Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Media Visual dalam Edukasi pada Anak Sekolah Dasar tentang Kesehatan Diri dan Kesehatan Seksual di SDN Panjang 03 Ambarawa Wulansari; Fiktina Vifri Ismiriyam; Joyo Minardo
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.5038

Abstract

Personal health is a positive habit that should be developed from an early age to support healthy growth, prevent diseases, and foster awareness of self-care independently. Sexual health is a condition of well-being related to sexual aspects, including basic understanding of the body, gender differences, personal boundaries, and ways to protect oneself from inappropriate actions. Personal health and sexual health are important aspects of child development. In providing health education to elementary school children, appropriate learning media are required. One of the suitable learning media for elementary school students is visual media. The main objective of this community service activity was to improve the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal health and sexual health through visual-based learning. The method used in this activity was educational intervention using visual media. The results showed an improvement in students’ knowledge of personal and sexual health after the implementation of visual media-based education, as indicated by pre-test and post-test scores, with 337 out of 497 students achieving good knowledge levels. Students were more active and enthusiastic during the learning process and were able to mention ways to maintain personal hygiene and identify body parts that need to be protected. In conclusion, the use of visual media in learning has proven to be effective in improving the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal and sexual health. Visual media are easy for children to understand and can be recommended as an effective learning method in health education for elementary school students.   ABSTRAK Kesehatan diri merupakan kebiasaan positif sejak dini agar dapat tumbuh dengan tubuh yang sehat, terhindar dari penyakit, memiliki kesadaran untuk merawat diri secara mandiri. Kesehatan seksual merupakan kondisi kesejahteraan yang berkaitan dengan aspek seksual meliputi kesehatan seksual yang berupa aktivitas seksual, pemahaman dasar mengenai tubuh, perbedaan jenis kelamin, batasan diri, serta cara melindungi diri dari tindakan yang tidak pantas. Kesehatan diri dan kesehatan seksual merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam pemberian pemahaman pada anak sekolah dasar terkait kesehatan, memerlukan media pembelajaran yang tepat. Salah satu media pembelajaran yang baik untuk anak sekolah dasar adalah media visual. Tujuan utama kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual melalui edukasi dengan media visual. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah edukasi dengan menggunakan media visual. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual setelah diberikan edukasi menggunakan media visual dilihat dari nilai pre-test dan post-test yang menunjukkan pengetahuan baik sebanyak 337 siswa dari 497 siswa. Siswa terlihat lebih aktif dan antusias serta mampu menyebutkan cara menjaga kebersihan diri serta memahami bagian tubuh yang perlu dilindungi. Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah penerapan media visual dalam pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual dan mudah dipahami oleh anak. Penggunaan media visual dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif dalam edukasi kesehatan pada anak sekolah dasar.
Pengelolaan Ansietas dengan Dukungan Kelompok Lansia yang Terpisah dengan Keluarga di Panti Werdha Salib Putih Salatiga Christiawan Randhi Prakasa; Wulansari
Jurnal Informatika dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2025): IKN : Jurnal Informatika dan Kesehatan
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ikn.v2i2.4182

Abstract

A nursing home is one of the residences for the elderly. The elderly living in nursing homes usually do so because they do not have family members who can care for them at home or do not have a comfortable place to cope with anxiety. Every elderly individual living in a nursing home is vulnerable to anxiety. This anxiety needs to be properly addressed to prevent it from worsening. This study aims to describe the application of group support for elderly individuals separated from their families and its effect on anxiety levels. The research method used is descriptive qualitative with one elderly subject experiencing anxiety at the Salib Putih Nursing Home in Salatiga. The group support intervention was carried out for 10 days, with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The results showed that before the intervention, the client appeared restless, worried about their health condition, and experienced sleep disturbances.   ABSTRAK Panti werdha merupakan salah satu tempat hunian bagi para lansia. Lansia yang tinggal di panti werdha dikarenakan tidak ada keluarga yang mampu merawat di rumah atau tidak memiliki tempat hunian untuk menangani kecemasan. Setiap lansia yang tinggal di panti werdha rentan terkena dengan kecemasan. Kecemasan itu sendiri perlu penanganan yang baik agar tidak terjadi kecemasan yang lebih berat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan dukungan kelompok terhadap lansia yang terpisah dari keluarga serta pengaruhnya terhadap tingkat ansietas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek satu orang lansia yang mengalami kecemasan di Panti Werdha Salib Putih Salatiga. Intervensi yang digunakan dukungan kelompok dilakukan selama 10 hari dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, klien tampak gelisah, khawatir tentang kondisi kesehatan, dan mengalami gangguan tidur. Setelah penerapan dukungan kelompok, terjadi penurunan tingkat kecemasan, tidak ditemukan kejadian yang tidak diinginkan, dan masalah psikologis dapat diatasi dengan baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan kelompok efektif dalam menurunkan ansietas pada lansia yang terpisah dari keluarga. Disarankan agar instansi pelayanan lansia menerapkan kegiatan dukungan kelompok secara rutin untuk membantu lansia merasa lebih diterima, tidak kesepian, dan meningkatkan kualitas hidup mereka di panti werdha.
Caring-Based Psychosocial Intervention Associated with Reduced Diabetes Burnout Among Older Adults with Type 2 Diabetes Ummu Muntamah; Maksum; Wulansari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 8 (2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i8.9478

Abstract

Introduction: Diabetes burnout is a significant psychosocial challenge among older adults with type 2 diabetes, contributing to emotional exhaustion, maladaptive coping, and reduced quality of life. Conventional diabetes management programmes often emphasise biomedical outcomes while insufficiently addressing psychosocial needs. This study examined whether a caring-based psychosocial approach integrated into a community diabetes programme was associated with reduced diabetes burnout and improved coping mechanisms and quality of life among older adults with type 2 diabetes. Methods: A quasi-experimental pretest-post-test control-group study was conducted among 176 older adults with type 2 diabetes enrolled in PROLANIS at primary healthcare centres in Semarang Regency, Indonesia. The intervention group received a four-week caring-based psychosocial programme delivered weekly by trained healthcare providers, focusing on empathetic communication, emotional support, autonomy support, coping-skills training, and family involvement. The control group received standard PROLANIS education. Diabetes burnout, coping mechanisms, and quality of life were assessed using validated instruments. Between-group differences were analysed using comparative tests and analysis of covariance (ANCOVA), with adjustment for baseline scores. Results: Participants receiving the caring-based psychosocial intervention demonstrated significantly greater reductions in diabetes burnout and greater improvements in coping mechanisms and quality of life than participants in the control group (all p < 0.001). Mean burnout scores decreased more in the intervention group (Δ = -16.88 vs -11.73), while coping scores (Δ = 38.28 vs 22.41) and quality-of-life scores (Δ = 40.20 vs 11.77) increased more substantially. ANCOVA confirmed significant between-group differences after adjustment for baseline values. Conclusion: Integration of a caring-based psychosocial intervention into community diabetes management was associated with reduced diabetes burnout and improved psychosocial outcomes among older adults with type 2 diabetes. Empathetic communication, emotional support, coping facilitation, autonomy support, and family involvement may enhance psychosocial adaptation and well-being in ageing populations. Further randomised longitudinal studies are needed to confirm long-term effectiveness and underlying mechanisms.
The effect of contextual teaching and learning-based health education on diabetes self-management among older adults Wulansari; Fiktina Vifri Ismiriyam
Nurse Professional Education Journal Vol. 1 No. 1 (2025): May 2025
Publisher : Kadewa Bakti Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67958/nurseedu.v1i1.16

Abstract

Diabetes is a prevalent chronic condition among older adults, with self-management playing a critical role in preventing complications and improving health outcomes. However, the complexity of diabetes care, including dietary regulation, physical activity, stress management, and sleep hygiene, often poses challenges for elderly individuals with limited understanding. This study examined the effect of contextual teaching and learning (CTL)-based health education on diabetes self-management among older adults. A pre-experimental, one-group pretest-posttest design was employed, involving 46 elderly participants diagnosed with type 2 diabetes. Participants were selected through total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Baseline assessments of diabetes self-management were conducted using the Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ). The intervention consisted of four CTL-based educational sessions, after which post-intervention assessments were carried out using the same instrument. Data were analyzed using the Wilcoxon test due to non-normal distribution. The results indicated a significant improvement in diabetes self-management scores following the intervention. These findings suggest that CTL-based health education is promising for enhancing diabetes self-care practices in older adults. The study highlights the importance of selecting appropriate teaching strategies tailored to the cognitive and functional capacities of elderly populations in community-based nursing interventions.
PENGARUH INTERVENSI EDUKASI KESEHATAN TERHADAP MASALAH MANAJEMEN KESEHATAN TIDAK EFEKTIF PADA KELUARGA DENGAN RIWAYAT DIARE ANAK BERULANG Wulansari; Diki Aji Saputra
Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang Vol. 3 No. 1 (2021): Juli: Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sinov.v4i1.66

Abstract

Edukasi kesehatan merupakan salah satu intervensi utama yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah keperawatan manajemen kesehatan tidak efektif. Manajemen kesehatan tidak efektif sendiri merupakan salah satu masalah keperawatan yang sering muncul di dalam keperawatan keluarga. Manajemen kesehatan tidak efektif dapat terjadi pada keluarga dengan tahap childbearing family. Masalah kesehatan pada keluarga ini,salah satunya adalah diare anak dan diare berulang terjadi. Kejadian diare berulang disebabkan oleh ketidakcukupan petunjuk untuk bertindak atau pengetahuan yang kurang tentang perawatan balita dengan tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari edukasi kesehatan terhadap manajemen kesehatan tidak efektif dengan pendekatan keluarga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan. Responden penelitian adalah 3 keluarga dengan tahap perkembangan keluarga ke dua, memiliki anak usia 0 bulan hingga 30 bulan dan anaknya sudah lebih dari 3 kali mengalami diare. Hasil penelitian adalah edukasi kesehatan efektif dalam mengatasi manajemen kesehatan tidak efektif pada keluarga yang memiliki informasi kesehatan yang kurang ataupun ketidakcukupan petunjuk untuk bertindak dalam mengatasi masalah kesehatan yang terjadi khususnya diare berulang pada balita. Simpulan dari penelitian ini adalah tepat jika edukasi kesehatan digunakan untuk mengatasi masalah menajemen kesehatan tidak efektif di tatanan keluarga atau komunitas dan ini merupakan upaya promotif. Saran pada perawat ditatanan keluarga lakukan edukasi kesehatan.
GAMBARAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI, MINUMAN RINGAN DAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA D3 KEPERAWATAN UNIVERSITAS NGUDI WALUYO Mukhamad Musta’in; Wulansari
Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang Vol. 2 No. 2 (2020): Desember: Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sinov.v3i2.81

Abstract

Perkembangan teknologi dan informasi membawa perubahan pada gaya hidup masyarakat khususnya pola makan. Remaja cenderung memiliki pola makan yang tidak teratur. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dan minuman ringan akan berdampak pada peningkatan berat badan dan berujung masalah kegemukan yang bisa berdampak gangguan psikologis. Mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo, meski sudah mendapatkan bekal makanan dari asrama, tidak jarang ada mahasiswa yang masih jajan di luar sekitar asrama. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, minuman ringan dan status gizi pada mahasiswa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo didominasi oleh perempuan dan mayoritas mahasiswa memiliki status gizi normal. Tidak ada mahasiswa yang tidak pernah mengkonsumsi makanan cepat saji maupun minuman ringan. Jenis makanan cepat saji yang sering (3-5 kali seminggu) dikonsumsi oleh mahasiswa adalah gorengan sebesar 46.2% disusul konsumsi bakso/cilok sebesar 38.5%. Jenis minuman ringan yang sering (3-5 kali seminggu) dikonsumsi yaitu cokelat sebanyak 30.8%.
PREVALENSI DIABETES DISTRESS DAN ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIABETES DISTRESS PADA PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS KABUPATEN SEMARANG Ummu Muntamah; Wulansari
Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang Vol. 4 No. 1 (2022): Juli: Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sinov.v5i1.214

Abstract

Diagnosis Diabetes Melitus (DM) sering menyebabkan pasien pada kondisi rentan terjadi stres yang disebabkan pasien merasa kesulitan dengan banyaknya tuntutan perawatan diri dengan DM. Tuntutan perawatan diri ini mengharuskan pasien DM untuk dapat menyesuaikan diri yang kemudian dapat menimbulkan ketidaksanggupan sehingga dapat berdampak buruk pada kesehatan dan risiko komplikasi. Kondisi inilah yang disebut dengan Diabetes Distress. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui prevalensi Diabetes Distress dan faktor yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Distress di Puskesmas Kabupaten Semarang. Penelitian menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Distress pada pasien DM Tipe 2. Proses pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling di Puskesmas Kabupaten Semarang. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi logistik metode Backward untuk mengetahui hubungan sebab-akibat dengan menentukan nilai Y (Diabetes Distress) dan untuk menaksir nilai-nilai yang berhubungan dengan X (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama menderita DM, dan penyakit penyerta). Metode Backward digunakan untuk mendapatkan variabel yang paling berhubungan dengan kejadian Diabetes Distress. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi Diabetes Distress pada penelitian ini yaitu sebesar 36% pasien mengalami distress ringan, 57,6% pasien mengalami distress sedang dan 6,4% distress berat. Variabel durasi menderita DM menjadi faktor yang paling berhubungan dengan kejadian Diabetes Distress (p=0,039). Pasien diabetes dengan durasi menderita DM ≥ 5 tahun berisiko 2,145 kali lipat mengalami Diabetes Distress.