Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Digital Education as an Effort to Improve ARV Adherence Among People Living with HIV AIDS (PWHA) Maharsi, Eri Dian; Djannatun, Titiek; Maulidyasari, Siti
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The discovery of ARVs was a revolution in the treatment of ODHA. The success of HIV/AIDS treatment is determined by adherence to taking ARVs. Non-compliance can be caused by physical discomfort while taking ARVs. Non-compliance can promote HIV resistance. Motivation and knowledge are needed to be compliant with ARV therapy. There needs to be activities to increase the motivation and knowledge of ODHA in consuming ARVs. Objective: To determine the effectiveness of online seminars in increasing the motivation and knowledge of ODHA in consuming ARVs. Method: carried out by holding an online seminar to ODHA and to find out the description of motivation, and knowledge in the use of ARV in ODHA, respondents were given a pretest and posttest. Results: 56 respondents who filled out the pretest and posttest consisted of 60.7% males, 39.3% females, the most ages 53.5% were 30 to 40 years, the most high school education was 57.1%, who used ARV 80.4%; Motivation: The most motivation to consume ARVs comes from Doctors/Nurses/Psychologists/Health Workers at 22%. The most reason was 35.7% to be able to do activities as before. 19.6% of respondents were not motivated and did not use ARVs. Knowledge; 92.9% of respondents had good knowledge and there was no change between pretest and post-test. This can happen because respondents who consume ARVs already have prior knowledge of ARVs. Conclusion: Respondents who consume ARVs are respondents who have good motivation and good knowledge about ARVs. Respondents who did not consume ARVs were unmotivated and partially knowledgeable. Suggestion: Online seminars need to be encouraged to increase and maintain motivation and knowledge in consuming ARVs in ODHA
Perilaku Kader dalam Penemuan Suspek Tuberkulosis Fadhilah, Nur; Nuryati, Elmi; Duarsa, Artha; Djannatun, Titiek; Hadi, Restu Syamsul
Kesmas Vol. 8, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dukungan berbagai pihak meliputi perubahan perilaku masyarakat dan pemberdayakan masyarakat sangat diharapkan untuk penanggulangan tuberkulosis (TB). Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Provinsi Lampung terpanggil untuk bergerak bersama dalam program penanggulangan penyakit TB agar keberhasilan penanggulangan TB dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan perilaku kader dalam menemuan suspek TB di Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian dengan metode kuantitatif dan kualitatif ini menggunakan desain potong lintang, data primer dikumpulkan dari sampel 72 kader TB ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Tengah. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan metode kai kuadrat, dan multivariat dengan regresi logistik. Penelitian ini menemukan lima variabel yang meliputi pengetahuan, sikap, pelatihan, dukungan pemegang program dan motivasi yang mendukung perilaku penemuan suspek. Tiga variabel yang meliputi pendidikan, pendapatan dan pekerjaan tidak mendukung perilaku penemuan suspek. Untuk meningkatkan penemuan suspek TB disarankan untuk lebih meningkat dukungan pengelola program yang berkelanjutan. The support of various parties, peoples behavior and empower communities in the implementation of TB countermeasures highly expected by Muhammadiyah Central Executive and Aisyiyah Lampung Province omit to move together in a tuberculosis prevention program for successful TB control can be achieved. This study aimed to determine the related factors of behavior cadres to detect suspected tuberculosis in Lampung districy middle. The quantitative and qualitative with study design a cross sectional was conducted using primary data on samples 72 Aisyiyah tuberculosis cadres Lampung district middle. The statistical analyses were performed by chisquare and logistic regression. The study results showed a significant five variable (support program managers, knowledge of cadre, motivation of cadre, attitude of cadre, training cadre) with the discovery suspected tuberculosis cases in Lampung Province. Logistic regression analysis found a good support program holders associated with the case of suspected tuberculosis. Program holders support is the most dominant factor of the discovery of suspected tuberculosis cases. Therefore the need for tangible support over again that the findings by the cadre suspected tuberculosis increased.
Efektivitas Ekstrak Daun Ruku-Ruku (Ocimum Tenuiflorum Linne) Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonella Enterica Sevoar Typhi Dan Tinjauan Nya Menurut Pandangan Islam Hanif Satria, Irsyad; Keumala Dewi, Intan; Djannatun, Titiek; Arsyad, Muhammad
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i02.518

Abstract

Bakteri Salmonella enterica sevoar typhi bersifat patogen bagi manusia. masuknya bakteri Salmonella enterica sevoar typhi ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dapat mengakibatkan terjadinya demam tifoid, yaitu penyakit infeksi sistemik akut dengan gejala yang bervariasi dari ringan berupa demam, lemas serta batuk ringan hingga gejala berat seperti gangguan gastrointestinal. Penanganan penyakit infeksi saat ini masih menggunakan antibiotika, namun intensitas penggunaan antibiotik yang tinggi dapat menimbulkan resistensi. Ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum L.) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat. untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, sariawan, panu, mual hingga muntah-muntah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun ruku-ruku sebagai antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella enterica sevoar typhi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan metode disk diffusion. Populasi penelitian ini adalah bakteri Salmonella Enterica Sevoar typhi dan sampel penelitian ini adalah daun ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum Linne). Penelitian ini menggunakan data kuantitatif primer. Teknik analisis data yang digunakan adalah program SPSS 25.0, uji statistik parametrik One-Way ANOVA dan Uji Post hoc Tukey. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa DMSO 5% tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella enterica sevoar typhi dengan tidak terbentuknya zona hambat pada kontrol negatif. Sehingga penelitian ini menyimpulkan bahwa efek antibakteri dari ekstrak daun Ruku-ruku masih belum bisa menggantikan antibiotik Ciprofloxacin yang memiliki diameter (mm) zona hambat yang cukup besar dengan rata-rata 41,47 mm. Artinya hasil penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa ekstrak daun ruku-ruku memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri spesifik Salmonella enterica sevoar typhi.
Efektivitas Ekstrak Daun Ruku-Ruku (Ocimum Tenuiflorum Linne) Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Shigella Dysenteriae Dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Rahmat Ramadhan, Fathan; Keumala Dewi, Intan; Djannatun, Titiek; Arsyad, Muhammad
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i02.519

Abstract

Bakteri Shigella dysenteriae merupakan penyebab disentri yang merupakan bakteri negatif Gram dengan bentuk batang pendek atau basil tunggal. Bakteri ini bersifat anaerob fakultatif dan memfermentasi glukosa serta tidak memfermentasi laktosa. Masalah pencernaan karena infeksi bakteri yang masih tinggi di Indonesia menyebabkan tingginya intensitas penggunaan antibiotik yang memicu berbagai permasalahan terutama resistensi. Termasuk bakteri Shigella dysenteriae yang telah menunjukan resistensi terhadap beberapa antibiotik diantaranya yaitu ampicilin, tetracycline, cefixime dan ciprofloxacin. Dengan demikian, maka diperlukan pengobatan alternatif tehadap penyakit disentri, salah satunya daun kuru-kuru (Ocimum tenuiflorum L.) yang memiliki kandungan terpenoid, alkaloid, flavonoid, dan senyawa aktif lain yang dapat mengobati disentri. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan metode disk diffusion. Populasi penelitian ini adalah bakteri Shigella dysenteriae dan sampel penelitian ini adalah daun ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum Linne). Penelitian ini menggunakan data kuantitatif primer. Teknik analisis data yang digunakan adalah program SPSS 25.0, uji statistik parametrik One-Way ANOVA dan Uji Post hoc Tukey. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektivitas Ekstrak daun Ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum Linne) terhadap pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae yaitu dengan ekstrak daun Ruku-ruku dengan konsentrasi 80.000 ppm, 100.000 ppm, 120.000 ppm, dan 140.000 ppm tidak menunjukkan adanya zona hambat terhadap bakteri Shigella dysenteriae. Sehingga menyimpulkan bahwa ekstrak daun Ruku-ruku yang digunakan dalam uji efektivitas antibakteri belum dapat menghambat pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae, yang artinya efek antibakteri dari ekstrak daun Ruku-ruku masih belum bisa menggantikan antibiotik ciprofloxacin.
Hubungan Personal Hygiene Wajah Terhadap Keparahan Acne Vulgaris Pada Remaja SMA Negeri 3 Jakarta Sundoro, Vanya Firsty; Djannatun, Titiek; Maharsi, Eri Dian
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 9 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i9.614

Abstract

Acne vulgaris adalah penyakit peradangan kulit yang meskipun tidak membahayakan jiwa, dapat memengaruhi estetika dan rasa percaya diri, bahkan menyebabkan kecemasan dan depresi, terutama pada remaja. Prevalensi tertinggi acne vulgaris terjadi pada usia 16 hingga 18 tahun, baik pada remaja laki-laki maupun perempuan. Salah satu faktor yang memengaruhi acne vulgaris adalah kebersihan wajah atau Personal Hygiene. Kebersihan wajah yang buruk menyebabkan kulit kotor dan berminyak, sehingga bakteri Propionibacterium acnes mudah berkembang biak dan menyebabkan acne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene wajah dan keparahan acne vulgaris pada remaja SMA Negeri 3 Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan rancangan potong lintang pada 91 siswa yang dipilih secara consecutive sampling. Data personal hygiene dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan keparahan acne vulgaris diukur menggunakan Global Acne Grading System (GAGS). Hasil penelitian menunjukkan hubungan bermakna antara personal hygiene wajah dan keparahan acne vulgaris, dengan p-value 0,000 dan korelasi negatif tinggi (r = -0,610). Sebum berlebih yang bercampur dengan kotoran dapat menutup pori-pori, menyebabkan inflamasi dan acne vulgaris. Remaja laki-laki cenderung memiliki keparahan acne vulgaris lebih tinggi dibandingkan perempuan, karena perempuan lebih menjaga kebersihan wajahnya.  
Comparison of Airborne Flora Before and After Learning Activities in Skill Lab and Tutorial Rooms at the Faculty of Medicine, Yarsi University, and a Review From an Islamic Perspective Lintang Ramadhani, Himaulya; Irmawati Purbo Astuti, Ike; Djannatun, Titiek
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i2.2224

Abstract

Indoor Air Quality (IAQ) significantly affects health and concentration in educational environments. Factors such as learning activities, population density, and ventilation systems influence the presence of airborne microorganisms. This research aims to compare the airborne flora before and after learning activities in the Skill Lab and Tutorial rooms at the Faculty of Medicine, YARSI University, and to analyze the findings from an Islamic perspective. A descriptive qualitative–quantitative method was applied, with 20 samples collected using the settle plate method on Nutrient Agar media. Samples were incubated at 35–37°C for 48 hours, and the bacterial colonies were then counted (CFU) and identified using Gram staining. The results show that the number of airborne microorganisms in five Skill Labs and five Tutorial rooms remained below the standard threshold for air quality (<700 CFU/m³). However, there was a noticeable increase in the number of colonies after learning activities, with the lowest value recorded at 0 CFU/m³ and the highest at 13 CFU/m³. This increase is suspected to be related to human activity, density, and mobility during class sessions. Microscopic identification revealed the predominance of Gram-positive Coccus bacteria, with some Gram-negative rods. In conclusion, the number of airborne microorganisms in the Skill Lab and Tutorial rooms at the Faculty of Medicine, YARSI University, is still within the quality standard, although learning activities contribute to an increase in colony numbers. Therefore, optimal management of the room environment is necessary to maintain good air quality.
Identification of Airborne Flora Before and After Activities in the Libraryand Classrooms of the Faculty of Medicine, Yarsi University, and a Review From an Islamic Perspective Hasna Kamalah, Maitsa; Irmawati Purbo Astuti, Ike; Djannatun, Titiek
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i2.2225

Abstract

Libraries and classrooms are indoor environments with high usage intensity, making Indoor Air Quality (IAQ) crucial for the health and comfort of occupants. Indoor air flora is influenced by various environmental factors, including human activities, occupant density, temperature, humidity, lighting, and ventilation. Airborne microorganisms can act as vectors for pathogens that impact health; therefore, monitoring air flora before and after activities is essential. This study employed a descriptive quantitative–qualitative approach. A total of 20 air samples were collected from the library and classrooms using the settle plate method with Nutrient Agar media, both before and after activities. Samples were incubated at 37°C for 24–48 hours, after which bacterial colonies were counted (CFU) and identified based on colony morphology and Gram staining. The results showed an increase in airborne colonies after activities, particularly in classrooms, with the highest count observed in Class 10A. The library exhibited relatively fewer colonies, remaining below the standard IAQ threshold of 700 CFU/m³. Microbial identification revealed that Gram-negative Cocci dominated in classrooms, while Gram-positive Cocci were more prevalent in the library. These results indicate that human activities contribute significantly to the increase in airborne microorganisms. In conclusion, high occupancy rates and activity levels in classrooms lead to higher microbial loads, whereas libraries maintain lower counts. Human activity directly affects the concentration of indoor air microorganisms. To support a healthy and comfortable learning environment, effective hygiene management and optimal ventilation systems are essential for maintaining good Indoor Air Quality.
Hubungan Penyalahgunaan Narkoba terhadap Gejala Gangguan Jiwa Mantan Pengguna di Yayasan Sahabat Rekan Sebaya dan Tinjaunnya Menurut Pandang Islam Akbar, Ghozy; Djannatun, Titiek; Arifandi, Firman
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i6.5044

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penyalahgunaan narkoba dan gejala gangguan jiwa pada mantan pengguna yang tergabung dalam komunitas Sahabat Rekan Sebaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penyalahgunaan narkoba dan munculnya gejala gangguan jiwa. Seluruh responden dalam penelitian ini adalah laki-laki dengan rentang usia terbanyak antara 24–29 tahun. Sebagian besar responden memiliki latar belakang pendidikan SMA/SLTA/SMK dan penghasilan di bawah UMR. Dukungan sosial dan lingkungan positif, seperti yang disediakan oleh komunitas Sahabat Rekan Sebaya, terbukti memainkan peran penting dalam mendukung pemulihan dan stabilisasi kondisi mental mantan pengguna narkoba. Studi ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik, termasuk dukungan sosial, dalam proses pemulihan dari penyalahgunaan narkoba.
Evaluation of Air Sterility and Biological Safety Cabinets in a Stem Cell Laboratory Dian Maharsi, Eri; Djannatun, Titiek; Riski, Anika; Adityaningsari, Pratami; Irmawati Purbo Astuti, Ike Irmawati Purbo Astuti
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i2.63486

Abstract

Stem cell culture requires a highly controlled and sterile environment to ensure cell viability and patient safety. This study aimed to evaluate the microbial contamination levels in the air and the sterility of Biological Safety Cabinets (BSCs) at the YARSI University Stem Cell Laboratory, with the goal of providing recommendations for continuous quality improvement. We used a descriptive quantitative observational approach, collecting air samples from 10 points and two BSCs using a MAS-100 air sampler. Samples were cultured, and the number of Colony Forming Units (CFU) was counted and analyzed against national standards. The results showed a clear distinction between the two environments. Both BSC units demonstrated an sterility level of 0 CFU/m³, confirming the effectiveness of their HEPA filtration. In contrast, the general laboratory area exhibited a varied microbial load, with some areas indicating a need for improved environmental control relative to recommended standards. The identified microorganisms included Candida famata, which is often associated with human flora, and Pseudomonas oryzihabitans, an environmental bacterium. These findings suggest that while BSCs are highly effective barriers, the general lab environment and certain operational practices present areas requiring stricter environmental control. Therefore, infrastructure improvements, such as the installation of an Air Handling Unit (AHU), and the enforcement of stricter Standard Operating Procedures (SOPs) are recommended to maintain overall lab integrity.
Suplementasi Zinc Dalam Penatalaksanaan dan Pencegahan Kekambuhan Diare pada Balita Menurut Pandangan Islam Hasti Anugerah, Andi Putri; Djannatun, Titiek; Azmi, Sabrina
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.309

Abstract

Latar belakang: Diare pada balita masih menjadi masalah kesehatan penting karena tingginya angka kejadian, risiko kekambuhan, serta dampaknya terhadap status gizi dan tumbuh kembang. Kekambuhan dipengaruhi oleh faktor host, lingkungan, perilaku, dan ketepatan tatalaksana. Tujuan: Mendeskripsikan peran tablet zinc dalam pencegahan kekambuhan diare pada balita serta menegaskan aspek implementasi pemberian zinc dalam praktik layanan kesehatan. Metode: Artikel ini merupakan tinjauan pustaka naratif yang membahas definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi, dan manifestasi klinis diare pada balita, serta mekanisme kerja, manfaat, dosis, cara pemberian, dan keamanan tablet zinc sebagai terapi tambahan. Hasil: Pemberian zinc pada diare balita berkontribusi terhadap perbaikan mukosa usus dan peningkatan respons imun, sehingga dapat mengurangi durasi dan keparahan diare akut serta menurunkan risiko diare berulang selama 2–3 bulan setelah episode diare. Rekomendasi pemberian zinc selama 10 hari berturut-turut (10 mg/hari untuk usia <6 bulan; 20 mg/hari untuk usia ≥6 bulan) mendukung tatalaksana diare berbasis bukti bersama rehidrasi oral dan edukasi keluarga. Efek samping jarang dan umumnya ringan. Kesimpulan: Tablet zinc merupakan terapi tambahan penting pada diare balita, terutama untuk pencegahan kekambuhan. Kepatuhan terhadap durasi pemberian serta edukasi kepada orang tua/pengasuh menjadi kunci keberhasilan intervensi.