Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Perbandingan Efektivitas Pembelajaran Daring dan Luring dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA Negeri 1 Pujut Kabupaten Lombok Tengah di Masa Pandemi Covid-19 Septiyana Tri Ludyasari; Nyoman Sudika; Rahmat Hidayat
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v4i2.2723

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas pembelajaran daring dan pembelajaran luring pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X di SMA Negeri 1 Pujut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan kuantitaif. Subjek penelitian yaitu kepala sekolah, guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan 15 siswa. Metode pengumpulan data berupa angket, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan efektivitas pembelajaran daring dan Pembelajaran Luring pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas X SMA Negeri 1 Pujut. Hal ini dibuktikan melalui hasil angket dan wawancara yang peneliti lakukan. Dari segi metode mengajar pembelajaran daring memperoleh skor 57,3% dan pembelajaran luring memperoleh skor 71,7%. Dalam penggunaan media, skor pembelajaran daring 60% dan pembelajaran luring 72,7%. Dalam segi materi/bahan ajar skor pembelajaran daring 57% dan pembelajaran secara luring memperoleh skor 66,3%. Untuk segi pemanfaatan waktu pembelajaran daring memperoleh skor 57,3% dan pembelajaran secara luring memperoleh skor 66,3%. Dalam segi perilaku siswa pembelajaran daring memperoleh skor 55% dan pembelajaran secara luring memperoleh skor 70%. Dalam segi evaluasi belajar pembelajaran daring memperoleh skor 62,7% dan pembelajaran secara luring memperoleh skor sebanyak 68,7%. Oleh karena itu, diantara pembelajaran daring dan pembelajaran luring diketahui bahwa pembelajaran luring lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran daring
Idiosinkrasi Penggunaan Prefiks meng- oleh Penutur Bahasa Indonesia: Idiosyncratic Use of Prefix meng- by Indonesian Speakers Sabila; I Nyoman Sudika; Rahmad Hidayat
Jurnal Bastrindo Vol. 4 No. 1 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jb.v4i1.858

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan memaparkan bentuk-bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- oleh penutur bahasa Indonesia di media sosial Tiktok. Bentuk-bentuk idiosinkrasi tersebut merupakan penyimpangan dalam konteks berbahasa Indonesia yang benar. Karena melibatkan prefiks, penyimpangan terjadi pada tataran morfologi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian dikumpulkan menggunakan metode simak dan metode dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB). Penyajian hasil analisis menggunakan metode formal dan informal. Data idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang ditemukan berjumlah 40 bentuk yang terdiri atas 20 bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang melekat pada kata dasar yang berkategori verba dan 20 bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang melekat pada kata dasar yang berkategori adjektiva. Bentuk-bentuk idiosinkrasi ini memperlihatkan penyimpangan kaidah pembentukan kata, penyimpangan makna hasil bentukan, dan penyimpangan fungsi hasil bentukan. Abstract: This study aims to describe forms of idiosyncratic use of the prefix meng- by Indonesian speakers on Tiktok social media. These idiosyncratic forms are deviations in the context of correct Indonesian. Since it involves prefixes, deviations occur at the morphological level. This research is a descriptive-qualitative-research. The research data was collected using the observation method and the documentation method. The data were analyzed using the intralingual equivalent method with the same comparative comparison (HBS) and differential comparison (HBB) techniques. Presentation of the results of the analysis using formal and informal methods. The idiosyncratic data on the use of the prefix meng- were found to be 40 forms consisting of 20 idiosyncratic forms of the use of the prefix meng- attached to base words which are categorized as verbs and 20 idiosyncratic forms of the use of prefix meng- attached to base words which are categorized as adjectives. These forms of idiosyncrasy show deviations from the rules of word formation, deviations from the meanings formed, and deviations from the functions formed.
Pengenalan Teks Genre Sastra dalam Bahasa Sasak: Sebagai Bahan Baku Penyusunan Materi Muatan Lokal Bahasa Sasak pada Guru-Guru Pendidikan Dasar di Kecamatan Selong Khairul Paridi; I Nyoman Sudika; Syahbuddin Syahbuddin; Murahim Murahim; Ratna Yulida Ashriany
DARMADIKSANI Vol 2 No 1 (2022): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v2i1.1299

Abstract

ABSTRAK Bahan ajar tentang sastra dalam Kurikulum 2013 mestinya berbasis pada pembelajaran tentang teks tetapi setelah dicermati pembahasan materi dalam kurikulum dan buku-buku pelajaran bahasa Sasak pada pendidikan dasar dan menengah lebih ditekankankan pada nilai keindahan dan nilai karakternya saja. Selain itu, penyediaan materi ajar tentang teks genre sastra masih terbatas, akibatnya pembelajaran tentang teks sastra kurang mendapat perhatian yang memadai. Berdasarkan masalah tersebut, tulisan ini bertujuan membahas teks genre cerita rakyat Sasak dari segi struktur teks, piranti kebahasaan dan lainnya. Pembelajaran yang berbasis pada teks sastra ini menunjang keterampilan berbahasa dan dapat membantu anak memahami nilai dan keindahan sastra Sasak. Hasil analisis ini diharapkan dapat membantu para guru untuk menyiapkan bahan ajar materi muatan lokal bahasa Sasak. ABSTRACT Teaching materials about literature in the 2013 Curriculum should focus more on learning about texts. Contrarily, the materials in the curriculum and Sasak language textbooks in primary and secondary education, give more emphasis on the beauty and character values instead of text. In addition, the provision of teaching materials on literary genre texts is still limited, as a result, learning about literary texts does not receive adequate attention. Based on these problems, this paper aims to discuss the text of the Sasak folklore genre in terms of text structure, linguistic tools, and others. Learning based on literary texts supports language skills and helps children understand the value and beauty of Sasak literature. The results of this analysis are expected to help teachers to design customized learning materials for local content subject of Sasak language.
Penyuluhan tentang Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pola Lesson Study For Learning Community (LSLC) bagi Guru-Guru Bahasa Indonesia di SMP Se-Kabupaten Lombok Barat I Nyoman Sudika; Kaharuddin; Mochammad Asyhar; Yuniar Nuri Nazir; Baiq Wahidah
DARMADIKSANI Vol 3 No 1 (2023): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v3i1.2631

Abstract

ABSTRAK Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai prinsip dasar Lesson Study for learning community( LSLC) bagi guru- guru ketika dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia SMP di Kabupaten Lombok Barat. Di samping itu, kegiatan ini bermaksud untuk meningkatkan professional guru dengan meningkatkan kualitas pembelajaran, dan meningkatkan kreativitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran melalui LSLC ini. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah dan pendampingan. Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan materi pokok tentang pola lesson study for learning community (LSLC) kepada peserta agar memperoleh pengetahuan baru dan pemahaman yang sama mengenai LSLC secara komprehensif. Kegiatan pendampingan disasarkan pada latihan menyusun perangkat pembelajaran sebagai kegiatan perencanaan pembelajaran dalam konsep LSLC. Dalam kegiatan prencanaan pembelajaran (Plan) para peserta mampu menyusun secara bersama-sama rancangan pembelajaran berupa Chapter Design dan Lesson Design. Hasil kegiatan ini diharapkan peserta dapat mengimplementasikan konsep-konsep LSLC ini dalam pelaksanaan proses pembelajaran di dalam kelas mereka masing-masing. ABSTRACT This community service program aimed to provide insights into the basic principles of Lesson Study for learning community (LSLC) for teachers when implementing Indonesian language lessons in West Lombok District junior high schools. Additionally, this activity intended to enhance teachers' professionalism by improving the quality of instruction and fostering students' creativity through LSLC. The activity was conducted using lecture and mentoring methods. The lecture method was employed to deliver the main content on the pattern of Lesson Study for learning community (LSLC) to participants, enabling them to acquire new knowledge and a comprehensive understanding of LSLC. The mentoring activity focused on practicing the development of instructional materials as part of the lesson planning process within the LSLC concept. During the lesson planning phase (Plan), participants were able to collaboratively design learning frameworks such as Chapter Design and Lesson Design. The outcome of this activity is expected to enable participants to implement these LSLC concepts in their respective classrooms.
KELAYAKAN BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KURIKULUM MERDEKA UNTUK SMP KELAS VIII TERBITAN KEMENDIKBUD TAHUN 2021 Nadya Ika Agustina; Siti Rohana Hariana Intiana; I Nyoman Sudika
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.13029

Abstract

The suitability of Indonesian language textbooks for the Merdeka curriculum for class VIII junior high schools published by the Ministry of Education and Culture in 2021 is an important process to ensure that the material used is in accordance with the educational principles proposed by the Merdeka curriculum. The approach to this research method is descriptive qualitative. This type of research is analysis (content analysis). This means that this research carried out an analysis of the content in the Indonesian language textbook for the Independent Curriculum for Middle School Class VIII published by the Ministry of Education and Culture in 2021. The data collection technique used was note-taking technique. The results of research on the feasibility of the Merdeka Curriculum Indonesian language textbook for class VIII junior high schools published by the Ministry of Education and Culture in 2021 can be concluded that the Merdeka Curriculum Indonesian language textbook for class VIII junior high schools published by the Ministry of Education and Culture in 2021 is a textbook that is suitable for use as teaching material in the learning process.
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN METODE PAIRED STORY TELLING (BERCERITA BERPASANGAN) PADA SISWA KELAS IV DI SDN 4 CAKRANEGARA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Mardiana Mardiana; Muhammad Tahir; I Nyoman Sudika
Indonesian Journal of Elementary and Childhood Education Vol. 1 No. 1 (2020): Edisi Maret 2020
Publisher : Indonesian Publication Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This Classroom Action Research aims to increase students’ speaking skill through method Paired Story Telling at grade IV SDN 4 Cakranegara Academic Year 2015/2016. This research was conducted in two cycles. Data collecting Method used were observation, test and documentation whereas, method of data analysis were descriptive quantitaive and qualitative. Based on data analysis result held in cycle 1, classical mean score was 67 with the number of successful studens were 20 and failed students were 12. Highest score was 75 and the lowest score was 50. So that the classical successful students in cycle 1 was 62,5%. The result of reflection in cycle 1 showed that remedial action in next cycle was required. Based on analysis conducted in cycle 2, the number of successful students were 28 and failed students were 4, with the higherst score was 95 and the lowest score was 60. The classical mean score was 77 with classical successful was 87.5 %. That result showed that the application of method paired story telling could increse speaking skill of grade IV students at SDN 4 Cakranegara Academic Year 2015/2016.
Inovasi Leksikal Bahasa Bali di Lombok: Kajian Dialektologi I Nyoman Sudika
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.185

Abstract

Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Gtn. Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Sehubungan dengan itu, tujuan tulisan ini adalah untuk  mendeskripsikan bentuk inovasi leksikal yang terdapat pada bahasa Bali di Lombok dan  mengetahui asal-usul setiap varian dalam kerangka penentuan  tingkat keinovasian pada masing-masing dialek. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal,  bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak.  Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek  itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.