Muhammad Anwar Djaelani
Departemen Biologi, Fakultas Sains Dan Matematika, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia 50275

Published : 69 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Filtrasi dan Aerasi Mengurangi Kerusakan secara Histopatologi pada Organ Insang Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) Muhammad Anwar Djaelani; Sunarno Sunarno; Muhammad AmmarNurHandyka; Kasiyati Kasiyati
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.459

Abstract

Penggunaan filter dan aerator dalam budidaya perikanan mempunyai peran penting dalam mengendalikan kualitas air, terutama kadar amonia agar tidak melebihi ambang batas. Senyawa amonia dengan kadar yang tinggi dalam air pada wadah pemeliharaan dapat menyebabkan kerusakan pada struktur dan fungsi organ insang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh filtrasi dan aerasi yang berbeda terhadap histopatologi organ insang ikan nila merah (O. niloticus). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel yang diamati adalah bobot total insang, bobot tubuh ikan, bobot insang relatif dan persentase kerusakan jaringan insang. Bobot insang relatif dihitung menggunakan rumus, BIR (%)= Bi x Bt-1 x 100%. Kerusakan jaringan insang dihitung dari pengamatan 240 lamela sekunder per insang dengan menggunakan mikroskop perbesaran 400 kali, kemudian dikalikan dengan 100%. Data yang diperoleh dianalisis mengunakan uji sidik ragam dua arah dengan taraf kepercayaan sebesar 95%. Hasil analisis menunjukkan terdapat beda nyata terhadap variabel yang diamati antar perlakuan dengan kontrol (P<0,05) terhadap bobot total insang, bobot tubuh ikan, bobot insang relatif dan persentase kerusakan jaringan insang. Simpulan penelitian ini adalah, penambahan aerasi yang dikombinasi dengan filtrasi dapat mereduksi amoniadan mengurangi kerusakan jaringan organ insang ikan nila merah.
Pertambahan Bobot Tubuh, Panjang Tubuh dan Tinggi Tubuh Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara Pada Aerasi dan Padat Tebar Berbeda Djaelani, Muhammad Anwar; Kasiyati, Kasiyati; Sunarno, Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.106-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerasi dan padat tebar terhadap pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila merah (Oreochromis niloticus).  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua perlakuan, terdiri atas perlakuan kelompok dilengkapi dengan satu aerator dan perlakuan kelompok dilengkapi dengan dua aerator serta tiga tingkatan padat tebar 2,4,8 ekor ikan. Pada padat tebar normal sebanyak 2 ekor ikan nila merah dengan berat 17±1,6 g dipelihara dalam kontainer boks kapasitas 40 liter yang diisi air sebanyak 34 liter. Ikan dipelihara selama 2 bulan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila. Faktor lingkungan yang diamati pada penelitian ini meliputi Oksigen terlarut (DO), pH, suhu, kandungan ammonia, nitrit dan nitrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemeliharaan ikan nila merah dengan penambahan aerator berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot tubuh, panjang tubuh dan tinggi tubuh ikan nila merah. This study aims to determine the effect of aeration and stocking density on body weight gain, body length and body height of red tilapia (Oreochromis niloticus). This study used a factorial completely randomized design (CRD) with two treatments, consisting of a group treatment equipped with one aerator and a group treatment equipped with two aerators and three levels of stocking density of 2,4,8 fish. At normal stocking densities, 2 red tilapia weighing 17 ± 1.6 g were reared in a 40 liter capacity box filled with 34 liters of water. Fish kept for 2 months. The variables observed in this study were the increase in body weight, body length and body height of tilapia fish. Environmental factors observed in this study include dissolved oxygen (DO), pH, temperature, ammonia, nitrite and nitrate content. The results of this study indicated that rearing red tilapia with the addition of an aerator had a significant (P<0.05) effect on body weight gain, body length and body height of red tilapia.
Histomorfometri Hepar Ayam Petelur Jantan (Gallus gallus domesticus L.) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Sebagai Imbuhan Pakan Djaelani, Muhammad Anwar; Jatmiko, Arif Budi; Sunarno, Sunarno; Kasiyati, Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.1.2024.57-65

Abstract

Ayam petelur jantan dapat dipacu laju pertumbuhannya dengan imbuhan pakan tepung daun kelor yang dikenal memiliki senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antioksidan tetapi juga memiliki resiko sebagai zat toksik pada hepar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh imbuhan pakan berupa tepung daun kelor dengan dosis berbeda terhadap histomorfometri hepar ayam petelur jantan. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1(1%), P2(2%), P3(3%), dan P4(4%), setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan (terdiri dari 2 ekor ayam). Parameter penelitian terdiri atas bobot hepar, bobot badan, HSI, dan diameter hepatosit yang dianalisis dengan uji ANOVA. Data diameter hepatosit dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung daun kelor berpengaruh nyata (pvalue<0,05) terhadap diameter hepatosit. Kesimpulan dari penelitian adalah tepung daun kelor dengan dosis 1-4% tidak mempengaruhi variabel bobot hepar, bobot badan, dan nilai HSI tetapi berpengaruh terhadap struktur hepatosit. Struktur hepatosit mengalami degenerasi hidropik, degenerasi lemak, nekrosis, atrofi, hemoragi, dan kongesti. Laying hens can increase their growth rate by adding moringa leaf meal which is known to have secondary metabolites that function as antioxidants but also have a risk of being toxic to the liver. This study aimed to analyze the effect of feed additives in the form of moringa leaf meal at different doses on the liver histomorphometry of male laying hens. The research design used a completely randomized design with 5 treatments, namely P0 (control), P1(1%), P2(2%), P3(3%), and P4(4%), each treatment consisting of 3 replications (consisting of 2 chickens). The research parameters consisted of liver weight, body weight, HSI, and hepatocyte diameter which were analyzed by ANOVA test. Hepatocyte diameter data was followed by Duncan's test. The results showed that moringa leaf powder had a significant effect (pvalue<0,05) on hepatocyte diameter. The conclusion of the research is that Moringa leaf flour at a dose of 1-4% does not affect the variables of liver weight, body weight and HSI value but does affect the structure of hepatocytes. The hepatocyte structure experiences hydropic degeneration, fatty degeneration, necrosis, atrophy, hemorrhage and congestion.  
Carcass Weight and Skeletal Muscle Microscopic Structure of Red Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in The Different Aeration and Filtration Muhammad Anwar Djaelani; Kusuma Alya Fathurika; Kasiyati Kasiyati; Sunarno Sunarno
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.31948

Abstract

AbstractRed tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish that widely liked by Indonesian people. Keeping fish with good water quality will increase productivity. The aim of this research was to determine the effect of adding aeration and using filters on carcass weight, muscle fiber diameter and number of muscle fibers in red tilapia. This research used 24 red tilapia fish with an initial body weight of around 7 g. Divided into 4 groups, namely the maintenance group using one aerator without a filter (ANF), the maintenance group using two aerators without a filter (AANF), the maintenance group using one aerator and using a filter (AF) and the maintenance group using two aerators and using a filter (AAF). The results showed that rearing red tilapia fish in the group rearing two aerators and using a filter had a significant effect (P <0.05) on carcass weight, muscle fiber diameter, and number of muscle fibers. Observation of the muscle histology structure showed that there was no damage to the muscle histology structure. The conclusion of this research indicate that additional aerator equipped with filters will supports the growth of red tilapia fish.AbstrakIkan nila merah (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang banyak disukai masyarakat Indonesia. Pemeliharaan ikan dengan kualitas air yang baik akan memberikan peningkatan produktivitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan aerasi dan penggunaan filter terhadap bobot karkas, diameter serabut otot serta jumlah serabut otot pada ikan nila merah. Penelitian ini menggunakan 24 ekor ikan nila merah dengan bobot badan awal berkisar 7 g. Dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok pemeliharaan menggunakan satu aerator tanpa filter (ANF), kelompok pemeliharaan menggunakan dua aerator tanpa filter (AANF), kelompok pemeliharaan menggunakan satu aerator dan menggunakan filter (AF) serta kelompok pemeliharaan menggunakan dua aerator dan menggunakan filter (AAF). Hasil menunjukkan pemeliharaan ikan nila merah pada kelompok pemeliharaan dua aerator dan menggunakan filter berpengaruh nyata (P <0,05) terhadap bobot karkas, diameter serabut otot, dan jumlah serabut otot. Pada pengamatan struktur histologi otot menunjukkan tidak adanya kerusakan struktur histologi otot. Kesimpulan penelitian ini penambahan aerator dilengkapi filter mendukung pertumbuhan ikan nila merah.
Histomorfometri Hepatopankreas Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara pada Berbagai Tingkat Aerasi dan Filtrasi Djaelani, Muhammad Anwar; Khairunnisa, Nurul Fathia; Kasiyati, Kasiyati; Sunarno, Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.2.2024.148-157

Abstract

Kualitas air yang buruk seperti oksigen terlarut, pH, salinitas, amonia, nitrit, nitrat, dan suhu air yang melebihi kisaran optimum normal dapat berdampak buruk pada proses fisiologis dan struktur organ seperti hepatopankreas pada ikan. Aerasi dan filtrasi pada pemeliharaan ikan dapat meningkatkan kualitas air, selanjutnya akan berdampak pada peningkatan fungsi hepatopankreas pada ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menganalisis penggunaan aerator dan filter dalam untuk menjaga kualitas air. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu aerasi dan filtrasi. Perlakuan aerasi menggunakan aerator tunggal dan ganda, filtrasi menggunakan filter dan tanpa filter. Hewan coba yang digunakan 24 ikan nila merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara aerator dan filter berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap Indeks Hepatosomatik (HSI), diameter hepatosit, diameter asinar pankreas, dan diameter pulau Langerhans. Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi aerator dan filter dapat menjaga kualitas fisik dan kimia air sehingga tidak berdampak negatif terhadap struktur histologis hepatopankreas. Poor water quality such as dissolved oxygen, pH, salinity, ammonia, nitrite, nitrate, and water temperature that exceeds the normal optimum range can have a negative impact on physiological processes and organ structures such as the hepatopancreas in fish. Aeration and filtration in fish farming can improve water quality, which will then have an impact on improving hepatopancreatic function in red tilapia (Oreochromis niloticus). This research analyzes the use of aerators and internal filters to maintain water quality. This research uses a factorial design consisting of two treatment factors, namely aeration and filtration. Aeration treatment using single and double aerators, filtration using filters and without filters. The experimental animals used were 24 red tilapia fish. The results showed that the interaction between the aerator and filter had a significant effect (P<0.05) on the Hepatosomatic Index (HSI), hepatocyte diameter, pancreatic acinar diameter, and islet of Langerhans diameter. The conclusion of this research is that the combination of aerators and filters can maintain the physical and chemical quality of water so that it does not have a negative impact on the histological structure of the hepatopancreas.
Leukocyte Profile of Broiler Chickens (Gallus domesticus) After Consumption of Feed With Spirulina (Spirulina sp.) Feed Additives and Liquid Nano Chitosan Gunawan, Rida Arwanda; Sunarno, Sunarno; Djaelani, Muhammad Anwar; Kasiyati, Kasiyati
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.40513

Abstract

Broilers (Gallus domesticus) are prone to stress and immune suppression due to inadequate environmental conditions and feed quality. Spirulina, known for its antioxidant and immunostimulant properties, and liquid nano chitosan, which has antibacterial activity, are considered promising feed additives for broiler health. This study aimed to evaluate the effects of Spirulina flour, liquid nano chitosan, and their interaction on broiler leukocyte profiles. A factorial completely randomized design was used, with six treatment groups and four replications. Treatments included a control and diets supplemented with 0; 3; or 6% Spirulina powder, combined with 0 or 5% liquid nanochitosan. The treatments were applied for 26 days. Leukocyte observations were performed using Giemsa-stained blood smears at 400× magnification. Data were analyzed using Two-Way ANOVA (α= 0.05) and the Friedman Test. Results showed normal leukocyte morphology. Spirulina supplementation had no significant effect (P >0.05) on leukocyte, heterophil, or lymphocyte counts. In contrast, 5% liquid nano chitosan significantly affected (P <0.05) leukocyte and lymphocyte numbers. No interaction between the two additives was observed. In conclusion, Spirulina (3–6%) showed potential as a feed additive, while 5% liquid nano chitosan reduced leukocyte and lymphocyte counts. These natural additives may support broiler health without altering leukocyte profiles.
Gambaran Preparat Histologis Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) yang Dibuat Menggunakan Beberapa Fiksatif dan Proses Pencucian Djaelani, Muhammad Anwar; Tana, Silvana; Mardiati, Siti Muflichatun
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.1.2025.48-54

Abstract

Fiksatif merupakan faktor utama untuk menghasilkan kualitas sediaan histologi yang baik pada proses pembuatan preparat mikroskopis. Fiksasi merupakan tahap pertama pada proses pembuatan sediaan histologi. Pemilihan jenis fiksatif yang digunakan pada proses pembuatan preparat merupakan hal yang penting karena akan berpengaruh pada hasil sediaan histologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preparat histologis hepar yang dibuat dengan menggunakan beberapa jenis fiksatif dan proses pencucian. Hepar tikus putih dengan ulangan sebanyak 10 kali dibuat preparat  dengan metode parafin dan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Penelitian ini menggunakan fiksatif NBF 10 %, Bouin dan Etanol 50% .Hasil preparat yang difiksasi dengan Etanol 50% hepatosit tidak menunjukkan susunan radier yang teratur, jarak antar sel longgar, banyak sel tidak berinti, sitoplasma terwarnai merah, hepatosit mengecil dengan ukuran 12 ± 0,4 µm. Hepar yang difiksasi dengan Bouin menunjukkan hepatosit tersusun radier dengan jarak yang rapat, inti sel terwarnai ungu, sitoplasma terwarnai merah, hepatosit berukuran normal 15 ± 0,9 µm. Hepar yang difiksasi dengan NBF 10% menunjukkan hepatosit tersusun radier, inti sel terwarnai ungu, sitoplasma terwarnai merah, hepatosit berukuran normal 16 ± 0,2 µm dengan jarak yang rapat. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses pencucian setelah fiksasi belum mampu membersihkan kelebihan fiksatif Bouin pada preparat hepar, namun menghasilkan preparat histologi hepar dengan gambaran yang baik dengan fiksatif NBF 10%. Etanol 50% tidak sesuai dipakai sebagai fiksatif pada proses pembuatan preparat mikroskopik hepar Fixative is the main factor to produce good quality histological preparations in the process of making microscopic preparations. Fixation is the first stage in the process of making histological preparations. The selection of the type of fixative used in the process of making preparations is important because it will affect the results of histological preparations. This study aims to analyze liver histological preparations made using several types of fixatives and the washing process. The liver of white mice with 10 repetitions was made with paraffin and Hematoxylin-Eosin staining methods. This study used 10% NBF, Bouin and 50% Ethanol fixatives. The results of the preparations fixed with 50% Ethanol hepatocytes did not show a regular radial arrangement, loose intercellular distances, many non-nucleated cells, red-stained cytoplasm, and hepatocytes shrank in size to 12 ± 0.4 µm. Liver fixed with Bouin showed hepatocytes arranged radially with close spacing, cell nuclei stained purple, cytoplasm stained red, normal-sized hepatocytes 15 ± 0.9 µm. Liver fixed with 10% NBF showed hepatocytes arranged radially, cell nuclei stained purple, cytoplasm stained red, normal-sized hepatocytes 16 ± 0.2 µm with close spacing. In this study, it can be concluded that the washing process after fixation has not been able to clean excess Bouin fixative in liver preparations, but produces liver histology preparations with good images with 10% NBF fixative. 50% ethanol is not suitable for use as a fixative in the process of making microscopic liver preparations.
Histomorfometri Jantung dan Aorta Itik Hibrida yang Diberi Pakan Imbuhan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Alfiandry, Muhammad Alief Rifaldi; Kasiyati, Kasiyati; Djaelani, Muhammad Anwar; Sunarno, Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.1.2025.27-37

Abstract

Jantung dan aorta merupakan organ penting dalam sistem sirkulasi. Penelitian ini dirancang dengan tujuan menganalisis histomorfometri jantung dan aorta itik hibrida yang diberi imbuhan pakan tepung daun kelor. Itik yang digunakan adalah itik hibrida jantan berjumlah tiga puluh dua ekor dibagi ke dalam empat jenis perlakuan, yaitu K0: Pakan standar (pakan tanpa imbuhan tepung daun kelor), K1: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 2,5%, K2: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 5%, dan K3: pakan dengan imbuhan tepung daun kelor 7,5%. Masing-masing perlakuan terdiri atas delapan ekor itik. Imbuhan pakan diberikan selama enam minggu. Histomorfometri jantung dan aorta diperoleh dengan pembuatan preparat histologi metode parafin dan pewarnaan hematoksilin eosin. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dengan software SPSS versi 26. Hasil penelitian memperlihatkan imbuhan pakan tepung daun kelor tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap bobot jantung, tebal epikardium, miokardium, endokardium, tebal tunika adventisia, tunika media, dan tunika intima. Kesimpulan dari penelitian bahwa pemberian imbuhan tepung daun kelor konsentrasi 2,5%, 5%, dan 7,5% tidak mengubah struktur histologi jantung maupun aorta sehingga aman dipergunakan sebagai aditif pakan itik. The heart and aorta are important organs in the circulatory system. This study was designed to analyze the histomorphometry of the heart and aorta of hybrid ducks given feed supplemented with moringa leaf powder. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with four types of treatments, i.e., K0: standard feed (without the addition of moringa leaf meal), K1: feed with the addition of 2.5% moringa leaf meal, K2: feed with the addition of 5% moringa leaf meal, and K3: feed with the addition of 7.5% moringa leaf meal. Data were analyzed using analysis of variance. The results indicated that the addition of moringa leaf meal to the feed had no effect (P > 0.05) on heart weight, epicardium thickness, myocardium, endocardium, adventitia tunica, media tunica, and intima tunica. The conclusion of the study is that the addition of moringa leaf powder at concentrations of 2.5%, 5%, and 7.5% did not alter the histological structure of the heart or aorta, making it applicable as a duck feed additive. Additionally, the findings suggest that moringa leaf powder is a safe option for enhancing the nutritional profile of duck feed without compromising cardiovascular health.
Effects of Spirulina Feed Additive on Duodenal Tissue Structure in Peking Duck (Anas platyrhynchos) Maura, Maisya Sifana; Sunarno, Sunarno; Budiraharjo, Kustopo; Djaelani, Muhammad Anwar; Jaya, La Ode Irman
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol. 17 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v17i2.26215

Abstract

The use of synthetic feed additives in Peking ducks has adverse effects on their growth and productivity. Spirulina sp., a blue-green algae, has the potential to be used as a safe feed additive that can enhance the growth and productivity of ducks. This study aims to analyze the effects of Spirulina (Spirulina sp.) powder as a feed additive on the histomorphometry of the duodenum in Peking ducks (Anas platyrhynchos), focusing on the duodenal lumen diameter, villus height, villus width, mucosal tunic thickness, submucosal tunic thickness, and muscular tunic thickness. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 35 ducks divided into 5 treatments and 5 repetitions. The treatments included a control group and the addition of spirulina powder in feed at concentrations of 2.5%, 5%, 7.5%, and 10%. The data were analyzed by ANOVA with a significance level of 5%, followed by Duncan's test. The results of data analysis showed that spirulina powder had a significant effect (P<0.05) on villus height and duodenal mucosa tunica thickness. The conclusion of this study is that spirulina powder has the potential to be used as a feed additive to improve digestive performance in male Peking ducks, as evidenced by the increase in villus height and thick tunica mucosa in the small intestine. The novelty of this study lies in the utilization of spirulina powder as a feed additive to increase the size of the duodenal tissue structure in Peking ducks. The results of this study are expected to be a new reference on the potential of spirulina as a feed additive to improve poultry feed quality and digestive performance, especially in peking ducks.
Ukuran Anatomi dan Histomorfometri Oviduk Puyuh Periode Produksi setelah Pemberian Aditif Pakan Tepung Daun Kelor Sunarno, Sunarno; Kristanto, Rachellita Elizania; Kasiyati, Kasiyati; Djaelani, Muhammad Anwar
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.25.2.165-176.2023

Abstract

Kelor (Moringa oleifera) diketahui memiliki kandungan nutrien lengkap dan kaya antioksidan serta memiliki potensi sebagai aditif pakan untuk memperbaiki kinerja reproduksi puyuh. Ukuran anatomi, histomorfometri, dan profil histologi oviduk merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui kinerja reproduksi puyuh periode produksi. Riset ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi analisis ukuran anatomi, histomorfometri, dan profil histologi oviduk puyuh periode produksi setelah diberi imbuhan aditif pakan tepung daun kelor. Desain riset ini dilakukan dengan acak lengkap yang meliputi 5 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 9 kali. Hewan uji yang digunakan adalah puyuh betina umur 20 hari yang berjumlah 45 ekor. Perlakuan terdiri atas P0 (kontrol) berupa pakan standar tidak diberi aditif pakan tepung kelor dan perlakuan aditif pakan tepung daun kelor dalam pakan standar, masing-masing dengan kadar 2,5% (P1); 5% (P2); 7,5% (P3) 10% (P4) per bobot pakan. Variabel penelitian yang diukur meliputi ukuran oviduk, antara lain bobot total oviduk, panjang oviduk, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina. Variabel histomorfometri, meliputi tebal lapisan muskularis, tinggi, dan lebar kelenjar mukosa magnum. Profil histologi oviduk meliputi gambaran lapisan muskularis dan mukosa magnum. Data hasil riset selanjutnya diolah dengan analisis variansi satu arah pada signifikansi 5% dan deskriptif kualitatif. Hasil riset yang diperoleh menyatakan imbuhan tepung M. oleifera tidak signifikan dalam mempengaruhi ukuran anatomo serta histomorfometri oviduk. Profil histologi oviduk menunjukkan aditif pakan Tepung daun M. oleifera dengan kadar 2,5% serta 5% berpotensi meningkatkan proliferasi sel, sedangkan pada kadar 7,5%, dan 10% berpotensi mempertahankan integritas seluler lapisan muskularis dan mukosa magnum. Riset ini mendapatkan kesimpulan bahwa aditif pakan tepung daun M. oleifera dapat digunakan sebagai aditif pakan untuk mempertahankan ukuran anatomi dan histomorfometri oviduk serta berpotensi meningkatkan proliferasi sel dan mempertahankan integritas seluler pada puyuh periode produksi.