Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Evaluasi Tata Ruang dan Fasilitas Ruang Studio Program Studi Desain Interior ISI Yogyakarta Apriliana, Monica; Nugroho, Martino Dwi
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 12, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v12i2.13931

Abstract

Tata ruang dan fasilitas studio desain memiliki pengaruh terhadap keberhasilan belajar mahasiswa.Peningkatan jumlah mahasiswa desain interior ISI Yogyakarta dari tahun ke tahun membuat ruangstudio desain interior ISI Yogyakata membutuhkan evaluasi berkala terkait aspek fisik seperti tataruang dan fasilitas demi mendukung keberhasilan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalahmengevaluasi tata ruang, sirkulasi, kapasitas dan kelayakan fasilitas ruang pada salah satu ruangstudio di program studi desain interior ISI Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalahdeskriptif kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi ruang dan kuesioner.Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden menilai tata ruang, kapasitas, sirkulasi dankelayakan fasilitas ruang studio berada pada rentang tidak hingga kurang baik. Penyesuaianterhadap jumlah pengguna sesuai kapasitas ruang dan penjadwalan perkuliahan dengan sistem blokdapat dipertimbangkan sebagai solusi terhadap permasalahan tata ruang dan sirkulasi, sedangkanpembaruan dan penyesuaian fasilitas sesuai kebutuhan pengguna dapat digunakan sebagai salahsatu solusi terhadap permasalahan fasilitas dan kelayakan.
Perubahan Fungsi Interior Pada Bangunan Kuno di Yogyakarta - Tinjauan Tentang Hibriditas Dalam Pusaran Komodifikasi Nugroho, Martino Dwi; Atar, Ken Kheisa Safirja
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 13, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v13i1.15119

Abstract

Bangunan kuno di Yogyakarta telah mengalami perubahan fungsi dan kegunaan seiring waktu. Proses ini dapat menciptakan hibriditas dalam desain dan penggunaan bangunan tersebut. Identitas budaya Jawa yang kental di Yogyakarta menjadi dasar untuk memahami bagaimana hibriditas dapat membentuk atau mengubah identitas ini, dan sejauh mana identitas budaya tersebut terlibat dalam proses komodifikasi. Identitas sangat bekaitan dengan pelestarian.  Pelestarian bangunan kuno seringkali berhadapan dengan tantangan pembangunan modern. Mengeksplorasi bagaimana hibriditas dan komodifikasi memengaruhi kebijakan pelestarian menjadi relevan dalam konteks ini. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana proses hibriditas dan komodifikasi pada bangunan kuno di kota Yogyakarta mempengaruhi dan membentuk transformasi kebudayaan. Penelitian ini memungkinkan pemahaman lebih baik tentang bagaimana globalisasi dan pertukaran budaya memainkan peran dalam proses hibriditas dan komodifikasi di tingkat lokal. Melalui pemahaman yang mendalam tentang hibriditas dan komodifikasi pada bangunan kuno di Yogyakarta, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dan berkelanjutan bagi pelestarian warisan budaya, pembangunan kota. Dari analisis dapat diketahui bahwa Proses hibriditas dalam arsitektur bangunan kuno di Yogyakarta terjadi melalui perpaduan antara elemen arsitektur lokal dengan pengaruh budaya luar. Dampak dari proses komodifikasi terhadap penggunaan dan fungsi awal bangunan kuno yaitu kehilangan nilai sejarah dan budaya, pengaruh terhadap identitas lokal.
Ruang Kreatif sebagai Media Interaksi dan Ekspresi untuk Mendukung Pelestarian Budaya dan PemberdayEkonomi Kreatif di Kelurahan Gunungketur Pakualaman Yogyakarta Nugroho, Martino Dwi; Nurcahyo, Mahdi
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 11, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v11i1.9416

Abstract

Yogyakarta merupakan daerahistimewa (selain DI Aceh) yang dinilai memiliki kebudayaantradisi dengan nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan. Perlestarian kebudayaan tidak hanya bisadilakukan oleh pemerintah saja, namun perlu peran serta dari setiap lapisan masyarakat.Salahsatu usaha pelestarian budaya di Yogyakarta adalah dengan menyediakan ruang publik. Fungsiruang publik tersebut adalah untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan kreatif dalam merawat nilai-nilai tradisi.Kelurahan Gunungketur merupakan salah satu dari dua kelurahan yang berada diwilayah Kemantren Pakualaman Kota Yogyakarta.Wilayah ini termasuk dalam zona penyanggacagar budaya, sehinggadipandang perlu untuk membuat ruang publik di wilayah penyangga cagarbudaya sebagaiwadah interaksi dan ekspresi dalam konteks kontribusi seni untuk industriekonomi kreatif bagi warga dalam usaha pelestarian budaya yang nantinya turut mendukung sektorpriwisata.Risetterapandenganmembuatmodeldesainruangkreatif(creativespace)inimenggunakan metodeKilmer daneco cultural design.TKT (TingkatKesiapanTeknologi)adalahnomor duadimana luaran perancangan ini berupa desain yang didahului dengan riset terkaitpotensi dan permasalahan yang ada di wilayah Keluarahan Gunungketur. Hasil daririset terapanini juga bisa dijadikan model untuk pengembangan ruang kreatif yang ada di lahan terbatas.
PERGESERAN GENDER PADA INTERIOR RUMAH TINGGAL DI KAWASAN JERON BENTENG YOGTAKARTA Dwi Nugroho, Martino
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 2, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2813.215 KB) | DOI: 10.24821/lintas.v2i2.21

Abstract

One of the instruments incorporated for the construction of social reality is gender Javanese society traditionally embraces social concept of patriarchy The general Implication is that woman becomes a man s subordinate Broader implementation also can be comprehended fromdissociation of social activities and rituals involving both men and women Viewed fromthespatial perspective there are differences between man space and woman space This is based on the research conducted in Jeron Beteng an area in the city of Yogyakarta The analysis has resulted what follows 1 the sittingroom shows a friction once mastered by man now it turns into equation with indicators equal status ownership custom affection domestic duty execution and sittingroom domination influencing factors modernization attitude and emancipation respect 2 the livingroom also demonstrates a friction once a woman domaintoday it is accessible to man as well influencing factors  communication marital status age work emancipation modernization moral and formal education and foreign culture 3 the kitchen witnesses an equal role for a woman and man regarding domestic duty openness and communication Woman however remains to be more dominant in kitchen although men have access in there influencing factors communications age work emancipation modernization moral and formal educationKeywords : gender interior sitting room livingroom kitchen
ADAPTASI SPASIAL PADA INTERIOR RUMAH TINGGAL PASCA GEMPA DI KASONGAN BANTUL Dwi Nugroho, Martino
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 2, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.047 KB) | DOI: 10.24821/lintas.v2i3.27

Abstract

May 27, 2006, was a somber day for the people living ini Yogyakarta and Central JavaProvinces. Sub-province of Bantul was the most severely hit by the earthquake happening earlyin the morning. Around 7.057 houses were sacked, including the craft village of Kasongan. Most Kasongan families now live in houses made avalaible by domestic and foreign aids. They have lived in the new houses for two years. During this time, they have to make adjusments to the new environment. This research is intended to observe how families living at the village of Kajen, Kasongan, make adjustments and adapt to the new conditions living in new houses supplied through aids. This village is purposely chosen as the sample. The result of the investigation indicates that people of this village has to return the heat during the day, doing activities by usingmulti-purpose space and furniture.Keywords : interior, adaptation, adjustment.
Konsep Eco Tourism Design Pada Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Untuk Peningkatan Pariwisata Budaya di Kota Yogyakarta Nugroho, Martino Dwi; Tamimi, Shabrina
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 12, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v12i1.12546

Abstract

Kota Yogyakarta sebagai wilayah perkotaan dengan karakteristik ketersediaan tanah terbatas tak lepas dari permasalahan penyediaan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sejalan dengan meningkatnya gerakan pengembangan ekowisata, Pemerintah Kota Yogyakarta juga serius memajukan beberapa potensi pariwisata yang dapat diaplikasikan menjadi konsep ekowisata. Pada saat yang sama pariwisata budaya dan warisan budaya telah menjadi elemen penting untuk menarik wisatawan datang ke destinasi. Hal ini tentu berimplikasi pada dikotomi pariwisata budaya dan budaya pariwisata. Konsep eco tourism design dianggap sesuai dengan Visi RPJPD Kota Yogyakarta 2005-2025 adalah: “Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Berwawasan Lingkungan” yang salah satu misinya adalah Mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, Kota Budaya dan Kota Perjuangan. Tema Ecodesign diangkat karena melihat fenomena di perkotaan khususnya di Kota Yogyakarta bahwa kondisi lingkungan di Yogyakarta mengalami penurunan sebagai dampak dari pembangunan. Apalagi ditambah dengan konsep RTH yang hanya sebuah taman. Tema ecodesign juga didasarkan atas regulasi pemerintah Kota Jogja bahwa pembangunan wilayah harus berdasar atas pembangunan yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini mencoba membangun konsep eco tourism design dengan spesifik kasus pada RTH sebagai salah satu konsep yang ditawarkan untuk membangun pariwisata berbasis budaya di kota Yogyakarta.
Penilaian Pengguna terhadap Kualitas Fisik Bangunan Program Studi Desain Interior ISI Yogyakarta Nurdina, Mutia; Nugroho, Martino Dwi; Hidayat, Rachmat
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 11, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v11i2.12317

Abstract

Pertumbuhan signifikan dalam jumlah peminat Prodi Desain Interior ISI Yogyakarta sebaiknya diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan ruang dan bangunan yang lebih berkualitas. Kualitas fisik bangunan dapat ditingkatkan dengan perbaikan aspek kenyamanan termal, kualitas udara, pencahayaan, tingkat kebisingan, dan keamanan. Peningkatan kualitas fisik pada bangunan pendidikan akan meningkatkan performa mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kualitas fisik bangunan, agar ditemukan faktor fisik yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Metode kuantitatif digunakan pada penelitian ini dengan melakukan pengukuran faktor fisik pada ruang kelas dan bangunan. Selain itu, penilaian kualitas fisik dilakukan melalui kuesioner yang diisi oleh responden. Data pengukuran faktor fisik akan dianalisis dengan analisis statistik. Selanjutnya, data tersebut akan dikaitkan dengan hasil penilaian kuesioner, sehingga akan diketahui masalah hubungan antara variabel berupa faktor fisik bangunan dengan kualitas bangunan yang dirasakan responden. Hasil temuan menunjukkan kualitas fisik ruang dan bangunan rata-rata mendapat nilai 3 dari skala 1 sampai 5. Aspek sirkulasi udara, pencahayaan, dan keamanan dari kebakaran mendapat nilai kurang dari 3, sehingga aspek tersebut perlu ditingkatkan kualitasnya. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan belajar dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Branding Kota dan Tipologi Arsitektur dalam Mengembangkan Wajah Kota Tuban Nugroho, Martino Dwi; Ariyani, Ivada
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.16754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan identitas arsitektur perkotaan yang mencerminkan karakter khas Kabupaten Tuban sehingga dapat mendukung peningkatan potensi destinasi pariwisata dan mendorong pembangunan ekonomi daerah. Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk menyusun panduan awal dalam penataan ruang dan tampilan kota secara arsitektural agar mampu menjaga serta memperkuat kekhasan visual dan budaya yang dimiliki Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode design thinking. Adapun hasil yang dicapai dalam penelitian adalah desain untuk penanda kota seperti bentuk gapura paduraksa dan bentar yang berciri khas Tuban, bentuk atap pendapa di kantor pemerintahan Kabupaten Tuban, penerapan batik Gedog pada fasad bangunan, landmark Kota Tuban, logo Kota Tuban sebagai penanda di Alun-Alun Kota Tuban, dan street furniture. Unsur-unsur sejarah kota Tuban menjadi pertimbangan dalam pengembangan desain, di antaranya adalah gapura makam Sunan Bonang; arsitektur tradisional Jawa, yaitu atap sirap, yang mengambil unsur dari rumah jaman Majapahit; arsitektur Klenteng, arsitektur kolonial, dan Kuda Ronggolawe. Rekomendasi dari penelitian ini adalah keberlanjutan dari desain yang akan diterapkan di seluruh wilayah Kabupaten Tuban, dari tingkat kelurahan hingga ke kabupaten/Kota. This activity aims to formulate an urban architectural identity that reflects the distinctive character of Tuban Regency in order to support the development of both potential tourism destinations and regional economy. It is also intended to compile initial guidelines in spatial planning and architectural appearance of the city to preserve and strengthen the visual and cultural uniqueness of Tuban. The authors implemented the Design Thinking method. The activity results the designs for city icons such as the shape of the Paduraksa and Bentar gates, the shape of the pendapa roof in Tuban Regency government office, the application of Gedog batik on building facades, the landmarks, the Tuban City Logo at the town square, and the street furniture. The historical elements of Tuban are incorporated in the design, including the gate of Sunan Bonang's tomb, traditional Javanese architecture, particularly shingle roofs derived from Majapahit era’s houses, Klenteng architecture, and Colonial Architecture. The recommendation from this program is the sustainability of the design that will be implemented throughout Tuban Regency, from the sub-district level to the district/city level.This study aims to formulate an urban architectural identity that reflects the distinctive character of Tuban Regency, so that it can support the increase in potential tourism destinations and encourage regional economic development. In addition, this study is also intended to compile initial guidelines in spatial planning and architectural appearance of the city in order to maintain and strengthen the visual and cultural uniqueness of Tuban Regency. The method used in this study is the Design Thinking method. The results achieved in the study are designs for city markers such as the shape of the paduraksa and bentar gates that are characteristic of Tuban, the shape of the pendapa roof in the Tuban Regency government office, the application of Gedog batik on building facades, Tuban City landmarks, the Tuban City Logo as a marker in the Tuban city square, and street furniture. The historical elements of Tuban city are considered in the development of the design, including the gate of Sunan Bonang's tomb, traditional Javanese architecture, namely shingle roofs that take elements from Majapahit era houses, Klenteng architecture, and Colonial Architecture. The recommendation from this research is the sustainability of the design that will be implemented throughout Tuban Regency, from the sub-district level to the district/city level.