Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

EMOTIONAL SHOPPING SEBAGAI VARIABEL MEDIASI GAYA HIDUP DAN MOTIVASI BELANJA HEDONIS PADA KEPUTUSAN PEMBELIAN IMPULSIF PRODUK 3SECOND Barokah, Siti; Asriandhini, Bunga; Putera, Muhammad Millenian
JURNAL MANAJEMEN MAKER STIE SULTAN AGUNG Vol 7 No 2 (2021): Volume 7 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37403/mjm.v7i2.360

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini, yaitu untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan motivasi belanja hedonis pada pembelian impulsif khususnya pada produk fashion dengan Merek 3second baik secara langsung maupun melalui variabel mediasi emotional shopping. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Pengambilan data dilakukan secara online melalui media sosial WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah SEM (Structural Equation Modelling). Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya hidup dan motivasi belanja hedonis memiliki pengaruh yang signifikan pada emotional shopping, gaya hidup berbelanja tidak memiliki pengaruh pada pembelian impulsif, motivasi belanja hedonis dan emotional shopping memiliki pengaruh yang signifikan pada pembelian impulsif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa emotional shopping tidak memiliki peran dalam memediasi hubungan gaya hidup dan motivasi belanja hedonis pada pembelian impulsif.Kata kunci: emotional shopping; lifestyle, motivasi belanja hedonis, keputusan pembelian impulsif
Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Film Pendek “Wedok” Raja Satria Wibawa; Ismah Aulia Shalsabila; Bunga Asriandhini
AGUNA: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1: Januari (2021)
Publisher : AGUNA: Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35671/aguna.v2i1.1216

Abstract

Permasalahan kesetaraan gender di Indonesia masih sering terjadi. Pendidikan merupakan salah satu contoh tidak adilnya kesetaraan gender, di mana tugas perempuan tidak untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Film pendek dengan judul Wedok adalah salah satu film yang mengangkat permasalahan kesetaraan gender. Film tersebut mengisahkan seorang  wanita yang  sehari-hari hidup di dapur namun menginginkan kebebasan untuk mendapatkan pendidikan. Ia patuh dan tidak memiliki hak apapun sehingga hanya menjadi wanita dapur biasa. Karena hasrat dan keinginannya yang kokoh ia tetap belajar secara otodidak, ia tidak mewariskan larangan tersebut pada anak wanita pada generasi selanjutnya yang sudah bisa mendapatkan pendidikan. Diproduksi oleh Lanang Production Film Wedok telah banyak meraih penghargaan di kancah nasional maupun internasional. Film Wedok ini memuat simbol-simbol menarik yang disampaikan dalam film. Tujuan penelitin ini untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika dari Roland Barthes yang mengkaji mengenai makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos yang terkandung dalam film untuk membedah pesan simbolik yang terkandung dalam film. Dengan mengetahui semiotika dari film wedok maka masyarakat ataupun penonton dapat mengetahui, merasakan, serta kritis terhadap tekanan kesetaraan gender yang dialami khususnya kepada perempuan. Diharapkan adanya adanya Film Wedok ini dapat memunculkan film-film lanjutan mengenai kesetaraan gender sehingga dapat memberi edukasi serta mengurangi tindak ketidaksetaraan gender di Indonesia.
FENOMENA PENGGUNA APLIKASI LIVE STREAMING MANGO LIVE DI KALANGAN MAHASISWA Setyanugraha, R. Satria; Nur Amalia, Zahwa; Asriandhini, Bunga
DFAME Digital Financial Accounting Management Economics Journal Vol 2 No 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Awatara Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61434/dfame.v2i1.144

Abstract

Social media has become an inseparable part of communication activities in the digital era. In everyday life, social media has become a tool for human communication and has become a new lifestyle. Not only for obtaining information, social media has now become a platform for interacting, expressing yourself and even sharing it to show to the public. Live streaming is a social media application that broadcasts individual activities online. Mango Live is a live streaming application originating from India, this application can be downloaded on Google Play or the Apple Store. According to data on Google Play and Apple Store, Mango Live is a streaming service intended for users with an age limit of 17 years and over, is the best global live broadcast platform that focuses on entertainment, lifestyle and broadcasting from talented hosts. The aim of this research is to find the motives and interactions used in the phenomenon of using the Mango Live live streaming application among students. This research uses qualitative methods with Alfred Schutz's phenomenological theory. Alfred Schutz's phenomenological theory looks for the causes and goals of students in using the Mango Live application. From the results of this research, there are entertainment motives to fill free time, economic motives to earn income, motives to seek experience for the achievement process, and motives to express oneself to build self-confidence. Researchers revealed that the interactions used in using the Mango Live application are in the comments feature, follow feature, communication feature and virtual gift feature.
Penguatan Literasi Keuangan dan Transformasi Pengelolaan KP-SPAMS Tirta Sari untuk Layanan Air Bersih Berkelanjutan Darmayanti, Irma; Asriandhini, Bunga; Hermanto, Nandang; Herlambang, Ananda Putra; Putranto, Aldrian Firmansyah
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 5 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i5.2091

Abstract

The availability of clean water is a fundamental community need, but ineffective management often hinders the sustainability of services. KP-SPAMS "Tirta Sari" in Kedungwringin Village faces challenges in financial literacy, non-transparent manual recording, and the absence of a technology-based water monitoring system. This community service project aimed to strengthen institutional capacity by enhancing financial literacy and transforming water service management through the use of mobile applications and monitoring sensors. Conducted in March 2025, the activity involved 30 participants, including KP-SPAMS administrators and members. It utilized methods such as initial observations, financial literacy training, the implementation of the PAMSIMAS Information System (SiPAM) mobile application, installation of water level sensors, mentoring, and evaluation, with active community and student participation. The results showed significant improvements in the administrators' ability to manage finances transparently, alongside an increased readiness to maintain sustainable water services. The pre-test and post-test evaluations revealed an improvement in participants' skills, with average scores rising from 45% to 85%. Additionally, the sensor implementation reduced the potential for water distribution disruptions by more than 70% within three months of testing. The community and administrators found the activity highly beneficial, gaining a better understanding of efficient financial management and technology for water supply monitoring. In conclusion, combining financial literacy with innovative technology greatly enhanced the efficiency, transparency, and sustainability of clean water management in Kedungwringin, contributing to improved community welfare.ABSTRAKKetersediaan air bersih merupakan kebutuhan fundamental masyarakat, namun pengelolaan yang tidak efektif seringkali menghambat keberlanjutan layanan. KP-SPAMS “Tirta Sari” Desa Kedungwringin menghadapi kendala dalam aspek literasi keuangan, pencatatan manual yang tidak transparan, serta ketiadaan sistem monitoring air berbasis teknologi. Pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan melalui peningkatan literasi keuangan dan transformasi pengelolaan layanan air berbasis aplikasi digital dan sensor monitoring. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret 2025 di Desa Kedungwringin dengan melibatkan 30 peserta, yang terdiri dari pengurus dan anggota KP-SPAMS. Metode yang digunakan meliputi observasi awal, pelatihan literasi keuangan, implementasi aplikasi mobile Sistem Informasi PAMSIMAS (SiPAM), pemasangan sensor ketinggian air digital, serta pendampingan dan evaluasi dengan keterlibatan aktif masyarakat dan mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan pengurus KP-SPAMS dalam melakukan pencatatan dan pelaporan keuangan secara transparan, serta meningkatnya kesiapan teknis dalam menjaga keberlanjutan layanan air. Peningkatan keterampilan peserta juga tercermin dari hasil evaluasi pre-test dan post-test, dengan skor rata-rata awal sebesar 45% yang meningkat menjadi 85% setelah pelatihan serta penerapan sensor monitoring berhasil mengurangi potensi gangguan distribusi air lebih dari 70% dalam tiga bulan pengujian. Berdasarkan hasil evaluasi, masyarakat dan pengurus merasa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan penggunaan teknologi digital untuk memantau pasokan air. Kesimpulannya, penguatan literasi keuangan yang dipadukan dengan inovasi teknologi berkontribusi langsung terhadap peningkatan efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan pengelolaan layanan air bersih di Desa Kedungwringin, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penguatan Kompetensi Komunikasi Dalam Organisasi Melalui Public Speaking Asriandhini, Bunga; Trisnawati, Tina
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 4 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian berupa pelatihan public speaking bertujuan untuk menguatkan kompetensi komunikasi anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RT05 RW05 Komplek Giya Mandalatama Karanglewas. Kegiatan dilaksanakan di Komplek Griya Satria Mandalatama, Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Peserta berjumlah 30 anggota PKK. Persoalannya adalah calon peserta belum memahami bagaimana kompetensi komunikasi diperlukan untuk menunjang interaksi dalam organisasi, yaitu pentingnya menyampaikan gagasan secara efektif, mengatasi ketidakpercayaan diri yang mengakibatkan gugup dan cemas, dan pentingnya riset audiens.  Solusinya yaitu dengan mengadakan pelatihan Public Speaking yang terbagi ke dalam sesi sharing knowledge dan praktik. Peserta mendapatkan pengetahuan konsep keilmuan public speaking dalam upaya menguatkan kompetensi komunikasi dan praktik. Hasilnya peserta mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan menyampaikan argumen secara efektif, dapat melakukan riset audiens, dan kepercayaan diri meningkat.
BRAND HEXAGON MODEL: MENGANGKAT IDENTITAS LOKAL SEBAGAI BRAND VALUE DESA WISATA Asriandhini, Bunga; Lestari, Umi
Jurnal El-Hamra : Kependidikan dan Kemasyarakatan Vol. 6 No. 1 (2021): Jurnal El-Hamra : Kependidikan dan Kemasyarakatan
Publisher : CV. Amerta Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melung Tourism Village has natural, agricultural, social, and cultural potential which can be developed in support of the concept of sustainable tourism. One of the efforts is to explore the local potential that becomes the Melung Tourism Village, a uniqueness that is valueable in the minds of community. The Brand Hexagon Model is model formulated by Simon Anholt which aims to find brand values based on perceptions of the public/tourist. The research method uses descriptive qualititative research. This research found the brand values of Melung Tourism Village, robusta coffee, the beauty of its scenery, and the friendliness of local people who are still closely carriying out the traditionKey Words: Brand Value; Melung Tourism Village; Local Identity