Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : MABASAN

MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF BERBASIS MASALAH KONTEKSTUAL MELALUI KEGIATAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATAN KREATIVITAS EKSPRESI TULIS PUISI Lalu Fakihuddin
MABASAN Vol. 11 No. 2 (2017): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.29 KB) | DOI: 10.26499/mab.v11i2.4

Abstract

The purposes of the research are (1) to increase the activity of student in writing poem byapplying creative and productive studying model through Lesson Study activities; and (2) toincrease the quality of expressive poetry writing process through Lesson Study activities. Inorder to achieve the goals, Lesson Study includes planning, executing, and observing. Theall three stages have been done in four time/cycles in the Lesson Study lectures. Lecturesand every cycle (1 to 4), had been focused on expressive modern poetry writing based ontopic such as private name, disastrous event, beauty of nature, social events/problem, andpolitical problem. Every part of study has been presented/done in creative and productivestudying model which is based on fundamental principles of creative and productivelearning such as orientation, exploration, interpretation, and re-creation. The result of thisresearch are (1) implementation of creative and productive studying model based oncontextual problem through Lesson Study activity in creative literature writing, especiallymodern poetry writing can increase the creativity of students, (2) creative and productivestudying model through Lesson Study activity can increase quality of creative literaturewriting subject . It can be seen from the increasing in liveliness, self-service andcooperation and motivation of the student in solving tasks that had been assigned in thestudy. It is noteworthy that students also think that this method is interesting and enjoyable.
EKSISTENSI MASALAH SUPRANATURAL DALAM FOLKLOR LISAN SASAK: SUATU KAJIAN TEMATIS TERHADAP CERITA RAKYAT SASAK YANG TELAH DIDOKUMENTASIKAN Lalu Fakihuddin
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.028 KB) | DOI: 10.26499/mab.v9i2.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk-bentuk kepercayaan masyarakat Sasak zaman dahulu tentang hal-hal yang bersifat supranatural dan eksistensinya pada masyarakat Sasak saat ini. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif-interpretatif. Sumber data penelitian ini berupa sekuen-sekuen tertentu dari Cerita Rakyat Sasak yang menggambarkan keyakinan masyarakat Sasak tentang masalah supranatural. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik, yakni suatu pendekatan yang berusaha menafsirkan suatu teks secara mendalam. Analisis data mengacu pada model perspektif-konstruktifis, yaitu diarahkan oleh intensi, kategori-kategori yang telah ditentukan, dan target hasil yang ingin diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalamĀ  cerita rakyat Sasak banyak terungkap kepercayaan kepada hal-hal supranatural, gaib, atau di luar nalar manusia. Masalah-maalah supranatural tersebut berupa karamah/keramat Wali Allah, kepercayaan terhadapĀ  kebenaran wangsit, firasat, dan mimpi, serta kepercayaan kepada makhluk halus.
KEUNIKAN SAPAAN DAN PANGGILAN DALAM BAHASA SASAK DIALEK NGGETO-NGGETE Lalu Fakihuddin
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.121 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i1.168

Abstract

Masyarakat suku Sasak pada umumnya dan penutur bahasa Sasak dialek nggeto-nggete, khususnya yang berdomisili di desa Wanasaba, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat memiliki perbedaan status sosial. Perbedaan status sosial ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain (1) status kebangsawanan, (2) status ekonomi, (3) tingkat pendidikan (tinggi rendahnya pendidikan seseorang), dan (4) status sosial karena seseorang telah menjadi haji. Variasi status sosial tersebut mempengaruhi kegiatan interaksi sosial, termasuk keunikan di dalam interaksi berbahasa, seperti cara menyapa, memberi salam, dan cara memanggil. Dengan kata lain, variasi-variasi tersebut menuntut cara menyapa, memberi salam, dan cara memanggil yang berbeda antara satu dan lainnya. Bagi masyarakat Wanasaba, perbedaan status sosial sangat berperan dalam mengubah bentuk sapaan/panggilan.