di Pulau Buhias Revi Reinaldi Bawingkung; Mariana Elizabeth Kayadoe; Heffry Veibert Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 6 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.v6i2.31057

Abstract

Ikan merupakan sumberdaya yang berpotensi dari segi jumlah dan jenisnya di Indonesia. Pulau Buhias merupakan salah satu pulau yang terdapat digugusan pulau di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (SITARO), tepatnya di Kecamatan Siau Timur Selatan yang dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari pelabuhan  Ulu Siau. Sebagian besar penduduknya adalah nelayan tradisional dengan tingkat kesejahteraan yang cukup memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya penangkapan, pola usaha bagi hasil serta pendapatan nelayan yang ada di Buhias. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukan Upaya penangkapan KM. Lionel menggunakan Purse Seine dengan cara melingkari gerombolan ikan. Rata- rata pendapatan per bulan nelayan Kapal Soma Pajeko Lionel adalah Rp.698.502,-. Sehingga sebagian nelayan melakukan kegiatan lain yang dapat menunjang perekonomian keluarga seperti berjualan ikan. Sedangkan untuk sistem pembagian hasil di pulau Buhias menggunakan sistem hasil tangkapan dikurangi biaya operasional trip dan hasil pendapatan bersih dibagi berdasarkan presentase yang telah disepakati.
Kecepatan membongkar hasil tangkapan kapal pukat cincin di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado Jessica saselah; Mariana Elizabeth Kayadoe; Heffry Veibert Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.v7i1.37709

Abstract

ABSTRAKFungsi Pelabuhan Perikanan Tumumpa yaitu sebagai tempat berpangkalan kapal-kapal ikan, tempat membongkar hasil tangkapan sekaligus tempat dilakukannya pelelangan ikan hasil tangkapan. Tujuan penelitian ini adalah Menghitung lama waktu bongkar hasil tangkapan setiap kapal serta Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi proses bongkar hasil tangkapan. Aktivitas bongkar hasil tangkapan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak buah kapal, setelah kapal sandar di pelabuahan. dimana kegiatan dari anak buah kapal yaitu mengeluarkan ikan dari dalam palka kapal untuk disortir kemudian diturunkan dari kapal. Proses pengangkutan hasil tangkapan yang telah dibongkar di atas kapal ke tempat pelelangan ikan di angkut dengan keranjang sebagai alat bantu, Proses penyortiran hasil tangkapan di masing-masing kapal terbagi atas 2 cara yaitu, Penyortiran di atas kapal dan penyortiran di Tempat pelelangan ikan (TPI). Proses penyortiran dilakukan berdasarkan ukuran dan jenis ikan hasil tangkapan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Kapal yang paling cepat membongkar yaitu KM Dineta 02, dengan kecepatan bongkar 20.46 kg/mnt dengan hasil tangkapan 2.866,67 kg sedangkan KM Mazmur 01, kecepatan bongkar 20.73 kg/mnt, hasil tangkapan 2.500 kg dan KM Betahny 15.62 kg/mnt, hasil tangkapan 4.166,67 kg. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan bongkar adalah: Merokok, bercanda, makan yang melebihi waktu yang ditentukan.
Pengaruh penambahan serat sutera pada pancing dasar terhadap hasil tangkapan Christian Yosua Worang; Ivor Lembondorong Labaro; Alfret Luasunaung; Emil Reppie; Heffry Veibert Dien; Fransisco P.T. Pangalila; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.39656

Abstract

Pancing dasar merupakan alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan untuk ikan-ikan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal atau perahu ukuran kecil. Pancing dasar merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di perairan Sulawesi Utara dengan berbagai cara dan jenis umpan yang digunakan. Keberhasilan alat tangkap pancing dasar berumpan sangat ditentukan oleh aktivitas hidup ikan dalam hal mencari dan menangkap makanan.Umpan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan efektifitas penangkapan ikan demersal dengan menggunakan alat pancing pada penelitian ini dilakukan penambahan umpan buatan (serat sutera) pada mata pancing dasar, diduga dapat meningkatkan fishing power dari alat tangkap tersebut terhadap hasil tangkapan ikan demersal.Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan sumberdaya ikan-ikan demersal secara efektif dan efisien; sedangkan secara khusus bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan umpan buatan pada pancing dasar terhadap hasil tangkapan ikan demersal di perairan Teluk Manado dan mengidentifikasi hasil tangkapan dan mengamati faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pengoperasian pancing dasar. Metode yang digunakan adalah eksperimental, yaitu suatu rancangan percobaan yang diujicobakan untuk memperoleh informasi tentang persoalan yang sedang diteliti. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengoperasikan 6 unit pancing dasar secara bersamaan pada dua unit perahu, tipe pelang dan tipe londe, di perairan pantai Teluk Manado dengan menghanyut atau menjangkar.Dalam penelitian ini diperoleh total hasil tangkapan sebanyak 9 famili, 11 genus dan 19 spesies.  Dari pengujian uji T diperoleh hipotesis diterima H1 dan menolak H0 dimana H1 adalah perlakuan dengan menggunakan umpan buatan dengan penambahan serat sutra sedangkan H0 adalah perlakuan tanpa umpan buatan serat sutra.
Studi tentang penggunaan bahan kayu pembuatan kapal ikan di galangan kapal Desa Pangi Kabupaten Bolaang Mongondow Hernita Paputungan; Vivanda O.J. Modaso; Revold D.Ch. Pamikiran; Frangky E. Kaparang; Heffry V. Dien; Akira W.R. Masengi; Ixchel F. Mandagi; Kawilarang W.A. Masengi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41573

Abstract

Desa Pangi terletak di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Desa pangi memanjang dari timur ke barat denagn luas ± 9.240 Ha. Keadaan topografi desa pangi pada umumnya adalah dataran rendah, ketinggian dari permukaan laut 2 ≤ 10m, dan mempunyai iklim kemarau dan penghujan tropis. Kayu merupakan benda yang paling banyak digunakan umat manusia. Mulai dari hal kecil hingga hal yang besar, kayu digunakan sebagai kayu bakar. Adapula yang menggunakannya sebagai bahan bangunan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan jenis-jenis bahan kayu yang digunakan pada galangan kapal di desa Pangi-Sauk Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow. Mengetahui prosentasi penggunaan bahan kayu menurut jenis dan menetahui klas awetdan kuat suatu bahan kayu.Adapun manfaat penelitian ini adalah penggunaan kayu yang baik yang digunakan untuk pembuatan kapal perikanan, dapat mengetahui jenis-jenis kayu yang digunakan serta mengintroduksi jenis-jenis kayu yang awet, kuat sebagai bahan baku pembuatan kapal perikanan.Kayu yang digunakan untuk material kapal tersebut tidak sembarangan jenis. Perlu diperhatikan struktur dan kekuatan dari kayu tersebut karena jika tidak diperhatikan akan berdampak buruk jika salah dalam memilih kayu. Karena penggunaan kayu untuk suatu tujuan tertentu tergantung dari sifat – sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan, yang mengarah ke jenis kayu yang akan dipilih, misalkan untuk kontruksi (kayu harus kuat, keras, mempunyai keawetan alam yang tinggi di air) biasanya untuk material kapal ada beberapa jenis kayu yang dapat dipilih seperti : jati, gopasa, balau, bungur, bangkirai dll. Untuk lantai (yang harus bersifat keras dan tahan terhadap keasaman) biasanya jenis kayu yang digunakan adalah kayu gopasa, kayu jati, kayu bungur dan lain – lain.Dalam pengambilan data ini dilakukan secara langsung dengan cara mewawancarai pengrajin kapal didesa pangi. Dari hasil wawancara dan melihat langsung proses pemanfaatan material kayu digalangan kapal ikan di desa pangi-sauk terlihat bahwa kayu untuk pembuatan dinding dan lantai kapal yang sangat membutuhkan banyak material kayu. Jenis – jenis kayu yang dominan adalah kayu gopasa, kayu keng, dan dangsa serta jati. Sedangkan untuk penulangan kayu talisei dan kapuraca sangat dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan kapal didesa pangi dominan menggunakan kayu gopasa, kayu jati, kayu keng, kayu dansa dan kayu jati.
Studi tentang tahanan perahu pelang di desa Rap-Rap Kabupaten Minahasa Selatan Rachim Sjah Agung Renato Waworoentoe; Heffry V Dien; Patrice N.I. Kalangi; Franky E Kaparang; Vivanda O.J. Modaso; Fransisco P.T Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41745

Abstract

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki luas perairan yang lebih besar dibandingkan daratan. Dengan semua hal itu, banyak yang bekerja sebagai petani dan nelayan tradisional. Setiap wilayah pasti memiliki kebudayaan karakter yang beda begitu juga dengan nelayan tradisonal memiliki alat tangkap yang berbeda, alat tangkap juga membutuhkan alat bantu yaitu kapal tradisional.Perahu tradisional di Sulawesi Utara seperti londe, pelang, dan lain lain berbahan  dasar kayu dengan seiringnya zaman dan meningkatnya harga kayu dikarenakan sulitnya untuk mendapat kayu sebagai bahan dasar pembuatan kapal tradisional beralih bahan dasar lain yaitu FRP, sudah banyak ditemui kapal perikanan yang berbahan dasar FRP (Fiber Reinforced Plastic) sebagai pengganti bahan kayu penggantian ini dikarenakan bahan baku kayu sudah semakin sulit dicari dan semakin mahal.Dalam pengoperasiannya, kapal bergerak melalui media air karena adanya gaya dorong dari sistem penggerak kapal. Air memiliki pengaruh terhadap kapal karena memberikan gaya menahan  dari pergerakan kapal yang disebut boat resistanceTahanan mempelajari reaksi fluida terhadap gerakan kapal pada saat melalui fluida tersebut. Tahanan juga disebut resistance drag  adalah besarnya gaya fluida yang melawan gerakan kapal sedemikian rupa yang sejajar dengan sumbu gerak kecepatan kapal (Rosmani  2013).Ada beberapa perbedaan dalam penggunaan metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship metode ini menghasilkan diagram data yang membahas tahanan kapal berdasarkan kecepatan dalam satuan kN dan kecepatan N, sedangkan pada data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir yang dicantumkan dalam table data meliputi data kecepatan kapal, meter per detik, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.Perahu pelang yang diukur bentuk lambungnya telah digambar pada aplikasi Freeship dan menghasilkan linesplan yang menyerupai dengan kapal pelang yang diukur. Hasil penggambaran ini kemudian digunakan dalam penghitungan tahanan pada Freeship menggunakan metode Kaper dan Delft yacht. Hasil output perhitungan diberikan dalam bentuk grafik dan tabel laju kapal, speed lenght ratio, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total. Pada metode Delft ada output tambahan yaitu power.Ada beberapa perbedaan dalam output metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship menghasilkan grafik data yang membahas tahanan kapal berdasarkan laju dalam satuan kn dan kecepatan knot. Data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir atau final calculation yang dicantumkan dalam grafik meliputi data laju kapal, speed length ratio, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.
Studi perbandingan penggunaan bahan bakar gas dan bahan bakar minyak pada mesin katinting Levandri Alski Lumi; Fransisco P.T. Pangalila; Revols D. CH. Pamikiran; Kawilarang W.A. Masengi; Lefrand Manoppo; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.44262

Abstract

Fuel is an important energy in fishing operations. Fuel is very influential on operational costs. One of the ways that fishermen can make a profit is by reducing the operational costs of fishing. Fuel consumption was calculated at least the amount of fuel used by the katinting engine at three different RPMs, using a ratio of pertalite type fuel oil and 3 kg LPG gas fuel with an engine operating time of 15 minutes. The average pertalite consumption at low RPM is Rp.1,784.25, while the use of LPG is Rp.761. Based on this value, a comparison of 234.461235% found that gas fuel is more efficient than oil fuel. The average pertalite consumption cost at moderate RPM is Rp.2,926.125, while for LPG use it is Rp.1,115. Based on the value found a comparison of 262.432735% gas fuel is more efficient than fuel oil. The average pertalite consumption at high RPM is Rp.4,271.25, while the use of LPG is Rp.1,574. Based on the average value of fuel consumption at high RPM, a comparison of 271.36277 was found. Gas fuel is more economical than the use of fuel oil in the katinting engine, seen from the comparison of the percentage of the consumption of fuel oil and gas fuel at each RPM.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Ade Pramana Febriansyah Akira W.R. Masengi Alfret Luasuanaung Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Arthur B. Samola Azani, Audia Azizah Bofmar Sasaleno Budiman, Jhonny Christian Yosua Worang Eldy Majore Emil Reppie Fanny Silooy Febriansyah, Ade Pramana Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Franky E Kaparang Fransisco P T Pangalila Fransisco P. T Pangalila Fransisco P. T. Pangalila Fransisco P.T. Pangalila Gerry Willardoe Kayadoe Gerry Willardoe Kayadoe, Gerry Willardoe Ginting, Jebry Yanta Haryadi Wijaya Hernita Paputungan Indri Manembu Ivor Lembondorong Labaro Ixchel F Mandagi Jessica saselah Johnny Budiman Johnny Budiman K. W.A. Masengi Kaparang, Frangky E Kawilarang W. A. Masengi Kawilarang W. A. Masengi Kawilarang W.A. Masengi Labaro, Ivor Lembondorong Lang, Abigail Emylia Febricristiani Lefrand Manoppo Lefrand Manoppo Lembo, Liliyana Levandri Alski Lumi Lusia Manu Manu, Lusia Mariana E. Kayadoe Mariana E. Kayadoe Mariana E. Kayadoe Mariana Elizabeth Kayadoe Mariana Elizabeth Kayadoe Masengi, K. W. A. Masengi, Kawilarag W. A Masengi, Kawilarang Warouw Alex Melisa Masengi, Melisa Modaso, Vivanda O. J. Modaso, Vivanda Octova Joulanda Pamikiran, Revols D. Ch. Patrice N.I. Kalangi Rachim Sjah Agung Renato Waworoentoe Regina E. Tompunu, Regina E. Revi Reinaldi Bawingkung Rignolda Djamaluddin Rizald Max Rompas, Rizald Max Robert A. Bara Robertus Cyrillus Manengkey Salsabila Yunus Samola, Arthur B. Sitanggang, Effendi Pengihutan Siti Nafisah Matafi Siti Nafisah Matafi Sitorus, Hotma Stefany Sumilat, Deiske Adeleine Syamtiar Arfah Syamtiar Arfah Tessa Rakian, Tessa Thamin, Arman Tinambunan, Deviana Vivanda O. J. Modaso Vivanda O.J. Modaso Wandasari Hamid Wandasari Hamid, Wandasari Watung, Franky Y. Wilhelmina Patty