Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : HIMMAH

Bertahan di Tengah Modernitas: Ketahanan Lembaga Pendidikan Surau Minangkabau (Sejak Masa Kolonial hingga Pasca Kemerdekaan): Bertahan di Tengah Modernitas: Ketahanan Lembaga Pendidikan Surau Minangkabau (Sejak Masa Kolonial hingga Pasca Kemerdekaan) Fauzan, Ahmad Fauzan Baihaqi; Irmalasari, Fitria; Maulana, Arif; Meilala, Bryna Rizkinta Sembiring
Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 8 No 2 (2024): Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Volume 8, Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/jkik.v8i2.3842

Abstract

ABSTRACT I begin this article with admiration for the success of Surau in Minangkabau in maintaining itself as a traditional educational institution in the era of modernization. Surau as an educational institution in Minangkabau remains an integral part of the collective memory of the Minang people as a whole. This paper wants to see how the tradition of Minangkabau people in maintaining the spirit of Surau since the Colonial period to the Modern era and see the pressure of power on the existence of Surau which gave birth to many National figures and Ulama'. The method in this writing uses a qualitative methodology with a historical approach method by collecting data through literature studies. In the data found, the word surau spreads outside in Indonesia and Malaysia, which in daily life is a small building whose main use is for congregational prayer for the surrounding community. In West Sumatra, Surau not only has an educational and worship function, but also has a cultural function. Surau is thought to have existed before Islam came to West Sumatra. It only functions as an application of their culture. Surau in the customary system of community culture belongs to the people, tribe. Furthermore, after Islam entered, the process of Islamization was carried out in all aspects, including cultural institutions. The same thing also applies to pesantren. Seeing the complexity of the problems of Surau educational institutions must also understand the flow of conflict between the Young and the Old. As seen, the Ulama of the Young as a symbol of Islamic renewal openly criticized the practices of the Ulama of the Old who occupied surau-surau. And this paper tries to explain this traditional educational institution in the era of modernization. Keywords: Surau, Minangkabau Tradition, Traditional Educational Institution
Abu ‘Ala Al-Maududi dan Gerakan Politik: Islamisme, Negara dan Kemerdekaan Pakistan Fauzan, Ahmad Fauzan Baihaqi; Bryna Rizkinta; Ilham Nur Utomo; Susanti, Desi; Zulham, Muhammad
Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 9 No 1 (2025): Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/jkik.v9i1.4110

Abstract

Tulisan ini membahas bagaimana Al-Maududi dan Jamaat Islami, yang dia dirikan, memainkan peran penting dalam membangun gagasan tentang kenegaraan Republik Islam Pakistan pasca merdeka dari kolonialisme Inggris dan berpisah dari India tahun 1947. Sebagai tokoh yang dipandang dari sudut pandang Barat, dianggap kontroversial karena sempat menolak pemisahan Pakistan dengan Negara induk India. Namun, setelah itu, Al-Maududi adalah orang yang paling aktif dalam mendukung pembentukan Republik Islam Pakistan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melihat bagaimana Al-Maududi dan Jamaat Islami berpartisipasi dalam gerakan politik untuk penegakan Negara Islam di Pakistan. Selain itu, mengkritik perspektif Barat yang menganggapnya sebagai figur separatis dalam gerakan Muslim India. Metode penulisan kali ini adalah dengan menggunakan metode sejarah kritis dengan tahapan heuristik, kritik sumber atau verifikasi, interpretasi dan historiografi. Dalam penelusuran sumber studi pustaka penulis menggunakan tulisan pikiran dari Al-Maududi dan Sejarawan yang gandrung dengan persoalan Islam di Asia Selatan. Penulisan ini menggunakan pendekatan sosio-politik, dan lebih mendalam untuk melihat sosok Abu ‘Ala Al-Maududi kami melihat secara holistik dalam fragmen Sejarah intelektualisme Islam. Sebagai intelektual organik Al-Maududi bersama Jemaat Islami berani menjadi oposisi melawan hasil pemilu 1937 serta bergerilya untuk terbentuknya Negara Islam di Barat India yang saat ini menjadi Pakistan. Dalam temuan beberapa riset, Al-Maududi dengan organisasinya Jema’at El-Islami dianggap kelanjutan dari Hassan Al-Banna melalui gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, namun ternyata banyak sekali perbedaan. Meskipun mendapat stigma radikal oleh Barat, namun gerakannya tidak sepenuhnya membenci barat. Dalam konsep doktrin Islam dan Negara yang digaungkan Al-Maududi yakni Teo-Demokrasi adalah bentuk pembaharuan dari Sekularisme Demokrasi Barat dan menurutnya adalah perlunya titik temu antara kedaulatan rakyat dengan nilai-nilai Ketuhanan Islam. Kata Kunci: Al-Maududi, Jamaat Islami, Pakistan