Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Historiography

PERAN MOHAMMAD TOHA PADA PERISTIWA BANDOENG LAOETAN API TAHUN 1945-1946 Mohammad Luthfi Herlambang; Kurniawati Kurniawati; Sri Martini
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.811 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p156-170

Abstract

In the early days of independence, most cities in Indonesia still did not fully experience independence due to the colonialist's desire to regain control of their power in Indonesia. After the proclamation of independence was read out, the colonialists still wanted to control the remaining territories of their colonies. In various confIicts, one of them is in the city of Bandung, nameIy Bandung Iautan Api. This was initiated when the allied troops arrived in the city of Bandung to form a defense base in the city of Bandung. In this study, the figure to be discussed is Mohammad Toha, he joined the BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) in 1945 by following several battle missions in the city of Bandung from 1945 to 1946. In his resistance, Toha succeeded in completing his mission of detonating a Dutch gunpowder warehouse. in DayeuhkoIot in 1946 which led to the end of the Bandung Lautan Api incident.Pada masa awaI kemerdekaan, sebagian besar kota-kota di Indonesia masih beIum sepenuhnya merasakan kemerdekaan dikarenakan keinginan penjajah untuk kembaIi merebut kekuasaannya di Indonesia. SeteIah dibacakannya prokIamasi kemerdekaan justru membuat para penjajah tetap menginginkan menguasai wiIayah sisa jajahannya. Diberbagai konfIik yang terjadi saIah satunya di kota Bandung yaitu Bandung Iautan Api. HaI ini diawaIi ketika kedatangan tentara sekutu ke kota Bandung untuk membentuk basis pertahanan di kota Bandung. DaIam peneIitian ini tokoh yang akan dibahas yaitu Mohammad Toha, dia bergabung dengan BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) tahun 1945 dengan mengikuti sejumIah misi pertempurannya di kota Bandung dengan kurun waktu 1945 hingga 1946. DaIam perIawanannya Toha berhasiI menyeIesaikan misinya daIam peIedakan gudang mesiu miIik BeIanda di DayeuhkoIot tahun 1946 yang menyebabkan berakhirnya peristiwa Bandung Lautan Api.
Asrama Indonesia Merdeka Sebagai Pembentuk Kader Muda Indonesia Afifah Jasmine Krisdintami; Kurniawati Kurniawati; Umasih Umasih
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.285 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i42022p502-517

Abstract

This study examines the role of a dormitory called Dormitory of Free Indonesia. This hostel was founded by a Japanese Navy officer, namely Rear Admiral Tadashi Maeda, in October 1944 with the aim of forming young Indonesian political cadres. The method used in this study is the historical method which includes five stages, namely the selection of topics with intellectual approaches, heuristics, verifications, interpretations, and historiography. Based on the results of the research, the Dormitory of Free Indonesia has played a role in forming young political cadres who will later take on roles after Indonesian independence through regeneration which is carried out in the dormitory. The regeneration activities at this dormitory include learning in classes for six months and martial arts taught directly by the Japanese army. Some of the students who graduated from Dormitory of Free Indonesia were Abdul Kadir Jusuf, Hasan Gayo, Sukarni, and Chaerul Saleh. There is controversy about the spread of communism in the dormitories, as historian Kahin points out. However, this news was later dismissed by national figures who taught at the Dormitory of Free Indonesia, including Admiral Maeda. Penelitian ini ini mengkaji peran dari sebuah asrama bernama Asrama Indonesia Merdeka. Asrama ini didirikan oleh seorang perwira Angkatan Laut Jepang, yaitu Laksamana Muda Tadashi Maeda, pada bulan Oktober 1944 dengan tujuan untuk membentuk kader-kader politik muda Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang mencakup lima tahapan, yaitu pemilihan topik dengan pendekatan intelektual, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Asrama Indonesia Merdeka berperan dalam membentuk kader-kader politik muda yang nantinya akan mengambil peranannya setelah kemerdekaan Indonesia melalui kaderisasi yang dilakukan di asrama. Aktivitas kaderisasi di asrama ini mencakup pembelajaran di kelas-kelas selama enam bulan dan seni bela diri yang diajarkan langsung oleh tentara Jepang. Beberapa murid-murid lulusan dari Asrama Indonesia Merdeka ialah Abdul Kadir Jusuf, Hasan Gayo, Sukarni, dan Chaerul Saleh. Terdapat kontroversi mengenai penyebaran paham komunis di dalam asrama, seperti yang dikemukakan oleh sejarawan Kahin. Namun, kabar ini kemudian ditepis oleh tokoh-tokoh nasional yang mengajar di Asrama Indonesia Merdeka, termasuk Laksamana Maeda.
Persepsi Peserta Didik terhadap Penggunaan Media Film dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta Siti Almaesaroh; Kurniawati Kurniawati; Muhammad Fakhruddin
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.288 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i42021p470-478

Abstract

The purpose of this study was to determine students' perception on the use of film media for history education at SMA Negeri 42 Jakarta. The research method used in this study is descriptive quantitative. Research data were obtained from distributing online questionnaires to students at SMA Negeri 42 Jakarta with a total of 168 respondents from all grade as well as from both major i.e. natural sciences and social sciences. The results of this study are divided into three parts : 1) students’ interest on the use of films for learning history, 2) teachers role to facilitate learning history through films, and ) films effectiveness on students’ understanding of history material. Students' interest in the use of films for learning history are very high. Almost all students support the use of films on history education. Meanwhile teachers’ role to facilitate learning history through films is limited. According to students, teachers’ mostly only give homework and deliver explanations about the films. Additionally, students claim that films are quite effective for learning history. More than 80 percent of students answered that films helped their understanding of history material and are easier to understand than teacher explanations. Nonetheless, the history films watched do not always match the history material being studied.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi peserta didik terhadap penggunaan media film dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data penelitian diperoleh dari membagikan kuesioner online kepada peserta didik. Didapatkan sebanyak 168 responden dari seluruh tingkatan kelas dan jurusan IPA maupun IPS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat peserta didik terhadap penggunaan film sangat tinggi. Namun tidak diimbangi dengan peran aktif guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film. Hasil penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : 1) minat peserta didik terhadap penggunaan film dalam pembelajaran, 2) peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film, dan 3) efektivitas menonton film terhadap pemahaman pembelajaran sejarah. Minat peserta didik terhadap penggunaan film menunjukkan hasil yang sangat tinggi. Hampir semua peserta didik mendukung penggunaan media film. Sementara peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film masih terbatas. Menurut peserta didik, peran yang sering guru lakukan hanya memberikan tugas dan memaparkan penjelasan film. Terkait dengan efektivitas film, peserta didik mengaku bahwa pembelajaran melalui film cukup efektif. Lebih dari 80 persen peserta didik menjawab bahwa film membantu mereka memahami pelajaran sejarah dan lebih mudah dipahami dibanding penjelasan guru. Meskipun begitu, film sejarah yang ditonton tidak selalu sesuai dengan materi sejarah yang dipelajari.
Dalam dekap serdadu: pergundikan di tangsi militer, 1872-1913 Mutia Zaskia Nasution; Kurniawati Kurniawati; M. Hasmi Yanuardi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.125 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p252-264

Abstract

This article aims to highlight the life of concubines in the military world in the Dutch East Indies in the period 1872-1913 and to present various views of the pros and cons that made this practice considered quite controversial at its time. In order for the objectives of this research to be carried through, the author applied historical research method which has five stages consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. By using primary and secondary sources in the form of contemporary newspapers, documents, books, and articles relevant to the research theme. The practice of concubinage within the military barracks could not be separated from the establishment of an army under the name of Koninklijk Leger in the early 19th century. This practice was used to be associated with demoralization and also believed to be the source of several health issues amongst the soldiers, as well as encouraging the birth of a white proletariat class in the colonies, this leads to mixed opinions regarding the relationship between these two different races. This commotion prompted the colonial government to issue several policies, one of which was to increase military morale. After all, the concubine of tangsi is considered very detrimental, this practice indirectly joined a mixed society group known as the Indo group, where this group later helped support Indis culture in the Dutch East Indies.  Penulisan artikel ini bertujuan untuk menyoroti kehidupan pergundikan dalam dunia militer di Hindia Belanda pada periode 1872-1913 serta menampilkan berbagai pandangan pro dan kontra yang membuat praktik ini dianggap cukup kontroversial pada masanya. Dalam upaya untuk mencapai tujuan penelitian secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang dibahas, penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahapan meliputi pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Dengan menggunakan sumber primer dan sekunder yang berupa surat kabar sezaman, dokumen, buku, serta artikel yang relevan dengan tema penelitian. Praktik pergundikan tangsi tidak lepas dari pembentukan suatu pasukan ketentaraan yang bernama Koninklijk Leger pada awal abad ke-19. Praktik ini selalu dikaitkan dengan demoralisasi dan juga diyakini sebagai penyebab munculnya masalah kesehatan di antara para serdadu, serta mendorong lahirnya kelas proletariat kulit putih di tanah koloni yang membuat hubungan antar dua ras berbeda ini tidak jarang mengundang perdebatan di masyarakat. Kegaduhan tersebut membuat pemerintah kolonial pada akhirnya mengeluarkan beberapa kebijakan, salah satunya meningkatkan moral militer. Betapa pun pergundikan tangsi dianggap menuai banyak dampak merugikan, praktik ini secara tidak langsung turut sebuah golongan masyarakat campuran yang dikenal dengan golongan Indo, di mana kelompok ini nantinya turut mendukung kebudayaan Indis di Hindia Belanda.