Muhammad Anwar Djaelani
Departemen Biologi, Fakultas Sains Dan Matematika, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia 50275

Published : 66 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Indeks Kuning Telur, Indeks Putih Telur dan pH Telur Puyuh Jepang (Coturnix-coturnix japonica L) setelah pencelupan pada air mendidih sebelum penyimpanan Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.843 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.161-165

Abstract

Telur memiliki kandungan gizi yang lengkap mulai dari  protein,  lemak,  vitamin,  dan  mineral.  Telur mengandung bahan organik yang mudah rusak. Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya telur adalah lama waktu penyimpanan . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan pH telur puyuh Jepang (Coturnix-coturnix japonica L)  setelah pencelupan dengan air mendidih. Sampel yang digunakan adalah telur puyuh yang diambil pada hari keempat peneluran. Sampel berasal dari peternakan di Klaten Jawa Tengah Indonesia. Pada penelitian ini digunakan Rancangan acak  lengkap dengan 5 kelompok perlakuan yaitu P1 kelompok telur,diamati pada hari ke 4.P2 kelompok telur,diamati pada hari ke 18. P3 kelompok telur dicelupkan pada air mendidih selama 5 detik, disimpan dan diamati pada hari ke 18. P4 kelompok telur,diamati pada hari ke 32. P5 kelompok telur dicelupkan pada air mendidih selama 5 detik, disimpan dan diamati pada hari ke 32. Masing- masing kelompok terdiri dari 15 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel penelitian meenunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan. Penurunan kualitas disebabkan faktor lamanya penyimpanan yang menyebabkan perubahan kondisi telur.
Kadar Lemak, Indeks Kuning Telur, dan Susut Bobot Telur Itik setelah Pencucian Air dan Perendaman Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) Rahita Dayurani; Siti Muflichatun Mardiati; Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 4, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.472 KB) | DOI: 10.14710/baf.4.1.2019.35-44

Abstract

Penelitian ini menganalisis  pengaruh  pencucian  dan  perendaman ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) terhadap kadar lemak  telur,  indeks  kuning  telur  (IKT) dan susut bobot telur itik setelah disimpan pada suhu ruang dengan  lama  penyimpanan  berbeda Penelitian ini menggunakan rancangan  acak lengkap. Digunakan telur sebanyak  45  butir yang diambil pada satu hari setelah diovulasikan. Telur  dibagi  dalam  9 perlakuan dan  5  kali  ulangan.  Kontrol, Telur  dicuci,  direndam  ekstrak daun jambu biji, disimpan 14 hari, Telur dicuci, direndam ekstrak daun jambu biji, disimpan  28  hari. Telur  dicuci,  disimpan  14  hari, Telur  dicuci,  disimpan  28  hari. Telur direndam ekstrak daun jambu biji,  disimpan  14  hari. Telur  direndam  ekstrak daun jambu biji, disimpan 28  hari. Telur  disimpan  14  hari.  dan  Telur  disimpan  28 hari.. Variabel pada  penelitian  ini  adalah  kadar  lemak,  IKT  dan  susut  bobot. Data dianalisis menggunakan ANOVA Simpulan i penelitian ini  perendaman telur dalam  ekstrak  daun  jambu  biji  dengan kadar tanin 3,9% tidak efektif mempertahankan  kualitas  telur yang disimpan lebih dari 14 hari. Kata kunci: disimpan, suhu, tanin
Kandungan Lemak Telur, Indeks Kuning Telur, dan Susut Bobot Telur Puyuh Jepang (Coturnix-coturnix japonica L) setelah dicuci dan disimpan selama waktu tertentu Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.205-210

Abstract

Telur puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica L.) banyak diminati masyarakat di Indonesia karena nilai gizi telur puyuh tidak kalah dengan telur unggas lain. Puyuh juga merupakan unggas yang  tinggi produktivitas telurnya. Telur mengandung bahan organik yang mudah rusak. Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya telur adalah lama waktu penyimpanan . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan lemak telur, indeks kuning telur (IKT) dan susut bobot telur, setelah dicuci dan disimpan pada ruang terbuka dalam waktu tertentu. Pada penelitian ini telur puyuh sebanyak  50 butir yang berasal dari peternakan di Boyolali Jawa Tengah digunakan sebagai bahan uji. Telur yang digunakan diambil pada hari ketiga setelah telur dikeluarkan dari induknya. Rancangan digunakan pada  penelitian ini adalah rancangan acak  lengkap dengan 5 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri 10 ulangan. Kelompok tersebut adalah P1 kelompok telur diamati pada hari ke 3. P2 kelompok telur tanpa dicuci kemudian disimpan dan diamati pada hari ke 17. P3 kelompok telur  dicuci lebih dahulu kemudian disimpan dan diamati pada hari ke 17. P4 kelompok telur tanpa dicuci kemudian disimpan dan diamati pada hari ke 31. P5 kelompok telur dicuci lebih dahulu kemudian disimpan dan diamati padahari ke 31. Data penelitian yang didapat dianalisis menggunakan Anova dan uji lanjut Duncan keduanya dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan lemak telur dan indeks kuning telur mengalami penurunan karena pencucian dan seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan. Susut bobot telur mengalami kenaikan Penurunan kandungan lemak telur dan indeks kuning telur serta kenaikan Susut bobot telur akibat dari lamanya penyimpanan dan pencucian. Kata kunci : telur puyuh; penyimpanan telur; lemak telur; indeks kuning telur; susut bobot telur
Histomorfometri Hepar Itik Peking (Anas platyrhynchos) setelah Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dalam Pakan yang Dikombinasikan dengan Paparan Cahaya Arif Nur Latifah; Kasiyati Kasiyati; Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.1-10

Abstract

Hepar merupakan salah satu organ vital pada metabolisme aves. Penelitian ini bertujuan menganalisis penambahan tepung daun kelor dalam pakan yang dikombinasikan dengan paparan cahaya terhadap histomorfometri hepar itik pekin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4×2. Faktor utama berupa konsentrasi tepung daun kelor (0, 2, 4, dan 6%) dan  warna lampu (putih dan hijau). Itik pekin yang digunakan berjumlah 48 ekor. Variabel pengukuran antara lain bobot hepar, bobot badan, indek hepatosomatik, dan diameter hepatosit. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Analysis of Variance (ANOVA) dua arah. Hasil menunjukkan bahwa paparan cahaya dengan kombinasi tepung daun kelor tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) pada bobot hepar, bobot badan, dan indek hepatosomatik, namun berpengaruh signifikan (P<0,05) pada diameter hepatosit. Masing-masing faktor utama warna cahaya atau tepung daun kelor tidak berpengaruh signifikan pada semua variabel. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan tepung daun kelor dalam pakan yang dikombinasikan dengan paparan cahaya dapat meningkatkan ukuran diameter hepatosit dan memicu proliferasi sel–sel hepatosit. Proliferasi hepatosit mengarah pada regenerasi hepatosit terdapat pada kelompok 6% tepung daun kelor yang dikombinasikan dengan cahaya putih ataupun cahaya hijau. The liver is one of the vital organs in avian metabolism. This research aimed to analyzed the inclusion of Moringa leaf flour in feed with light exposure on the liver histomorphometry of Pekin ducks. This study used a completely Randomized Design in 2×4 arrangement, with main factors, the first factor was concentrations of Moringa flour and the second factor was color of light. Forty-eight Pekin ducks were used in this research. The variables measured in this research were liver weight, body weight, hepatosomatic index, and hepatocyte diameter. The data obtained were analyze using two-way Analysis of Variance. The light exposure with a combination of Moringa leaf flour had no significant effect on liver weight, body weight, and hepatosomatic index, but had a significant effect (P<0.05) on hepatocyte diameter. Meanwhile, the main factor, either light color or Moringa leaf flour had no significant effect on all variables. The conclusion of this study is Moringa leaf powder in the diet combined with light exposure could affect the histomorphometry of the liver which is characterized by an increase in hepatocyte cell diameter and the proliferation of hepatocyte cells. Liver cell proliferation leading to hepatocyte regeneration was found in the 6% group of Moringa leaf flour combined with white or green light.  
Pertumbuhan Anak Itik Magelang (Anas javanica) Pasca Tetas dari Induk yang Disuplementasi Kurkumin (Curcuma Longa L.) serta Dipajan Cahaya Putih dan Merah Luthfiana Ulil Albab; Sri Isdadiyanto; Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.476 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.166-172

Abstract

 Itik magelang merupakan itik lokal yang memiliki prosentase produksi telur  mencapai 80% pada pemeliharaan intensif, untuk meningkatkan produksi telur maka pada penelitian ini itik magelang diberi suplementasi kurkumin serta pajanan cahaya putih dan merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian kurkumin serta cahaya putih dan merah pada induk terhadap pertumbuhan anak itik magelang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang berasal dari 4 induk yang berbeda, yaitu induk A0B0 (kurkumin 0 mg dan cahaya putih),  A0B1 (kurkumin 0 mg dan  cahaya merah), A1B0 (kurkumin 18 mg dan cahaya putih) dan A1B1 (kurkumin 18 mg dan cahaya merah). Masing-masing kelompok induk diambil 5 anak itik betina untuk diukur morfometrinya. Variabel yang diamati berupa morfometri yang terdiri dari pengukuran panjang badan, panjang sayap, dan panjang kaki. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis dan diuji lanjut menggunakan uji Mann Whitney-U. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi kurkumin dan pajanan cahaya putih serta merah pada induk secara umum dapat mempengaruhi pertumbuhan anak itik magelang.
Respon Pemberian Virgin Coconut Oil dan Olive Oil Terhadap Mikroanatomi Testis Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Sella Widya Astuti; Enny Yusuf Wachidah Yuniwarti; Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.37-42

Abstract

Virgin Coconut Oil memiliki kandungan vitamin E dan polifenol yang mampu meningkatkan enzim-enzim antioksidan dan menurunkan kandungan peroksida, sedangkan olive oil berperan sebagai antioksidan karena adanya oleocanthal dan oleuropein yang serupa dengan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat VCO dan olive oil terhadap spermatogenesis. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus jantan yang terdiri atas 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0: kontrol, P1: pakan dengan penambahan VCO 5 ml/kg pakan, P2: pakan dengan penambahan VCO 10 ml/kg pakan, P3: pakan dengan penambahan olive oil 5 ml/kg pakan, dan P4: pakan dengan penambahan olive oil 10 ml/kg pakan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel yang diamati adalah jumlah spermatogonia, jumlah spermatosit primer, dan bobot testis. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA pada taraf signifikansi 5% dan uji lanjut Duncan. Hasil analisis data menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada pemberian VCO dan olive oil terhadap jumlah spermatogonia dan bobot testis, serta berbeda nyata terhadap jumlah spermatosit primer. Simpulan dari penelitian ini VCO dan olive oil dapat meningkatkan jumlah spermatosit primer pada tubulus seminiferus. Kata kunci: Virgin Coconut Oil; olive oil; testis
Bobot Karkas dan Morfometri Serabut Muskulus Pektoralis Itik Pengging Periode Layer Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor Dalam Pakan Muhammad Alvin Gibran; Muhammad Anwar Djaelani; Kasiyati Kasiyati; Sunarno Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.167-174

Abstract

Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman fungsional yang mengandung nutrisi dan antioksidan. Daun tanaman ini digunakan sebagai bahan pakan karena nutriennya yang lengkap. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh substitusi tepung daun kelor dalam pakan itik pengging periode layer pada bobot karkas dan ukuran serabut muskulus pektoralis. Rancangan penelitian menggunakan 60 ekor itik dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan. Pengulangan tiap perlakuan dilakukan 3 kali dengan 4 ekor itik setiap ulangan. Kelompok perlakuan terdiri atas kontrol (K0) menggunakan pakan standar; K1 menggunakan 97,5% pakan standar dan 2,5% tepung daun kelor; K2 menggunakan 95% pakan standar dan 5% tepung daun kelor; K3 menggunakan 92,5% pakan standar dan 7,5% tepung daun kelor; K4 menggunakan 90% pakan standar dan 10% tepung daun kelor. Analisis data menggunakan one-way Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian didapatkan bahwa substitusi pakan dengan tepung daun kelor tidak memberikan pengaruh yang signifikan (P>0,05) terhadap bobot karkas, bobot muskuli pektoralis, dan ukuran serabut. Kesimpulan penelitian ini adalah substitusi tepung daun kelor pada pakan itik pengging periode bertelur tidak memberikan dampak pada bobot karkas, muskulus pektoralis, dan diameter serabut otot. Nutrien lebih banyak diarahkan untuk produksi telur daripada sintesis karkas.Moringa (Moringa oleifera) is a functional plant that contains lots of nutrients and antioxidants. The leaves on this plant are often used as a feed ingredient because of their potential to increase growth and cells development. The objective of the study is to examine moringa leaf inclusion meal on carcass weight and size of pectoral musculus fibrils of sexually mature laying ducks. The study used a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments. Treatment was repeated 3 times. Feeding were carried out at 07.00 WIB and 16.00 WIB. Treatment Control (K0) used standard feed; treatment 1 (K1) used 97.5% standard feed and 2.5% moringa leaf meal; treatment 2 (K2) used 95% standard feed and 5% Moringa leaf meal; treatment 3 (K3) used 92.5% standard feed and 7.5% Moringa leaf meal; treatment 4 (K4) used 90% standard feed and 10% moringa leaf meal. Data analysis used Analysis of Variance (ANOVA) and regression test using SPSS version 25. The results showed that feed substitution on Moringa leaves did not have a significant effect on carcass weight and fibril size of treated and control ducks. In conclusion, substitution of Moringa leaf meal in pengging ducks feed on layer period had no impact of carcass and pectoral muscles weight, and could not change the diameter of pectoral muscles fibril. Nutrient and energy leads to egg production than carcass synthesis.
IDENTIFIKASI PROTEIN PENENTU IMPLANTASI EMBRIO PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) Agung Janika Sitasiwi; Muhammad Anwar Djaelani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.398 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.896

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengidentifikasi protein penentu implantasi embrio pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) dilakukan sebagai upaya eksplorasi agen imunokontrasepsi baru untuk regulasi fertilitas hewan liar. Hewan uji yang digunakan adalah tikus Wistar betina dewasa kelamin dengan bobot badan berkisar 280-300 g. Tikus dibagi dalam dua kelompok, satu kelompok sebagai kontrol (tidak dikawinkan) sedangkan kelompok lain adalah kelompok yang dikawinkan. Tikus dipelihara dan dikawinkan dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Kebuntingan ditentukan dengan adanya vaginal plug pada tikus betina setelah dikawinkan. Protein diisolasi dari sampel uterus yang diambil pada umur kebuntingan 3-5 hari. Isolasi dan separasi protein dilakukan berdasarkan manual dan standar protein produk Bio-Rad. Hasil penelitian menunjukkan pita protein yang terekspresi pada hari ke-4 kebuntingan dengan berat molekul berkisar 45 kDa diduga leukemia inhibitory factor.
Pertambahan Bobot Tubuh, Panjang Tubuh dan Tinggi Tubuh Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara Pada Aerasi dan Padat Tebar Berbeda Djaelani, Muhammad Anwar; Kasiyati, Kasiyati; Sunarno, Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.106-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerasi dan padat tebar terhadap pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila merah (Oreochromis niloticus).  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua perlakuan, terdiri atas perlakuan kelompok dilengkapi dengan satu aerator dan perlakuan kelompok dilengkapi dengan dua aerator serta tiga tingkatan padat tebar 2,4,8 ekor ikan. Pada padat tebar normal sebanyak 2 ekor ikan nila merah dengan berat 17±1,6 g dipelihara dalam kontainer boks kapasitas 40 liter yang diisi air sebanyak 34 liter. Ikan dipelihara selama 2 bulan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila. Faktor lingkungan yang diamati pada penelitian ini meliputi Oksigen terlarut (DO), pH, suhu, kandungan ammonia, nitrit dan nitrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemeliharaan ikan nila merah dengan penambahan aerator berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila merah. This study aims to determine the effect of aeration and stocking density on body weight gain, body length and body height of red tilapia (Oreochromis niloticus). This study used a factorial completely randomized design (CRD) with two treatments, consisting of a group treatment equipped with one aerator and a group treatment equipped with two aerators and three levels of stocking density of 2,4,8 fish. At normal stocking densities, 2 red tilapia weighing 17 ± 1.6 g were reared in a 40 liter capacity box filled with 34 liters of water. Fish kept for 2 months. The variables observed in this study were the increase in body weight, body length and body height of tilapia fish. Environmental factors observed in this study include dissolved oxygen (DO), pH, temperature, ammonia, nitrite and nitrate content. The results of this study indicated that rearing red tilapia with the addition of an aerator had a significant (P<0.05) effect on body weight gain, body length and body height of red tilapia.
Histomorfometri Hepar Ayam Petelur Jantan (Gallus gallus domesticus L.) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Sebagai Imbuhan Pakan Djaelani, Muhammad Anwar; Jatmiko, Arif Budi; Sunarno, Sunarno; Kasiyati, Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.1.2024.57-65

Abstract

Ayam petelur jantan dapat dipacu laju pertumbuhannya dengan imbuhan pakan tepung daun kelor yang dikenal memiliki senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antioksidan tetapi juga memiliki resiko sebagai zat toksik pada hepar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh imbuhan pakan berupa tepung daun kelor dengan dosis berbeda terhadap histomorfometri hepar ayam petelur jantan. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1(1%), P2(2%), P3(3%), dan P4(4%), setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan (terdiri dari 2 ekor ayam). Parameter penelitian terdiri atas bobot hepar, bobot badan, HSI, dan diameter hepatosit yang dianalisis dengan uji ANOVA. Data diameter hepatosit dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung daun kelor berpengaruh nyata (pvalue<0,05) terhadap diameter hepatosit. Kesimpulan dari penelitian adalah tepung daun kelor dengan dosis 1-4% tidak mempengaruhi variabel bobot hepar, bobot badan, dan nilai HSI tetapi berpengaruh terhadap struktur hepatosit. Struktur hepatosit mengalami degenerasi hidropik, degenerasi lemak, nekrosis, atrofi, hemoragi, dan kongesti. Laying hens can increase their growth rate by adding moringa leaf meal which is known to have secondary metabolites that function as antioxidants but also have a risk of being toxic to the liver. This study aimed to analyze the effect of feed additives in the form of moringa leaf meal at different doses on the liver histomorphometry of male laying hens. The research design used a completely randomized design with 5 treatments, namely P0 (control), P1(1%), P2(2%), P3(3%), and P4(4%), each treatment consisting of 3 replications (consisting of 2 chickens). The research parameters consisted of liver weight, body weight, HSI, and hepatocyte diameter which were analyzed by ANOVA test. Hepatocyte diameter data was followed by Duncan's test. The results showed that moringa leaf powder had a significant effect (pvalue<0,05) on hepatocyte diameter. The conclusion of the research is that Moringa leaf flour at a dose of 1-4% does not affect the variables of liver weight, body weight and HSI value but does affect the structure of hepatocytes. The hepatocyte structure experiences hydropic degeneration, fatty degeneration, necrosis, atrophy, hemorrhage and congestion.