Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Peran konsep diri siswa dalam membangun perilaku asertif Alifiah, Rizqi; Febrieta, Ditta
JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS Vol 3 No 2 (2024): pendidikan dan pembelajaran
Publisher : Universitas Tangerang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In principle, today's students have the ability to express opinions, dare to ask questions and provide critical opinions, but there are also students who, when giving opinions, prefer to remain silent because of various arguments such as: embarrassment, fear of incompetence, fear of being laughed at, and so on. Assertive behavior is the behavior of someone who is able to act according to their own wishes, defend themselves without feeling nervous, express their feelings, exercise their personal rights by saying what they are, without being hindered, and not exceeding other people's boundaries. Assertive behavior can be influenced by several factors, one of which is self-concept. The aim of this research is to understand the influence of self-concept on assertive behavior among students in Jakarta. The respondents of this research involved 132 students in Jakarta. This research uses the Simple Linear Regression Analysis method and finds the influence of self-concept related to assertive behavior. The results show that self-concept has an influence of 31.6%. These results also show that assertive behavior is higher for men than women, but there are no differences in self-concept based on gender.
Student Wellbeing In Indonesian Context Merida, Sarita Candra; Febrieta, Ditta
International Journal of Education, Information Technology, and Others Vol 6 No 4 (2023): International Journal of Education, information technology   and others (IJEIT)
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10444223

Abstract

5 Juni 2022 10 Juni 2022 13 Juni 2022 Well-being is one of the constructs in positive psychology which is developing. There are happiness, psychological well-being, subjective well-being. For student’s context there are student well-being and school well being. Most student well being measurement in Indonesia use student wellbeing and school well being, but in college students rarely use this concept. Measurement of well-being in college students usually using wellbeing measurement, psychological well-being, and subjective well-being. The purpose of this research to provide an overview of the definitions, dimensions and measurements of student wellbeing in Indonesia. The method used is a literature review using an integrative approach. This integrative technique uses the SALSA (Search, Appraisal, Synthesis, Analysis) from e-resource. For example, Google Schoolar, Dimensions, Elicit.org, E-book and other electronic resources. The results of this research are measurement wellbeing with student wellbeing concept is appropriate for describing the well-being of both students and college students. The dimensions for measuring student wellbeing in Indonesia are physiological, psychological, cognitive, emotional, social, personal, Intrapersonal and spiritual dimensions.
Hubungan Antara Literasi Digital Dengan Digital Well-Being Pada Pengguna Internet Dan Media Sosial di Kota Bekasi ROYANI HUTAGALUNG, ELFRIDA; FAHRUDIN, ADI; FEBRIETA, DITTA
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 5 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v4i3.4714

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang hubungan antara literasi digital dengan digital well-being pada pengguna internet dan media sosial di Kota Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara literasi digital dengan digital well-being pada pengguna internet dan media sosial dengan menggunakan 134 responden yang berasal dari Kota Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional dengan tujuan untuk melihat hubungan dari kedua variabel yang tersebut, yang dalam proses analisis data menggunakan bantuan software IBM SPSS Statistik 23. Hasil dalam penelitian ini menunjukan nilai koefisien korelasi antara variable literasi digital dengan digital well-being sebesar 0,378** dengan taraf sig (2-tailed) sebesar 0,000 (p≤0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara variabel literasi digital dengan digital well-being pada pengguna internet dan media sosial di Kota Bekasi.
Menggapai Bahagia dan Sejahtera di Masa Tua: Implementasi Program Sekolah Lansia untuk Peningkatan Kualitas Hidup Fitriani, Yulia; Febrieta, Ditta
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 4 (2024): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i4.926

Abstract

Orang lanjut usia sering mengalami banyak kondisi kesehatan dan masalah kognitif yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Merujuk pada kondisi Lansia di daerah Bekasi, pun menghadapi berbagai masalah kesehatan dan kognitif. Masalah sosial dan moral juga menjadi tantangan besar bagi lansia di Bekasi. Banyak dari mereka masih bergantung pada dukungan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari, namun perubahan struktur keluarga dan urbanisasi sering kali membuat dukungan ini tidak optimal. Orang lanjut usia dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka melalui dimensi spiritual, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam kegiatan rekreasi untuk orang tua. Karena, program sekolah lansia dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia yang berfokus pada masalah sosial dan kognitif. Program sekolah ini dilakukan dalam 5 pertemuan yang dilakukan dengan metode sosialisasi interaktif yang tidak hanya mendengarkan namun juga melibatkan kativitas fisik dan kognitif dalam setiap sesi pertemuan. Berdasarkan hasil dari program sekolah lansia menunjukkan bahwa "Program Sekolah Lansia" telah terbukti meningkatkan kualitas hidup lansia, yang ditunjukkan oleh peningkatan keterlibatan sosial, kemampuan kognitif, dan kesehatan fisik para peserta. Selain itu, kegiatan program sekolah juga memunculkan komunitas angklung sebagai wadah dalam melakukan aktivitas musik yang menyenangkan dan interaksi sosial yang mengurangi perasaan kesepian, dan membantu meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional pada kelompok lansia.
Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Psychological Well-Being Pada Remaja Laki-Laki Berkonflik Hukum Ardiani, Indri; Fahrudin, Adi; Febrieta, Ditta
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 2, No 7 (2024): Madani, Vol 2. No. 7, 2024
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.12716147

Abstract

Di era modern ini, berbagai masalah sosial muncul di wilayah perkotaan dan pedesaan, termasuk di kalangan remaja yang sering terlibat dalam tindakan pidana. Remaja dalam fase transisi dari anak-anak menuju dewasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga rentan melakukan perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba. WHO menyatakan bahwa remaja adalah fase adaptasi dari anak menuju dewasa, dengan rentang usia 12 hingga 24 tahun. Kenakalan remaja yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi pelanggaran hukum serius, terutama bagi mereka dari keluarga tidak stabil. Dukungan sosial yang memadai dari keluarga, teman, dan lingkungan sangat penting untuk membantu remaja mengatasi dampak negatif dari konflik hukum dan meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini mengkaji pengaruh dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis remaja berkonflik hukum di Lapas X, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linear dan melibatkan 150 remaja laki-laki berusia 18-22 tahun sebagai sampel. Instrumen penelitian menggunakan skala Guttman dengan uji validitas dan reliabilitas yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis, dengan koefisien korelasi 0,851 dan kontribusi sebesar 72,4%. Kesimpulan menegaskan pentingnya meningkatkan dukungan sosial untuk kesejahteraan psikologis remaja berkonflik hukum, serta menyarankan penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden lebih besar. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi lembaga pemasyarakatan dalam upaya rehabilitasi remaja serta pengembangan program intervensi yang efektif.
Perbedaan Celebrity Worship Pada Fanboy dan Fangirl K-Pop Lestari, Annisa Lena; Febrieta, Ditta
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 2, No 7 (2024): Madani, Vol 2. No. 7, 2024
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.12732330

Abstract

Penggemar K-Pop terkadang disebut sebagai penggemar yang paling loyal terhadap idola mereka. Beberapa hal yang dilakukan penggemar K-Pop mendukung atau berterima kasih kepada idol mereka seperti dengan cara membeli barang-barang merchendise yang dijual agensi idol tersebut bernaung maupun merchendise yang dibuat oleh para penggemar lainnya. Fenomena-fenomena yang terjadi diatas disebut dengan Celebrity Worship. Celebrity worship adalah  hubungan parasosial (hubungan satu arah) dimana hanya satu pihak yang mengandaikan adanya suatu hubungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan atau tidak terdapat perbedaan celebrity worship pada penggemar k-pop fanboy dan fangirl. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 212 para penggemar k-pop. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dianalisis dengan menggunakan teknik uji beda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan celebrity worship dengan kriteria usia, sedangkan tidak terdapat perbedaan pada celebrity worship kriteria keterampilan sosial dan jenis kelamin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan celebrity worship pada kriteria usia level 2 dan level 3, maka H1 diterima. Tidak terdapat perbedaan celebrity worship pada kriteria keterampilan sosial dan jenis kelamin, maka H2 dan H3 tidak diterima. Mayoritas para penggemar k-pop berada pada level 2 yaitu intense personal feeling.
Empowering Adolescents in the Digital Era: A Comprehensive Approach to Digital Well-being Febrieta, Ditta; Gina, Fathana
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 3 No. 3 (2024)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202461

Abstract

The rapid proliferation of digital technologies has profoundly impacted adolescents, presenting both opportunities and challenges to their well-being. This study explores the concept of digital well-being among adolescents, focusing on the multidimensional nature of digital satisfaction, safe and responsible behavior, and overall digital health. Through a comprehensive review of existing literature, this research identifies key factors influencing digital well-being, such as gender differences, socioeconomic status (SES), and cultural background. The findings suggest that effective interventions must be tailored to account for these contextual factors. Cognitive-behavioral therapy (CBT) and family-based interventions are highlighted as promising strategies, though their success may vary depending on cultural perceptions of digital technology and mental health. Additionally, the study underscores the importance of digital literacy as a protective factor, particularly for girls and low-SES adolescents who are more vulnerable to negative digital experiences. This research contributes to the growing body of knowledge on digital well-being by integrating these diverse factors into a cohesive framework. The practical implications for psychologists, educators, and policymakers are significant, offering actionable insights for developing targeted interventions to support adolescents in navigating the digital age. Further research is recommended to explore the nuanced effects of active versus passive technology use and to assess the effectiveness of various interventions across different cultural contexts.
PENGASUHAN SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA Meilani Simbolon; Yuarini Wahyu Pertiwi; Ditta Febrieta
KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja merupakan masa yang rentan untuk seseorang terlibat dalam perilaku menyimpang yang merupakan suatu tindakan yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial masyarakat yang terjadi secara sadar atau tidak sadar. Saat ini, perilaku menyimpang remaja banyak diberitakan di berbagai media di mana banyak anak  remaja  sudah  mengenal  rokok,  narkoba, free  sex, tawuran  pencurian, dan  terlibat banyak  tindakan  kriminal  lainnya  yang menyimpang dari norma-norma  yang berlaku di masyarakat dan bahkan berurusan dengan hukum. Perilaku menyimpang tidak bisa disimpulkan sebagai tindakan murni yang dilakukan oleh diri sendiri melainkan dari pengaruh dari orang lain salah satunya keluarga yaitu orang tua, hal ini karena pengasuhan orang tua berperan terhadap perkembangan anak dimasa mendatang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengasuhan memprediksi perilaku menyimpang pada remaja. Tipe penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah Siswa SMK X Kota Bekasi. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 90 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah quota sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala pengasuhan dan skala perilaku menyimpang. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai koefisien korelasi antara variabel pengasuhan dengan perilaku menyimpang -0,332** dengan taraf sig (2-tailed) sebesar 0,001 (p< 0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pengasuhan terhadap perilaku menyimpang di SMK X Kota Bekasi. Hasil penelitian berdasarkan uji regresi menunjukkan adanya pengaruh pengasuhan, pengasuhan memberikan sumbangan sebesar 11,1% terhadap perilaku menyimpang. Kata kunci: Perilaku, Menyimpang, Pengasuhan, Remaja, Pengasuhan.
Meningkatkan Softskill Wirausaha Novitrisani, Yulinda; Maududi, Ahmad; Muthmainah, Badriyah; Febrieta, Ditta
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 1 (2025): February
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Entrepreneurship (entrepreneurship) is one of the most important sectors in a country's economy. Entrepreneurs not only play a role in creating jobs, but also in accelerating economic growth and innovation. In this competitive world of entrepreneurship, it is not enough just to have technical skills or hard skills, but also adequate soft skills. Soft skills refer to skills related to the ability to interact, communicate and adapt to an ever-changing social and professional environment. In this activity, the method used is a lecture or presentation with the aim of delivering material containing theories, concepts and the importance of mastering soft skills. in entrepreneurship to participants. With the presentation method, participants are given an understanding of the importance of creativity & optimism in building MSMEs, product promotion strategies, and the tools needed for MSMEs such as marketing platforms. The material is presented systematically using presentation slides, example images, and also presented using a whiteboard to facilitate explanation and understanding for participants. Mastery of soft skills can improve an entrepreneur's ability to face daily challenges. In this case, Gibb (2018) stated that soft skills greatly influence the success of an entrepreneur in facing market dynamics and ever-changing consumer needs. For example, good emotional intelligence can help entrepreneurs manage stress, communicate well in difficult situations, and make wise decisions (Luthans & Youssef, 2018). Presenting material regarding entrepreneurial soft skills is one part of community empowerment in navigating MSMEs in the digital era.
Pemberdayaan Lansia Melalui Program Pendidikan Sepanjang Hayat Hutahaean, Erik Saut Hatoguan; Nugraha, Susiana; Fitriani, Yulia; Merida, Sarita Candra; Febrieta, Ditta
Jurnal Psikologi Atribusi : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): Kesejahteraan mental untuk semua kalangan
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/mqdfb124

Abstract

Menua merupakan proses natural dalam siklus usia manusia. Sejalan dengan usia yang bertambah lebih banyak orang-orang dengan usia lanjut mengalami penurunan pada kondisi fisiknya, psikologis, dan kehidupan sosialnya. Keadaan hidup sejahtera (well-being) adalah suatu perolehan manusia secara universal, termasuk individu lanjut usia. Program sekolah lansia dari Indonesia Ramah Lansia merupakan langkah yang realistis untuk memenuhi hak mendapatkan kesejahteraan yang adaptif dan solutif untuk membantu yang terkait dengan penurunan kondisi pada lansia. Sebagi langkah pertama, program dimulai dengan launching sekolah lansia untuk komunitas lansia di Bekasi Utara. Kurikulum pembelajarannya membantu tetap mandiri, aktif, dan bahagia di usia yang sudah lanjut. Pertemuan pertama memberikan efek kepada penguatan identitas positif pada peserta, dan menumbuhkan keyakinan masih memiliki kemampuan. Berpastisipai dalam sekolah lansia mendapatkan kesempatan belajar tentang pengetahuan keterampilan hidup meskipun berada pada fase usia lanjut.